
Akhirnya Ersya pun mengembalikan baju yang sudah ia pilih dengan berbagai macam sumpah serapah yang hanya ia lantunkan dalam hati.
Kesal?
Iya tentu saja, saat mama mertua malah memilih orang lain untuk menjadi bagian dari kebahagiaannya dan dia hanya menjadi bagian dari kompetisi yang terpaksa harus kalah.
Tidak bisa di biarkan ....
Sesekali ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa bisa melawan ketidak adilan ini, matanya terus menatap dua wanita beda generasi yang saling tertawa, entah apa yang sedang mereka tertawakan, hal itu semakin membuatnya sakit.
Serasa seperti badut yang tidak berkostum, ditertawakan tanpa menyebut nama, tapi maksudnya tersampaikan.
Sial, hanya umpatan itu yang beberapa kali muncul di bibir wanita itu.
"Bagaimana kalau sekarang kita pilih sepatu Tante? Soalnya kemarin aku browsing di toko sebelah ada model sepatu yang terbaru!" ucap Ellen dan nyonya Aruni kembali tersenyum. Beda sekali sikapnya saat bersama Ersya. Saat bersama Ellen, wanita itu begitu banyak tertawa dan ucapannya juga manis.
"Benarkah? Kalau begitu ayo!"
Seperti sebelumnya mereka saling menautkan lengannya, meninggalkan Ersya di belakang seolah menganggap menantunya itu tidak ada.
Div dan putrinya terlihat masih mengamati keadaan.
"Bagaimana kalau sekarang?" tanya Div pada putrinya itu.
"Siap Dad!"
Div pun mempercepat langkahnya, dan ...
Srekkkkk
Tiba-tiba tangannya melingkar di pinggang Ersya.
"Sayang, aku aku merindukanmu!"
Seketika langkah Ersya terhenti, hampir saja ia berteriak karena terlalu terkejut apalagi Div yang menggunakan tangan satunya menyibak rambut Ersya yang tergerai.
"Mas ...., lepas! Ini tempat umum!" bisik Ersya, apalagi ada putrinya juga di sama.
Ucapan Div seketika menjadi pusat perhatian Ellen dan mama Aruni. Mereka menoleh ke belakang dan mendapati kemesraan Div dan Ersya,
"Div, kamu apaan sih! Di tempat umum, jangan seperti anak kecil!" hardik mama Aruni.
Div malah semakin menyusupkan bibirnya ke tengkuk Ersya.
"Ma, kalau aku bermesraan sama orang lain di tempat umum itu baru salah, ini istri Div memang siapa yang akan melarang!"
__ADS_1
Ekspresi kesal juga di tunjukkan oleh Ellen, sebenarnya ini bukan kali pertama ia melihat Div bermesraan dengan wanita lain di depannya. Dulu Div lebih parah dari ini, tapi yang ini rasanya beda. Ini jauh lebih sakit, cara Div memperlakukan Ersya bukan sebagai pemuas nafsu sesaat.
"Mas ...., Divia mana?" tanya Ersya saat menyadari jika putrinya itu tidak bersama mereka sekarang. Ersya segera mendorong tubuh suaminya itu, ia terlihat begitu panik.
Syytttt, tampak Div berdecak. Dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari istrinya.
"Divia bersama pengasuhnya sedang di tempat bermain!"
Ersya mengerutkan keningnya, mana mungkin suaminya seteledor itu, "Hanya dengan pengasuh?"
"Menurutmu?" Div cukup kesal dengan pertanyaan istrinya. Seharusnya ia sekarang sudah bisa mengusir mama dan mantannya itu. Tapi istrinya malah mengacaukan semuanya.
Div melipat kedua lengannya di depan dada dengan tatapan dingin, Ersya hanya bisa tersenyum. Ia mengaku salah, tidak mungkin suaminya hanya meninggalkan putrinya dengan pengasuhnya saja tanpa ada pengawasan yang ketat.
"Sudahlah, ayo kita ke toko sepatu yang di maksud Ellen! Kamu ini mencemaskan hal-hal yang tidak perlu saja!" ucap nyonya Aruni sambil menarik lengan Ersya. Sepertinya ia sengaja membuat Div dan Ellen jalan berdua di belakang mereka.
"Ma ...!"
Ersya ingin sekali lepas dari mertuanya itu, tapi nyonya Aruni terus menggandeng tangannya.
