
Anak kecil dengan rambut di kepang dua itu begitu serius menggerakkan pensil warna di tangannya. Sedangkan wanita yang menunggu di sampingnya itu terlihat terus saja bengong.
Kalau aku pikir-pikir, pak Div baik juga ya ..., ya walaupun dinginnya minta ampun,
Sesekali tangannya memainkan ponsel barunya, ia kembali tersenyum saat mengingat kembali bagaimana pria itu memberikan ponselnya.
Dia mau lancar VC sama aku ....., tapi kayaknya bukan gara-gara aku deh, pasti gara-gara Divia kan ....
Wanita itu kembali mengerucutkan bibirnya. Dia beberapakali mengubah ekspresi wajahnya dalam beberapa detik saja, kadang senyum kadang kesal.
“Mom …, Iyya bisa menggambar
kan!”
"Hehhh?" Ersya begitu terkejut saat mendengar ucapan Divia. Dia segera menoleh pada anak itu. Ia sampai lupa jika sedang menemani Divia saat ini.
“Iya, gambaran Iyya bagus!”
Divia yang melihat mom Echa nya tidak konsentrasi segera menoleh padanya,
"Mom kenapa?"
"Mom tidak papa sayang, aku hanya sedang dalam melamun saja tadi!"
"Mom mikilin daddy ya?"
"Enggak sayang, mom hanya melamun saja!"
Divia pun segera kembali menoleh pada buku gambarnya, ia mengambil nya dan memperlihatkannya pada Ersya.
"Bagus kan mom?"
"Bagus sayang!"
“Kata daddy, kalau Iyya
cudah bica menggambar Iyya akan macuk cekoyah!” ucap Divia dengan begitu bersemangat.
Ersya ternyata tidak kalah bersemangatnya, “Benarkah?”
“Iya …!”
Tiba-tiba pelayan datang dengan membewa sebuah amplop berwarna coklat.
“Permisi nyonya, ada surat untuk nyonya!” ucap pelayan itu.
“Saya?” Ersya menunjuk dirinya sendiri.
“Iya nyonya!”
“Dari siapa?”
“katanya dari pengadilan!”
Pengadilan ….
“Baiklah, terimakasih ya!”
“Saya permisi nyonya!”
Ersya pun segera membuka amplop itu, ada kop yang bertuliskan pengadilan.
“Sidangnya besok!” gumamnya lirih saat membaca isi surat itu.
“Itu apa mom?”
“Bukan apa-apa sayang,
kamu lanjutkan menggambarnya ya!”
“Iya!”
"Mom simpan dulu ini ya!" ucap Ersya dan berdiri meninggalkan Divia. Ia menyimpan surat itu di dalam kamarnya.
Ting
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Ersya pun segera melihat siapa yang mengirimkannya pesan.
"Pak Div!"
Ersya segera menggeser layarnya agar terbuka.
//*Hari ini tidak ada makan siang ya?//
//Maksudku, jangan mengirim makan siang kaena saya sudah makan*//
Ersya mengerutkan keningnya, ia begitu bingung dengan maksud pesan Div.
"Ini maksudnya apa sih?"
Ersya mendongakkan kepalanya, ia melihat jam dinding. Jam makan siang sudah berlalu satu jam yang lalu.
"Apa maksudnya kalau aku ke sama sama Divia dan bawa makan siang nggak akan di makan karena sudah terlambat? Mungkin begitu ya!"
Ersya pun segera mengetikkan pesan balasan.
//Iya//
__ADS_1
Di tempat lain Div yang sedang memeriksa berkas-berkas nya begitu bersemangat saat mendengar ada notif pesan masuk.
"Cuma begitu jawabnya! Nggak peka banget jawabnya!" gerutu Div, ia begitu kesal sampai melempar ponselnya begitu saja di atas meja.
Tok tok tok
"Masuk!"
Ternyata Rangga masuk dan menghampiri Div.
"Maaf pak, apa tidak sebaiknya pak Div makan siang dulu, ini sudah lewat jam makan siangnya pak!"
"Nggak perlu, nggak *****! Kalau mau makan makan sendiri saja!"
"Baik pak!"
Rangga pun meninggalkan Div, belum juga sampai di pintu Div segera memanggilnya lagi.
"Tunggu!"
"Iya pak?"
"Carikan menu yang sama dengan menu yang saya makan kemarin!"
"Baik pak!"
Rangga pun segera keluar, dia bingung kemarin pak Div makan siang apa.
"Bukankah kemarin pak Div makan siangnya yang bawain Ersya?" gumam Rangga bingung.
"Apa sekertaris Revan tahu ya makan siangnya pak Div apa kemarin!"
Rangga pun segera menghampiri sekertaris Revan.
"Permisi!" ucap Rangga sambil mengetuk pintu ruangan sekretaris Revan.
"Ada apa?"
"Apa sekertaris Revan tahu kemarin pak Div makan siang menunya apa?"
