
"Sudah kan?" tanya Ersya Div hanya menganggukkan kepalanya menutup cream alas bedak milik Ersya.
Ersya segera bangun dari duduknya membuat Div mengerutkan keningnya,
"Mau ke mana?"
"Ya menemui Iyya! Aku belum peluk dia gara-gara ini!"
Ersya pun meninggalkan Div yang masih duduk diam, padahal ia ingin sekali melanjutkan yang tadi pagi tapi tidak mungkin jika ada Divia.
Div pun memanggil sekretaris Revan untuk membawa pekerjaannya ke rumah, hari ini ia begitu malas untuk datang ke kantor.
Akhirnya Div menyibukkan diri di dalam ruang kerjanya, selain di kamar ada ruang kerja khusus yang ada di rumah itu. Ruang kerja yang berada di rumah terpisah dengan rumah utama, di pisahkan oleh sebuah lorong terbuka semacam taman yang ada jalan tol ya yang begitu rapi dengan bagian kiri sepanjang jalan ada kolam ikan dan bagian kanannya langsung terhubung dengan taman belakang.
Di ruang kerja itu juga ada jendela lebar yang langsung terhubung dengan taman dan kolam ikat, jadi sejauh mata memandang hanya tumbuhan hijau yang menyejukkan mata.
Div sebenarnya adalah pecinta alam, dia sering melakukan traveling ke alam bebas sebelum hidupnya di kendalikan oleh mamanya dan menjadi jahat untuk saudaranya sendiri, dan sekarang saat ia ingin memulai lagi, ia tidak bisa meninggalkan Divia terlalu lama.
"Selamat siang pak!" sapa Sekretaris Revan yang baru saja datang.
"Duduklah!"
Sekretaris Revan segera duduk kursi kecil yang ada di depan meja itu.
"Sudah kamu bawa semuanya?" tanya Div lagi.
"Sudah pak, ini!" sekretaris Revan menyodorkan setumpuk berkas, sepertinya mereka berencana untuk lembur hari ini, bukan di kantor tapi di rumah.
Mereka begitu fokus dnegan pekerjaan mereka, tapi suara gelak tawa membuat Div terpancing untuk melihat ke arah luar, dari jendela besar itu sangat jelas terlihat.
Ersya dan Divia yang sedang bermain-main di halaman belakang, Divia terlihat begitu bahagia menikmati waktunya bersama Ersya.
"Van ....!" panggilnya pada sekretaris nya itu tanpa menoleh padanya.
"Iya pak?"
"Pinjam ponselmu!"
Sekretaris Revan pun segera menyodorkan ponselnya, Div segera mengambilnya dan membuka menu kamera, mengarahkan kamera itu pada dua orang yang mungkin akan sangat ia cintai nanti.
Ckrikk
Beberapa kali ia menjepretkan kamera itu dengan beberapa enggel yang pas.
Sekretaris Revan hanya tersenyum melihat kelakuan bosnya itu.
"Kirimkan ke ponselku!" ucapnya kemudian sambil menyodorkan ponsel itu ke sekretariat Revan.
Divia begitu bahagia ..., aku tidak pernah tahu jika kamu akan sebegitu berharga itu buat kami ....
"Apa itu setiap hari terjadi?" tanyanya kemudian pada sekretaris Revan.
__ADS_1
Sekretaris Revan hanya mengerutkan keningnya, ia tidak tahu harus menjawab apa, mereka setiap hari di kantor jadi ia tidak tahu apa yang terjadi di rumah. Tapi kemudian ia mendapatkan cara,
"Sebentar pak!" ucap sekretaris Revan lalu pergi begitu saja meninggalkan Div. Dan tidak berapa lama kembali lagi dengan membawa kepala pelayan dengannya.
"Ini pak, kepala pelayan punya jawabannya!?" ucap sekretaris Revan. Div yang tadinya hanya fokus pada putri dan istrinya kini beralih pada sekretaris Revan dan kepala pelayan.
Div mengerutkan keningnya,
"Ada apa?" tanya Div. Ternyata dia tidak menyadari kalau sedati tadi sekretaris Revan meninggalkannya dan memanggil kepala pelayan.
"Tadi pak Div tanya, apa mereka seperti itu setiap hari, maka kepala pelayan yang akan menjawabnya!" sekretaris Revan menjelaskan apa yang di tanyakan oleh Div tadi.
"Ohh!"
