
Ersya segera melepaskan tangan suaminya yang berada di pinggangnya,
"Mas ..., kamu sengaja ya?"
Div hanya tersenyum, "Menurutmu?"
"Keterlaluan sekali!"
Div hanya mengangkat kedua bahunya lalu berlalu begitu saja meninggalkan Ersya.
Keterlaluan sih ...., tapi aku suka, batin Ersya sambil mencebirkan bibirnya.
Ersya meraba dadanya yang sedikit terbuka,
"Ohhh astaga!"
Dengan cepat Ersya berlari menaiki tangga, ia harus segera mengganti bajunya sebelum Divia melihatnya dengan semua tanda merah itu. Ia pasti akan di berondongi dengan begitu banyak pertanyaan.
"Mom!"
Belum juga sampai di kamar, dari belakang sudah ada yang memanggilnya. Ersya hanya bisa menepuk keningnya dan berbalik menatap putrinya yang sudah berdiri di belakangnya, tangan Ersya secara otomatis menutup dadanya,
"Iya sayang, ada apa?"
"Mom kenapa yali-yali?" tanya Divia sambil memiringkan kepalanya.
"Ohhh, tidak sayang! Mom cuma olah raga tadi, beneran!"
Divia tampak mengerutkan keningnya, pasalnya ini bukan waktunya untuk olah raga.
"Apa yang mom tutup itu?"
"Ahhh ini!" Ersya begitu bingung harus menjawab apa, "Ini, sebenarnya anu, itu, apa!"
"Mom nggak cakit kan?"
Ersya dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak sayang, hanya saja ini mama di gigit serangga pas di bawah!"
"Benalkah? Coba mom, Iyya ingin liat!"
Ahhh, salah lagi kan alasannya ....
"Jangan ya sayang, biar mom kasih salep dulu, Iyya tunggu mom di bawah ya, setelah ini kita makan malam!"
"Tapi mom...!"
"Mom nggak pa pa, sungguh! Sekarang Iyya turun dulu ya!"
"Hemmm!" Divia menganggukkan kepalanya.
Divia pun akhirnya turun juga meninggalkan Ersya bersama dengan pengasuhnya. Ersya kini bisa bernafas lega karena Divia tidak banyak bertanya.
...🍂🍂🍂...
Keadaan di meja makan lagi-lagi akan selalu di buat heboh oleh nyonya Aruni. Dia terlihat begitu kesal sepanjang makan apalagi dengan Ersya.
"Kalian pasti sengaja kan tadi?" tanya nyonya Aruni di tengah-tengah makan.
__ADS_1
"Sudah lah ma, jangan bahas itu lagi, ada Divia di sini!"
Div memperhatikan Divia yang sedang di suapi istrinya itu. Mendengar ucapan Div, nyonya Aruni hanya melengus kesal dan kembali melanjutkan makannya.
"Oma, nggak enak ya makanannya?" tanya Divia yang melihat Omanya sedari tadi tidak tersenyum.
"Tidak!" jawab nyonya Aruni singkat.
"Jangan mayah-mayah teyus, nanti Oma tambah tua loh ....! Kata mom kalau mayah-mayah bica menambah keyutan di wajah!"
"Ahhh masak?" tanya nyonya Aruni yang merasa khawatir sambil memegangi wajahnya yang memang sudah terlihat banyak kerutannya.
Aku sudah lama tidak perawatan ..., jangan Sampek jadi nggak cantik gara-gara menantu tidak tahu diri itu. ...,
"Sayang, Oma masih cantik kok, iya kan mas?"
Huks huks huks
Div yang tidak siap ditanya jadi tersedak, sebenarnya ia ingin menertawakan ucapan Divia tapi takut mamanya tambah marah.
"Mas ...., hati-hati dong!" ucap Ersya sambil menyerahkan segelas air untuk suaminya itu.
Div segera meneguknya, "Ya sudah, aku sudah selesai! Aku ke ruang kerja dulu ya! Kalian lanjutkan saja makannya!"
"Tunggu Div!"
Divta kembali menghentikan langkahnya dan menoleh pada mamanya, "Ada apa lagi ma?"
"Akhir pekan, mama mau kita belanja bareng, aku, kamu, istri kamu dan Divia!"
Div mengerutkan keningnya, "Memang tadi mama nggak jadi belanja?"
Ersya mendengar hal itu segera ingin membantahnya, "Tapi ma, tadi ...!"
Nyonya Aruni segera menoleh pada Ersya dan memberi isyarat agar tetap diam. Hanya dengan menajamkan matanya saja Ersya sudah tahu maksudnya.
Belanjaan begitu banyak, bilang nggak belanja ...., apaan sih mama nih, atau jangan-jangan dia punya rencana terselubung lagi ..., batin Ersya.
