Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Perdebatan di meja makan


__ADS_3

Saat Iyya hendak menyendokkan makanan ke mulutnya, Divta segera mencegahnya.


"Tunggu!"


Membuat Iyya maupun Ersya menoleh padanya. Ersya mengerutkan keningnya.


"Ada apa?"


"Siapa ini tadi yang masak?" tanya Divta.


"Mom Eca yang macak, Dad! Bukankah tadi Iyya cudah katakan!" gerutu Iyya karena masih harus menunggu lagi gara-gara ulah daddynya.


"Apa kamu tahu makanan apa saja yang boleh atau tidak di makan Iyya? Sembarang sekali kamu!" hardik Divta.


Ersya hendak membuka mulutnya tapi lagi-lagi Divta kembali bicara.


"Kamu tahu saya sudah memperkejakan koki khusus untuk Iyya, dia yang tahu makanan apa saja yang boleh dan tidak untuk Iyya, dia bisa alergi makanan atau bahkan bisa membuat Iyya sakit!"


Divta terus mencerca Ersya dengan berbagai tuduhan.


"Bukan berarti Iyya menyukaimu, kamu bisa sembarangan memberi apapun pada Iyya!"


Ersya begitu kesal karena tidak di beri kesempatan untuk membela diri, Iyya hanya terus menoleh pada daddy dan bergantian pada mom Eca nya.


"Stop!" ucap Ersya sambil berdiri, mencondongkan tubuhnya mendekat pada Divta membuat pria itu menghentikan bicaranya.


"Bisa diam tidak!"


Iyya tersenyum melihat betapa daddy nya terdiam seribu bahasa di depan depan mom Eca.


Wow ....., mom Eca keyen .....


Prok prok prok


Ersya menepuk tangannya tiga kali, itu cara yang biasa di gunakan Divta untuk memanggil koki yang memasak saat mereka berada di meja makan.


Dari mana dia tahu cara itu???


Dan benar saja seorang koki dan seorang pelayan yang seharusnya hari ini bertugas memasak untuk makan malam berjalan mendekat pada mereka.


Mereka berdiri di jarak radius dua meter dan menundukkan kepalanya. Jika di ruang makan dan mereka di panggil, bisa jadi ada masalah dengan makanan yang mereka masak. Tapi hari ini mereka hanya membantu dan tidak ikut memasak, tapi kenapa masih di panggil, begitulah kira-kira pikir mereka.


"Kalian tahu apa kesalahan kalian?" ucap Ersya sambil berkacak pinggang seperti nyonya besar.


"Tidak nyonya!" jawab mereka bersamaan.


"Kesalahan kalian adalah mempunyai atasan seangkuh dan secerewet dia!" ucap Ersya sambil menunjuk Divta tepat jari telunjuknya di depan hidung mancung Divta.


Berani-beraninya dia mempermalukan aku ....


Divta hendak berdiri tapi Ersya segera melotot padanya.


"Tetap duduk!"


Untuk pertama kalinya Divta bisa begitu nurut dengan seorang wanita, itu ia lakukan karena ada Iyya di depan mereka. Setelah menatap Iyya dan gadis kecil itu menatapnya dengan penuh harap agar daddy nya tidak membuat keributan, Divta kembali duduk.


Awas saja kalau tidak ada Iyya, ku makan kamu ....

__ADS_1


"Sekarang jelaskan pada tuan besar mu ini bagaimana saya memasaknya tadi!"


Ersya memberi perintah pada koki dan pelayan itu.


Koki pun mendongakkan kepalanya dan menatap menjelaskan bagaimana Ersya memasak tadi, ia memasak dengan bimbingan koki itu agar tidak sampai salah dalam memasukkan bahan.


"Sudah jelas sekarang?" tanya Ersya pada Divta tapi pria itu tetap memilih untuk diam.


"Baiklah, kalian boleh pergi sekarang!"


"Baik nyonya!"


Setelah koki dan pelayan itu meninggalkan mereka, Ersya pun kembali duduk dan meminum air putih yang ada di depannya itu.


"Ayo sayang kita makan, tidak usah mempedulikan daddy mu yang egois itu!" ucap Ersya sambil menyuapkan makanan ke mulut Iyya.


"Sudah tahu putri nya kelaparan, mau makan aja pakek ngajak ribut, dasar egois!" gerutu Ersya sambil melirik ke arah Divta.


Pria itu pun segera meneguk air putih yang ada di depannya dan berdiri.


"Daddy mau ke mana?" tanya Iyya saat melihat daddy nya hendak meninggalkan meja makan.


"Daddy lupa, tadi ada pekerjaan yang belum daddy selesaikan, Iyya makan dulu ya!"


Divta pun segera berlalu meninggalkan meja makan, tidak peduli dengan wajah kecewa putrinya.


Ia memilih untuk menuju ke ruang kerjanya. Melampiaskan kekesalannya di sana.


"Memang dia pikir dia siapa? Sial! Berani-beraninya dia mempermalukan aku di depan pelayan ...., dia harus aku beri pelajaran agar tidak syok!"


"Shittttttt!"


Sedangkan di meja makan, Ersya harus membujuk Iyya agar kembali tersenyum.


"Tidak pa pa sayang, daddy memang pasti sedang banyak pekerjaan, nanti dia pasti juga makan kalau lapar!"


Untung Iyya bukan anak yang sulit untuk di bujuk.


Setelah menyelesaikan makannya, karena sudah sangat malam. Ersya pun mengajak Iyya untuk kembali ke kamarnya.


"Iyya gosok gigi dulu ya!"


"Iyya nggak mau gosok gigi!"


Gadis kecil itu memilih untuk duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi boneka kesayangannya.


Ersya pun berjongkok di depan Iyya.


"Iyya sayang ...., apa Iyya tahu kalau malam-malam Monster gigi selalu datang untuk mencabut gigi Iyya, kalau Iyya nggak mau gosok gigi, bayangin aja monster gigi itu tersenyum dengan kemenangannya dan mencabut gigi Iyya yang kotor ....!"


Mendengarkan cerita Ersya, Iyya pun bergidik ngeri.


"Iyya mau gocok gigi!"


"Bagus, anak pintar!"


Ersya mengusap kepala Iyya dan menuntunnya hingga ke kamar mandi.

__ADS_1


Ia mengambil kursi kecil yang ada di kamar mandi dan menaikkan Iyya di sana agar tubuhnya bisa menggapai wastafel kamar mandi.


"Mom Eca ambilkan pasta giginya dulu, Iyya berkumur, okey!"


"iya mom!"


Ersya begitu telaten mengajari Iyya menggosok gigi dengan benar.


Setelah selesai menggosok gigi, Ersya membawa Iyya ke tempat tidur.


"Mom mau membacakan dongeng buat Iyya, Iyya mau dongeng apa?"


"Iyya mau dongeng snow white!"


"Baiklah!"


Ersya pun mengambil buku dongen milik Iyya yang tertata rapi di rak buku dan kembali menghampiri Iyya, duduk di samping Iyya.


Membacakan dongeng itu hingga Iyya tertidur di pelukannya.


Tangan Ersya tertahan kepala Iyya, Ersya pun meletakkan buku itu dan perlahan menarik tangannya.


Sudah jam sembilan malam, sudah sangat larut untuk pulang. Tapi dia harus tetap pulang, ia melupakan ponselnya.


Setelahnya menemukan tasnya, Ersya segera mematikan lampu kamar Iyya.


Dengan perlahan ia meninggalkan kamar Iyya, tapi seseorang sudah lebih dulu menarik tangannya hingga tubuhnya terhempas di dinding.


"Aughhhh!" pekiknya pelan agar suaranya tidak sampai membangunkan Iyya.


Samar-samar ia masih mengenali orang yang menghimpit tubuhnya dengan dinding di belakangnya itu.


"Apa yang kamu lakukan?" bisik Ersya pelan.


Ersya berusaha untuk melepaskan tangannya yang berada dalam kungkungan pria itu.


Bersambung


...Kembali aku ingatkan...


NB :


Assalamualaikum para pembaca setia keluarga besar finityGroup group.


Ada berita bagus nih .....


Mau tahu aja atau mau tahu banget?


Aku kasih tahu ya


Kisah sekuel MBMH sudah launching.


Seperti janji saya beberapa bulan lalu, saya akan menulis di sana sekalian, dengan judul yang sama, jangan khawatir di awal kisahnya aku kasih cover mereka


The Twins


__ADS_1


langsung buka aja di my bos is my hero


Scroll ke bawah dan bisa langsung di baca di sana.


__ADS_2