
Di Rumah Divta
Divia begitu kecewa karena daddy nya
tidak bisa pulang cepat padahal ini adalah akhir pekan. Biasanya Daddy nya itu
akan menghabiskan waktu berdua dengan nya. Tapi kali ini daddy nya malah
memilih menghadiri sebuah pesta.
Iyya terus saja menghabiskan waktu
akhir pekannya di depan tv, ia bukan ingin menonton acaranya, ia hanya ingin
menghabiskan waktunya saja,
"Kita tidur ya non!" ucap
pengasuhnya.
"Nggak mau, Iyya mau nunggu
Daddy!"
"Tapi sudah malam non, tuan kan
sudah bilang kalau akan pulang terlambat, non!"
"Nggak mau ...., Iyya mau
nonton tivi aja ....!"
Akhirnya pengasuhnya hanya bisa
pasrah, ia memutarkan tivi untuk Divia. Karena sudah malam, jadi tidak ada
acara anak-anak.
Divia mengganti-ganti chanelnya
beberapa kali, tapi tetap saja tidak ada yang bagus.
"Daddy ....!" teriak Divia
saat melihat daddy nya masuk tivi. Ada sebuah acara live pertunangan dari putri
pengusaha ternama.
"cus ...., itu daddy ...!"
"Iya non, itu tuan!"
Divia jadi mengikuti acara live
pertunanagn itu samapai selesai dan begitu tertarik dengan wanita yang ada di
samping daddy nya. Ia sudah beberapa kali bertemu dnegan bidadari yang ebrada
di samping daddy nya itu.
“Itu bidadali Iyya …!” teriak Iyya
beberapa kali saat Ersya masuk ke dalam kamera. Yang sering di sorot bukan
pertunagnagnyya, tapi para cameramen itu malah tertarik dnegan CEO Finity Group
itu, hingga beberapa kali mereka di sorot kamera.
"Apa itu calon mom nya
Iyya?" tanya Iyya saat mendengarkan statement yang di sampaikan oleh daddy
nya di media. Walaupun masih kecil Iyya cukup tahu maksud kata-kata sederhana
tentang calon istri dan kekasih.
"Mungkin non ....!"
Divia segera berdiri dan
meloncat-loncat di atas sofa dengan begitu senang, setidaknya keinginannya
untuk menjadikan bidadari tak bersayapnya untuk jadi mommy nya benar-benar akan
terjadi.
"Ye ye ye ...., Iyya punya mom
...., ye ye ye ....!"
Setelah puas meloncat-loncat, Iyya
pun segera menatap pengasuhnya.
"Iyya mau telpon dad!"
"Jangan dulu non, nanti tuan
__ADS_1
masih sibuk loh non!"
"Iya ya ...., nanti aja deh
...!"
Divia begitu senang saat mendengar
berita tentang Divta yang memperkenalkan calon istri di media, walaupun ia
tidak begitu faham tapi ia tahu dengan maksud kata-kata calon istri.
Di tempat lain di rumah besar itu
terlihat nyonya Ratih mengeratkan rahangnya dan tangannya saling bertaut. Berita
besar ini pasti juga akan berdampak pada perusahaan besar mereka.
Nyonya Ratih sudah memanggil
seseorang yang sangat ia percaya, dia adalah paman Salman.
“Bagaimana menurutmu?” tanya nyonya
Ratih.
“Sebaiknya nyonya tanyakan langsung
hal ini pada tuan Divta, nyonya!”
Nyonya Ratih terlihat mengganguk,
tak berapa lama seseorang mengetuk pintunya. Dia adalah putranya Agra.
“Bu …, apa ibu sudah menilahnya,
bang Div_!”
Ucapan Agra terhenti saat nyonya
Ratih memberi isyarat pada putranya agar tidak melanjutkan ucapannya.
“Saya sudah melihatnya! Katakana pada
Divta, ibu ingin bertemu besok!”
“Baik bu, Agra permisi!”
Setelah Agra keluar dari ruangannya,
“Jika itu benar, saya rasa itu
berita bagus nyonya!”
“Tapi kita belum tahu siapa wanita
itu, segera cari tahu identitas wanita itu!”