"Div lihat jadwal dulu aja deh ma!"
"Jangan gitu dong Div, kamu kan sudah punya keluarga jadi kalau akhir pekan itu memang waktu untuk keluarga!"
"Div usahakan ma!"
Divta pun segera melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan mereka, nyonya Aruni kembali duduk dan teringat sesuatu.
"Oh iya, belanjaan ku tadi kamu taruh di mana?"
Divia menoleh ke arah mamanya mendengar pertanyaan Omanya karena baru beberapa waktu lalu Omanya mengatakan kalau dia tidak belanja, tapi sekarang mengatakan hal yang berbeda,
"Memang Oma belanja ya mom?"
"Iya sayang!" ucap Ersya sambil mengusap pipi putrinya, kemudian beralih pada mama mertuanya itu, "Masih di mobil ma!"
"Nggak mau rugi banget sih kamu, setidaknya bawakan ke kamar kalau nggak mau sendiri minta pelayan buat bawa masuk!"
"Maaf ma, tapi tadi Ersya lupa! Kalau gitu biar sekarang aja aku ambil!"
__ADS_1
"Nggak perlu, nggak usah! Sudah terlambat!"
Nyonya Aruni pun berdiri lalu meninggalkan mereka menuju ke luar, ia meminta beberapa pelayan untuk mengambil belanjaannya. Tapi ada hal yang mencurigakan yang ingin ia lakukan selain itu, setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya selain para pelayan, nyonya Aruni segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.
Setelah telponnya tersambung, dia segera menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya,
"Hallo Tante!"
"Hallo, Ellen! maaf ya Tante menggangu malam-malam, kamu ngga sedang sibuk kan?"
"Enggak kok Tante, ada apa?"
"Akhir pekan temani Tante belanja dong, nggak enak soalnya kalau belanja sendiri!"
"Baiklah Tante!"
"Terimakasih ya, sampai jumpa akhir pekan!"
Nyonya Aruni segera mematikan sambungan telponnya sebelum ada yang mendengarkan pembicaraan mereka, bibirnya melengkung ke atas seperti sedang memikirkan rencana yang akan dia lakukan hingga membuatnya begitu senang.
...🍂🍂🍂...
Akhirnya akhir pekan yang di tunggu benar-benar datang. Div dengan keluarga kecilnya sudah bersiap untuk pergi, awalnya Div tidak bersedia untuk pergi tapi karena Ersya dan Divia terus memaksa membuatnya tidak bisa mengelak. Memang ia tidak pernah benar-benar pergi berbelanja dengan putri dan istrinya, kalaupun ia ingin membelikan sesuatu untuk Divia, ia selalu menyuruh sekretaris Revan dan Rangga untuk melakukannya. Saat sudah menikah dengan Ersya, ia lebih suka menyerahkan uang dan membiarkan Ersya membeli apa yang dia sukai untuk hadiah atau semacamnya.
"Mama di mana? Dia yang ngajak kenapa dia nggak kelihatan?" tanya Div yang tidak melihat mamanya sedari tadi.
"Katanya mama akan langsung di mall mas, dia katanya harus pergi ke suatu tempat tempat lebih dulu!" ucap Ersya menanggapi.
"Oh begitu!"
Kali ini mereka sengaja tidak memakai sopir karena ingin kuality times, walaupun begitu tetap saja beberapa pengawal tetap berjaga di mobil yang ada di belakang mereka.
"Kata mama kita ke mall yang mana?" tanya Div saat sudah keluar dari area kompleks rumahnya.
"Mall terdekat dari kantor mas!"
"Yang ada tempat bermain anaknya itu?"
"Iya mas, tadi sengaja mama pilih itu katanya agar Divia leluasa bermain!"
Tumben sekali mama ...., batin Div. Ia tahu sifat mamanya. Ia bukan orang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain, yang paling utama adalah dirinya sendiri dan tiba-tiba.memikirkan Divia.
"Ada apa mas, apa ada masalah?" tanya Ersya yang merasa ada yang aneh dari suaminya yang tiba-tiba diam.
"Tidak pa pa!"
Sepanjang perjalanan, Divia terlihat begitu sibuk dengan gadgetnya. Semenjak sekolah ia jadi punya banyak teman untuk di ajak ngobrol melalui gadgetnya.
...Biarkan orang lain meremehkanmu, Karena sekeras apapun kamu berusaha untuk menjadi seperti yang dia minta kalau dia tetap tidak suka percuma saja, dia akan tetap mencari kesalahanmu, yang terpenting jadilah diri sendiri. Kalau mikir orang lain nggak akan ada habisnya, hidupmu sudah begitu indah dengan caramu sendiri...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...