Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Calon istri


__ADS_3

Divta kembali memperhatikan apa yang


sebenarnya terjadi.


“Apa kalian beneran pacaran?” tanya


Rizal yang masih getol dengan pertanyaannya,


“kok aku curiga ya …, ini hanya akal-akalan


dia buat permaluin kamu mas! Tapi kalau mereka pacaran ya bagus lah mas nggak


ada yang bakal ganggu kumu lagi!” ucap Tisya berusaha menyudutkan Ersya walaupun


dengan kata yang halus.


“Abi ..…, nggak benar kan? Kalian


nggak sedang ada hubungan kan?" tanya mamanya Rangga.


"Ma ....!" Rangga berusaha


untuk protes.


Ohhhh ...., jadi gitu ceritanya


....! Mereka pura-pura pacaran di depan mantan suaminya ...., benar-benar nggak


pinter akting....


Divta tersenyum sendiri melihat


perdebatan mereka. apalagi wajah polos Rangga yang tampak tidak setegas tadi.


"Mama nggak mau ya kamu punya


hubungan spesial sama dia, apalagi sampek menikah dengan janda yang nggak bisa punya


anak seperti dia, mama bisa nggak punya cucu Abi ...!” ucap mamanya Rangga,


walaupun tidak begitu padas tapi cukup untuk membuat mules perut Ersya.


Pengen banget rasanya melabrak tuh


emak-emak tapi ia ingat tempat, jangan sampek gara-gara nggak bisa kontrol


emosi, ia di seret keluar oleh para pria-pria kekar yang berjaga di luar.


Sabar Ersya ..., sabar ....!!! Tapi


pengen nangis aja rasanya....,


Arsya hanya bisa tersu menahan agar tidak keluar kata-kata kasarnya.


“Ma …, jangan keterlaluan! Biarkan


saja jika Abi suka ma …!” ucap papa nya Rangga yang terlihat lebih tenang di


banding sang mama.


“Tapi pa …! Mama ini nggak bisa diam


kalau menyangkut Abi, pa! Ini masalah masa depan Abi ...!”


“Ersya …, kamu jangan bikin


keributan ya di acara bahagiaku sama mas Rizal ya ....!” ucap Tisya.


Ternyata hati Ersya nggak sekuat


yang ia duga. Ia kira akan kuat dan mudah menjawab semuanya tapi setelah


mengetahui fakta yang belum ia ketahui ternyata ia salah. Ia benar-benar mati


kutu.


Sepetinya dia sudah terpojok,


permainan yang menarik....


"Maaf ...., saya harus ke sana


dulu, ada calon istri saya di sana!" ucap Divta pada tuan Bactiar membuat


tuan Bactiar segera mengedarkan tatapannya, ia jadi begitu penasaran, siapa


wanita yang telah berhasil meluluhkan hati sekeras batu seperti Divta.


"Calon istri ...?" tanya


tuan Bactiar sambil mengikuti arah tatapan Divta.


"Saya permisi ....!"


Divta pun berjalan meninggalkan tuan


bactiar dan menuju ke beberapa orang yang sedang berdebat itu. Tuan Bactiar


masih terus mengikuti kemana pria itu akan berhenti, ia juga begitu penasaran.


Pasalnya pria satu anak itu selama ini tidak pernah menunjukkan kedekatannya


pada seorang wanita pun, padahal begitu banyak wanita yang ingin dekat

__ADS_1


dengannya termasuk putrinya, Tisya.


Divta yang meninggalkan tuan Bactiar


segera menghampiri di mana Rangga dan Ersya, ia menerobos begitu saja di antara


Tisya dan Rizal, membuat semua orang menoleh padanya.


"Rangga ...., terimakasih ya


sudah menjaga calon istriku!" ucap Divta sambil menepuk bahu Rangga.


"Pak Divta?!" tampak jika


Rangga begitu terkejut, calon istri ....


“Hai sayang …, maaf ya sudah


membuatmu menunggu lama!" ucap Divta sambil memeluk dan meninggalkan


kecupan di kening Ersya.


Ersya yang tidak tahu apa-apa hanya


bisa diam. Ia benar-benar tidak tahu tentang kedatangan Divta.


Apa ini bagian rencana Felic?


Ersya pun menoleh pada sahabatnya


itu dan ia melihat sahabatnya itu tetap duduk dengan begitu tenang.


Mungkin iya.....


Semua orang menatap Divta dan Ersya,


terutama tentunya Tisya. Ia mengenal siapa pria yang sedang melingkarkan


tangannya di pinggang ramping Ersya itu. Dia adalah pria yang pernah membuatnya


jatuh hati sebelum berlabuh ke Rizal.