“Baik nyonya!”
***
Ersya sedang duduk sendiri di depan
gedung yang menjadi tempat pesta itu. Ia sudah memisahkan diri dari Divta
semenjak acara itu di mulai. Karena sibuk dengan dirinya sendiri, ia sampai
tidak menyadari jika ada keributan di tempat lain, ia sampai tidak tahu jika
sahabatnya dalammasalah besar, setelah memisahkan diri dari Divta, Ersya
memilih duduk di balkon, untuk menyendiri. Karena balkon cukup jauh dari
keributan itu, tidak semua orang melihatnya tadi kejadian itu terlalu cepat,
bahkan ia juga tidak melihat kedatangan dokter Frans.
Divta sebenarnya sudah ingin pulang,
tapi melihat Ersya yang masih setia di tempatnya membuatnya mengurungkan
niatnya untuk pulang lebih dulu.
“Kenapa dengan wanita itu, galau
banget kayaknya!” gumamnya.
Saat terjadi keributan itu, Divta
sedang menerima telpon sehingga ia memilih mencari tempat yang tenang, saat ia
kembali ke tempat perta ia hanya bisa melihat dari belakang kalau ada seseorang
yang sedang membopong seorang wanita menuju ke mobil. Karena merasa tidak
mengenalnya, jadi Divta mengabaikannya.
__ADS_1
Hingga acara selesai, mereka masih
berada di tempat yang sama. Setelah sudah sepi, Ersya pun memutuskan untuk
menghubungi sahabatnya. Hingga ebberapa kali tetap tidak di angkat.
“ah mungkin masih berisik di dalam,
lebih baik gue tunggu di depan aja deh!” gumam Ersya smabil berlalu
meninggalkan gedung. Ia tidak tahu jika sahabatnya itu sudah pergi semenjak
tadi.
Ersya terus duduk di sebuah pembatas
taman, hampir satu jam tapi sahabatnya itu tidak juga keluar.
Divta yang sudah menyelesaikan
telponnya segera keluar karena di dalam sudah sepi. Saat di depan gedung ia
melihat Ersya sedang duduk sendiri. Awalnya ingin segera pergi tapi melihat
Ersya yang seperti sedang menunggu seseorang jadi tertarik untuk bertanya.
“Nungguin siapa?” tanya Divta, ia
ikut duduk di samping Ersya.
“Lo lagi .....! Gue lagi nungguin
temen!” ucap Ersya tanpa menoleh pada pria yang telah membantunya itu. Ia
memilih tetap fokus pada pintu keluar agar tidak terlewatkan siapapun.
“Kamu yakin dia belum pulang?” tanya
Divta kemudian.
“Belum …!”
Divta pun memutuskan untuk ikut
menunggu,
“Baiklah aku temeni!”
“Nggak perlu!”
“Kenapa? Takut kalau aku bakal culik
kamu, nggak bakalan, karena besok kamu juga nyariin aku sendiri!”
Hehhhhhh
Ersya pun menghela nafas pasrah dan
mengijinkan pria itu untuk tetap menemaninya, mereka di tempat itu hingga
hampir satu jam.
"Kenapa nggak ada yang keluar
lagi?" gumam Ersya sambil sesekali menepuk nyamuk yang hinggap di
kulitnya.
"Sudah pulang kali dia!"
ucap Divta sambil ikut mengamati apa yang di lihat Ersya sedari tadi. Memang
sudah tidak begitu banyak yang keluar, hanya beberapa menit sekali, itupun yang
keluar hanya satu atau dua orang.
"Ah nggak mungkin dia pulang
sendiri tanpa nungguin gue! Dia juga nggak ngasih tahu!"
"Yakin banget ....!" ucap
Divta sambil menertawakan keyakinan Ersya.
"Karena dia sahabat gue, jadi
lo jangan protes! Gue yang lebih tahu sama sabahat gue!"
“Kamu nggak tahu yang namanya
teknologi telpon? Kenapa nggak telpon aja dia dari pada digigiti nyamuk kayak
gini!” ucap Divta memberi saran.
“Ahhh iya …, kenapa aku nggak
kepikiran ya!” ucao Ersya senang.
__ADS_1