
Div begitu kesal pada pria yang baru saja kehilangan bayinya
itu. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu pada istrinya. Seharusnya ia tahu
jika istrinya juga sangat terluka.
Beberapa kali terlihat Div mengatur nafasnya dan
mengibas-kibaskan tangannya yang panas dan nyerik akibat memukul dokter dari
putrinya itu, selain sahabat adiknya, sepupu, dia juga dokter keluarga
besarnya. Itulah eknapa Divia adalah salah satu pasiennya.
Dulu ia mengenal pria itu bukan termasuk pria yang serius,
dia suka mencandakan segala sesuatu, tapi ternyata bagaimana pun orangnya jika
sudah menyangkut hati, orang sekuat apapun bisa tiba-tiba lemah tak bertulang.
“Tuan Div!” seseorang menyapanya membuat pria itu
menghentikan langkahnya. Div pun menoleh pada orang yang sedang memanggilnya.
“Wil!”
“Tuan Div dari mana?”
“memberi pelajaran pada Frans!”
“Maksud tuan?” pria yang bernama Wilson itu tampak begitu
terkejut.
“Iya, kalau kau mau marah marah saja, mau membalasku balas
saja!”
“Tidak tuan!”
“bagaimana keadaan istrinya?”
“Dokter sedang memeriksanya!”
“Bisakah kau menjaganya dulu, aku akan meminjam teman
perempuannya sebentar!”
“Maksudnya mbak Ersya!”
“Iya!”
Mereka pun berjalan
beriringan ke ruangan Felic. Ersya masih setia menunggu di sana meskipun Felic
sedang tertidur karena pengaruh obat itu.
“Biarkan saya menunggu di sini, tolong kamu panggilkan dia
ya!”
“baik tuan!”
Wilson pun masuk sendiri tanpa Div. ia menghampiri Ersya dan
mengatakan seperti apa yang di katakana oleh Div. Wilson tampak menunjuk ke arah luar dan Ersya juga mengikuti ke arah yang di tunjuk oleh Wilson. Dan tidak berapa lama Ersya pun mengambil tas nya dan keluar daru ruang perawatan felic.
“Kamu!”
“Ada yang ingin bertemu denganmu!”
“Siapa?”
Bukannya menjawab pertanyaan Ersya, Div langsung menarik
tangan Ersya dan terus membawanya. Ersya yang terus meronta masih kalah dengan
kuatnya tangan Div.
“Jangan macam-macam ya, aku bisa teriak loh!”
“beneran aku teriak ya!”
“Aku serius!”
“Jangan membuatku takut!”
Tapi tiba-tiba langkah Div terhenti saat ponselnya berdering
membuat Ersya yang tidak siap-siap akhirnya menabrak punggung bidangnya.
Bug
“Aughhh!” keluh Ersya sambil memegangi keningnya. “kalau mau
berhenti bilang-bilang dong!”
Tapi pria tampan itu sama sekali tidak mempedulikan gerutu
Ersya, ia sibuk merogoh saku jasnya dan menjawab telponnya. Ia kembali berjalan
menjauh dari keramaian. Ersya sedikit heran dnegan ruangan di sebelah yang
terdengar sedikit berisik di bandingkan dengan ruang di rumah sakit lainnya
membuat Ersya tertarik untuk melihatnya.
Ersya pun mengintip ruangan itu dari balik pintu, dan benar
__ADS_1
saja ternyata ruangan itu penuh dengan anak-anak yang sedang bermain yang di
temani dengan orang tua ataupun perawat.
Ersya pun memilih untuk menghampiri anak-anak itu, ia
mengambil beberapa mainan dan mengajak anak-anak itu bermain. Ersya tipe
wanita yang sangat menyukai anak-anak.
“Mom Iyya …!”
Suara teriakan seorang anak segera menghentikan kegiatan
Ersya, ia menoleh ke sumber suara. Seorang gadis kecil begitu senang menatapnya. Ersya segera meletakkan semua mainan yang ada di tangannya.
“Iyya!” Ersya pun tidak kalah senangnya. Dengan cepat Ersya
menghampiri Iyya dan memeluknya.
“Iyya kenapa di sini?” tanya Ersya sambil menakup kedua pipi
Iyya.
“Nungguin mom Eca!” ucap Iyya dengan polosnya membuat Ersya
mengerutkan keningnya.
“Aku?” tanya Ersya sambil menunjuk dirinya sendiri dan Iyya
menganggukkan kepalanya beberapa kali.
“Iyya tahu kalau aku di sini?” dan lagi-lagi Iyya
menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Siapa yang ngasih tahu?”
