Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Dia daddy nya?


__ADS_3

Div begitu kesal pada pria yang baru saja kehilangan bayinya


itu. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu pada istrinya. Seharusnya ia tahu


jika istrinya juga sangat terluka.


Beberapa kali terlihat Div mengatur nafasnya dan


mengibas-kibaskan tangannya yang panas dan nyerik akibat memukul dokter dari


putrinya itu, selain sahabat adiknya, sepupu, dia juga dokter keluarga


besarnya. Itulah eknapa Divia adalah salah satu pasiennya.


Dulu ia mengenal pria itu bukan termasuk pria yang serius,


dia suka mencandakan segala sesuatu, tapi ternyata bagaimana pun orangnya jika


sudah menyangkut hati, orang sekuat apapun bisa tiba-tiba lemah tak bertulang.


“Tuan Div!” seseorang menyapanya membuat pria itu


menghentikan langkahnya. Div pun menoleh pada orang yang sedang memanggilnya.


“Wil!”


“Tuan Div dari mana?”


“memberi pelajaran pada Frans!”


“Maksud tuan?” pria yang bernama Wilson itu tampak begitu


terkejut.


“Iya, kalau kau mau marah marah saja, mau membalasku balas


saja!”


“Tidak tuan!”


“bagaimana keadaan istrinya?”


“Dokter sedang memeriksanya!”


“Bisakah kau menjaganya dulu, aku akan meminjam teman


perempuannya sebentar!”


“Maksudnya mbak Ersya!”


“Iya!”


Mereka pun  berjalan


beriringan ke ruangan Felic. Ersya masih setia menunggu di sana meskipun Felic


sedang tertidur karena pengaruh obat itu.


“Biarkan saya menunggu di sini, tolong kamu panggilkan dia


ya!”


“baik tuan!”


Wilson pun masuk sendiri tanpa Div. ia menghampiri Ersya dan


mengatakan seperti apa yang di katakana oleh Div. Wilson tampak menunjuk ke arah luar dan Ersya juga mengikuti ke arah yang di tunjuk oleh Wilson. Dan tidak berapa lama Ersya pun mengambil tas nya dan keluar daru ruang perawatan felic.


“Kamu!”


“Ada yang ingin bertemu denganmu!”


“Siapa?”


Bukannya menjawab pertanyaan Ersya, Div langsung menarik


tangan Ersya dan terus membawanya. Ersya yang terus meronta masih kalah dengan


kuatnya tangan Div.


“Jangan macam-macam ya, aku bisa teriak loh!”


“beneran aku teriak ya!”


“Aku serius!”


“Jangan membuatku takut!”


Tapi tiba-tiba langkah Div terhenti saat ponselnya berdering


membuat Ersya yang tidak siap-siap akhirnya menabrak punggung bidangnya.


Bug


“Aughhh!” keluh Ersya sambil memegangi keningnya. “kalau mau


berhenti bilang-bilang dong!”


Tapi pria tampan itu sama sekali tidak mempedulikan gerutu


Ersya, ia sibuk merogoh saku jasnya dan menjawab telponnya. Ia kembali berjalan


menjauh dari keramaian. Ersya sedikit heran dnegan ruangan di sebelah yang


terdengar sedikit berisik di bandingkan dengan ruang di rumah sakit lainnya


membuat Ersya tertarik untuk melihatnya.


Ersya pun mengintip ruangan itu dari balik pintu, dan benar

__ADS_1


saja ternyata ruangan itu penuh dengan anak-anak yang sedang bermain yang di


temani dengan orang tua ataupun perawat.


Ersya pun memilih untuk menghampiri anak-anak itu, ia


mengambil beberapa mainan dan mengajak anak-anak itu bermain. Ersya tipe


wanita yang sangat menyukai anak-anak.


“Mom Iyya …!”


Suara teriakan seorang anak segera menghentikan kegiatan


Ersya, ia menoleh ke sumber suara. Seorang gadis kecil begitu senang menatapnya. Ersya segera meletakkan semua mainan yang ada di tangannya.


“Iyya!” Ersya pun tidak kalah senangnya. Dengan cepat Ersya


menghampiri Iyya dan memeluknya.


“Iyya kenapa di sini?” tanya Ersya sambil menakup kedua pipi


Iyya.


“Nungguin mom Eca!” ucap Iyya dengan polosnya membuat Ersya


mengerutkan keningnya.


“Aku?” tanya Ersya sambil menunjuk dirinya sendiri dan Iyya


menganggukkan kepalanya beberapa kali.


“Iyya tahu kalau aku di sini?” dan lagi-lagi Iyya


menganggukkan kepalanya dengan cepat.


“Siapa yang ngasih tahu?”


