Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Mencoba tegar (Ersya)


__ADS_3

“Mantan???”


Felic benar-benar terkejut dengan kata mantan, sejak kapan? Kenapa sahabatnya


itu tidak cerita?


 “Siapa nama kamu?” tanya wanita paruh baya


itu, “Oh iya kenalkan dulu, saya Tania Bactiar dan ini putri saya Tisya Bactiar


pemilik perusahaan Bactiar group!”


“Saya


Felic nyonya, saya sahabatnya  Ersya!


Tapi Ersya dan mas Rizal tidak bercerai nyonya!” ucap Felic pada wanita yang


mengaku namanya Tania itu. Felic berusaha lebih sopan dengan wanita itu karena


lebih tua, bukan karena jabatan atau sosialnya.


“Pantas


saja …, jadi kayak gini nih ya temennya wanita itu, pantas saja sama!” ucap


wanita muda yang bernama Tisya dengan mata yang menatap hina pada Felic. Wanita


itu begitu merendahkan penampilan Felic.


“Memangnya


kenapa denganku? Kenapa dengan sahabatku?” tanya Felic dengan berkacak


pinggang.


“Dekil …, kampungan …, urakan …. Dan yang pasti nggak tau diri! Sudah tahu suaminya


nggak suka masih aja kirim sahabatnya buat nglabrak kami!”


“Jaga ucapan lo ya …! Mau gue sobek tuh mulut biar nggak bisa berbicara semaunya!”


teriak Felic.


“Lo yang mestinya jaga mulut lo itu, dasar kampungan!” ucap gadis itu yang tidak


mau kalah.


“Dasar perebut suami orang!”


Perdebatan yang mulanya hanya lewat mulut saja sekarang mereka sudah cakar-cakaran khas


cewek kalau sedang berantem. Awalnya saat melihat Felic masih menang, Wilson


masih bisa diam. Tapi saat  nyonya nya


sudah di sakiti, ia segera berlari melindungi nyonya-nya itu.


“Hentikan …!” ucap Wilson sambil menarik tangan wanita muda itu saat tangannya hendak


menjambak rambut Felic.


“Siapa kamu?” tanya wanita itu.


“Anda akan berurusan dengan saya jika menyakiti nyonya Felic!” ucap Wilson dengan


mata yang begitu tajam penuh permusuhan pada ketiga orang yang sudah melawan


Felic.


Tapi sepertinya Tania mengingat siapa Wilson walaupun baru beberapa kali melihatnya,


tapi juga belum yakin. Karena bukan dia yang jadi pusat perhatiannya saat itu.


“Anda siapa?” tanya Tania sambil memperhatikan penampilan Wilson yang sangat kontras

__ADS_1


dengan penampilan Felic. Wilson dengan pakaian rapinya dengan jas hitam dan


kemeja putihnya sedangkan Felic. Dia benar-benar tidak menggambarkan penampilan


wanita sosialita yang membutuhkan bodyguard kemana-mana.


“Saya orang yang bertugas melindungi nyonya Felic!”


“Memang dia anak presiden harus di jaga? Dasar wanita simpanan om om ya lo makanya


perlu di jaga …!” ucap Tisya dengan memandang remeh pada Felic.


“Jaga mulut lo ya …, jangan sampek tangan gue merobeknya …!” Felic sudah bersiap


menyerang tapi di halangi oleh Wilson.


“jangan cari gara-gara! Sebaiknya anda pergi dari sini!” ucap Wilson memperingatkan


Tisya.


“Jangan kurang ajar ya, saya bisa membuat hidup kalian berantakan dengan sekali


perintah ya!” ancam Tisya tak mau kalah.


“Tisya …, sudah! Lebih baik kita pergi saja dari sini! Tempat ini sudah sangat tidak


nyaman!” ucap Tania memperingatkan putrinya.


Akhirnya wanita muda yang di panggil Tisya itu segera mengibaskan genggaman tangan Wilson


dan menyambar tas branded nya yang berada di atas meja dan segera menggandeng


tangan Rizal.


Mereka pergi begitu saja meninggalkan Felic dan Wilson. Felic masih begitu emosi, ia


menjatuhkan tubuhnya ke kursi kecil itu.


