Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Aku mengenalnya


__ADS_3

Divta sudah sampai di kantor semenjak pagi, ia langsung mempersiapkan berkas yang akan di jadikan untuk bahan meeting.


Karena kedatangan Div yang lebih pagi dari biasanya membuat semua karyawan terlihat bekerja ekstra kali ini. Div harus mempersiapkan semuanya, setidaknya ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan untuk satu sampai dua minggu ke depan.


Beberapa meeting yang di jadwalkan untuk beberapa hari ke depan sudah si siap kan mulai hari ini.


"Bagaimana? Sudah siap semua?" tanya Div pada sekretaris Revan.


"Sudah pak, tinggal beberapa berkas yang harus di selesaikan, untuk hari ini kita ada meeting penting dengan PT genta abadi!"


"Baiklah, siapkan semuanya!"


"Baik pak!"


Sekretaris Revan segera meninggalkan Div dan menyiapkan semuanya, menunggu hingga beberapa utusan dari PT genta abadi datang.


Tidak berapa lama sekretaris Revan kembali,


"Semua sudah siap pak, utusan dari PT Genta Abadi sudah sampai pak!"


"Baiklah ..., ayo!"


Div segera memakai kembali jasnya dan merapikan kemejanya. Ia berjalan keluar ruangannya menuju ke ruang meeting.


Langkahnya terhenti saat melihat Rangga juga berjalan dari arah yang berbeda, pria itu terlihat terburu-buru. Langkahnya ternyata juga melambat saat menyadari ada Div di depannya,


"Pak Div!"


"Mau ke mana? Kenapa terburu-buru?"


Rangga begitu ragu untuk menjawabnya, "Maaf pak, saya harus menjemput Divia!"


Div mengerutkan keningnya, matanya menajam sempurna.


"Ersya?"


"Bu Ersya terjebak macet pak!"


Bukankah dari rumah ke sekolah Divia tidak melewati jalan yang rawan macet? Lalu ...


Sepertinya Rangga mengerti maksud tatapan Divta, sebelum terjadi salah faham ia harus segera menjelaskannya,


"Maaf pak, bu Ersya baru dari rumah sahabat nya!"


Dia pergi tanpa ijin dulu padaku? Keterlaluan .... dia benar-benar ingin cari gara-gara denganku ...., keluh Div dalam hati.


"Baiklah, pergilah! Bawa Divia langsung ke sini!"


"Baik pak!"


Rangga segera pergi meninggalkan Divta, Div kembali menoleh pada sekretaris Revan.


"Van!"


Sekertaris Revan segera mendekat,


"Iya pak!"

__ADS_1


"Minta seseorang untuk mengawasi istri saya! Laporkan apa saja yang terjadi pada istri saya!"


"Baik pak!"


Div kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruang meeting sedangkan sekretaris Revan terlihat merogoh saku jasnya dan mengambil benda pipih miliknya lalu menghubungi seseorang.


...🍀🍀🍀...


Ersya begitu kesal karena mobil tidak juga berjalan, beberapa kali kakinya terlihat menendang bangku mobil di depannya. Tangannya juga sibuk menghubungi guru Divia, ia hanya ingin memastikan jika Divia tidak sampai keluar sekolah sebelum ada yang menjemputnya,


"Maaf ya bu, saya merepotkan bu guru!"


"Tidak pa pa bu, bu Ersya jangan khawatir, Divia baik-baik saja!"


"Sekali lagi terimakasih ya bu!"


"Sama-sama!"


Ersya mematikan sambungan ponselnya, wajahnya terlihat cemas. Bukan karena dia tidak percaya dengan Rangga tapi entah kenapa dia merasa Divia akan sangat kecewa padanya.


Nggak bisa di biarin ....


"Pak saya jalan aja ya!"


"Tapi nyonya_!"


Ersya sudah membuka pintu mobilnya, tidak mau mendengarkan ucapan sopir. Ia harus cepat sampai di depan dan mencari apa saja yang bisa untuk mengantarnya ke sekolah Divia.


Langkahnya begitu cepat melewati beberapa mobil dan motor yang sama sekali tidak bisa bergerak karena mobil polisi sedang menangani kecelakaan itu.


Terlihat ambulans mulai datang dan mengeluarkan tandu untuk mengangkat korban kecelakaan, seketika tenggorokan nya mengering saat melihat siapa pria yang berlumuran darah yang ada di antara kerumunan itu.