"Kenapa? Kamu nggak suka ya mereka berjalan berdua? Memang begitu seharusnya dan kamu harus sadar diri, kamu itu cuma pengasuh untuk Divia bagi putraku, tidak lebih! Jangan di kira kamu sudah di nikahi putraku lalu kamu bisa dengan mudah mendapatkan hatinya, Ellen itu pacar Div sejak remaja, jadi sudah pasti dia akan kembali lagi padanya!" ucap nyonya Aruni dengan sedikit berbisik agar Div tidak bisa mendengar apa yang di katakan pada Ersya.
Mama pasti mengada-ada ....
Ingin rasanya tidak mempercayai ucapan mertuanya, tapi memang kenyataannya dulu mereka menikah hanya demi putri kecilnya dan bahkan sampai sekarang tidak ada ungkapan cinta dari suaminya itu.
Hehhhh, mereka memang terlihat cocok ..., tapi ...
Lagi-lagi Ersya menghela nafas,
Tidak segampang itu aku melepaskannya, jika tidak dia sendiri yang memintaku pergi ....
Baginya ini masih terlalu dini, ia bahkan sudah pernah di sakiti sesakit-sakitnya. Jika dia menikah karena Divia, maka jika ada orang yang ingin membuatnya mundur maka Divia adalah kekuatannya.
Akhirnya mereka sampai juga di toko sepatu yang di maksud Ellen dengan brand ternama di depan toko. Walaupun tidak terlalu besar, tapi pemilik brand ini sudah memilik ratusan cabang di seluruh dunia dan beberapa di antaranya di Indonesia. Makannya Ellen tidak asing dengan produk ini karena di tempatnya tinggal dulu juga ada.
"Ellen, kamu pilihnya sama Div saja! Tante mau ke sana sama Ersya!" ucap Nyonya Aruni dengan sengaja.
"Tapi ma!" protes Ersya dan nyonya Aruni segera memotong ucapannya.
"Kamu kan dari kalangan bawah, jadi mungkin kamu belum tahu mana yang bagus dan berkualitas jadi kamu sama mama saja, nanti aku pilihkan yang bagus untukmu!"
Kali ini Div hanya diam, dia sengaja ingin mengikuti permainan mamanya. Ia pun mengikuti Ellen mencari sepatu.
Ellen terlihat memilih sepatu berwarna merah lalu menunjukkannya pada Div,
__ADS_1
"Div bagaimana menurutmu ini?"
Div hanya menatapnya dingin, "Terserah kamu!"
Hehhh, terdengar helaan nafas halus dari Ellen, ia memilih mengembalikan sepatu itu di raknya dan mendekati Div.
"Div, kamu berubah!" keluhnya.
"Benarkah?"
Ellen menarik lengan Div hingga membuat Div menurunkan tangannya, "Sikapmu jadi nggak hangat seperti biasanya Div! Ayolah, aku mau kita seperti dulu, hanya aku dan kamu!"
Srekkk,
Tiba-tiba tangan Div melepaskan pegangan tangan Ellen,
"Kamu benar ....!" ucap Div membuat Ellen tersenyum dan berhambur memeluk Div tapi dengan cepat di tahan oleh tangan Div.
"Div!" ucap Ellen dengan wajah kecewanya.
"Kamu benar, aku tidak bisa seperti dulu lagi, kamu juga benar aku bukan tentang kita tapi aku adalah tentang keluarga kecilku, aku punya istri yang harus aku jaga perasaannya dan punya putri yang sangat menyayangi mamanya! Jadi selebihnya hanyalah orang lain bagiku!"
"Div, tapi aku tahu kamu tidak mencintai istrimu! Kamu tidak pa pa tetap menjadi suami bagi Ersya sebagai status, tapi hati kamu tetap milikku seperti dulu!"
CCkkkk, Div berdecak.
"Kamu yakin jika kamu pernah berada di hatiku dulu?"
"Div, apa yang sudah kita lalui selama bertahun-tahun, menurutmu apa bukan sesuatu yang berarti! Bahkan kita sudah berbagi segalanya, segalanya ....!"
"Tapi maaf, segalanya itu sekarang milik istri dan putriku!"
Ellen terdiam mendapati kenyataan yang begitu menyakitkan itu. Ternyata yang ia anggap berarti ternyata bukan siapa-siapa, bahkan semuanya tidak ada artinya.
Div berlalu begitu saja menyusul Ersya dan mama Aruni, meninggalkan Ellen dengan penuh luka yang tidak terlihat.
...Luka ini begitu dalam, sangat dalam hingga aku tidak tahu bagaimana cara untuk menyembuhkannya. Aku kira aku yang sudah menjadi hidupmu tapi ternyata aku masih kalah dengan yang datang di akhir cerita...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ Tri.ani5259
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...