Jawaban singkat Div membuat bingung kedua orang yang ada di depannya, Div kembali menoleh ke arah taman dan tersenyum tipis,
"Apa kegiatan mereka setiap hari seperti itu?" tanya Div sambil menunjuk ke arah Ersya dan Divia yang sedang bermain air dengan slang yang biasa di gunakan untuk menyiram bunga.
Sekretaris Revan melirik ke arah kepala pelayan dan memintanya untuk menjawab dengan jujur,
"Bukan tuan, tidak hanya seperti itu! Tapi kami sudah berusaha untuk melarang nyonya tuan, tapi nyonya dan nona muda tetap keras kepala!"
"Jangan!" ucap Div dengan cepat, lalu ia meralatnya kembali, "Maksudnya biarkan saja, asal tidak berbahaya untuk mereka!"
"Baik tuan!"
"Apa yang mereka lakukan selain ini?"
"Nyonya dan nona muda biasanya berkaraoke dan berjoget-joget di ruang keluarga, bermain di dapur hingga dapur begitu berantakan, tapi nona muda juga pandai membuat kue!"
"Iya tuan!"
Div lagi-lagi tersenyum, banyak sekali yang sudah terlewatkan ternyata dan dia tidak tahu. Ia bahkan tidak tahu sudah sedekat apa putri kecilnya itu dengan ibu sambungnya.
...🍀🍀🍀...
Malam semakin larut, Divia baru saja tertidur pulas setelah mendengarkan dongeng dari Ersya.
Cup
"Tidur yang nyenyak ya sayang!" bisik Ersya sambil mengecup kening Divia.
Ia tidak sadar jika di balik pintu itu ada yang sedang mengamatinya. Divta yang sebenarnya ingin masuk jadi berpikir untuk menyaksikan bagaimana Ersya menyayangi putrinya itu.
Saat Ersya hendak pergi, Div pun dengan cepat meninggalkan pintu itu. Ersya mematikan lampu kamar divia dan menggantinya dengan lampu tidur.
Ia segera keluar dari kamar Divia, langkahnya begitu ragu. Ia seharusnya bisa tidur di kamarnya sendiri dan tidur dengan nyenyak.
"Kenapa nggak kepikiran ya? Biar saja dia sendiri di kamarnya! Dia benar-benar tidak pernah mengizinkanku untuk tidur nyenyak!" gumam Ersya, ia pun memilih untuk tidur di kamarnya sendiri, lagian sudah tidak di segel.
ceklek
__ADS_1
Ia membuka pintu yang tidak di kunci itu, sangat gelap karena lampu tidak di nyalakan,
"Biarkan saja gelap, kalau aku nyalahin nanti ketahuan kan kalau aku di sini!"
Ersya memutuskan untuk membiarkan saja lampunya mati, dengan meraba beberapa barang akhirnya ia sampai juga di tempat tidur, ia pun segera naik, menarik selimutnya dan .....
"Kok kayaknya ada orang ya!?" gumam Ersya, ia tidak berani bersuara keras, tangannya seperti memegang sesuatu di sebelahnya.
Perlahan ia merabanya tanpa berani membuka mata,
Kenapa seperti sebuah dada ...., dada yang sangat seksi ....
Srekkkk
Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya saat ia ingin menarik kembali tangannya menjauh,
"Ahhh aupppp...!"
Saat Ersya akan berteriak, tiba-tiba tubuh itu menindih tubuhnya dan sebuah tangan besar membekap mulutnya.
"Jangan harap bisa lepas dari aku!" ucap pria itu membuat mata Ersya terbelalak terkejut.
"Div!?"
"Panggil dengan panggilan yang benar atau aku akan membungkamnya dengan bibir seksi ini!"
"Mas ...! Lepasin!"
"Itu lebih bagus!"
Div pun segera menghindar dari tubuh Ersya, tangan Ersya segera meraba nakas yang ada di sampingnya lalu menyalakan lampu tidur.
"Kenapa kamu bisa di sini sih mas?"
"Ya nungguin kamu!"
"Kenapa di tunggu?"
"Kenapa di tunggu, aku kan cuma baby sitter nya Divia, jadi kalau Divia nya udah tidur berarti aku udah nggak ada pekerjaan lagi dong!"
"Kamu sekarang jadi baby sitter nya aku!"
"Hahhh?"
Div dengan cepat menyambar tubuh Ersya, memeluknya dan ******* bibirnya. Apa yang terjadi tadi pagi akhirnya terulang kembali dengan durasi yang lebih panjang.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