
...Semua yang ada di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Mungkin kita di pertemukan dengan seseorang agar kita bisa mengisi salah satu takdir hidupnya. Atau mungkin dia ada dalam bagian dari takdir hidupmu....
...🌺🌺🌺...
Dua pria beda generasi itu sekarang sedang tidur di atas tempat tidur, di balik selimut dengan baju tidur yang sama.
"Apa hari ini kamu lelah, Dee?" pria dengan hidung mancung dan kulit bersih itu tampak menyangga kepalanya dengan tangan kirinya agar bisa melihat wajah pria kecilnya.
"Hmmm!"
"Aku juga!"
"Apa kamu sedang patah hati, Kim?" Dee sudah terbiasa memanggil nama pada pria yang sudah mengasuhnya dari kecil itu.
"Hmmm!"
"Aku tidak suka dengan gadis itu, dia terlalu bawel! Dia juga seperti rubah!" Dee mencoba memberi penilaian pada wanita yang baru saja memutuskan Kim.
Kim hanya tersenyum dan mengusap kepala keponakannya itu, "Lain kali jangan suka menilai orang lain, hal itu yang membuatmu susah mendapatkan baby sitter!"
Hehhhhh ....
Terdengar helaan nafas dari anak berusia empat tahun itu.
Tidak ada percakapan lagi diantara mereka, sepertinya mereka kembali pada mode memikirkan persoalan masing-masing. Kim juga sudah meletakkan kepalanya di atas bantal, menatap langit-langit kamar seperti yang di lakukan Dee.
"Kim!"
Hingga suara itu berhasil membuatnya menoleh sebentar lalu kembali menatap langit-langit.
"Hmm?"
"Bisakah kau tidak pergi bekerja Kim, aku kesepian!"
"Bagaimana bisa, aku akan mencarikan baby sitter untukmu!"
"Aku maunya kamu, kalau tidak mungkin gadis itu!"
"Gadis itu?" Kim segera menoleh dan menopang kepalanya kembali dengan tangannya agar bisa melihat dengan jelas wajah keponakannya.
"Gadis yang mana maksud kamu?"
"Gadis yang di taman itu, gadis yang tanpa sengaja menjatuhkan es krim ku!"
Gadis itu ...., dia sangat ceroboh ...
"Tapi dia baik!"
"Kamu terlalu mudah percaya dengan orang baru. Tidurlah aku akan mencarikan baby sitter terbaik buat kamu!"
Hehhhhh
Lagi-lagi Dee hanya bisa menghela nafas, cukup sulit membujuk Kim. Dia selalu mempunyai pemikiran sendiri.
"Tidurlah, besok harus pergi ke sekolah kan!?"
"Aku tidak bisa tidur!"
"Aku akan membacakan dongen untukmu!"
Kim pun mengambil buku dongeng dan mulai membacakan untuk Dee. Kim begitu menyayangi Dee, ia memperlakukan Dee seperti anak sendiri, dengan hidup dekat Dee membuatnya selalu merasa ada kakaknya di sampingnya.
"Dee!?" sudah tidak ada pergerakan lagi, tandanya anak itu sudah tidur.
__ADS_1
"Apa kau sudah tidur?"
Tetap tidak ada jawaban. Perlahan Kim menutup buku dongengnya dan meletakkannya dia atas nakas. Ia juga bangun dari tempat tidur dan menyelimuti anak itu, mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.
Kini Kim berpindah ke kamarnya, ia memang selalu seperti itu setiap malam, Dee tidak akan tidur jika tidak dia temani terlebih dulu.
Hingga deringan ponsel kembali membuatnya tersadar. Ia masih menyimpan ponsel gadis asing yang sudah dengan berani melihat adegan privasinya.
"Banyak sekali telpon!" gumamnya, ia pun akhirnya tertarik untuk melihat siapa yang melakukan panggilan.
"Moms!"
"Apa itu artinya ibunya?"
Kim menimbang-nimbang dan akhirnya ia tidak tega, ia pun menerim telpon itu.
"Hallo sayang, Divia! Mama sudah sangat cemas, bagaimana kabar kamu? kenapa telponnya tidak di angkat sedari kemarin?"
"Hi, I'm Kim!"
