
Divta kembali memperhatikan apa yang
sebenarnya terjadi.
“Apa kalian beneran pacaran?” tanya
Rizal yang masih getol dengan pertanyaannya,
“kok aku curiga ya …, ini hanya akal-akalan
dia buat permaluin kamu mas! Tapi kalau mereka pacaran ya bagus lah mas nggak
ada yang bakal ganggu kumu lagi!” ucap Tisya berusaha menyudutkan Ersya walaupun
dengan kata yang halus.
“Abi ..…, nggak benar kan? Kalian
nggak sedang ada hubungan kan?" tanya mamanya Rangga.
"Ma ....!" Rangga berusaha
untuk protes.
Ohhhh ...., jadi gitu ceritanya
....! Mereka pura-pura pacaran di depan mantan suaminya ...., benar-benar nggak
pinter akting....
Divta tersenyum sendiri melihat
perdebatan mereka. apalagi wajah polos Rangga yang tampak tidak setegas tadi.
"Mama nggak mau ya kamu punya
hubungan spesial sama dia, apalagi sampek menikah dengan janda yang nggak bisa punya
anak seperti dia, mama bisa nggak punya cucu Abi ...!” ucap mamanya Rangga,
walaupun tidak begitu padas tapi cukup untuk membuat mules perut Ersya.
Pengen banget rasanya melabrak tuh
emak-emak tapi ia ingat tempat, jangan sampek gara-gara nggak bisa kontrol
emosi, ia di seret keluar oleh para pria-pria kekar yang berjaga di luar.
Sabar Ersya ..., sabar ....!!! Tapi
pengen nangis aja rasanya....,
Arsya hanya bisa tersu menahan agar tidak keluar kata-kata kasarnya.
“Ma …, jangan keterlaluan! Biarkan
saja jika Abi suka ma …!” ucap papa nya Rangga yang terlihat lebih tenang di
banding sang mama.
“Tapi pa …! Mama ini nggak bisa diam
kalau menyangkut Abi, pa! Ini masalah masa depan Abi ...!”
“Ersya …, kamu jangan bikin
keributan ya di acara bahagiaku sama mas Rizal ya ....!” ucap Tisya.
Ternyata hati Ersya nggak sekuat
yang ia duga. Ia kira akan kuat dan mudah menjawab semuanya tapi setelah
mengetahui fakta yang belum ia ketahui ternyata ia salah. Ia benar-benar mati
kutu.
Sepetinya dia sudah terpojok,
permainan yang menarik....
"Maaf ...., saya harus ke sana
dulu, ada calon istri saya di sana!" ucap Divta pada tuan Bactiar membuat
tuan Bactiar segera mengedarkan tatapannya, ia jadi begitu penasaran, siapa
wanita yang telah berhasil meluluhkan hati sekeras batu seperti Divta.
"Calon istri ...?" tanya
tuan Bactiar sambil mengikuti arah tatapan Divta.
"Saya permisi ....!"
Divta pun berjalan meninggalkan tuan
bactiar dan menuju ke beberapa orang yang sedang berdebat itu. Tuan Bactiar
masih terus mengikuti kemana pria itu akan berhenti, ia juga begitu penasaran.
Pasalnya pria satu anak itu selama ini tidak pernah menunjukkan kedekatannya
pada seorang wanita pun, padahal begitu banyak wanita yang ingin dekat
__ADS_1
dengannya termasuk putrinya, Tisya.
Divta yang meninggalkan tuan Bactiar
segera menghampiri di mana Rangga dan Ersya, ia menerobos begitu saja di antara
Tisya dan Rizal, membuat semua orang menoleh padanya.
"Rangga ...., terimakasih ya
sudah menjaga calon istriku!" ucap Divta sambil menepuk bahu Rangga.
"Pak Divta?!" tampak jika
Rangga begitu terkejut, calon istri ....
“Hai sayang …, maaf ya sudah
membuatmu menunggu lama!" ucap Divta sambil memeluk dan meninggalkan
kecupan di kening Ersya.
Ersya yang tidak tahu apa-apa hanya
bisa diam. Ia benar-benar tidak tahu tentang kedatangan Divta.
Apa ini bagian rencana Felic?
Ersya pun menoleh pada sahabatnya
itu dan ia melihat sahabatnya itu tetap duduk dengan begitu tenang.
Mungkin iya.....
Semua orang menatap Divta dan Ersya,
terutama tentunya Tisya. Ia mengenal siapa pria yang sedang melingkarkan
tangannya di pinggang ramping Ersya itu. Dia adalah pria yang pernah membuatnya
jatuh hati sebelum berlabuh ke Rizal.