Sekertaris Revan mengerutkan keningnya persis seperti yang di lakukan oleh Rangga tadi lalu menggelengkan kepalanya.
"Lalu makan siang pakek apa dong?"
"Makanan kesukaan pak Div kali!"
"Tapi apa?"
"Kenapa ribet banget sih, memang kemarin pak Div pesan makan siangnya di mana?"
"Bu Ersya yang mengirim makan siang!"
"Ah iya kenapa nggak kepikiran ya!"
Rangga pun segera meninggalkan ruangan sekretaris Revan. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ersya.
Ersya yang sedang menyimpan surat itu begitu terkejut saat mendengar ponselnya kembali berdering.
Ersya dengan cepat mengangkatnya.
"Hallo Sya!"
Ersya kembali menjauhkan ponselnya dari daun telinganya.
"Rangga!" gumamnya, "Iya Ga, ada apa?"
"Kemarin kamu masak apa buat pak Div?"
"Masak bakso dan sayur buncis!"
"Baiklah, terimakasih!"
Sambungan telpon tiba-tiba terputus.
"Ada apa sih? Kenapa para pria ini aneh sekali!"
Ersya kembali memikirkan bagaimana caranya untuk ijin sama Div besok. terakhir kali ia ijin, ia sudah berbohong. Tapi Div tidak marah padanya.
Rangga mencari restauran terdekat dan memintanya untuk membuatkan makanan yang sama seperti yang di jelaskan oleh Ersya.
Ia kembali dengan membawa makanan itu pada Div. Div begitu bersemangat untuk memakannya tapi saat merasakan satu suapan saja tiba-tiba saja Div menghentikannya.
"Ini kamu dari makan dapatnya?" tanya Div.
"Dari Restoran Xxx pak!"
Bukan dari dia ....
Div pun menjauhkan makanannya,
"Rasa lapar saya sudah hilang, bawa menyingkir saja!"
Kenapa sih pak Div nih ....
Rangga hanya bisa pasrah dengan tingkah Div.
Sedangkan di tempat lain sepanjang hari Ersya terus memikirkan untuk meminta ijin pada Div, pasti akan sedikit lebih lama dan Div selalu Cuma memberinya waktu satu jam saja, tapi sidang mana bisa satu jam.
__ADS_1
Sebenarnya ia sudah tidak terlalu tertarik dengan rumah itu. Terlalu sakit mempermasalahkan hal itu
lagi.
...****...
Div malam ini pulang lebih awal, ia masih punya waktu untuk menemani Divia sampai putrinya itu tertidur.
Sekarang sepertinya menjadi hobi baru divia, tidur dnegan di temani mom dan daddy nya.
“Dad …, Iyya cudah bica
menggambal, kata daddy Iyya bica celyah kalau cudah bica menggambar!”
‘benarkah?”
“Iya dad, daddy celalu
puya-puya yupa!”
“Tidak sayang, ya sudah
Iyya cepetan tidur dan daddy akan mencarikan sekolah terbaik buat Iyya, bagaimana?”
Ersya hanya memperhatikan obrolan ayah dan anak itu. Div menatap wanita di depannya itu, ia tahu jika wanita itu ada yang ingin di katakan tapi terlalu berat baginya untuk bertanya terlebih dulu.
Ersya jadi salah tingkah
sendiri di tatap Div seperti itu, untuk pertama kalinya Div menatapnya tanpa
berbicara yang pedas.
Akhirnya divia tidur
juga, Div pun memutuskan untuk turun dari tempat tidur Iyya.
“Div …!”
“Kita bicara di luar!”
Div pun meninggalkan
kamar divia. Ersya setelah mematikan lampu Divia segera menyusul Div.
Pria itu sudah duduk di
ruang santai yang ada di depan kamar mereka. ersya duduk di samping div dan memberi jarak satu lengan dengan pria itu.
“Besok boleh kan aku
ijin?’
“hmmm!”
“kamu nggak tanya aku
ke mana?”
“Apa perlu aku
bertanya, itu kan urusanmu tapi ingat aku nggak mau sampai kamu mengabaikan
Divia karena urusanmu itu!”
“kamu marah ya?”
“Kenapa marah?”
“Ya…, aku rasa kamu kan
bukan orang yang tidak tahu sesuatu? Kata mu tembok pun punya mata dan telinga
kan!”
“Aku akan menemanimu
besok!”
“hahhh?”
Div berdiri dari duduknya, tapi saat akan melangkahkan kakinya dia kembali menoleh pada Ersya.
"Lain kali minta sopir mengirim makan siang untukku!"
"Hehh?"
"Aku tidak sempat ke kantin atau ke restoran untuk mencari makan siang, waktuku jauh lebih berharga untuk itu!"
Div pun berlalu meninggalkan Ersya yang masih bingung.
"Tadi siang bilangnya nggak usah bawa makan siang, sekarang beda lagi ....!" gumamnya hingga pria itu masuk ke dalam kamarnya, Ersya pun memilih masuk ke kamarnya sendiri dari pada bertambah bingung.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