Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (24. Datang bulan)


__ADS_3

...Kamu tidak perlu mengatakan apapun, cukup diam dan aku akan merasakan betapa dalam cinta yang coba kamu berikan untukku. ...


...🌺🌺🌺...


Pagi sekali Kim sudah siap dengan kemeja rapinya, ia sesekali tersenyum saat menatap gadis yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya,


Kenapa aku baru sadar kalau dia cantik, tapi sayang barbar ....


Ingin rasanya mendekat dan menyentuh wajah tenang itu, tapi nyalinya tidak begitu besar.


Tampak Divia mulai menggerakkan badannya membuat Kim pura-pura kembali fokus mengancingkan kemejanya yang memang belum sepenuhnya terkancing.


Nyenyak sekali tidurku ...., batin Divia sambil meregangkan otot-otot nya, tapi segera matanya terbelalak saat menyadari di mana saat ini ia tidur.


"Kim!?" teriak Divia seraya bangun dari tidurnya.


"Nona, ini bukan hutan jadi nggak perlu teriak-teriak seperti itu!?" ucap Kim tanpa menoleh ke arah Divia, ia hanya menatap dari pantulan dari cermin yang ada di depannya.


Divia sudah mendekap dadanya dengan kedua tangan, "Apa yang kamu lakukan denganku?"


"Memang apa yang kamu harapkan?"


"Kenapa aku bisa ada di sini? Bukankah semalam aku di _!" Divia menatap ke arah lantai tempatnya tidur semalam.


"Ternyata kamu punya kebiasaan berjalan saat tidur ya!?"


Hahhh ...., nama mungkin begitu ...., seumur-umur bahkan Daddy dan Moms tidak pernah protes tentang hal itu ..., Divia tidak percaya dengan apa yang baru di katakan oleh Kim.


"Apa iya?"


"Menurutmu?"


Divia tidak punya tenaga lagi untuk berdebat, ia memilih untuk turun. saja dari tempat tidur dan berjalan lemas ke kamar mandi, tapi karena nyawanya belum terkumpul sempurna ia hampir saja menabrak dinding yang ada di samping pintu kamar mandi, beruntung tangan Kim dengan sigap menahan kepala Divia,


"Kalau masih ngantuk sebaiknya tidur lagi saja!?" ucapnya tanpa memindahkan tangannya dari dinding itu,


Dia harum sekali ...., batin Divia saat tubuh Kim begitu dekat dengannya.


Hehhh, tapi sayang dia menyebalkan ....,


"Sudah minggir, aku mau lewat!?"


"Sudah di tolong, bukannya terimakasih masih juga marah-marah!?"


"Terserah aku!?" Divia berlalu setelah tangan Kim menyingkir, entah kenapa ia begitu kesal hari ini.


"Memang apa salahku?" Kim hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan tingkah Divia yang emosian.


Kim masih berada di kamarnya saat Divia keluar dari kamar mandi, tapi Divia keluar dengan wajah pucat dan memegangi perutnya.


"Kamu kenapa lagi?"

__ADS_1


"Please Kim, aku benar-benar tidak punya tenaga untuk berdebat kali ini, biarkan aku tidur sebentar!?"


Divia berjalan dengan begitu pelan menuju ke tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut, tampak keringat dingin membasahi kening Divia.


"Tapi bukankah hari ini ada_!" Divia langsung memberi isyarat pada Kim agar banyak bicara.


"Aku akan meminta Yura untuk ijin pada dosen!"


"Baiklah terserah kamu!?"


Kim berusaha untuk tidak peduli, tapi ternyata tidak bisa. Kim yang sudah hampir keluar dari kamar pun memilih kembali menghampiri Divia dan duduk di sampingnya, mengecek kening Divia yang berkeringat,


"Tidak panas, apa yang sakit?"


"Tidak pa pa, perutku hanya kram, berangkatlah jangan menggangguku lagi!" bahkan Divia bicara tanpa membuka matanya, wajahnya tampak pucat tangannya terus memegang perutnya.


"Baiklah, aku pergi!"


Kim akhirnya benar-benar pergi dari kamar itu, ia menghampiri sang nenek dan Dee yang sudah menunggu mereka di meja makan.


"Kim, mana Vi?" tanya sang nenek saat Kim hendak duduk, terlihat Dee juga sedang menunggu jawaban dari Kim.


