Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (10. Berhenti memanggilku seperti itu)


__ADS_3

...Mungkin aku bukan orang yang kamu harapkan hadir di hidupmu tapi percayalah aku adalah orang yang selalu ada saat kamu butuhkan...


...🌺🌺🌺...


Pagi ini Kim terlihat rapi seperti biasanya, bahkan wajah cemas yang ia tunjukkan kemarin pagi ini seakan seperti menguap. Bahkan wajahnya terkesan lebih santai.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Mr?" Lee yang sudah duduk di depan sedang menanyai pria yang tengah fokus menatap layar datarnya, sesekali ia terlihat menarik sudut bibirnya, walaupun hanya samar tapi dia sedang tersenyum saat ini.


Mr Kim segera menormalkan kembali bibirnya, bibir dengan wajah dingin itu,


"Hmmmm, sebaiknya kita tunda saja sampai besok!?"


"Apa Mr mempunyai rencana lain?"


"Ya!?"


Mr Kim kembali fokus pada layar datarnya, kini Lee tidak berani menggangunya.


Di tempat yang tengah di pantai oleh Mr Kim, terlihat Divia dan Dee melakukan aktifitas paginya, dengan saling berjoget saat musik yang mereka sangat asik untuk berjoget.


"Apa kamu suka?"


"Iya, eomma!"


"Baiklah jika di rumah kamu boleh memanggilku eomma, tapi nanti saat di kampus, kamu harus memanggilku kakak, bagaimana?"


"Eomma!?"


"Kakak!?"


"Eomma!?"


"Kakak!?"


Mereka terus berdebat, tapi ia juga tidak mungkin meninggalkan anak itu sendiri di Kos-kosan.


"Baiklah, terserah! Aku hanya sebentar di sana dan kita cari appa kamu!?"


"Iya eomma!?"


Dia benar-benar manis .....


Divia pun mengajak Dee untuk pergi ke kampus, sesekali mereka bercanda di jalan menuju ke kampus.


Tapi ternyata tatapan aneh tentu ia dapat dari teman-teman sekampusnya. Tentu saja karena seorang mahasiswa membawa seorang anak kecil ke kampusnya.


"Eomma!?"


"Eomma!?"


Dan panggilan itu yang berhasil mencuri perhatian banyak orang.


"Berhenti memanggilku seperti itu!?" bisik Divia, walaupun begitu ia juga tidak mau membuat anak itu sedih karena membentaknya.


"Eomma, aku mau pipis!?"


"Pipis ya!?" Divia malah bingung sendiri. Ia tidak bisa mengajaknya ke toilet perempuan tapi untuk masuk ke toilet pria juga tidak mungkin.


"Apa kamu bisa masuk sendiri?"


"Eomma, aku takut!?"


"Tapi aku tidak mungkin mengantarmu ke dalam!"


"Sebentar saja, sendiri di dalam tidak pa pa kan?"


Beberapa orang pria sudah menunggu mereka di depan pintu toilet,


"Minggir dulu Dee!?" Divia mengajaknya menyingkir dari pintu toilet.


"Silahkan!?" Divia meminta orang-orang di belakangnya untuk masuk.


"Ada yang bisa saya bantu?" salah satu dari mereka sepertinya mengerti dengan kesulitannya, "Apa anak kamu ingin ke toilet!?"


Anak .....


"Ahhh bukan, dia bukan_!"


"Eomma, aku kebelet!?"


"Ahh iya, bisa minta tolong, tolong temani dia masuk ke toilet pria!?"


"Baiklah!"


Akhirnya pria itu mengajak Dee masuk.


Jadi semua orang menganggap dia anakku, ini benar-benar bukan ide yang bagus ....

__ADS_1


Selang beberapa menit akhirnya Dee keluar,


"Sudah?"


"Sudah, eomma!"


"Baiklah, kita harus segera pergi dari sini!?"


Masalahnya sekarang ia harus berkeliling kampus hanya untuk mencari keberadaan Yura. Ia tidak punya ponsel untuk menghubungi temannya itu.


"Di mana sih Yura? Tidak biasanya ia susah di cari kayak gini!" gumam ya pelan.


"Apa kamu capek?" tanya Divia pada Dee yang sedari tadi terus di ajaknya berjalan, "Apa mau aku gendong?"


"Hmmm, iya eomma!?"


"Berhenti panggilan aku seperti itu!"


"Eomma!"


"Aku mohon!"


"Eomma!?"


"Terserah lah!" Divia langsung mengangkat tubuh mungil itu, ia sudah tidak punya tenaga untuk terus berdebat dengannya.


"Vi!?"


Itu suara Yura, Divia langsung menghentikan langkahnya dan benar saja itu Yura, dia sedang berlari ke arahnya.


"Dari mana saja? aku sudah mencarimu sedari tadi!?"


"Maaf, ternyata hari ini aku harus kerja pagi-pagi sekali. Aku mau menghubungimu tapi aku lupa ponselmu sedang tidak bersamamu! Ada apa?"


"Aku titip ini ya!?" Divia menyerahkan sebuah desain untuk tugas hariannya ini.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku tidak mungkin terus sama dia, lama-lama aku benar-benar tidak akan mendapat jodoh, bahkan Jimin pun enggan mendekatiku gara-gara mengira aku sudah punya anak!"


"Kasihan sekali!?"


"Jangan menertawai aku, sampai jumpa nanti. Aku pergi dulu!?"


