Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
PoV Ersya 3


__ADS_3

Sudah waktunya Divia pulang, aku pun bergegas untuk menyambutnya di depan. Walaupun mas Div selalu melarangku lamanya saja, tapi siapa juga yang tahan jika harus di dalam kamar terus.


Kali ini aku sudah mandi dan memakai dress dengan motif garis-garis, menurutku cantik. Tidak pa pa jika mama mertuaku menganggap ku menantu terburuk tapi setidaknya suaminya menjadikan aku ratu di hatinya.


Bohong jika aku tidak pernah membandingkan mantan suamiku dengan suamiku sekarang. Ku akui, mas Div memang kaku, dia juga tidak romantis tapi dia punya cara untuk menjadikan aku begitu istimewa, memang bukan dengan cara romantis seperti kebanyakan suami lainnya, tapi justru itu istimewanya.


Walaupun beberapa kali kepala pelayan memintaku untuk masuk saja dan menunggu di dalam, tapi aku tetap ingin duduk di depan, lagi pula di depan juga ada tempat duduk yang nyaman.


"Nanti tuan marah nyonya!" wajah wanita yang sudah tidak muda lagi itu terlihat begitu khawatir.


"Jangan takut, aku yang akan mengatakan padanya nanti!" aku meyakinkan wanita yang sudah begitu lama melayani suamiku itu, "Masuklah, aku malah merasa tidak nyaman jika ada kamu di sini!"


"Tapi nyonya_!"


"Ayolah! Aku tidak pa pa!" aku tetap dengan pendirianku. Lagian aku juga tidak nyaman jika apa-apa harus di awasi seperti ini, lagi pula aku juga bisa melihat beberapa cctv yang terpajang di halaman depan rumah yang besar ini, entah sudah berapa banyak cctv yang terpasang di rumah ini.


"Baiklah nyonya, saya kedalam dulu!"


Aku tersenyum, aku tahu dia begitu khawatir padaku. Tapi teramat jahatnya aku jika membiarkan wanita itu berdiri mematung di dekatku hanya untuk menungguiku, jelas dia tidak akan setuju jika aku memintanya untuk ikut duduk.


Setelah kepala pelayan meninggalkanku, aku pun segera mengeluarkan gawaiku dan mulai memainkannya. sebenarnya bukan untuk memainkannya saja, aku penasaran ada urusan apa mas Div di luar dengan baju santainya, hanya kaos yang di bagian luarnya sebuah jaket berwarna hitam.


Ahhh, tapi ternyata aku gagap teknologi, aku tidak bisa melakukan apa yang di lakukan suamiku. Saat aku yang pergi, suamiku akan sangat mudah menemukan aku dari androidnya tapi jika suamiku yang pergi, jangankan melacak keberadaannya, menghubunginya saja susah. Dia memang misterius, tapi aku justru suka yang seperti itu.


Tak berapa lama ku lihat ada sebuah mobil masuk, aku sudah ingin berdiri untuk menyambut tapi saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil itu, aku pun urung untuk berdiri.


Wanita itu menatapku sinis saat sudah berada di hadapanku, aku kira dia tidak akan kembali. Tapi ternyata mukanya masih sangat tebal untuk di permalukan.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


Hahhh? Aku melongo dong mendengar pertanyaannya. Benar nggak ada sopan-sopannya sama tuan rumah.

__ADS_1


"Nggak salah!?" aku tidak kalah sinisnya, dia kira aku wanita yang lemah hingga tidak bisa melawan ucapannya. Aneh!


"You know that I have rights in this house, right? (Kamu tahu kan aku juga punya hak di rumah ini?)"


Hahh? pertanyaan macam apa ini, aku memang tidak pandai bahasa Inggris, nilai bahas Inggris ku di kampus dulu jelek, tapi aku masih paham dia ngomong apa.


Hak apa yang dia maksud sebenarnya, benar-benar lama-lama wanita yang nggak punya adab ketimuran ini bikin aku geram.


"Ambilah yang mana hak mu, setelah itu kamu boleh pergi dari sini!" jawabku santai, aku tidak mau emosi hanya untuk meladeni wanita seperti dia.


"Kamu kok malah mengusirku sih?" aku malah semakin muak dengan gaya bahasa ala bule nya itu. Sepanjang menatapnya kesal aku terus berdoa dalam hati semoga sifatnya tidak menurun pada anakku. Takut saja dengan apa kata orang tua kalau kita terlalu membenci bisa nurun ke anaknya. Membayangkan saja jadi takut, aku segera tersenyum agar tidak terlalu benci.


"Tidak, aku tidak mengusir, hanya saja memintamu untuk mengambil apa yang menurutmu milikmu, kan aku dosa kalau menahannya!" jawabku tetap dengan senyum tapi hal itu sepertinya malah membuat wanita di depanku itu terlihat geram.


Masa bodoh, asal aku tidak emosi. Aku pikir aman dong.


"Div dan seluruh rumah ini adalah hakku!"


Orang gila macam apa yang sebenarnya aku hadapi ini, kalau di depan mas Div saja terlihat lemah tapi saat bersamaku, dia benar-benar seperti serigala. Sebenarnya berpendidikan tapi ngomongnya seperti orang tidak pernah makan bangku sekolahan.


"Ya sudahlah, kalau dia mau bawa deh!"


Suaranya percuma juga ngotot sama dia, nggak akan ada habisnya. Menguras tenaga sekali, untunglah sebuah mobil kembali memasuki halaman rumah yang cukup besar. Aku merasa lega karena aku tahu itu mobil Rangga.


Sepertinya Ellen juga tahu kalau itu Rangga dan Divia makanya ia tetap memilih untuk berdiri di sampingku.


"Mom's!"


Seperti biasa Divia akan segera berhambur memelukku,


"Sayang, mom's kangen!"

__ADS_1


"Iyya juga!"


Rangga sudah berdiri tegak di belakang Divia jadi mata kami saling bersitatap, matanya seperti sedang memberi kode pertanyaan. Kenapa ada Ellen bersamaku, sepertinya parno yang di rasakan mas Div sudah menular di orang-orang yang berada di sekelilingnya juga.


"Hai Divia, sebenarnya Tante tadi mah jemput kamu tapi tadi Tante buru-buru!" Ellen benar-benar bisa bersikap begitu manis, seperti orang yang benar-benar tulus.


Divia melepaskan pelukanku lalu menatap Ellen dengan tatapan sulit untuk di artikan.


"Mom's, Iyya masuk ya!" tanyanya segera melepaskan genggamanku dan berlari masuk ke dalam.


Aku masih terpaku, ku lihat Ellen tersenyum.


"Silahkan kalian berduaan, aku mau masuk dulu!"


Aku tidak berniat menanggapi ucapannya hingga wanita itu masuk ke dalam rumah.


Aku lebih tertarik bertanya pada Rangga dari pada wanita itu,


"Ga, apa terjadi sesuatu sama Divia?"


"Mungkin, guru Divia juga mengeluhkan kalau akhir-akhir ini Divia lebih pendiam di kelas!"


Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak mengetahui hal sebesar itu, mungkin akhir-akhir ini aku terlalu fokus dengan Ellen dan mama hingga aku tidak memerhatikan apa yang terjadi dengan Divia.


...Biarkan aku yang akan menanggung apapun yang menjadi kesedihanmu, agar nanti aku tidak akan pernah menyesal karena merasa mengabaikanmu...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2