Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (57. Undangan makan malam)


__ADS_3

Pria dengan wajah dingin itu tengah menatap layar ponselnya, sepertinya ia tengah fokus pada satu nomor,


"Pak, apa sudah siap?" Ajun yang baru datang membuyarkan lamunan Rendi, pria itu segera menoleh ke sumber suara,


"Aku punya pekerjaan buat kamu! Coba kamu lacak nomor ini, sepertinya ada yang aneh. Apa benar nomor ini atas nama Yura!" Rendi menyerahkan ponselnya dan menunjukkan sebuah nomor asing yang pernah digunakan Divia untuk menghubunginya. Ia sengaja menyimpan nomor itu karena merasa curiga dan beberapa kali ternyata pemilik nomor itu melihat status pribadinya, yang artinya pemilik nomor itu juga menyimpan nomornya.


"Baik pak!" Ajun pun segera mengambil ponsel itu, kemudian duduk di sofa sambil mengoperasikan layar komputernya yang terhubung dengan ponsel milik Rendi.


Selang beberapa saat, Ajun sudah berdiri dan menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya,


"Bagaimana hasilnya?"


"Bukan, pak!"


"Maksudnya?"


"Ponsel ini bukan milik nona Yura!"


"Tapi Divia melakukan panggilan lebih banyak ke nomor itu dari pada ke Daddy atau mammy nya?"


"Nomor itu terdaftar atas nama ...!"


...***...


Waktu ayah Rendi di Korea tinggal satu hari tapi masih ada satu hal penting yang harus ia lakukan sekarang dan ia harus memastikan semuanya.


"Minta ketua group D buat mempersiapkan pesta makan malam!" perintah Rendi dengan wajah tanpa ekspresi itu walaupun sebenarnya ia sedang begitu cemas akan sesuatu.


"Baik pak!"


"Dan pastikan semuanya datang!"


"Mengerti!"


Ajun segera meninggalkan ruangan itu, ia harus melakukan banyak hal hari ini.


Di tempat lain terlihat Kim begitu kelimpungan, ia bahkan tidak punya semangat untuk bekerja, berkali-kali ia hanya menatap layar ponselnya berharap wanita yang begitu istimewa di hatinya itu menghubunginya. Tapi nyatanya Divia benar-benar tidak memiliki inisiatif untuk menghubunginya lebih dulu.


Tiga hari sudah Kim dan Divia tidak bertemu. Dan selama tiga hari itu mereka hanya bisa mengobrol melalui telpon,


"Dia benar-benar ya, tidak ada inisiatif untuk menghubungiku lebih dulu." ucapnya geram, beberapa kali terdengar helaan nafas kasar yang keluar dari mulutnya. Rasanya ingin sekali marah tapi ia tidak pernah bisa marah pada wanita itu.


"Dia benar-benar ingin membuatku gila." gerutunya lagi, ia terus saja berdiri duduk, berdiri duduk tanpa berniat meninggalkan ruangannya.


Hingga pintu ruangannya di ketuk membuat Kim menghentikan kegiatannya,


"Masuk!"


Terlihat Lee muncul dari balik pintu,


"Ada apa?" ia benar-benar tidak ingin membuang waktu hari ini, walaupun hanya berbicara panjang lebar dengan Lee.


"Mr Ajun ingin menemui anda!"


Kim segera mengubah ekspresi nya, ia tidak mungkin terlihat kesal saat menghadapi tamunya,


"Suruh masuk!"


"Baik Mr!"

__ADS_1


Lee kembali lagi dan selang beberapa detik terlihat Ajun sudah berdiri di depan Lee, Lee kembali keluar dan menutup pintu ruangan itu dari luar.


"Silahkan duduk Mr Ajun!"


"Terimakasih!"


"Ada hal penting apa hingga membuat Mr Ajun datang ke mari?"


"Saya hanya ingin mengantarkan ini!" Ajun menyerahkan sebuah undangan, "Ketua group D mengundang anda untuk acara makan malam!"


Group D adalah salah satu perusahaan dengan pemegang saham hampir 40% adalah finityGroup, jadi hampir semua keputusan dari group D atas persetujuan finityGroup.


"Baik, saya pasti datang!"


"Anda boleh mengajak pasangan anda jika anda mau!"


"Akan saya usahakan!"


