
Malam ini adalah malam yang di
tunggu-tunggu oleh dua orang yang sedang berbahagia karena hubungan mereka akan
naik ke satu tingkat. Sedangkan untuk orang yang lainnya, malam ini adalah
malam di mana ia harus merelakan semuanya berlalu begitu saja setelah perjuangan
mereka lebih dari sepuluh tahun yang telah di lalui bersama-sama.
"Gue harus kuat! Gue harus bisa
...., tidak pa pa Ersya ..., semua akan baik-baik saja!" Ersya sedang
berdiri di depan cermin besar itu, ia memandangi penampilannya yang begitu
anggun dengan berbalut gaun warna violet polos. Tubuhnya yang ramping dan
tinggi membuatnya terlihat begitu cantik di tambah gaun itu melekat sempurna di
tubuhnya.
Sepatu hal tinggi yang senada dengan
gaunnya menjadikan penampilannya begitu sempurna. tas tangan warna silver
membuat semakin anggun.
brrrttttt brrrttttt brrrrtttttt
ponselnya yang masih tergeletak di
meja bergetar, seperti nya ada panggilan masuk. Ersya pun segera meraihnya, itu
dari Rangga.
"Iya Ga ....!" ucap Ersya
setelah mengangkat sambungan telponnya dan meletakkannya di daun telinganya.
"Sya ...., aku udah di depan
rumah kamu ....!"
"Ok siap ...., dalam lima menit
gue keluar!"
Ersya segera mematikan sambungan
telponnya. Ia kembali melihat pantulan dirinya di dalam cermin, rambutnya yang
panjang ia gerai begitu saja, sedikit di warna dan di cerly, sangat cocok
dengannya hanya ada aksen kecil di rambutnya. Setelah merasa sudah siap. Ersya
pun menyambar tas tangannya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Semangat ....! Semua akan
baik-baik saja!"
Ersya segera keluar dan menghampiri
Rangga yang sudah menunggu di luar rumah, ia duduk di teras rumah Ersya.
Rangga cukup terkejut dengan
penampilan Ersya yang begitu cantik.
“Kenapa hari ini cantik sekali?”
Ersya tersenyum mendengar ucapan
Rangga, “Emang gue selalu cantik!”
“Ya sih, bodoh banget yang udah
nyia-yiain kamu!”
"Nggak usah di pikirin ....,
__ADS_1
nggak masuk ke rumah dulu kan?" tanya Ersya setelah keluar.
"Nawarin atau apa?”
“Enggak!”
“Tega ….! Nggak usah!"
"Ya udah ...., gue kunci dulu
ya!" ucap Ersya sambil memasukkan kunci rumahnya ke lubang kunci.
Rangga pun mulai berjalan menuju ke
mobilnya, setelah selesai mengunci pintunya Ersya segera menyusul Rangga.
"Ayok ....!" ajak Ersya.
Saat Ersya akan masuk ke dalam
mobil, Rangga pun kembali menahan tangan Ersya, “Tunggu!”
“Ada apa lagi sih?” Ersya kesal
karena Rangga terus menahannya.
"Tapi nanti jangan salahkan aku
jika terjadi sesuatu ya di sana!"
"Iya, bawel ....!"
Akhirnya Rangga melepaskan tangan
Ersya.
"Masuklah ...!" ucap
Rangga setelah membukakan pintu mobil untuk Ersya.
“Makasih ya Ga, lo bener-bener baik
banget!" ucap Ersya setelah masuk ke dalam mobil.
...!"
Rangga pun segera menjalankan
mobilnya meninggalkan rumah Ersya.
"Andai saja lo dulu nggak
terlambat Ga, gue orang pertama yang bakal dukung hubungan lo sama Felic!"
"Sudahlah Sya ...., semua sudah
berlalu! Felic sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, mau tak mau aku
harus menerima kekalahan!"
"Iya kau benar .....!"
Ersya pun tak mau lagi membuka luka
lama temannya itu. Sudah waktunya dia untuk move on dan membangun hidup baru
dengan cinta yang baru begitupun dengan dirinya saat ini.
Menangisi orang yang telah memilih
pergi adalah pekerjaan yang sia-sia. Lebih baik bangkit dan menemukan yang
baru.
"Makasih ya Ga, lo udah mau
pergi sama gue!" ucap Ersya lagi setelah sekian lama terdiam, saat ini
mobil sedang terhenti karena traffic light sedang menyala merah.
“Iya …, udah berapa kali sih ngomong
__ADS_1
makasihnya, tapi aku nggak jamin ya semua berjalan dengan baik!” ucap Rangga,
ada sesuatu yang membuatnya begitu sulit untuk menjelaskan semuanya.
"Nggak pa pa, Ga! Yang penting
saat ini gue ada temennya!"
"Beneran kan, kamu nggak akan
benci aku gara-gara hal ini di kemudian hari?"
“Siap! Gue sudah syukur banget lo
mau nemenin gue!”
Akhirnya traffic light kembali
menyala hijau, mobil Rangga kembali melaju bersama dengan kendaraan-kendaraan
yang lainnnya yang saling berlomba mendahului dengan tujuan yang berbeda-beda.
Rangga beberapa kali menoleh pada
Ersya, ada yang ingin ia tanyakan tapi ragu.
"Kenapa Ga? Kalau mau tanya
tanya aja nggak usah sungkan kayak gitu!" ucap Ersya yang menyadari jika
Rangga sedang ragu.
“Apa Fe juga datang?" tanya
Rangga kemudian setelah merasa yakin.
"Ye katanya tadi mau move on,
tapi masih tanya dia!" ucap Ersya sedikit meledek.
"Nggak gitu Sya ....! Cuma aku
belum siap aja!" ucap Rangga. Ia memang merelakan Felic bersama orang lain
tapi bukan berarti dia bisa dengan leluasa dengan hatinya apalagi jika melihat
Felic datang bersama suaminya. Ia membayangkan betapa sulitnya saat itu.
"Hahhhh ....., kita memang
senasib Ga, bedanya lebih sakitan gue yang jelas-jelas gue yang di hianati
dengan alasan yang nggak jelas!"
"Siapa juga yang pamer
kesedihan, nggak usah khawatir Ga! kata Fe, suaminya nggak bisa nemenin, jadi
lo nggak sedih-sedih amat!"
“Suaminya kemana?”
“katanya nggak bisa datang, soalnya
banyak pekerjaan! Eh …, tapi lo jangan macam-macam, ya di sana,asisten
pribadinya nggak kalah galak loh!”
“Emang aku mau ngapain?”
“Ya sapa tahu lo bakal curi
kesempatan!”
“Aku nggak sepicik itu Sya, kamu kan
udah kenal aku sejak dulu! emang aku ada muka-muka nyrobot pasangan orang apa!”
Ersya hanya tertawa mendengar ucapan
Rangga. Karena setahunya dulu pria di sampingnya hanya mencintai seorang
__ADS_1
wanitra yaitu sahabatnya.