Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Gosip sampah


__ADS_3

Suasana kantor hari ini lebih ricuh dari biasanya, apalagi saat jam makan siang.


Di kantin kantor begitu ricuh mereka membicarakan hal yang sama, semua karyawan terlihat bergosip.


Mereka membicarakan topik yang sama, CEO perusahaan tempat mereka bekerja sendang menjadi gossip hangat di media sosial.


Entah siapa yang telah menyebarkan berita sampah itu hingga membuat berita itu mencuat di permukaan.


Dalam sebuah lama gosip dengan foto besar terpampang wajah CEO mereka dengan judul


‘CEO menjadi orang ke


tiga di pernikahan sebelumnya istri barunya’


Di laman yang berbeda juga tidak kalah jahatnya


‘seorang tuan muda finity group merebut istri karyawan biasa lalu menikahinya’


Bukan cuma itu masih banyak lagi, dan yang paling parah adalah


‘Pernikahan beda kasta,


terjadi karena si wanita tengah berbadan dua’


Para karyawan itu saling berbisik dan tidak jarang ada yang mengungkapkan pendapatnya.


“Aku rasa pak Div nggak


kayak gini deh!”


“Iya …, bu Ersya juga


nggak terlihat hamil, dia benar-benar baik pas ketemu kemarin’


“Iya, tubuhnya ramping


gitu, dia benar-benar kayak bintang model!”


“Memang siapa mantan


suami bu Ersya? Jadi penasaran! Katanya kerabat orang yang kerja di kantor sini juga loh!”


"Benarkah? siapa? Jadi penasaran!"


"Kalau nggak salah kerabatnya pak Rangga!"


"Ah yang bener? Layaknya hubungan pak Div sama pak Rangga baik-baik saja!"


"Iya kayak nggak ada masalah gitu!"


Mereka pun jadi penasaran


untuk mencari tahu siapa pria tertindas sini. Siapa pria yan telah menjadi mantan suami Ersya. Pria yang menjadi tokoh protagonis dalam kisah yang di buat di dalam surat kabar.


...***...


Seperti biasa, Div memang suak melakukan sidak dadakan, kali ini tujuannya adalah di kantin, seperti merasakan ada hal yang aneh pagi ini.


Div yang baru saja masuk ke kantin, ia merasa semua orang memang sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


Div memilih tempat yang masih kosong, berada di antara para karyawan membuat bisa tahu tentang keluhan mereka..


Div sesekali melihat ke arah para karyawan yang sepertinya menerka-nerka sesuatu.


“Sekretaris Revan!” panggilnya. membuat sekertaris Revan mendekat ke arah Div


“Iya pak!”


Sekertaris Revan sudah tahu apa maksud tatapan tuan Div.


“Apa ada yang belum


saya ketahui?”


“Bukan masalah besar.


pak, saya sudah menanganinya!”


“Apa maksudnya?”


Sekretaris Revan pun


menunjukkan laman gossip yang masih menyiarkan gossip itu.


“Ini keterlaluan!”


“Orang-orang kami sudah


bertindak pak, mereka akan membungkam mi semua media yang menyebarkan berita bohong ini!”


“Siapa yang melakukannya?”


“Ada satu nama!”


“Siapa?”


“Rizaldi!”


Div cukup hafal dengan pria itu pria yang pernah ia temui.


“Pria itu!” gumamnya.


“Iya pak!”


“Buat janji dengan


dia!”


“Baik pak!”


Sekretaris Revan pun


merencanakan bertemu dengan pria itu siang ini juga, ia menuju ke sebuah restaurant mewah.


Div sudah menunggunya di sana.


"Kamu yakin dia akan benar-benar datang?"


"Yakin pak, berdasarkan informasi dia sudah ada di depan gedung ini!"


"Bagus!"


Sekertaris Revans segera menyambut kedatangan Rizal, dia meminta Rizal untuk masuk.


"Ini ada apa?"


"Nanti anda juga tahu sendiri, silahkan!"


Sekertaris Revan memberi jalan, mengantarnya menghadap Div.

__ADS_1


“Silahkan duduk!” ucap Sekretaris Revan saat sudah berada di depan Div.


Div yang sudah duduk menunggu pun tersenyum tipis menatap Rizal.


Rizal pun duduk tepat di depan Div hanya terpisah oleh sebuah meja.


“Ada apa orang sebesar


anda ingin bertemu dengan saya yang kecil ini!”


“Sepertinya anda sudah


sadar dengan posisi anda kan tanpa saya repot-repot menjelaskannya lagi!”


“Maksud anda?”


“Jika anda memang suka


bermain-main dengan saya, jangan khawatir karena saya bisa melakukan hal yang


lebih dari itu, anda tahu ini apa?”


Div menyerahkan selembar


kertas yang ada kop sebuah klinik. Seketika wajah Rizal pucat melihat kertas


itu berada di tangan Div.