Seorang manajer kafe mendatangi mereka Karena mendengar laporan jika ada keributan di


“Ada apa ini?” tanya manajer kafe saat melihat tamu istimewa mereka meninggalkan


kafe.


Wilson segera mendekati sang manager kafe, “Maaf atas ketidak nyamanan ini, tapi kami


akan menggantinya dengan harga yang sebanding!”


Tapi sepertinya manager itu masih kurang puas dengan pertanggung jawaban yang di


lakukan Wilson, kemudian Wilson mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah


cek kosong.


“Silahkan


tulis sendiri nominalnya sesuai dengan kerugian yang kami timbulkan!”


Sang manager pun menerimanya dengan senang hati kali ini, Terimakasih tuan, silahkan


bersantai tuan, kalau begitu saya permisi!”


Setelah sang manager meninggalkan Wilson dan Felic. Wilson pun kembali mendekati Felic


yang masih duduk di tempatnya.


“Nyonya …, nyonya tidak pa pa?” tanya Wilson sambil menyerahkan segelas air putih yang


telah sengaja ia siapkan.


Felic pun dengan cepat menyambar air itu dan meneguknya dalam sekali tegukan.


“mereka benar-benar membuatku darah tinggi!”


“Apa sebaiknya kita pulang saja, nyonya?” tanya Wilson yang terlihat begitu

__ADS_1


khawatir.


“Pulang aja sendiri!” ucap Felic ketus dan meninggalkan tempat itu kembali ke mejanya.


Untung Wilson orangnya sabar, dia hanya bisa mengelus dada menghadapi nyonya nya


yang labil itu.


***


Ersya yang sudah menyelesaikan pekerjaannya segera merapikan mejanya, ia juga memasukkan semua barang-barang pribadinya ke dalam tas.


“Kenapa buru-buru sekali, mau ke mana?” tanya salah satu rekan kerjanya yang juga


seorang costumer servis di sana.


“Ada deh …, mau tahub aja atau mau tau benget nih?” ucap ersya dengan senyum di bibirnya.


“Gila aja …, nanya aja pakek tebakan!”


“makanya jangan nanya, ya udah gue pergi ya, bye …, selamat berlembur ria, gue udah


selesai!”


Ersya pun segera meninggalkan tempatnya, ia menghampiri mobilnya yang sudah terparkir


di depan pintu karena ia sudah meminta bantuan sama pak satpam untuk


mengeluarkan mobilnya dari lahan parkir.


“Makasih ya pak!” ucap Ersya sambil menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan.


“Makasih mbak Ersya, sering-sering aja!” ucap pak satpam itu dan Ersya pun segera masuk


ke dalam mobil dan dengan perlahan mobil itu melaju meninggalkan gedung itu.


Jalanan sudah tidak terlalu ramai karena memang sudah kelewat jam makan siang jadi


mobil Ersya begitu lancar merajai jalanan.


Hanya dalam waktu sepuluh menit, mobil Ersya langsung terparkir di depan kafe. Ersya


pun segera keluar dari dalam mobilnya. Tapi saat ia hendak melangkah, kakinya tiba-tiba berat saat melihat seseorang yang sangat ia kenal keluar dari tempat itu dengan seorang wanita.


“Mas Rizal!” gumam Ersya.


Pria itu menghentikan langkahnya saat menyadari kedatangan Ersya di sana begitu pun


dengan wanita itu.


“Ersya!”


Dengan cepat Rizal melepaskan tangannya di pinggang ramping wanita yang bersamanya. Dua


wanita yang bersama Rizal pun ikut menatap pada Ersya.


Ersya pun segera berjalan mendekati mereka dengan sisa-sisa tenaganya yang tiba-tiba


terkuras begitu saja, tenggorokannya juga tiba-tiba kering.


Ersya berdiri tepat di depan Rizal, menatap pria yang beberapa hari lagi itu akan resmi bercerai dengannya.


Spesial visual Ersya



Bersambung


...Menjadi orang baik tidak perlu selalu terlihat baik di mata orang karena jika dia benar-benar mengerti kita, dia akan memilih mengenal kita bagaimana pun bentuknya kita...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2