Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
salah patner


__ADS_3

Malam ini adalah malam yang di


tunggu-tunggu oleh dua orang yang sedang berbahagia karena hubungan mereka akan


naik ke satu tingkat. Sedangkan untuk orang yang lainnya, malam ini adalah


malam di mana ia harus merelakan semuanya berlalu begitu saja setelah perjuangan


mereka lebih dari sepuluh tahun yang telah di lalui bersama-sama.


"Gue harus kuat! Gue harus bisa


...., tidak pa pa Ersya ..., semua akan baik-baik saja!" Ersya sedang


berdiri di depan cermin besar itu, ia memandangi penampilannya yang begitu


anggun dengan berbalut gaun warna violet polos. Tubuhnya yang ramping dan


tinggi membuatnya terlihat begitu cantik di tambah gaun itu melekat sempurna di


tubuhnya.


Sepatu hal tinggi yang senada dengan


gaunnya menjadikan penampilannya begitu sempurna. tas tangan warna silver


membuat semakin anggun.


brrrttttt brrrttttt brrrrtttttt


ponselnya yang masih tergeletak di


meja bergetar, seperti nya ada panggilan masuk. Ersya pun segera meraihnya, itu


dari Rangga.


"Iya Ga ....!" ucap Ersya


setelah mengangkat sambungan telponnya dan meletakkannya di daun telinganya.


"Sya ...., aku udah di depan


rumah kamu ....!"


"Ok siap ...., dalam lima menit


gue keluar!"


Ersya segera mematikan sambungan


telponnya. Ia kembali melihat pantulan dirinya di dalam cermin, rambutnya yang


panjang ia gerai begitu saja, sedikit di warna dan di cerly, sangat cocok


dengannya hanya ada aksen kecil di rambutnya. Setelah merasa sudah siap. Ersya


pun menyambar tas tangannya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Semangat ....! Semua akan


baik-baik saja!"


Ersya segera keluar dan menghampiri


Rangga yang sudah menunggu di luar rumah, ia duduk di teras rumah Ersya.


Rangga cukup terkejut dengan


penampilan Ersya yang begitu cantik.


“Kenapa hari ini cantik sekali?”


Ersya tersenyum mendengar ucapan


Rangga, “Emang gue selalu cantik!”


“Ya sih, bodoh banget yang udah


nyia-yiain kamu!”


"Nggak usah di pikirin ....,

__ADS_1


nggak masuk ke rumah dulu kan?" tanya Ersya setelah keluar.


"Nawarin atau apa?”


“Enggak!”


“Tega ….! Nggak usah!"


"Ya udah ...., gue kunci dulu


ya!" ucap Ersya sambil memasukkan kunci rumahnya ke lubang kunci.


Rangga pun mulai berjalan menuju ke


mobilnya, setelah selesai mengunci pintunya Ersya segera menyusul Rangga.


"Ayok ....!" ajak Ersya.


Saat Ersya akan masuk ke dalam


mobil, Rangga pun kembali menahan tangan Ersya, “Tunggu!”


“Ada apa lagi sih?” Ersya kesal


karena Rangga terus menahannya.


"Tapi nanti jangan salahkan aku


jika terjadi sesuatu ya di sana!"


"Iya, bawel ....!"


Akhirnya Rangga melepaskan tangan


Ersya.


"Masuklah ...!" ucap


Rangga setelah membukakan pintu mobil untuk Ersya.


“Makasih ya Ga, lo bener-bener baik


banget!" ucap Ersya setelah masuk ke dalam mobil.


...!"


Rangga pun segera menjalankan


mobilnya meninggalkan rumah Ersya.


"Andai saja lo dulu nggak


terlambat Ga, gue orang pertama yang bakal dukung hubungan lo sama Felic!"


"Sudahlah Sya ...., semua sudah


berlalu! Felic sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, mau tak mau aku


harus menerima kekalahan!"


"Iya kau benar .....!"


Ersya pun tak mau lagi membuka luka


lama temannya itu. Sudah waktunya dia untuk move on dan membangun hidup baru


dengan cinta yang baru begitupun dengan dirinya saat ini.


Menangisi orang yang telah memilih


pergi adalah pekerjaan yang sia-sia. Lebih baik bangkit dan menemukan yang


baru.


"Makasih ya Ga, lo udah mau


pergi sama gue!" ucap Ersya lagi setelah sekian lama terdiam, saat ini


mobil sedang terhenti karena traffic light sedang menyala merah.


“Iya …, udah berapa kali sih ngomong

__ADS_1


makasihnya, tapi aku nggak jamin ya semua berjalan dengan baik!” ucap Rangga,


ada sesuatu yang membuatnya begitu sulit untuk menjelaskan semuanya.


"Nggak pa pa, Ga! Yang penting


saat ini gue ada temennya!"


"Beneran kan, kamu nggak akan


benci aku gara-gara hal ini di kemudian hari?"


“Siap! Gue sudah syukur banget lo


mau nemenin gue!”


Akhirnya traffic light kembali


menyala hijau, mobil Rangga kembali melaju bersama dengan kendaraan-kendaraan


yang lainnnya yang saling berlomba mendahului dengan tujuan yang berbeda-beda.


Rangga beberapa kali menoleh pada


Ersya, ada yang ingin ia tanyakan tapi ragu.


"Kenapa Ga? Kalau mau tanya


tanya aja nggak usah sungkan kayak gitu!" ucap Ersya yang menyadari jika


Rangga sedang ragu.


“Apa Fe juga datang?" tanya


Rangga kemudian setelah merasa yakin.


"Ye katanya tadi mau move on,


tapi masih tanya dia!" ucap Ersya sedikit meledek.


"Nggak gitu Sya ....! Cuma aku


belum siap aja!" ucap Rangga. Ia memang merelakan Felic bersama orang lain


tapi bukan berarti dia bisa dengan leluasa dengan hatinya apalagi jika melihat


Felic datang bersama suaminya. Ia membayangkan betapa sulitnya saat itu.


"Hahhhh ....., kita memang


senasib Ga, bedanya lebih sakitan gue yang jelas-jelas gue yang di hianati


dengan alasan yang nggak jelas!"


"Siapa juga yang pamer


kesedihan, nggak usah khawatir Ga! kata Fe, suaminya nggak bisa nemenin, jadi


lo nggak sedih-sedih amat!"


“Suaminya kemana?”


“katanya nggak bisa datang, soalnya


banyak pekerjaan! Eh …, tapi lo jangan macam-macam, ya di sana,asisten


pribadinya nggak kalah galak loh!”


“Emang aku mau ngapain?”


“Ya sapa tahu lo bakal curi


kesempatan!”


“Aku nggak sepicik itu Sya, kamu kan


udah kenal aku sejak dulu! emang aku ada muka-muka nyrobot pasangan orang apa!”


Ersya hanya tertawa mendengar ucapan


Rangga. Karena setahunya dulu pria di sampingnya hanya mencintai seorang

__ADS_1


wanitra yaitu sahabatnya.


__ADS_2