
Div membuka pintu yang ada di samping Ersya, memperhatikan posisi Iyya yang tidur menghadap Ersya dengan kepala menempel di dada Ersya.
“Lepaskan tanganmu!” perintah Div. ersya terlihat bingung, jika ia melepaskan tangannya
pasti tubuh Iyya akan terlepas k belakang.
“Ayo lepaskan!”
untuk kedua kalinya Div meminta Ersya untuk melepaskan tangannya.
“Tapi!”
Srekkkkk
Tanpa aba-aba Div menarik tangan Ersya, karena terkejut membuatnya hampir memeluk Div dengan Iyya berada di antara mereka. gerakan mereka terhenti sekian detik dengan mata yang saling bertemu, Div dengan cepat mengalihkan matanya.
“Gini aja susah banget sih!” ucap Div lagi sambil menarik tubuh Iyya saat sudah terlepas dari
tubuh Ersya. Jika tubuh Iyya menempel di tubuh Ersya, Div khawatir jika sampai
tangannya memegang tempat yang salah saja makannya ia meminta Ersya untuk
melepaskan Iyya biar dia bisa menangkap tubuh Iyya tanpa harus bersentuhan
dengan tubuh Ersya.
“Ya mana gue tahu kalau begini!” gumam Ersya saat tubuh Iyya sudah berpindah ke gendongan
Div. Ersya memilih mengambil keranjang buahnya sebelum menyusul div turun.
Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit, melewati beberapa ruangan. Div sudah tahu di mana Nadin di rawat, mereka terlihat seperti keluarga yang utuh. Ayah ibu dan
anak, sungguh keluarga yang sempurna.
Terlihat Iyya mulai menggerakkan tubuhnya, sepertinya dia mulai bangun.
“Apa cudah campai?” tanyanya saat matanya sudah mulai terbuka, ia mengucek matanya dengan tangan mungilnya.
“Mom Eca!” gumamnya saat tersadar sekarang sedang berada di gendongan daddy nya bukan mom Eca.
“Mom di sini sayang!” ucap Ersya sambil melambaikan tangannya. Ia tersenyum agar Iyya merasa
nyaman dan menyentuh pipi Iyya.
“Mom …!”
panggilnya sambil memegangi tangan Ersya.
“Iyya sama daddy saja ya!” ucap Div sambil terus berjalan.
Mereka pun terus berjalan hingga sampailah pada sebuah ruangan yang tertutup. Di atas pintu bagian luar itu sudah tertuliskan perawatan bersalin bunda dan anak.
“Sudah sampai sayang!” ucap Div.
“Iyya mau tuyun
caja!” ucap Iyya sambil berusaha untuk turun dari gendongan Div, ia juga menarik tangan Ersya masuk ke dalam ruangan yang tertutup itu. Iyya sangat
dekat dengan Rendi makanya ia sangat senang saat mengetahui jika ayah Rendi punya dedek bayi.
Div masih harus menerima telpon, ponselnya tiba-tiba saja berdering dan ia kembali menjauh dari pintu.
Pintu pun terbuka, Iyya mengedarkan pandangannya. Melihat pria yang sedang di cari sedang duduk di sofa bersama para sahabatnya. Ia segera melepaskan tangan Ersya dan
berlari memeluk dari belakang pria yang sudah beberapa bulan ini tidak menemuinya. Ia sangat merindukan pria dingin itu.
“Ayah lendi …!”
Rendi segera memegang
tangan mungil itu, ia berputar dan berjongkok menghadap Iyya, mencium tangan lembut itu dengan penuh cinta.
“Sayang …, Ayah sangat
merindukanmu! Bagaimana kabar kamu?” ucap Rendi. Bukannya tidak ingin menemui
__ADS_1
Iyya tapi memang Div sengaja membatasi interaksi mereka agar Iyya tidak terlalu
bergantung pada Rendi. Ia mau dirinyalah yang menjadi satu-satunya daddy Iyya.
Selfish …
Memang Div mengakui jika dirinya sangat egois apalagi mengenai Iyya. Karena yang ia punya saat ini hanya Iyya dan Iyya. Ia tidak mau Iyya sampai mencintai orang lain melebihi
dirinya sendiri.
Lalu Ersya?
Sepertinya itu akan
menjadi pengecualian, karena Ia malah merasa nyaman saat melihat Iyya bermain
dan menghabiskan waktunya lebih banyak dengan wanita itu.