Bukan cuma tampan tapi pria itu
sangat mapan, perusahaannya bertebaran di mana-mana, asetnya begitu banyak.
Melebihi kekayaan ayahnya, bahkan kekayaan ayahnya tidak ada setengah dari
milik Divta pribadi.
Bukankah dia ...., dia pria yang
semalam....., Ersya baru mengingat orang
Apa itu berarti Felic juga kenal
dengan pria ini ....., Divta.....
Ersya hanya bisa berusaha terus
tersenyum, Rangga pun mengedipkan mata pada Ersya seolah meminta penjelasan.
Rangga sudah sedikit menjauh karena merasa sungkan dengan atasannya itu.
Orang tua Rangga tidak kalah bingung,
mereka tidak mengenal pria di depannya ini.
"Siapa dia, Bi?" tanya
mamanya Rangga.
“Oh iya …, kenalkan saya Divta,
Pradivta Anugra Putra. Saya atasan di kantor Rangga!" ucap Divta.
"Tapi...., kenapa Ersya bisa
datang sama Rangga?" tanya Rizal yang masih begitu bingung, ia tidak
menyangka jika mantan istrinya itu dekat dengan seorang pria yang jelas-jelas
lebih segala-galanya dari dirinya dengan secepat itu.
"Anda Rizal ....?" tanya
Divta.
"Iya ....!"
"Ohhhh ...., jadi ini mantan
suami kamu sayang ....?" tanya Divta sambil mengusap dagu Ersya membuat
Ersya menajamkan matanya kesal. Ersya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Tadi sengaja meminta Rangga
untuk menemani calon istri saya lebih dulu karena saya ada pekerjaan!, Iya kan
Rangga?”
Rangga yang mendapatkan pertanyaan
__ADS_1
itu hanya bisa mengangguk.
"Jadi benar Bi, dia
atasanmu?" tanya mama nya Rangga yang masih tidak percaya, sekaligus ia
merasa menyesal karena telah menghina calon istri bos putranya.
Perjuangan untuk bisa sampai di
posisi Rangga saat ini tentu tidak mudah, ia tidak mau gara-gara ucapannya
putranya akan kehilangan pekerjaan.
"Iya ma ...., pak Divta
kenalkan ini orang tua saya pak!" ucap Rangga agar tidak bertambah runyam
urusannya.
"Salam kenal, tuan ...., nyonya
....!" ucap Divta sambil menatap kedua orang tua Rangga.
"Maafkan kami ya tuan Divta,
jika tadi kami bicara yang kurang sopan dengan calon istri tuan Divta! Kami
benar-benar menyesal, iya kan pa?" ucap mama Rangga. Ia benar-benar
penjilat yang hebat.
"Apakah terjadi masalah
sayang?” tanya Divta pada Ersya sambil kembali meninggalkan kecupan di kening
Ersya. Divta benar-benar menang banyak.
Dan perlakuan itu membuat semua
pencari berita segera membidikkan kameranya, jika kemarin mereka melihat Divta
pulang dnegan seorang perempuan sekarang mereka bisa melihat dengan jelas sang
perempuannya.
Hal itu membuat Tisya begitu kesal,
ia hanya bisa mendengus dan meninggalkan kerumunan itu begitu saja. Rizal yang
melihat Tisya meninggalkannya pun segera menyusulnya.
Pria ini memang tidak pernah
terlihat dengan seorang wanita setelah peristiwa itu, membuat para pencari
berita berlomba-lomba untuk mendapatkan berita sebanyak-banyaknya.
“Tolong beritahu kami tuan Div,
siapa wanita yang bersama anda ini?” tanya salah satu pencari berita sambil
sibuk mengabadikan moment itu.
"Iya tuan ...., tolong segera kasih tahu kamu kapan
berita gembiranya?"
"Apa benar nona ini calon istri
anda tuan?
"Apa putri anda tahu tentang
hubungan kalian?"
"Dimana kalian pertama kali
bertemu?"
"Nona ini dari perusahaan mana
tuan, kalau boleh tahu?"
Begitu banyak pertanyaan di
lontarkan pada mereka. Ersya hanya sibuk menyembunyikan wajahnya di balik tas
kecilnya.
“Tunggu saja berita bahagianya, jadi
bersabarlah. Biarkan kami menikmati pesta ini dengan tenang, iya kan sayang!”
Ucap Divta, saat para pemburu berita itu terus menghadang langkah mereka.
Saat beberapa dari mereka henda
mendekati Divta. Para pengawalnya sudah bersiap untuk menghadang mereka.
Divta pun memanfaatkan kesempatan
itu untuk pergi dari tempat itu, ia segera menarik tangan Ersya ke ruangan
__ADS_1
khusus tamu VVIP dengan tempat yang lebih private.