
Kim membantu Divia bangun dan menyanggah punggung Divia dengan bantal.
"Aku bisa sendiri!?" Divia menolak saat Kim akan menyuapinya.
"Diamlah, aku akan menyuapimu!?"
Seperti biasa Kim menunjukkan wajah dinginnya agar gadis itu bisa nurut padanya.
Sesekali terlihat Kim meniup sup yang Sudja di letakkan di atas sendok karena memang sup masih panas.
"Ini sup apa? Kenapa rasanya aneh?" Divia masih merasa asing dengan rasa sup itu. Jauh beda dengan sup buatan mommy nya.
"Ini sup rumput laut dan gingseng, kata nenek baik untuk perutmu yang kram!"
"Jadi nenek ya?" Aku pikir dia buat sup ....
"Kenapa?" tanya Kim dengan tatapan menggoda, "Kamu pikir aku?"
Kenapa senyumnya itu menyebalkan sekali? gerutu Divia dalam hati. Walaupun tipis tapi Divia bisa melihat senyum itu.
"Enggak!" Divia tidak mungkin menurunkan egonya dengan mengakui apa yang di katakan Kim itu benar.
Kim tidak ingin membuat Divia kesal lagi saat melihat Divia mendesis kecil sambil memegangi perutnya.
"Apa begitu sakit?" Kim dengan reflek ikut memegang perut Divia dan Divia hanya menganggukkan kepalanya, terlihat Divia menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit.
Ternyata daya tahan tubuh Divia yang lemah membuat kram yang luar biasa setiap bulannya. Bahkan Divia selalu bolos sekolah setiap kali datang bulan.
"Bisa beri aku obat nyeri?" rengek Divia yang merasa semakin tidak bisa menahan rasa sakit.
"Jangan ya, pereda nyeri tidak baik untuk kesehatan, tidurlah aku akan mengompres perutmu!"
Kim segera meletakkan mangkuknya di atas nakas dan membantu Divia agar sedikit merebahkan tubuhnya dengan meletakkan banyak bantal di balik punggung Divia.
Kim pun mengambil kompresannya dan meletakkan di atas perut Divia,
"Bisa sedikit menyingkap bajuku!"
"Hahhhh?" Divia begitu terkejut dengan perintah Kim.
"Biar rasa hangatnya lebih merasuk!"
"Biar aku saja!" Divia pun mengambil bantalan kecil berisi air hangat itu dan menyelesaikan ke balik kaosnya.
Perlahan Divia kembali memejamkan matanya agar sedikit lebih baik, terlihat titik air mata di sudut matanya, dengan sigap Kim mengusap air mata itu sebelum jatuh ke pelipis Divia,
"Apa kamu ingin sesuatu?"
Divia hanya mengangukkan kepalanya, "Aku hanya ingin tidur sebentar!"
"Tidurlah, aku akan menjagamu!"
Divia tidak menjawab lagi, ia ingin segera tertidur dan sedikit melupakan rasa sakitnya.
Setelah nafas Divia terdengar teratur, perlahan Kim beranjak dari tempatnya, mengembalikan mangkuk yang masih berisi setengah sup dan cepat-cepat kembali agar saat Divia bangun ia langsung bisa langsung tahu.
__ADS_1
Sambil menunggui Divia yang tertidur, Kim juga menghubungi Lee, ia meminta Lee untuk mencarikan apa saja yang di butuhkan seorang wanita saat datang bulan.
Kim memilih duduk di sofa sambil mengerjakan beberapa pekerjaan dan sesekali melihat ke arah Divia.
"Ehhhhh!" terdengar lenguhan dari Divia, Kim dengan cepat bangun dari duduknya dan menghampiri Divia.
"Vi!?"
Divia perlahan membuka matanya, merasa perutnya sudah lebih baik.
"Kim, aku harus ke kamar mandi!"
"Biar aku antar!" Kim berusaha untuk menopang tubuh Divia yang hendak turun dari tempat tidur.
"Aku bisa sendiri Kim!?" ucapan Divia berhasil membuat Kim memundurkan tubuhnya, Divia pun benar-benar turun dan berjalan tertatih menuju ke kamar mandi. Walaupun begitu Kim tetap tidak bisa membiarkan Divia sendiri, ia mengawasi Divia dengan berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Vi, kamu baik-baik saja?" tanya Kim saat tidak terdengar suara di kamar mandi.
Tidak berapa lama Divia keluar dan Kim masih berdiri di depan pintu,
"Kim!?" Divia benar-benar terkejut, "Kenapa kamu di sini?"
