
Suasana kantor hari ini lebih ricuh dari biasanya, apalagi saat jam makan siang.
Di kantin kantor begitu ricuh mereka membicarakan hal yang sama, semua karyawan terlihat bergosip.
Mereka membicarakan topik yang sama, CEO perusahaan tempat mereka bekerja sendang menjadi gossip hangat di media sosial.
Entah siapa yang telah menyebarkan berita sampah itu hingga membuat berita itu mencuat di permukaan.
Dalam sebuah lama gosip dengan foto besar terpampang wajah CEO mereka dengan judul
‘CEO menjadi orang ke
tiga di pernikahan sebelumnya istri barunya’
Di laman yang berbeda juga tidak kalah jahatnya
‘seorang tuan muda finity group merebut istri karyawan biasa lalu menikahinya’
Bukan cuma itu masih banyak lagi, dan yang paling parah adalah
‘Pernikahan beda kasta,
terjadi karena si wanita tengah berbadan dua’
Para karyawan itu saling berbisik dan tidak jarang ada yang mengungkapkan pendapatnya.
“Aku rasa pak Div nggak
kayak gini deh!”
“Iya …, bu Ersya juga
nggak terlihat hamil, dia benar-benar baik pas ketemu kemarin’
“Iya, tubuhnya ramping
gitu, dia benar-benar kayak bintang model!”
“Memang siapa mantan
suami bu Ersya? Jadi penasaran! Katanya kerabat orang yang kerja di kantor sini juga loh!”
"Benarkah? siapa? Jadi penasaran!"
"Kalau nggak salah kerabatnya pak Rangga!"
"Ah yang bener? Layaknya hubungan pak Div sama pak Rangga baik-baik saja!"
"Iya kayak nggak ada masalah gitu!"
Mereka pun jadi penasaran
untuk mencari tahu siapa pria tertindas sini. Siapa pria yan telah menjadi mantan suami Ersya. Pria yang menjadi tokoh protagonis dalam kisah yang di buat di dalam surat kabar.
...***...
Seperti biasa, Div memang suak melakukan sidak dadakan, kali ini tujuannya adalah di kantin, seperti merasakan ada hal yang aneh pagi ini.
Div yang baru saja masuk ke kantin, ia merasa semua orang memang sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
Div memilih tempat yang masih kosong, berada di antara para karyawan membuat bisa tahu tentang keluhan mereka..
Div sesekali melihat ke arah para karyawan yang sepertinya menerka-nerka sesuatu.
“Sekretaris Revan!” panggilnya. membuat sekertaris Revan mendekat ke arah Div
“Iya pak!”
Sekertaris Revan sudah tahu apa maksud tatapan tuan Div.
“Apa ada yang belum
saya ketahui?”
“Bukan masalah besar.
pak, saya sudah menanganinya!”
“Apa maksudnya?”
Sekretaris Revan pun
menunjukkan laman gossip yang masih menyiarkan gossip itu.
“Ini keterlaluan!”
“Orang-orang kami sudah
bertindak pak, mereka akan membungkam mi semua media yang menyebarkan berita bohong ini!”
“Siapa yang melakukannya?”
“Ada satu nama!”
“Siapa?”
“Rizaldi!”
Div cukup hafal dengan pria itu pria yang pernah ia temui.
“Pria itu!” gumamnya.
“Iya pak!”
“Buat janji dengan
dia!”
“Baik pak!”
Sekretaris Revan pun
merencanakan bertemu dengan pria itu siang ini juga, ia menuju ke sebuah restaurant mewah.
Div sudah menunggunya di sana.
"Kamu yakin dia akan benar-benar datang?"
"Yakin pak, berdasarkan informasi dia sudah ada di depan gedung ini!"
"Bagus!"
Sekertaris Revans segera menyambut kedatangan Rizal, dia meminta Rizal untuk masuk.
"Ini ada apa?"
"Nanti anda juga tahu sendiri, silahkan!"
Sekertaris Revan memberi jalan, mengantarnya menghadap Div.
__ADS_1
“Silahkan duduk!” ucap Sekretaris Revan saat sudah berada di depan Div.
Div yang sudah duduk menunggu pun tersenyum tipis menatap Rizal.
Rizal pun duduk tepat di depan Div hanya terpisah oleh sebuah meja.
“Ada apa orang sebesar
anda ingin bertemu dengan saya yang kecil ini!”
“Sepertinya anda sudah
sadar dengan posisi anda kan tanpa saya repot-repot menjelaskannya lagi!”
“Maksud anda?”
“Jika anda memang suka
bermain-main dengan saya, jangan khawatir karena saya bisa melakukan hal yang
lebih dari itu, anda tahu ini apa?”
Div menyerahkan selembar
kertas yang ada kop sebuah klinik. Seketika wajah Rizal pucat melihat kertas
itu berada di tangan Div.