“Dad Iyya!” ucap Iyya sambil menunjuk ke arah Div yang masih


berdiri di tempatnya. Ersya pun menoleh ke arah Div.


Jadi dia sudah punya anak, dan Iyya anaknya, ahhh kenapa aku tidak sadar jika bosnya Rangga itu dia, berarti kalau


dia sudah punya anak, punya istri dong, lalu paparazzi itu, jangan-jangan gue


di gosipin sama pengusaha sukses sebagai pelakor lagi ….


“Ahhh sial!” umpat Ersya. Ia paling malas berhubungan dengan yang namanya orang ke tiga, sudah cukup rumah tangganya yang di hancurkan oleh orang ke tiga jangan sampek ia menjadi orang ke tiga di pernikahan orang lain.


“Pria itu?” tanya Ersya sambil menunjuk pada pria yang


sedang sibuk berbicara di telpon.


“Dia daddy Iyya, namanya dad Div!”


Ersya pun hanya bisa


“Kita bermain yuk!”


“hoyee …, Iyya mau main


cama mom Eca!”


“Okey …, kita main apa


ya?”


“Apa aja pokoknya cama


mom Eca, Iyya cenang!”


Akhirnya mereka memilih


boneka sebagai mainan mereka, Iyya begitu senang bisa bermain dengan mom Eca


nya.


“Iyya sayang, boleh


nggak tante Ersya tanya?”


“Boyeh dong, mom Eca


mau tanya apa?”


“Kenapa Iyya panggil


tante, mom? Iyya nggak takut momnya Iyya marah?” tanya Ersya dan Iyya pun


menggelengkan kepalanya cepat.


“Kenapa?”


“Kalena mom Iyya, mom


Eca!”


Belum sempat Ersya


menjelaskan pada Iyya jika dia bukan mommy nya Divta sudah lebih dulu datang


menghampiri mereka.


“Iyya sayang, sudah


cukup ya mainnya sama dia, kita pulang ya!” ucap Divta sambil melirik pada


Ersya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Divta,


Iyya malah memeluk Ersya dengan begitu erat dan tidak mau melepaskannya. “Iyya


nggak mau puyang kalau tanpa mom Eca!”


“Tapi Iyya sayang, mom


Eca sedang banyak urusan!”


“Nggak mau …, Iyya


maunya cama mom Eca!”


Iyya malah merenget


tidak mau di tinggal oleh Ersya.


“Ya udah pulangnya sama


tante Eca ya, tapi Iyya jangan nangis!”


Mendengar ucapan Ersya,


Iyya pun segera menghapus air matanya. Ia menganggukkan kepalanya begitu cepat.


Ersya pun menggendong


Iyya karena Iyya tidak mau lepas darinya.”Ayo!”


“Biar aku aja yang


gendong Iyya!” ucap Divta dan hendak mengalihkan Iyya ke dalam gendongannya


tapi Iyya semakin mengeratkan tangannya.


“Iyya nggak mau Dad,


Iyya maunya cama mom Eca!”


Divta menatap Ersya


meminta pendapatnya, cukup kasihan sama Ersya karena tubuh Iyya nggak kecil.


Divta terus berjalan di belakang Ersya yang sedang menggendong Iyya.


“Nggak pa pa, biar aku


gendong aja!”


“baiklah, terserah kamu


saja!”


Saat sampai di depan


pintu lift, Div segera menekan tombol ke lantai dasar, mereka akan segera


meninggalkan rumah sakit. Ersya juga harus pulang kerena sudah dua hari tidak


pulang. lagi-lagi mereka hanya saling diam. Tidak ada percakapan di sana hanya


Iyya yang terus saja berceloteh. Selama ini ia hanya punya teman bicara encus


atau jika di kantor ada Rangga.


Divta segera membukakan


pintu mobil, Divta tidak membawa sopir bersamanya.


“Terimakasih!”


Mereka duduk di kursi


depan bertiga, “Iyya cenang mom Eca mau ikut belcama Iyya puyang!”


“Mom Eca juga!”


Mobil mulai melaju


meninggalkan gedung rumah sakit, mereka menuju ke rumah dengan pagar besar dan


lengkap dengan penjagaannya. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh beberapa


pelayan.


“Iyya sama encus dulu


ya, daddy mau bicara sama mom Eca dulu!” ucap Divta saat mereka sudah masuk ke


dalam rumah.


“Iya …, Iyya mandu duyu


cama encus, nanti maun cama mom!” ucap Iyya, suster yang merawat Iyya pun


segera mendekat saat mendapat isyarat dari Div.


Kini Iyya sudah masuk


bersama susternya, tinggal ada Ersya dan Divta di ruangan yang besar itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2