Kim pun duduk dan mulai mengambil mangkuknya, mengambil beberapa makanan, tapi dua orang di depannya masih menatapnya dengan penuh tanda tanya, "Baiklah!" Kim kembali meletakkan sumpitnya dan menatap sang nenek, "Sepertinya Vi sakit Nek!"


"Sakit?" terlihat sang nenek begitu terkejut, "Semalam baik-baik saja!"


"Aku juga tidak tahu, tadi bangun juga masih baik begitu keluar dari kamar mandi wajahnya pucat kening ya juga berkeringat, katanya perutnya kram!?" Kim kembali melanjutkan makannya sekarang. Tapi jelas terlihat saat ini dia juga sedang cemas.


"Ohhh!" mendapat tanggapan santai dari sang nenek, Kim malah menghentikan makannya bahkan ia juga menghentikan mengunyah meskipun di mulutnya masih penuh makanan, ia menelannya begitu saja.


Nenek tersenyum dan mulai meminum tehnya,


"Ini biasa bagi perempuan, namanya datang bulan!?"


Datang bulan adalah kata-kata yang cukup asing bagi Kim, ia sejak kecil hanya tinggal dengan sang nenek, ayah dan kakak laki-lakinya,


"Datang bulan?"


"Iya!" sang nenek masih terlihat santai.


"Bagaimana ini bisa di katakan biasa?" Kim tidak menyukai kata-kata biasa karena tadi ia melihat Divia begitu pucat.


"Karena datang bulan selalu datang tiap bulan!"


"Jadi dia akan merasakan kesakitan setiap bulannya?"


"Iya, begitulah!"


"Apa yang bisa di lakukan untuk meringankan rasa sakit nya?"


"Mengompres perut dengan air panas sepertinya lebih efektif dari pada obat pereda nyeri."

__ADS_1


Ternyata sedari tadi Dee memperhatikan pembicaraan dua orang dewasa itu, melihat mereka sudah saling diam, Dee pun akhirnya memutuskan untuk bertanya,


"Apa yang terjadi dengan eomma?" walaupun berusaha keras untuk memahami semuanya tetap saja usianya tidak bisa di tuntut untuk paham semuanya.


Sang nenek pun mengusap kepala Dee dengan lembut, "Tidak pa pa sayang, eomma hanya kurang enak badan. Jadi sekarang Dee pergi ke sekolah sendiri nggak pa pa ya!?"


"Appa?" Dee menoleh pada Kim, pria itu pasti bisa mengantarnya, pikirnya.


Sang nenek menatap Kim lalu tersenyum,


"Dia kan harus menemani eomma!"


Kim langsung membelalakkan matanya, walaupun ia juga ingin melakukan hal itu tapi ia tidak bisa mengatakan dengan jujur,


"Soalnya nenek hari ini ada terapi dengan dokter nenek!"


"Baiklah, jaga eomma untukku!?" ucap Dee sambil menepuk punggung Kim persis seperti orang dewasa yang sedang bicara.


"Hmmm!"


Kim pun menghubungi Lee untuk mengantar Dee ke sekolah dan menggantikannya dalam beberapa pekerjaan. Ia merasa tidak tenang meninggalkan Divia sendiri.


Setalah selesai urusannya dengan Lee, Kim pun kembali ke dapur untuk mengambil air panas, ia berencana mengompres perut Divia persis seperti saran sang nenek.


Tapi saat ia di dapur, terlihat sang nenek di San bersama pelayan,


"Nek, ngapain?"


"Berikan ini padanya!" perintah sang nenek sambil menyodorkan sebuah mangkuk yang berisi sup yang terlihat masih panas.


"Ini apa Nek?"


"Ini sup rumput laut dan gingseng, akan membuat perutnya sedikit hangat,"


"Baiklah! Tapi Kim ambil kompresan dulu!" akhirnya Kim memanggil sebuah kain yang berisi air panas untuk mengompres perut Divia, meletakan jadi satu di atas nampan bersama dengan sup buatan sang nenek.


Kim pun segera kembali ke kamar, ia melihat Divia masih berbaring di atas tempat tidur,


"Kim? Kamu tidak ke kantor?"


"Tidak, hari ini tidak banyak pekerjaan!" Kim pun duduk dan meletakkan semangkuk sup itu di atas nakas terlebih dulu, "Bagunlah, aku akan menyuapimu sup!" Kim membantu Divia bangun dan menyanggah punggung Divia dengan bantal.


"Aku bisa sendiri!?" Divia menolak saat Kim akan menyuapinya.


"Diamlah, aku akan menyuapimu!?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2