“Jangan pernah main-main dengan saya, karena saya bisa menghancurkan anda lebih dari ini!”
Div pun berdiri, ia menepuk bahu Rizal.
“Makanlah sesuatu, saya
sudah memesankannya tuan Rizal, sayang jika tidak di makan! saya permisi!”
Div berlalu begitu saja
meninggalkan Rizal yang masih memegang kertas tes kesuburannya.
Setelah Div, sekretaris
Revan pun mengikutinya di belakang.
Mereka meninggalkan restauran
itu.
“Awasi dia!”
“Baik pak!”
Sekertaris Revan membukakan pintu mobil untuknya.
...**""**...
Di kantor ternyata Ersya dan Iyya kembali datang untuk mengantarkan makan siang. Iyya ingin makan
siang dengan daddy nya.
“Div kemana?” tanyanya
pada Rangga.
“Pak Div sedang keluar
dengan sekretaris Revan!”
padahal aku udah bawain makan siang untuknya!”
“Tunggu saja, sebentar
lagi juga datang!”
“memang kemana?”
“Kurang tahu!”
“Oh iya, tadi selama
aku masuk, semua karyawan sepertinya sedang memperhatikan aku, ada apa ya? Apa ada yang salah sama penampilanku?”
“Tidak, apa kau belum
melihat social media hari ini?”
“Ada apa?”
“Kamu lihat saja
sendiri, nanti juga tahu!”
Ersya pun segera membuka sosial media dan ternyata benar foto pernikahannya dnegan Rizal
terpampang di halaman depan menjadi trending topik hari ini, bahkan mengalahkan
gossip artis papan atas.
Ersya begitu penasaran,
tapi jika menunggu sampai Div kembali kasihan Iyya karena sudah pasti anak itu
akan mengantuk.
Ersya pun memutuskan
untuk pulang dan menitipkan kotak makan siangnya pada Rangga.
Tok tok tok
Rangga mengetuk pintu
ruangan Divta.
“Masuk!”
Rangga membawa bekal
makan siang itu.
“Maaf pak, ini ada
titipan dari bu Ersya!”
“Titipan?”
“tadi bu Ersya ke sini
sama Iyya!”
__ADS_1
Div mengerutkan
keningnya.
Dia mengirim makan
siang …
“Taruh di meja!”
“baik pak!”
Div sama sekali tidak tertarik untuk melihat
kotak makan siang itu. Ia memilih pura-pura sibuk.
“Sudah kan?”
“Sudah pak! Saya
permisi!”
Rangga pun meninggalkan
ruangan Div. setelah memastikan Rangga pergi, Div pun mulai meletakkan berkas yang ada di
tangannya. Ia beralih menatap kotak makan itu, dari tutupnya yang transparan sudah membuatnya tertarik untuk membukanya.
Beberapa kali Div menelan saliva nya menahan agar tidak memakannya, tapi ia juga lapar. Dia tadi memang pergi ke restauran tapi dia tidak bermaksud untuk makan di sana.
“Aku makan aja deh!”
Div pun dengan cepat
membuka kotak makan itu dan mulai memakannya. Sepertinya lidahnya mulai
terbiasa dengan masakan Ersya.
***
Malam ini Div pulang
sedikit lebih malam karena selain pekerjaannya di kantor ia juga harus
membereskan gossip sampah itu.
Ersya segera menyambutnya di depan pintu.
“Selamat malam!”
Div mengerutkan
keningnya, melihat Ersya yang beda dari biasanya. Tidak biasanya ia
menyambutnya seperti itu.
“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa!”
“Jika mau minta maaf,
sudah aku maafkan!”
Ersya terus mengikuti
langkah Div,
“Biar aku bawakan!”
ucap Ersya sambil merebut tas Div.
Hingga akhirnya mereka
sampai juga di depan kamar Div.
“Div!”
“hmm?”
“Maaf ya, kamu pasti
kesusahan gara-gara gossip itu!”
“Bukan hal yang besar!”
div pun hendak masuk tapi kemudian ia urungkan, ia kembali menatap Ersya.
“Kemarin saya mendapat
notif penarikan dari rekening pribadi kamu, buat apa?”
Ahhhh dia menanyakannya….
“Hanya membeli keperluanku saja!”
“Bukankah sudah aku
bilang, gunakan atm yang satunya! Atm yang khusus untuk keperluan kamu dan
Divia!”
“Tapi itu aku beli keperluanku!”
“Saya tidak mau
mengulang kedua kali, lain kali jika butuh sesuatu ambil dari atm yang
satunya!”
“Baik!”
Div pun segera meninggalkan Ersya, menutup pintunya.
Ersya masih menatap daun pintu yang sudah tertutup itu.
“Lalu gajiku buat apa
dong?”
“benar-benar sulit di
tebak!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