Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Ribetnya mau ngomong!


__ADS_3

"Aku juga bukan orang yang baik, aku juga punya masa lalu yang kelam tapi kamu mas, orang yang mau menerimaku dengan segala kekuranganku, bahkan aku tidak bisa memberimu keturunan meskipun kamu menginginkannya!"


Itu kesedihan mendalam yang di rasakan oleh Ersya hingga saat ini. Mendengar ucapan Ersya, Div pun segera menarik tubuh Ersya menjauh.


"Tidak bukan seperti itu, ada kenyataan besar yang belum kamu ketahui!"


Ersya mengerutkan keningnya, ia menatap sang suami dengan rasa penasaran. Hari ini ia ingin tahu semuanya, semua yang mengangkut dirinya atau diri sang suami.


"Apa mas?"


Div memperbaiki posisi duduknya, ia ingin melihat bagaimana ekspresi sang istri setelah mendengar kenyataan ini.


Ada yang kurang .....,


"Bentar-bentar ...!"


"Apalagi sih mas?"


"Mana ponselmu?"


"Ada!"


"Ambil!"


Ersya pun menoleh ke belakang, ponselnya memang berada di nakas yang ada di belakangnya saat ini. Ia segera mengambil benda pipih itu.


"Buat apa?"


"Buka aplikasi kamera, terus nyalakan mode merekam!" perintah Div lagi.


Ada-ada aja, mau ngomong aja pakek rekaman segala ....


"Gini?" tanya Ersya sambil menunjukkan layar ponselnya.


"Bukan seperti itu, maksudku rekam video, bukan rekam suara!"


Issstttt, Ersya berdesis dan mengubah mode rekam audio menjadi rekam video.


"Sudah siap?" tanya Div lagi.


"Iya, ini ....!" menunjukkan layarnya pada Div.


"Mana?"


Div hampir saja mengambil ponsel Ersya tapi tiba-tiba ponselnya berdering membuat Ersya dan Div terkejut di buatnya. Ada sebuah panggilan tapi jam sebelas malam.


"Siapa?" tanya Div karena ponsel itu masih di tangan sang istri.


"Dokter Frans!"


"Kenapa dia hubungi kamu malam-malam?"


"Ya mana aku tahu, aku angkat dulu deh biar tahu!"


Ersya pun segera menggeser ke tombol hijau lalu mendekatkan benda pipih itu ke daun telinganya.


"Hallo Frans, ada apa?"


"Sya ...., Fe melahirkan!"


"Hah ...., yang bener, kapan?"


"Baru saja, ini dokter sedang melakukan pemeriksaan!"


Div begitu penasaran melihat wajah bahagia dari istrinya, bahkan Ersya sampai terlonjak dari duduknya dan berdiri di atas tempat tidur dengan wajah yang berseri.


"Gimana keadaan Fe?"


"Kata dokter dia baik! Ya sudah aku cuma mengabarkan itu aja karena Fe sedari tadi minta kamu dikasih tahu!"


"Iya!"


Sambung telpon tiba-tiba terputus.

__ADS_1


"Ada apa Sya?" tanya Div sambil mendongakkan kepalanya.


Ersya segera duduk kembali dan menggenggam kedua tangan suaminya itu,


"Fe lahiran!"


"Benarkah?"


"Iya! Kita ke sana sekarang ya?!"


Div melihat jam dinding, sudah jam sebelas malam.


"Besok saja ya, sekarang tidurlah!"


"Tapi mas!"


"Besok saja, aku akan mengantarmu ke rumah sakit! Kalau kamu cemas sekarang biar aku kirim seseorang untuk melihat keadaan mereka!"


Walaupun kesal dilarang, tapi ia sadar bahwa hidupnya saat ini bukan cuma tentang dirinya saja, ada suami yang memang harus di patuhi keputusannya.


"Baiklah, tapi janji ya, besok temenin aku!"


"Iya sudah tidurlah!"


Div membantu Ersya tidur, ia mematikan lampu kamar dan menjadikan tangannya sebagia bantal kepala istrinya, mengusap puncak kepala sayang istri dan menyelimutinya, meninggalkan kecupan di kening sang istri.


Hampir saja Ersya memejamkan matanya, tapi segera ia buka kembali. Ia teringat sesuatu,


"Mas?"


"Hmm!"


"Buka dulu matanya!"


"Apa?" Div enggan membuka mata karena memang sudah sangat lelah, ingin segera tidur dan memeluk istrinya itu.


"Tadi mau ngomong apa?"


Lebih baik lain kali saja, sepertinya aku butuh moment yang pas untuk mengatakannya, kalau ungkapan cinta sudah gagal momennya jangan sampai yang ini juga gagal ....


Div memang orang yang cukup perfeksionis, ia ingin semua yang di lakukannya berada di tempat yang tepat dengan situasi yang tepat juga.