Bukan cuma tampan tapi pria itu


sangat mapan, perusahaannya bertebaran di mana-mana, asetnya begitu banyak.


Melebihi kekayaan ayahnya, bahkan kekayaan ayahnya tidak ada setengah dari


milik Divta pribadi.


Bukankah dia ...., dia pria yang


semalam....., Ersya baru mengingat orang


Apa itu berarti Felic juga kenal


dengan pria ini ....., Divta.....


Ersya hanya bisa berusaha terus


tersenyum, Rangga pun mengedipkan mata pada Ersya seolah meminta penjelasan.


Rangga sudah sedikit menjauh karena merasa sungkan dengan atasannya itu.


Orang tua Rangga tidak kalah bingung,


mereka tidak mengenal pria di depannya ini.


"Siapa dia, Bi?" tanya


mamanya Rangga.


“Oh iya …, kenalkan saya Divta,


Pradivta Anugra Putra. Saya atasan di kantor Rangga!" ucap Divta.


"Tapi...., kenapa Ersya bisa


datang sama Rangga?" tanya Rizal yang masih begitu bingung, ia tidak


menyangka jika mantan istrinya itu dekat dengan seorang pria yang jelas-jelas


lebih segala-galanya dari dirinya dengan secepat itu.


"Anda Rizal ....?" tanya


Divta.


"Iya ....!"


"Ohhhh ...., jadi ini mantan


suami kamu sayang ....?" tanya Divta sambil mengusap dagu Ersya membuat


Ersya menajamkan matanya kesal. Ersya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Tadi sengaja meminta Rangga


untuk menemani calon istri saya lebih dulu karena saya ada pekerjaan!, Iya kan


Rangga?”


Rangga yang mendapatkan pertanyaan

__ADS_1


itu hanya bisa mengangguk.


"Jadi benar Bi, dia


atasanmu?" tanya mama nya Rangga yang masih tidak percaya, sekaligus ia


merasa menyesal karena telah menghina calon istri bos putranya.


Perjuangan untuk bisa sampai di


posisi Rangga saat ini tentu tidak mudah, ia tidak mau gara-gara ucapannya


putranya akan kehilangan pekerjaan.


"Iya ma ...., pak Divta


kenalkan ini orang tua saya pak!" ucap Rangga agar tidak bertambah runyam


urusannya.


"Salam kenal, tuan ...., nyonya


....!" ucap Divta sambil menatap kedua orang tua Rangga.


"Maafkan kami ya tuan Divta,


jika tadi kami bicara yang kurang sopan dengan calon istri tuan Divta! Kami


benar-benar menyesal, iya kan pa?" ucap mama Rangga. Ia benar-benar


penjilat yang hebat.


"Apakah terjadi masalah


sayang?” tanya Divta pada Ersya sambil kembali meninggalkan kecupan di kening


Ersya. Divta benar-benar menang banyak.


Dan perlakuan itu membuat semua


pencari berita segera membidikkan kameranya, jika kemarin mereka melihat Divta


pulang dnegan seorang perempuan sekarang mereka bisa melihat dengan jelas sang


perempuannya.


Hal itu membuat Tisya begitu kesal,


ia hanya bisa mendengus dan meninggalkan kerumunan itu begitu saja. Rizal yang


melihat Tisya meninggalkannya pun segera menyusulnya.


Pria ini memang tidak pernah


terlihat dengan seorang wanita setelah peristiwa itu, membuat para pencari


berita berlomba-lomba untuk mendapatkan berita sebanyak-banyaknya.


“Tolong beritahu kami tuan Div,


siapa wanita yang bersama anda ini?” tanya salah satu pencari berita sambil


sibuk mengabadikan moment itu.


"Iya tuan  ...., tolong segera kasih tahu kamu kapan


berita gembiranya?"


"Apa benar nona ini calon istri


anda tuan?


"Apa putri anda tahu tentang


hubungan kalian?"


"Dimana kalian pertama kali


bertemu?"


"Nona ini dari perusahaan mana


tuan,  kalau boleh tahu?"


Begitu banyak pertanyaan di


lontarkan pada mereka. Ersya hanya sibuk menyembunyikan wajahnya di balik tas


kecilnya.


“Tunggu saja berita bahagianya, jadi


bersabarlah. Biarkan kami menikmati pesta ini dengan tenang, iya kan sayang!”


Ucap Divta, saat para pemburu berita itu terus menghadang langkah mereka.


Saat beberapa dari mereka henda


mendekati Divta. Para pengawalnya sudah bersiap untuk menghadang mereka.


Divta pun memanfaatkan kesempatan


itu untuk pergi dari tempat itu, ia segera menarik tangan Ersya ke ruangan

__ADS_1


khusus tamu VVIP dengan tempat yang lebih private.


__ADS_2