Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Mom Eca datang


__ADS_3

Di Rumah Divta


Divia begitu kecewa karena daddy nya


tidak bisa pulang cepat padahal ini adalah akhir pekan. Biasanya Daddy nya itu


akan menghabiskan waktu berdua dengan nya. Tapi kali ini daddy nya malah


memilih menghadiri sebuah pesta.


Iyya terus saja menghabiskan waktu


akhir pekannya di depan tv, ia bukan ingin menonton acaranya, ia hanya ingin


menghabiskan waktunya saja,


"Kita tidur ya non!" ucap


pengasuhnya.


"Nggak mau, Iyya mau nunggu


Daddy!"


"Tapi sudah malam non, tuan kan


sudah bilang kalau akan pulang terlambat, non!"


"Nggak mau ...., Iyya mau


nonton tivi aja ....!"


Akhirnya pengasuhnya hanya bisa


pasrah, ia memutarkan tivi untuk Divia. Karena sudah malam, jadi tidak ada


acara anak-anak.


Divia mengganti-ganti chanelnya


beberapa kali, tapi tetap saja tidak ada yang bagus.


"Daddy ....!" teriak Divia


saat melihat daddy nya masuk tivi. Ada sebuah acara live pertunangan dari putri


pengusaha ternama.


"cus ...., itu daddy ...!"


"Iya non, itu tuan!"


Divia jadi mengikuti acara live


pertunanagn itu samapai selesai dan begitu tertarik dengan wanita yang ada di


samping daddy nya. Ia sudah beberapa kali bertemu dnegan bidadari yang ebrada


di samping daddy nya itu.


“Itu bidadali Iyya …!” teriak Iyya


beberapa kali saat Ersya masuk ke dalam kamera. Yang sering di sorot bukan


pertunagnagnyya, tapi para cameramen itu malah tertarik dnegan CEO Finity Group


itu, hingga beberapa kali mereka di sorot kamera.


"Apa itu calon mom nya


Iyya?" tanya Iyya saat mendengarkan statement yang di sampaikan oleh daddy


nya di media. Walaupun masih kecil Iyya cukup tahu maksud kata-kata sederhana


tentang calon istri dan kekasih.


"Mungkin non ....!"


Divia segera berdiri dan


meloncat-loncat di atas sofa dengan begitu senang, setidaknya keinginannya


untuk menjadikan bidadari tak bersayapnya untuk jadi mommy nya benar-benar akan


terjadi.


"Ye ye ye ...., Iyya punya mom


...., ye ye ye ....!"


Setelah puas meloncat-loncat, Iyya


pun segera menatap pengasuhnya.


"Iyya mau telpon dad!"


"Jangan dulu non, nanti tuan

__ADS_1


masih sibuk loh non!"


"Iya ya ...., nanti aja deh


...!"


Divia begitu senang saat mendengar


berita tentang Divta yang memperkenalkan calon istri di media, walaupun ia


tidak begitu faham tapi ia tahu dengan maksud kata-kata calon istri.


Di tempat lain di rumah besar itu


terlihat nyonya Ratih mengeratkan rahangnya dan tangannya saling bertaut. Berita


besar ini pasti juga akan berdampak pada perusahaan besar mereka.


Nyonya Ratih sudah memanggil


seseorang yang sangat ia percaya, dia adalah paman Salman.


“Bagaimana menurutmu?” tanya nyonya


Ratih.


“Sebaiknya nyonya tanyakan langsung


hal ini pada tuan Divta, nyonya!”


Nyonya Ratih terlihat mengganguk,


tak berapa lama seseorang mengetuk pintunya. Dia adalah putranya Agra.


“Bu …, apa ibu sudah menilahnya,


bang Div_!”


Ucapan Agra terhenti saat nyonya


Ratih memberi isyarat pada putranya agar tidak melanjutkan ucapannya.


“Saya sudah melihatnya! Katakana pada


Divta, ibu ingin bertemu besok!”


“Baik bu, Agra permisi!”


Setelah Agra keluar dari ruangannya,


“Jika itu benar, saya rasa itu


berita bagus nyonya!”


“Tapi kita belum tahu siapa wanita


itu, segera cari tahu identitas wanita itu!”