"Lain kali saja ya, masih banyak waktu kan!?"


"Tapi aku kan penasaran!"


"Lebih penasaran mana dengan wajah imut anak yang dilahirkan sahabat kamu?"


"Ahhhhh, mas Div buat aku tidak sabar sampai besok!"


"Makanya cepat tidur dan besok pagi-pagi kita ke sana!"


"Baiklah ....!"


Ersya pun lagi-lagi hanya bisa menyerah, ia segera memejamkan matanya agar besok tidak sampai bangun kesiangan dan bisa cepat bertemu dengan sahabatnya itu. Jika belum melihat keadaan sang sahabat rasanya belum tenang.


"Om sama Tante sudah di kasih tah belum ya mas?" tanya Ersya lagi membuat Div gemas dengan sang istri.


"Mau tidur saja atau aku makan sekarang biar besok nggak bisa jalan?"


"Iya aku tidur!"


Ersya dengan cepat menutup matanya dan mengeratkan pelukannya pada sang suami,


Dasar tukang ancam ....


Div hanya tersenyum melihat istrinya begitu penurut. Ingin sebenarnya memakan istrinya setelah momen yang membahagiakan dalam hidupnya. Tapi ia saat ini hanya ingin menikmati pelukannya ini, rasanya seperti mimpi bisa memeluk orang yang benar-benar ia cintai buka hanya sebagai pemuas nafsu sesaatnya saja.


...🍂🍂🍂🍂...


Pagi ini semuanya sudah terlihat rapi, Ersya dengan kemeja putih yang di masukkan sebagian ke celana jeans-nya begitu cantik. Dengan rambut yang dibiarkan tanpa di ikat.


"Mom mau ke mana?" tanya Divia, biasanya memang selalu cantik tapi kali ini ia melihat momnya tidak berdandan seperti biasanya.

__ADS_1


"Mom mau nengokin dedek bayi, Iyya mau ikut?"


"Om doktel dedek bayinya cudah keyual ya mom?"


"Iya sayang!"


"Iyya mau ikut!"


"Ya sudah cepetan habiskan sarapanmu sebelum Oma dan Daddy turun!"


"Ciap mom!"


Ersya memang selalu menemani Divia untuk sarapan sedangkan suaminya, ia selalu membuatkan bekal sarapan untuk sang suami agar bisa memakannya di dalam mobil.


Nyonya Aruni terlihat menuruni tangga saat Divia sudah menyelesaikan sarapannya dan menjinjing tas kecilnya di punggung.


"Kamu mau kemana? Kenapa rapi sekali?" tanya nyonya Aruni pada Ersya.


"Iya ma, Ersya mau ke rumah sakit!"


"Siapa yang sakit?"


"Bukan sakit ma, istrinya dokter Frans melahirkan, dia sahabat aku!"


"Frans?"


Aku sepertinya tidak asing dengan nama itu ....


"Iya ma, kalau nggak salah dokter Frans ini sahabat Agra sekaligus sepupu mas Div sama Agra, putra dari adiknya ayahnya mas Div!"


Jadi mereka sudah tahu kalau Bima dan mas Wijaya itu saudara? Benar-benar banyak yang aku tidak tahu ....


"Kalian sudah siap?"


Pertanyaan dari Div menyadarkan nyonya Aruni yang sedang melamun. Div sudah berdiri di belakang sang mama dengan penampilan rapinya.


"Sudah siap dong dad, iya kan sayang?"


"Iya dad! Iya temui om Langga duyu!"


"Iya, tapi jangan lari-lari!"


"Iya mom!"


Jawabannya Iya, tapi tetap saja yang namanya anak kecil. Lebih baik berlari dari pada berjalan.


"Div berangkat dulu ya ma!" ucap Div dan melewatinya begitu saja lalu menghampiri sang istri,


"Bentar mas!"


Ersya kembali menoleh pada mamanya yang masih terpaku di tempatnya.


"Ma, mama mau sekalian ikut nggak? Kita jenguk Fe sama-sama!"


"Nggak usah, mama kurang enak badan! Mama di rumah saja! Kalian kalau mau pergi pergi saja, nggak usah bahas soal mama di sana!" ucap nyonya Aruni kemudian berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua dengan wajah panik.


"Mama kenapa sih mas?"


"Sudah nggak usah dipikirkan, ayo!"


Ersya pun hanya bisa mengikuti suaminya pasrah. Tapi kepalanya sekarang sedang berisi begitu banyak pertanyaan tentang tingkah mertuanya pagi ini, tidak biasanya, biasanya mama mertuanya itu akan kepo dan memilih mengikuti kemanapun mereka pergi.


...Mungkin untuk sebagian orang, menyarakan cinta seperti mengulang kata manis setiap hari. Tapi bagiku, kata cinta itu seperti kata sakral yang di katakan pada orang yang benar-benar tepat untuk menerimanya...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2