Divia pergi begitu saja setelah menyerahkan tugasnya. Ia harus mencari alamat kantor milik Mr Kim.


"Kita naik bus tidak pa pa kan?"


Tapi kemudian Divia membayangkan bagaimana suasana di bus. Ia tidak mungkin tega dengan anak sekecil Dee.


"Taksi!?" beruntung sebuah taksi melintas di depannya.


"Apa kita tidak jadi naik bus, eomma?"


"Tidak, kita naik taksi saja, lebih nyaman!?"


Divia pun mengajak Dee masuk ke dalam taksi yang sudah berhenti.


"Kita ke perusahaan xxx!?"


"Baik!"


Taksi pun segera melaju meninggalkan area kampus. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di kantor Mr Kim.


Setelah melakukan pembayaran atas taksinya, Divia pun mengajak Dee untuk memasuki area perusahaan.


Di lihat dari luar aja gedung itu sudah terlihat besar.


"Lumayan juga!?" gumamnya pelang sambil mengamati tempat itu.


"Tunggu di sini ya!?" Divia meminta Dee untuk duduk dan menunggu kursi tunggu yang ada di lobby. Ia harus bertanya pada resepsionis tentang keberadaan Mr Kim.


"Iya eomma!?"


Sebenarnya jika membawa Dee, ia bisa masuk dengan leluasa ke segala penjuru tempat itu. Tanpa bertanya pada resepsionis pun Dee sudah bisa menjadi penunjuk jalan bagi Divia.


"Selamat siang!?" sapa Divia pada petugas resepsionis itu.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"


"Saya mau mengantar dia!" Divia menunjuk ke arah Dee yang sedang duduk santai di ruang tunggu.


"Maaf nona saya tidak tahu!?" petugas itu segera turun dari tempatnya dan membungkukkan badannya memberi hormat pada Divia,


"Tidak pa pa!?" Divia melakukan hal yang sama.


"Saya akan mengantar nona ke ruangan Mr Kim!?"

__ADS_1


Memang apa yang dia pikirkan tentangku ....


"Eomma!?" panggil Dee.


Ahhhh, aku tahu sekarang ....


Ternyata wanita resepsionis itu mengira dirinya adalah ibu dari Dee.


"Ayo Dee!" ajak Divia dengan mengandeng tangan Dee.


"Eomma!?"


"Eomma!?"


Sepanjang jalan Dee seperti sengaja memanggilnya seperti itu membuat setiap yang melintas di samping mereka menunduk memberikan hormat.


"Apa yang kamu lakukan? Diamlah!?" Divia membungkam mulut Dee agar tidak berceloteh lagi, tapi Dee malah tertawa geli.


"Eomma, eomma, eomma!?"


"Terserahlah!?"


Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah ruangan yang terlihat berbeda dari ruangan-ruangan lainnya. Ruangan ini terlihat lebih frivat dan luas tentunya.


"Silahkan nona!" wanita itu bahkan membukakan pintu untuk Divia dan Dee.


"Terimakasih!?" Divia membungkukkan punggungnya memberi hormat.


"Sama-sama, nona!" perempuan itu melakukan hal yang sama.


"Saya permisi nona!"


"Silahkan!?"


Dee tiba-tiba berlari begitu saja memasuki ruangan, meninggalkan Divia yang masih di luar.


Mr Kim di buat terkejut dengan kedatangan Dee, pasalnya di dalam ruangan itu masih ada rapat dengan beberapa ketua divisi.


"Kim!?" teriaknya sambil berlari memeluk laki-laki berwajah dingin itu.


"Dee! Kamu sendiri?"


"Eomma!"


Mr Kim pun kembali melihat ke arah pintu dan benar saja ada Divia di sana.


"Baiklah, rapat hari ini sampai di sini dulu, kita lanjut besok!"


"Baik Mr!"


Orang yang berjumlah enam orang itu segera berpamitan keluar, Meraka tampak penasaran saat melintas di samping Divia. Mereka memberi hormat pada Divia dengan membungkukkan badannya, Divia pun terpaksa melakukan yang sama.


Setelah keenam orang itu keluar, barulah Divia melanjutkan langkahnya mendekati Mr Kim.


"Kamu keterlaluan ya!?" teriak Divia.


Beberapa orang ternyata masih berdiri di balik pintu, ia bisa mendengarkan teriakan Divia.


"Dia siapa? apa tunangan Mr Kim yang masih misterius itu? Jadi dia juga penyuka perempuan?"


Kasak kusuk itu terjadi di depan ruangan sang bos besar.


Kim masih bersikap santai, ia menurunkan Dee dan berdiri melipat kedua lengannya di depan dada berdiri menyandarkan bokongnya di atas meja,


"Bisa kecilkan suaramu, lihat di sana!?" Mr Kim hanya mengarahkan tatapan Divia dengan mengangkat dagunya sendiri ke arah pintu.


Divia segera menoleh dan benar saja masih ada orang-orang di sana.


menyadari bosnya mengetahui jika mereka menguping dengan cepat membubarkan diri.


"Duduklah dan kita bicara sekarang!" ucapnya tanpa mengubah ekspresi nya.


"Tidak!?"


"Terserah, berdirilah di situ sampai kakimu lepas dari tempatnya!"


"Maksudnya apa?"


Kim tidak lagi menjawab ucapannya. Ia memutar tubuhnya dan duduk di tempatnya, melipat kakinya di atas kaki yang lainnya.


"Katakan apa maumu?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya yakasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2