"Tidak pa pa, hanya ..., hanya ...., takut saja kamu jatuh! Baiklah kalau tidak pa pa, aku akan menunggumu di sana!" Kim berjalan cepat menuju ke sofa, ia tidak mau sampai Divia tahu kalau dirinya tengah mengkhawatirkan wanita itu.
Kenapa dia manis sekali hari ini ...., hehhhh ...., perlahan Divia kembali menuju ke tempat tidur, ia tidak langsung tidur perutnya sudah lebih baik mungkin karena sup tadi. Biasanya ia minum obat pereda nyeri saat seperti ini tapi hari ini tidak perlu.
Divia menatap ke arah Kim yang pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya Kim sedang ingin berusaha menghindari tatapan Divia,
"Katamu hari ini tidak ada pekerjaan tapi kenapa bekerja di rumah?"
"Ohhh!"
Tiba-tiba ponsel Kim berdering, membuat pria itu segera mengalihkan tatapannya ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja, "Lee!?"
Dengan cepat Kim menerima telpon itu dan meletakan benda tipis itu di daun telinganya,
"Bagaimana?"
"Saya di depan Mr!"
"Baiklah, saya yang akan keluar!"
Kim segera mematikan sambungan telponnya dan beranjak dari duduknya,
"Mau ke mana?" ternyata Divia sedari tadi mengamati pergerakan Kim.
"Ada Lee di depan!"
"Ohhh!?"
Kenapa aku bisa lupa kalau mereka pisang makan pisang ...., batin Divia sambil menatap tubuh Kim yang berjalan melewati dirinya.
"Hehhhh, sayang sekali. Padahal tadi aku sudah berharap banyak!?" Divia menyesalkan perhatian yang di berikan Kim beberapa hari ini, membuatnya merasa ada yang berbeda dari pria itu, ia semakin merasa nyaman saja berada di dekat pria itu.
Tidak berapa lama Kim kembali dengan membawa sebuah kardus besar,
__ADS_1
"Itu apa?" tanya Divia yang ikut penasaran.
"Ini semua untuk kamu," Kim menyerahkan kardus besar itu di samping Divia dan ia pun kembali berdiri dengan melipat kedua lengannya di depan dada.
"Aku?" Divia yang penasaran segera membuka kardus yang memang tidak di lakban.
Mata Divia melongo tidak percaya melihat isi dari kardus itu, semua adalah pernak-pernik yang di butuhkan wanita saat datang bulan, mulai dari pembalut, pengompres, tambah darah, dan beberapa makanan hang baik untuk wanita yang tengah datang bulan.
"Ini_?" Divia menatap Kim dengan tatapan tidak percaya.
"Aku pikir kamu butuh itu!"
"Tapi tidak begini juga kan!?"
"Sudah syukur aku masih mau Carikan itu semua, bukannya terimakasih malah ngeluh!?" gerutu Kim dengan apa yang di lakukan oleh Divia.
"Maaf, okey. Terimakasih!"
"Nggak iklas banget terimakasih nya!"
Divia pun menarik kedua sudut bibirnya dan mendongakkan kepalanya, "Kim yang baik, yang ganteng, terimakasih ya!"
Kim tersenyum tipis kemudian berlalu begitu saja kembali duduk ke tempatnya,
"Hanya begitu saja responnya? Benar-benar kanebo kering, kaku kayak ranting pohon!" gerutu Divia pelan.
Dia perhatian sekali, jadi Lee ke sini buat ngantar ini semua...., Divia kembali memeriksa isi kardus itu. Jadi kangen nih sama mommy ....
Biasanya jika dia sedang datang bulan seperti ini mommy nya yang selalu memperhatikannya.
Kring kring kring
Baru saja di pikirkan, ternyata yang tengah di pikirkan langsung menelpon.
"I love you Moms!" Divia mengambil ponselnya dan menggeser tombol terima dan langsung saja layar ponselnya di penuhi wajah mommynya.
"Moms, aku merindukanmu!"
"Aku juga sayang, kamu baik-baik saja kan? Bukankan sekarang tanggal datang bulan?"
"Aku sudah lebih baik Moms ," Divia melirik pada pria yang ternyata mendengarkan percakapan mereka, Divia tersenyum,
"Ada yang perhatian banget sama Divia Moms, dia kasih Divia sup yang bisa meredakan nyeri, bantu Divia kompres perut dan ini," Divia menunjukkan semua barang-barang yang ad di dalam kardus, "Dia juga kasih ini!?"
"Ya ampun, dia baik sekali sayang! Kamu beruntung, dia pasti Kim! Aku tahu dia begitu mencintaimu!"
Seketika Divia menatap Kim, tapi Kim pura-pura fokus dengan berkas-berkas yang ada di depannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...