Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Mom Iyya cendiyi


__ADS_3

Kedatangan


Iyya di rumah besar langsung di sambut hangat oleh Ara, Ara segera menggendong


Iyya dan membawanya ke ruang makan.


“Iyya


sayang …, apa Iyya sudah makan?” tanya Ara.


“Iyya


cudah makan tante!”


“makan


pakek apa?”


“Iyya


makan cama cayul!”


“Bagaimana


kalau sekarang tante buatkan Iyya kue dari sayur? Iyya mau?” tanya Arad an Iyya


pun menganggukkan kepalanya.


“Baiklah


duduk di sini yang manisa dan tante Ara akan buatkan kue special untuk Iyya!”


Ara


pun segera menuju ke meja dapur, ia memulai aksinya dan Iyya bermain gadget nya


sambil memperhatikan Ara yang sedang membuat kue.


Makanan


Iyya pun tidak boleh sembarangan, ia makan makana sehat saja. Jadi kemanapun


Iyya pergi, Iyya harus membawa makanan khusus dari rumah dan juga yang tidak


bisa ketinggalan adalah obatnya.


Tidak


berapa lama, setalah Sanaya mengetahui jika Iyya datang, Sanaya pun segera


menghampiri Iyya dan mommy Ara.


“Iyya


….!” Sapa Sanaya lalu duduk di samping Iyya.


“Nay


…!”


“Ayo


kita bermain!” ajak Sanaya.


“Nanti


Nay …, tante Ala cendang buatkan kue untuk Iyya!”


Sanaya


pun segera menoleh pada mommy nya, “Mom …, apa boleh Iyya bermain denganku?”


tanya Sanaya.


“Boleh


….! Tapi ingat nggak boleh main lari-larian, ajak Iyya mainan boneka saja ya di


dalam kamar!”


“Siap


mom!” ucap Sanaya, “Ayo Iyya …, mom Nay mengijinkannya!”


Akhinya


Iyya pun setuju untuk bermain dengan Sanaya. Tapi seperti yang di katakan oleh


Ara, Nay pun hanya mengajak iyya bermain boneka dan juga masak-masakan di dalam


kamarnya. Ia tahu jika keadaan Iyya tidak seperti anak-anak lainnya.


“Iyya


duduk dulu aja! Nay ambilkan boneka untuk Iyya!” ucap Sanaya sambil berjalan


meninggalkan Iyya dan mengambil mainannya.


Iyya


menunggu Sanaya sambil melihat foto-foto keluarga yang berada di atas meja


panjang yang menempel di dinding. Meja itu tidak terlalu tinggi hingga Iyya


bisa dengan mudah melihatnya. Foto-foto yang menampakkan keluarga yang lengkap,


berbeda sekali dengan foto-foto yang ada di kamarnya. Di dalam kamar Iyya hanya


ada fotonya dengan daddy Div.


Iyya


pun menoleh pada Sanaya yang masih sibuk dengan bonekanya, Nay memasukkan


beberapa boneka kesayangannya ke dalam keranjang.


“Nay


…!”


Iyya


menatap punggung Sanaya, Sanaya yang merasa di panggil pun menoleh padanya.

__ADS_1


“Iya?


Ada apa? Sebentar ya aku belum selesai!” ucap Sanaya yang kembali sibuk memilih


boneka dan mainannya.


“Nay


…, pati cenang punya mommy ya?” tanya Iyya sambil menatap foto bahagia keluar


Nay yang sedang berlibur di pantai.


Sanaya


yang mendengar pertanyaan Iyya pun menghentikan kegiatannya, ia kembali menoleh


pada Iyya. Sanaya meninggalkan mainannya yang sudah berada di keranjang itu dan


berjalan menghampiri Iyya, ia berdiri di samping Iyya.


“Iyya


boleh kok menganggap mommy nya Nay sebagai mommy Iyya!” ucap Nay sambil memeluk


Iyya.


“Iyya


maunya unya mommy cendiyi …, mommy yang bacakan dongeng buyat Iyya cetiap malam


cebeyum tidul …!”


“Baiklah


kalau begitu kita berdoa supaya Allah mengirimkan mommy buat Iyya, kata bu guru


Nay, kalau menginginkan sesuatu kita harus berdoa, kata mommy Nay juga!”


“Iyya


mau …! Ajayi Iyya beldoa ya!”


“Nay


juga tidak bisa, tapi kalau kita berdoa dalam hati saja tidak pa pa, kata bu


guru sama saja!”


***


Setiap


hari menjelang hari persidangan, Ersya lebih suka menyendiri. