
Jam yang melingkar di tangan Div, jarum pendeknya menunjukkan angka empat, seharusnya sekarang semua pekerja bersiap-siap untuk pulang. Tapi sayangnya berbanding terbalik dengan Div, rasanya hidup seorang Div tidak akan lengkap tanpa bekerja.
Mobil mereka sudah memasuki halaman luas gedung bertingkat itu, gedung yang menampung berbagai perusahaan. Gedung pencakar langit milik finitygroup group masih menjadi primadona bagi perusahaan-perusahaan untuk bisa ikut menjadi bagian dari gedung itu.
Langkah Div terlihat pasti dengan tangan yang terus menggenggam tangan sang istri, di depan mereka terlihat sekretaris Revan sudah menyambutnya dengan sebuah laptop di tangannya. Sepertinya mengatakan kalau pekerjaan sudah siap.
"Sya, kamu tidak pa pa kan aku tinggal meeting dulu?"
Wanita dengan senyumnya itu menganggukkan kepalanya.
"Boleh aku ke kantin? perutku lapar sekali!"
"Biar, Rena menemanimu!"
"Tidak perlu, dia kan sudah habis jam kerjanya!" Ersya merasa tidak enak.
"Tidak pa pa Bu, akan saya temani!" ucap wanita yang sedari tadi berdiri di depan ruangan Div.
Ersya pun akhirnya menyerah dari pada di minta berdiam diri di ruangan Div lebih baik menikmati makanan di kantin kantor.
...🍂🍂🍂...
Hanya butuh waktu sepuluh menit dan mereka sudah duduk di salah satu meja kantin, untung kantin sudah sepi karena memang banyak karyawan sudah meninggalkan kantor jadi mereka tidak menjadi pusat perhatian.
Awalnya Rena menolak untuk duduk, tapi karena Ersya terus memaksa akhirnya Rena pun duduk satu meja dengannya.
"Memang perusahaan mana yang sedang melakukan meeting dengan Div di jalan pulang kantor seperti ini?" tanya Ersya sambil menikmati udang Krispy nya.
"Sebenarnya perusahaan baru, Bu! Baru kemarin perusahaan itu di buka, katanya pemiliknya adalah teman pak Div dulu saat di luar negri!"
Ersya senang karena ternyata Rena suka bicara, ia pikir orang-orang yang dekat dengan Div akan jadi irit bicara seperti dia.
Tapi tiba-tiba wajah santainya berubah panik saat mencerna dengan benar ucapan Rena. Gadis muda itu juga tidak kalah terkejutnya, mungkin karena dia masih magang jadi takut salah bicara.
"Maaf Bu kalau saya salah bicara!"
Ersya dengan cepat meminum jus jambu 'nya dan kembali menatap Rena,
"Coba kamu ulang tadi!"
"Jangan Bu, saya sungguh-sungguh minta maaf! Saya pasti salah bicara!"
"Bukan, ulangi saja semuanya!"
Rena pun melakukan hal yang di minta oleh Ersya dengan begitu cemas,
"Pak Div melakukan meeting dengan perusahaan baru!"
"Bukan itu, lanjutnya!"
"Pemilik perusahaan baru itu, kenalan pak Div saat di luar negri!"
"Namanya?"
"Kalau nggak salah namanya ....!" terlihat Rena sedang mengingat-ingat nama rekan bisnis bosnya itu.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Ersya yang sudah sangat penasaran.
"Bu Ellen, Bu! Iya namanya Bu Ellen!"
"Ellen!"
Jadi mas Div meeting sama dia ...., Ersya jadi begitu cemas saat mengetahui jika suaminya melakukan kerja sama dengan Ellen. Itu artinya mereka akan sering bertemu, bisa jadi pembicaraan mereka akan .semakin intens dan lembaran lama kembali berlanjut.
"Kita menyusul mereka saja ya, kamu tahu kan ruang meetingnya?"
"Bu Ersya yakin?"
"Yakin, ayo!"
Ersya pun segera bangun dari duduknya dan Rena hanya bisa pasrah mengikutinya.
...🍂🍂🍂...
Di ruang meeting terlihat dua orang sudah menunggu kedatangan seseorang, wajahnya terlihat resah karena yang di tunggu tidak juga kunjung datang padahal dia sudah menunggunya semenjak pagi.
Bibirnya tersenyum saat melihat yang di tunggu akhirnya berjalan memasuki ruangan bersama sekretaris nya. Dia dan sekretaris nya pun segera berdiri menyambut kedatangan dua orang itu.
"Div akhirnya kami datang juga!"
Bukan menyambut sapaannya dengan hangat, pria itu memilih menunjukkan wajah dinginnya,
"Selamat sore nona Ellen, maaf kami terlambat!" ucap sekretaris Revan menggantikan Div.
Terlihat wajah kecewa dari Ellen, tapi dengan cepat ia tepis,
"Silahkan duduk!"
"Bisa kita mulai sekarang kan?" tanya Div dengan wajah dinginnya. Bukan itu yang di inginkan oleh Ellen sebenarnya, ia sengaja melakukan kerja sama dengan Div agar bisa dekat lagi dengannya.
"Baiklah, Risa tunjukkan pada pak Div rancangan kita!" perintahnya pada sang sekretaris.
"Baik Bu!"
wanita dengan penampilan yang tidak jauh beda dengan Ellen itu pun mulai menggeser satu map di depan Div dan satu lagi di depan sekretaris Revan sedangkan dia sendiri juga memiliki satu map yang isinya sama. Wanita bernama Risa itu pun menjelaskan detail rancangan mereka pada Div dan sekretaris Revan.
Sesekali Div dan sekretaris Revan terlihat mengerutkan keningnya di beberapa part yang kurang dia setujui.
Tapi di tengah ia sedang konsentrasi mendengarkan penjelasan dari Risa, sebuah kaki menggerayangi kaki dan semakin naik dan naik hingga mengenai pangkal pahanya.
Siiiittttt, Ellen keterlaluan!
Pria manapun jika di sentuh bagian sensitifnya sudah pasti akan mengalami hal yang sama, bukan karena di bernafsu dengan wanita yang ada di depannya itu. Selain kakinya sedari tadi Ellen terus memainkan bolpoin di tangannya sengaja untuk menggoda Div. Sesekali mengulum bibirnya agar terlihat basah.
Div merasakan sesak di celananya, ingin sebenarnya pergi dari tempat itu. Tapi jika dia melakukan hal itu, berarti dia mempermalukan Ellen di depan sekretarisnya dan juga sekretaris Revan.
Mau bagaimanapun Ellen pernah mengisi hidupnya, ia harus tetap bertindak sebagai laki-laki sejati yang tidak boleh mempermalukan wanita berpendidikan seperti Ellen.
Tiba-tiba sekretaris Revan mendekatkan bibirnya pada daun telinganya,
"Maaf pak!"
__ADS_1
"Katakan!"
"Bu Ersya di depan, dia ingin menerobos masuk!"
Div tersenyum, ia seperti mendapatkan angin segar dengan kedatangan istrinya.
"Suruh dia masuk!"
"Tapi pak, meetingnya!"
"Suruh saja masuk!"
"Baik pak!"
Sekretaris Revan pun kembali berbicara dengan seseorang di balik sambungan telpon itu.
"Biarkan dia masuk!"
Setelah mengucapkan satu kalimat, sekretaris Revan segera mengakhiri telponnya dan kembali mendengarkan penjelasan Risa.
Brakkkk
Ersya berdiri di depan pintu dengan tatapan kesal, hal yang sama juga di alami oleh Ellen. Ia dengan cepat menurunkan kakinya dan kembali memakai high heels nya.
Kenapa dia bisa ada di sini? batin Ellen kesal, padahal ia berharap hari ini setelah meeting ia bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Div.
"Karena istri saya datang, jadi meeting kita tunda satu jam! Kalian boleh keluar dulu hingga urusan saya dengan istri saya selesai!" ucap Div sambil menatap tajam ke arah Ellen.
"Tapi kami sudah menunggu seharian dan sekarang anda meminta untuk menundanya lagi!" protes Ellen yang sudah berdiri dari duduknya.
"Ini terjadi karena anda, jadi kita tunda atau tidak sama sekali!" ancam Div.
"Baiklah!" dengan terpaksa Ellen pun menyetujuinya.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan ini tanpa seijin saya!" ucap Div lagi pada sekretaris Revan.
"Baik pak!"
Perkataan itu masih bisa di dengar oleh Ellen, membuatnya semakin kesal saja. Ellen pun mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di samping Ersya,
"Kamu boleh menang kali ini, Next time I won't let something like this happen!" ucapnya pelan pada Ersya lalu berlalu begitu saja keluar dari ruangan itu.
"What happened?"
Ersya menatap bingung karena semua orang meninggalkan ruangan kecuali suaminya, dan yang semakin membuatnya bingung sekretaris Revan mengunci pintunya dari luar,
"Hehhh hehhh, kenapa di kunci?"
...Kamu memang bukan laki-laki yang baik, tapi kamu berhasil menjadi yang terbaik di hati aku...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...🥰🥰🥰Happy reading 🥰🥰🥰...