“Jangan pernah main-main dengan saya, karena saya bisa menghancurkan anda lebih dari ini!”


Div pun berdiri, ia menepuk bahu Rizal.


“Makanlah sesuatu, saya


sudah memesankannya tuan Rizal, sayang jika tidak di makan! saya permisi!”


Div berlalu begitu saja


meninggalkan Rizal yang masih memegang kertas tes kesuburannya.


Setelah Div, sekretaris


Revan pun mengikutinya di belakang.


Mereka meninggalkan restauran


itu.


“Awasi dia!”


“Baik pak!”


Sekertaris Revan membukakan pintu mobil untuknya.


...**""**...


Di kantor ternyata Ersya dan Iyya kembali datang untuk mengantarkan makan siang. Iyya ingin makan


siang dengan daddy nya.


“Div kemana?” tanyanya


pada Rangga.


“Pak Div sedang keluar


dengan sekretaris  Revan!”


padahal aku udah bawain makan siang untuknya!”


“Tunggu saja, sebentar


lagi juga datang!”


“memang kemana?”


“Kurang tahu!”


“Oh iya, tadi selama


aku masuk, semua karyawan sepertinya sedang memperhatikan aku, ada apa ya? Apa ada yang salah sama penampilanku?”


“Tidak, apa kau belum


melihat social media hari ini?”


“Ada apa?”


“Kamu lihat saja


sendiri, nanti juga tahu!”


Ersya pun segera membuka sosial media dan ternyata benar foto pernikahannya dnegan Rizal


terpampang di halaman depan menjadi trending topik hari ini, bahkan mengalahkan


gossip artis papan atas.


Ersya begitu penasaran,


tapi jika menunggu sampai Div kembali kasihan Iyya karena sudah pasti anak itu


akan mengantuk.


Ersya pun memutuskan


untuk pulang dan menitipkan kotak makan siangnya pada Rangga.


Tok tok tok


Rangga mengetuk pintu


ruangan Divta.


“Masuk!”


Rangga membawa bekal


makan siang itu.


“Maaf pak, ini ada


titipan dari bu Ersya!”


“Titipan?”


“tadi bu Ersya ke sini


sama Iyya!”

__ADS_1


Div mengerutkan


keningnya.


Dia mengirim makan


siang …


“Taruh di meja!”


“baik pak!”


 Div sama sekali tidak tertarik untuk melihat


kotak makan siang itu. Ia memilih pura-pura sibuk.


“Sudah kan?”


“Sudah pak! Saya


permisi!”


Rangga pun meninggalkan


ruangan Div. setelah memastikan Rangga pergi, Div pun  mulai meletakkan berkas yang ada di


tangannya. Ia beralih menatap kotak makan itu, dari tutupnya yang transparan sudah membuatnya tertarik untuk membukanya.


Beberapa kali Div menelan saliva nya menahan agar tidak memakannya, tapi ia juga lapar. Dia tadi memang pergi ke restauran tapi dia tidak bermaksud untuk makan di sana.


“Aku makan aja deh!”


Div pun dengan cepat


membuka kotak makan itu dan mulai memakannya. Sepertinya lidahnya mulai


terbiasa dengan masakan Ersya.


***


Malam ini Div pulang


sedikit lebih malam karena selain pekerjaannya di kantor ia juga harus


membereskan gossip sampah itu.


Ersya segera menyambutnya di depan pintu.


“Selamat malam!”


Div mengerutkan


keningnya, melihat Ersya yang beda dari biasanya. Tidak biasanya ia


menyambutnya seperti itu.


“Ada apa?”


“Tidak ada apa-apa!”


“Jika mau minta maaf,


sudah aku maafkan!”


Ersya terus mengikuti


langkah Div,


“Biar aku bawakan!”


ucap Ersya sambil merebut tas Div.


Hingga akhirnya mereka


sampai juga di depan kamar Div.


“Div!”


“hmm?”


“Maaf ya, kamu pasti


kesusahan gara-gara gossip itu!”


“Bukan hal yang besar!”


div pun hendak masuk tapi kemudian ia urungkan, ia kembali menatap Ersya.


“Kemarin saya mendapat


notif penarikan dari rekening pribadi kamu, buat apa?”


Ahhhh dia menanyakannya….


“Hanya membeli keperluanku saja!”


“Bukankah sudah aku


bilang, gunakan atm yang satunya! Atm yang khusus untuk keperluan kamu dan


Divia!”


“Tapi itu aku beli keperluanku!”


“Saya tidak mau


mengulang kedua kali, lain kali jika butuh sesuatu ambil dari atm yang


satunya!”


“Baik!”


Div pun segera meninggalkan Ersya, menutup pintunya.


Ersya masih menatap daun pintu yang sudah tertutup itu.


“Lalu gajiku buat apa


dong?”


“benar-benar sulit di


tebak!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2