“Iyya baik ayah, daddy
biyang ayah punya dedek bayi lagi makanya Iyya nggak boyeh nyucahin ayah teyus!”
Polos …
Begitulah anak kecil,
ia akan mengatakan apa yang ia dengar dan lihat tanpa menutupi apapun.
Rendi mengerutkan
keningnya, ia sama sekali tidak merasa di repotkan dengan kehadiran Iyya dalam
hidupnya. Kenapa bang Div bisa mengatakan hal itu ….
“Ayah Rendi senang kalau Iyya sering ke rumah ayah, dedek baru Iyya juga secantik Iyya! Lihatlah _!” tapi ucapan Rendi terhenti saat melihat seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari pintu, ia mengerutkan
keningnya. Tidak berapa lama Div juga berdiri di belakang wanita itu.
Iyya pun menoleh, ia
“Itu mom Eca, mom nya
Iyya!” ucap Iyya sambil tersenyum melambaikan tangannya pada Ersya.
“Mom Eca?” tanya Rendi
dengan kening yang berkerut. Selama yang ia tahu Div tidak pernah dekat dengan
seorang wanita manapun, atau mungkin karena sibuk dengan istrinya ia sampai
kehilangan beberapa informasi penting.
Kalau Frans sudah cukup
mengenal siapa wanita yang berdiri di depan div itu, dia sahabat istrinya. Tapi
ia tidak menyangka jika akan sedekat itu hingga menimbulkan gossip yang cukup
hangat untuk di perbincangkan.
Sedangkan Agra, jelas
ia tahu semuanya, mulai dari kontrofersi itu hingga pemanggilan Div oleh
ibunya.
Tapi baik Agra maupun
dokter Frans memilih untuk mengankat kedua bahunya dan tidak berkomentar apapun.
Ketiga wanita yang
sedari tadi asik kini ikut menoleh pada mereka, mereka tidak menyadari jika ada
yang asing di antara mereka.
__ADS_1
“Iyya!” ucap Ara, tapi
Ara dan Felic pun kembali terfokus pada wanita yang berdiri di depan Div.
“Ersya!” gumam Felic membuat
Arad an Nadin menoleh padanya.
“Kak Fe mengenalnya?”
tanya Nadin yang masih duduk bersandar di tempat tidurnya sambil menarik tangan
Felic agar menoleh padanya.
“Ersya sahabat ku!”
Div yang sudah merasa
jika dirinya maupun Ersya menjadi pusat perhatian pun segera menarik tangan
Ersya dan membawanya berjalan mendekati ranjang Nadin. Ersya yang cukup asing
dengan beberapa orang yang ada di tempat itu merasa canggung, ia menyembunyikan
wajahnya di belakang punggung kekar Div.
“Hai semua!” sapa Div
saat ia berhenti di samping ara dan Felic. Ternyata sedari tadi Ersya tidak menyadari keberadaan Felic di tempat itu.
“Sya!” suara itu
sedikit mengejutkannya. Ia lupa jika ada suaminya bisa jadi jika Felic juga di tempat ini, dan lagi ini adalah rumah sakit milik suami Felic. Lagi pula ruangan
ini tidak jauh berbeda dengan ruangan yang sempat menjadi tempat Felic di rawat
dulu. sama mewahnya, mungkin memang ruang khusus untuk keluarga mereka.
Ersya pun mendongakkan
kepalanya, keluar dari persembunyiannya dan benar saja ada Felic di sana.
“Fe …!”
“Sya, serahkan buahnya!” perintah Div membuat Ersya beralih dari Felic, ia berjalan ke depan Div.
“Oh iya!” Ersya pun
segera menaruh keranjang buah itu di atas meja,
“semoga cepat sehat ya!” ucapnya pada wanita yang berbaring di atas tempat tidur. Dia pasti yang baru melahirkan.
“Terimakasih!”
Tapi sepertinya Felic sudah tidak sabar ingin bertanya pada sahabatnya itu, ia segera menarik tangan
Ersya, “Kita harus bicara sebentar!”
“Baik!”
“kami permisi sebentar!” ucap Felic dan kembali menarik tangan Ersya hingga mereka berhenti di luar ruangan. Kini mata Felic menatap tajam pada sahabatnya itu.
“Jelaskan sama gue!” ia
benar-benar tidak tahu perkembangan hubungan mereka sekarang.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1