"Mas Rizal!?" suara tertahan Ersya ternyata di dengan oleh salah seorang yang ada di sampingnya.


"Mbak mengenalnya ya? Kasihan banget mbak dia, nggak ada yang bisa di hubungi keluarganya, hanya kecelakaan tungga lagi!"


"Sa_ya cuma_!"


"Pak polisi, wanita ini mengenal korbannya!" teriak wanita itu membuat polisi segera menghampiri Ersya.


"Apa benar mbak mengenali korban?" tanya pak polisi.


"Iya, tapi_!"


"Korban kritis, tolong ikut kami untuk menemani korban dan memberi keterangan pada pihak kepolisian!"


"Iya mbak, lebih baik mbak ikut sama mobil ambulans saja!"


"Tapi_!"


"Ayo lah mbak, kasihan mas nya ...!" wanita itu mendorong tubuh Ersya hingga sampai ke pintu masuk ambulans.


Ersya tidak bisa mengelak lagi, ia juga merasa kasihan dengan pria yang pernah dia cintai itu.


Akhirnya ia masuk dan duduk bersama dengan perawat, di depannya ada tubuh berlumuran darah, ia tepat duduk di samping kepala pria itu.


Mobil ambulans mulai melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit terdekat,

__ADS_1


Tubuhnya memang di situ tapi kini pikirannya sedang melayang jauh entah ke mana,


Srekkkk


Tiba-tiba tangan berlumuran darah itu meraih tangannya yang sedari tadi menggantung membuat Ersya begitu terkejut,


Di susul dengan suara parau memanggil namanya,


"Sya ...!"


Ersya segera menatap wajah yang penuh luka itu,


"Mas ...., kamu masih sadar?"


"Sya, aku tahu pasti kamu, kamu yang selalu ada buat aku!" ucapnya lagi dengan suara berat menahan sakit,


"Sudah mas, jangan bicara lagi!" ucap Ersya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan pria yang sudah menjadi orang asing baginya.


"Jangan lepaskan, biarkan saja seperti ini, aku mohon!"


Rizal semakin mengeratkan genggamannya agar Ersya tidak terus berusaha untuk melepaskannya. Ersya ingin sekali lepas tapi nuraninya tidak dapat menolak.


Tidak pa pa hanya sekali ini saja ..., dan tidak untuk yang ke dua ...


Ersya membiarkan tangannya di genggam oleh Rizal, bukan karena dia masih cinta tapi pria itu juga pernah berada di hatinya cukup lama.


Akhirnya mobil ambulans sampai juga di rumah sakit, tangan Rizal benar-benar tidak membiarkan tangan Ersya lepas.


Hingga mereka sampai di sebuah ruang gawat darurat barulah Rizal harus melepaskan tangan Ersya.


"Tetap lah di sini ...!" ucap Rizal sebelum ia benar-benar masuk ke dalam ruangan.


"Iya!"


Ersya terhenti tepat di depan pintu ruangan UGD, pintu besar itu sudah tertutup. Tangan Ersya masih terlihat gemetar dengan bercak darah yang sudah mulai mengering.


Ia segera duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa dulu. Hingga seorang polisi menghampirinya,


"Maaf bu, tolong anda memberikan kesaksian!" ucap polisi itu membuat Ersya kembali tersadar dari lamunannya,


"Silahkan anda minum dulu bu Ersya!"


Sepertinya polisi itu tahu jika Ersya masih terlalu syok, ia menyerahkan sebotol air mineral untum Ersya minum, lalu dengan di pandu oleh polisi Ersya mulai menjawab pertanyaan yang du ajukan oleh polisi.


Bukan cuma karena Ersya ada di lokasi kejadian tapi juga di daftar panggilan ponsel Rizal hanya ada nomor Ersya , jadi besar kemungkinan jika Rizal mengalami depresi akibat berpisah dengan Ersya, atau karena hal lainnya yang berhubungan dengan Ersya.


...Jika sebuah kenangan itu adalah kepedihan, maka ijinkan aku untuk tidak menghapusnya karena aku ingin tetap mengenalmu dengan senyum dan air mataku agar nanti aku tidak akan lupa bagaimana sakitnya berjalan tanpamu dan beratnya perjuangan ku untuk melepasmu...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2