“Baik nyonya!”


***


Ersya sedang duduk sendiri di depan


gedung yang menjadi tempat pesta itu. Ia sudah memisahkan diri dari Divta


semenjak acara itu di mulai. Karena sibuk dengan dirinya sendiri, ia sampai


tidak menyadari jika ada keributan di tempat lain, ia sampai tidak tahu jika


sahabatnya dalammasalah besar, setelah memisahkan diri dari Divta, Ersya


memilih duduk di balkon, untuk menyendiri. Karena balkon cukup jauh dari


keributan itu, tidak semua orang melihatnya tadi kejadian itu terlalu cepat,


bahkan ia juga tidak melihat kedatangan dokter Frans.


Divta sebenarnya sudah ingin pulang,


tapi melihat Ersya yang masih setia di tempatnya membuatnya mengurungkan


niatnya untuk pulang lebih dulu.


“Kenapa dengan wanita itu, galau


banget kayaknya!” gumamnya.


Saat terjadi keributan itu, Divta


sedang menerima telpon sehingga ia memilih mencari tempat yang tenang, saat ia


kembali ke tempat perta ia hanya bisa melihat dari belakang kalau ada seseorang


yang sedang membopong seorang wanita menuju ke mobil. Karena merasa tidak


mengenalnya, jadi Divta mengabaikannya.

__ADS_1


Hingga acara selesai, mereka masih


berada di tempat yang sama. Setelah sudah sepi, Ersya pun memutuskan untuk


menghubungi sahabatnya. Hingga ebberapa kali tetap tidak di angkat.


“ah mungkin masih berisik di dalam,


lebih baik gue tunggu di depan aja deh!” gumam Ersya smabil berlalu


meninggalkan gedung. Ia tidak tahu jika sahabatnya itu sudah pergi semenjak


tadi.


Ersya terus duduk di sebuah pembatas


taman, hampir satu jam tapi sahabatnya itu tidak juga keluar.


Divta yang sudah menyelesaikan


telponnya segera keluar karena di dalam sudah sepi. Saat di depan gedung ia


melihat Ersya sedang duduk sendiri. Awalnya ingin segera pergi tapi melihat


Ersya yang seperti sedang menunggu seseorang jadi tertarik untuk bertanya.


“Nungguin siapa?” tanya Divta, ia


ikut duduk di samping Ersya.


“Lo lagi .....! Gue lagi nungguin


temen!” ucap Ersya tanpa menoleh pada pria yang telah membantunya itu. Ia


memilih tetap fokus pada pintu keluar agar tidak terlewatkan siapapun.


“Kamu yakin dia belum pulang?” tanya


Divta kemudian.


“Belum …!”


Divta pun memutuskan untuk ikut


menunggu,


“Baiklah aku temeni!”


“Nggak perlu!”


“Kenapa? Takut kalau aku bakal culik


kamu, nggak bakalan, karena besok kamu juga nyariin aku sendiri!”


Hehhhhhh


Ersya pun menghela nafas pasrah dan


mengijinkan pria itu untuk tetap menemaninya, mereka di tempat itu hingga


hampir satu jam.


"Kenapa nggak ada yang keluar


lagi?" gumam Ersya sambil sesekali menepuk nyamuk yang hinggap di


kulitnya.


"Sudah pulang kali dia!"


ucap Divta sambil ikut mengamati apa yang di lihat Ersya sedari tadi. Memang


sudah tidak begitu banyak yang keluar, hanya beberapa menit sekali, itupun yang


keluar hanya satu atau dua orang.


"Ah nggak mungkin dia pulang


sendiri tanpa nungguin gue! Dia juga nggak ngasih tahu!"


"Yakin banget ....!" ucap


Divta sambil menertawakan keyakinan Ersya.


"Karena dia sahabat gue, jadi


lo jangan protes! Gue yang lebih tahu sama sabahat gue!"


“Kamu nggak tahu yang namanya


teknologi telpon? Kenapa nggak telpon aja dia dari pada digigiti nyamuk kayak


gini!” ucap Divta memberi saran.


“Ahhh iya …, kenapa aku nggak


kepikiran ya!” ucao Ersya senang.

__ADS_1


__ADS_2