Seberang sana terdiam, sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Hello, I am the mother of the owner of this number, did something happen to my child? (Hallo, saya ibu dari pemilik nomor ini, apa terjadi sesuatu dengan anak saya?)"
"No, I'm his friend. actually the phone was taken by me!" (Tidak, saya temannya. Tanpa sengaja ponselnya terbawa oleh saya)!"
"Thank goodness for that. Say hello to Divia! I miss her!" (Syukurlah kalau begitu. sampaikan salam saya untuk Divia. saya merindukannya)!"
"Iya tentu!"
"Hahhhh, kamu bisa bahasa Indonesia?"
"Sedikit!"
Jadi namanya Divia ....
Tuttt tuttt tutttt
Tiba-tiba sambungan telponnya terputus, mungkin karena jaringannya.
Kim hampir saja meletakkan ponsel itu tapi tiba-tiba ia tertarik untuk melihat isi ponsel itu.
"Dia benar-benar gadis ceroboh, bisa-bisanya ponsel di biarkan tanpa di sandi."
Kim memang belum sempat untuk memeriksa ponsel milik Divia. Ia harus menghapus beberapa foto atau rekaman yang di ambil Divia siang itu.
Tapi ternyata dia tidak menemukan apapun, ponsel itu hanya berisi foto Selfi pemiliknya.
"Ternyata tidak ada, jadi mungkin gadis itu tidak berbohong. Tapi tidak semudah itu aku mengembalikannya! Mungkin dia punya hal lain untuk merekam, misalnya alat penyadap!"
Kim pun mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi Lee.
"Iya Mr!"
"Cri tahu gadis itu!"
"Gadis itu?"
"Iya, pemilik ponsel dan laptop itu. Aku tidak bisa menemukan apapun di ponselnya, mungkin ia merekam dengan benda lain!"
"Baiklah Mr!"
Kim kembali meletakkan ponselnya saat sudah selesai menelpon. Kim pun tertarik untuk membuka laptop itu dan melihat isinya.
__ADS_1
Akhirnya Kim menemukan desain grafis yang sedang di kerjakan oleh Divia,
"Jadi dia anak desain!"
Kim memeriksa beberapa hasilnya dan lumayan untuk pemula,
"Lumayan juga!"
Kim jadi tertarik untuk melihat-lihat dan isinya sama.
Hingga tanpa sadar ia tertidur di sana dengan laptop yang masih terbuka.
...***...
Seperti biasa, pagi sekali Lee sudah berada di rumah Kim,
"Bagaimana, apa yang kamu dapat?"
"Gadis itu bernama Divia, dia terdaftar di universitas xxxx jurusan desain grafis. Ia tinggal di Kos-kosan mahasiswa yang ada di daerah xxxx!"
"Pantas dia selalu berada di taman! Sudah menemukan baby sitter untuk Dee?"
"Maaf Mr, tapi Dee tidak pernah mau berbicara dengan orang lain selain Mr Kim!"
Hehhhhhh....
Ia jadi teringat kembali dengan ucapan Dee semalam, gadis yang di bicarakan oleh Dee adalah gadis yang sama yang laptop dan ponselnya sedang ia sita.
"Apa ini yang di namakan kebetulan!?" gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Lee.
"Apa anda bicara dengan saya?"
"Lupakan!"
Lee kembali melihat ke depan begitu pun dengan Kim.
"Nanti ajak Dee ke taman. Dia sedang bosan di rumah!"
"Baik Mr!"
Hari ini Kim memiliki jadwal yang begitu padat, selain itu dia juga sedang ingin menemui Lyla dan berharap gadis itu akan berubah pikiran.
Tapi saat sampai di tempat pemotretan Lyla, ia malah harus menelan kecewa karena dia melihat gadis yang sudah ia cintai selama empat tahun lebih itu tengah bermesraan dengan seorang pria. Pria itu adalah produser tv.
Melihat kedatangan Kim, gadis itu segera berdiri dari pangkuan pria itu.
"Kim!"
"Panggil saya Mr Kim!" ucap Kim dengan nada dinginnya.
"Lanjutkan saja, saya ke sini hanya ingin mengecek pekerjaan kalian, kalau sudah selesai jam kerja saja sebaiknya kalian bermesraannya!"
Kim langsung berlalu begitu saja meninggalkan Lyla dan kekasih barunya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1