Sepeninggalan Ajun dari ruangannya, Kim jadi kepikiran dengan Divia. Ia ingin sekali menghubungi Divia dan mengajaknya untuk datang ke acara itu.


Sebenarnya Divia ingin sekali menghubungi Kim tapi ia juga tidak mau sampai mata-mata ayah Rendi tahu jika dirinya mempunyai hubungan dengan pria Korea.


Ia tahu anak buat ayahnya cukup jeli dalam mencari tahu sesuatu.


Karena Divia tidak juga menghubunginya, akhirnya Kim memilih untuk mengalah. Ia pun menghubungi Divia,


"Hallo!"


"Kim, ini masih siang, kenapa menghubungiku!"


"Apa kamu sudah melupakan aku?"


"Itu pertanyaan macam apa!" keluh Divia. "Jelas tidak mungkin!"


"Jangan dulu ya Kim, please!"


"Kenapa? Ayah kamu? Bukankah lebih baik kalau dia tahu aku kekasihmu dan kita bisa segera menikah!"


Seketika percakapan Divia dengan sang ayah terngiang di telinga Divia . Ia membayangkan jika ayahnya akan membawa serta dirinya pulang saat tahu dirinya menjalin hubungan dengan orang asing, hal itu membuatnya begitu takut, walaupun ia juga merindukan keluarganya.


"Jangan dulu ya Kim, aku mohon. Hanya sampai besok pagi setelah itu kamu boleh menemuiku kapan saja kamu mau."


"Kapan saja?"


"Hmmm!"


"Yesss!"


Apa aku salah bicara? Sepertinya iya ...., batin Divia menyadari jika dirinya salah mengucapkan janji.


"Sudah dulu ya Kim, hari ini aku akan sangat sibuk!"


"Benarkah? Padahal malam ini aku ingin ajak kamu buat makan malam!"


"Makan malam ya?"


"Iya!"


"Lain kali aja ya Kim, aku mohon!"

__ADS_1


"Baiklah, demi ayah kamu!"


Akhirnya Kim kembali mengalah, walaupun ia sudah sangat merindukan Divia tapi ia bisa menahannya demi gadis itu agar tidak cemas.


"Sampai jumpa lusa! Beri tahu aku saat ayah kamu pulang!"


"Buat apa?"


"Aku akan ikut mengantarnya ke bandara!"


"Nggak usah!"


"Aku janji tidak akan memperlihatkan diri, sungguh!"


"Baiklah terserah kamu!"


"I Miss you!"


"Miss you too!"


Divia dengan cepat mematikan sambungan telpon nya, hari ini ia sedang berada di tempat ayahnya, walaupun hanya singkat tapi Divia ingin mengisi waktu luangnya dengan sang ayah.


"Vi, siapa yang telpon?" lagi-lagi ayahnya memergoki dirinya saat sedang bersua telpon.


"Teman Vi ayah!"


"Yura?" setahu ayah Rendi, hanya Yura teman Divia di sini.


"Hmmm!"


Ayah Rendi segera duduk di samping Divia, di tangannya membawa sebuah paper bag dan menyerahkannya pada Divia.


"Ini untuk kamu!"


"Ini apa yah?"


"Gaun, tadi saat melewati sebuah butik ayah lihat gaun yang di pajang kayaknya bagus buat kamu! Sebenarnya ayah ingin membelikannya juga untuk bunda, tapi ayah pikir ayah akan membelikan hal lain buat bunda kamu!"


"Terimakasih ayah, ayah baik deh. Tapi Vi kan belum butuh gaun ayah, apa tidak sebaiknya buat bunda saja!"


"Siapa bilang, malam nanti ayah pengen kamu temenin ayah ke acara makan malam!"


"Acara makan malam?"


Kebetulan sekali ...., Divia tidak menyangka menolak tawaran Kim dan sekarang ayahnya juga menawarkan hal yang sama padanya.


"Iya, kebetulan om Ajun ada urusan lain jadi nggak bisa nemenin ayah, kamu bisa kan? Ayah nggak enak kalau datang sendiri!"


"Siapa saja yang yang datang?"


"Nggak banyak, mungkin hanya beberapa saja yang ayah kenal! Kamu tidak keberatan kan?"


"Tidak yah, Divia akan temenin ayah!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2