“Dad Iyya!” ucap Iyya sambil menunjuk ke arah Div yang masih
berdiri di tempatnya. Ersya pun menoleh ke arah Div.
Jadi dia sudah punya anak, dan Iyya anaknya, ahhh kenapa aku tidak sadar jika bosnya Rangga itu dia, berarti kalau
dia sudah punya anak, punya istri dong, lalu paparazzi itu, jangan-jangan gue
di gosipin sama pengusaha sukses sebagai pelakor lagi ….
“Ahhh sial!” umpat Ersya. Ia paling malas berhubungan dengan yang namanya orang ke tiga, sudah cukup rumah tangganya yang di hancurkan oleh orang ke tiga jangan sampek ia menjadi orang ke tiga di pernikahan orang lain.
“Pria itu?” tanya Ersya sambil menunjuk pada pria yang
sedang sibuk berbicara di telpon.
“Dia daddy Iyya, namanya dad Div!”
Ersya pun hanya bisa
“Kita bermain yuk!”
“hoyee …, Iyya mau main
cama mom Eca!”
“Okey …, kita main apa
ya?”
“Apa aja pokoknya cama
mom Eca, Iyya cenang!”
Akhirnya mereka memilih
boneka sebagai mainan mereka, Iyya begitu senang bisa bermain dengan mom Eca
nya.
“Iyya sayang, boleh
nggak tante Ersya tanya?”
“Boyeh dong, mom Eca
mau tanya apa?”
“Kenapa Iyya panggil
tante, mom? Iyya nggak takut momnya Iyya marah?” tanya Ersya dan Iyya pun
menggelengkan kepalanya cepat.
“Kenapa?”
“Kalena mom Iyya, mom
Eca!”
Belum sempat Ersya
menjelaskan pada Iyya jika dia bukan mommy nya Divta sudah lebih dulu datang
menghampiri mereka.
“Iyya sayang, sudah
cukup ya mainnya sama dia, kita pulang ya!” ucap Divta sambil melirik pada
Ersya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Divta,
Iyya malah memeluk Ersya dengan begitu erat dan tidak mau melepaskannya. “Iyya
nggak mau puyang kalau tanpa mom Eca!”
“Tapi Iyya sayang, mom
Eca sedang banyak urusan!”
“Nggak mau …, Iyya
maunya cama mom Eca!”
Iyya malah merenget
tidak mau di tinggal oleh Ersya.
“Ya udah pulangnya sama
tante Eca ya, tapi Iyya jangan nangis!”
Mendengar ucapan Ersya,
Iyya pun segera menghapus air matanya. Ia menganggukkan kepalanya begitu cepat.
Ersya pun menggendong
Iyya karena Iyya tidak mau lepas darinya.”Ayo!”
“Biar aku aja yang
gendong Iyya!” ucap Divta dan hendak mengalihkan Iyya ke dalam gendongannya
tapi Iyya semakin mengeratkan tangannya.
“Iyya nggak mau Dad,
Iyya maunya cama mom Eca!”
Divta menatap Ersya
meminta pendapatnya, cukup kasihan sama Ersya karena tubuh Iyya nggak kecil.
Divta terus berjalan di belakang Ersya yang sedang menggendong Iyya.
“Nggak pa pa, biar aku
gendong aja!”
“baiklah, terserah kamu
saja!”
Saat sampai di depan
pintu lift, Div segera menekan tombol ke lantai dasar, mereka akan segera
meninggalkan rumah sakit. Ersya juga harus pulang kerena sudah dua hari tidak
pulang. lagi-lagi mereka hanya saling diam. Tidak ada percakapan di sana hanya
Iyya yang terus saja berceloteh. Selama ini ia hanya punya teman bicara encus
atau jika di kantor ada Rangga.
Divta segera membukakan
pintu mobil, Divta tidak membawa sopir bersamanya.
“Terimakasih!”
Mereka duduk di kursi
depan bertiga, “Iyya cenang mom Eca mau ikut belcama Iyya puyang!”
“Mom Eca juga!”
Mobil mulai melaju
meninggalkan gedung rumah sakit, mereka menuju ke rumah dengan pagar besar dan
lengkap dengan penjagaannya. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh beberapa
pelayan.
“Iyya sama encus dulu
ya, daddy mau bicara sama mom Eca dulu!” ucap Divta saat mereka sudah masuk ke
dalam rumah.
“Iya …, Iyya mandu duyu
cama encus, nanti maun cama mom!” ucap Iyya, suster yang merawat Iyya pun
segera mendekat saat mendapat isyarat dari Div.
Kini Iyya sudah masuk
bersama susternya, tinggal ada Ersya dan Divta di ruangan yang besar itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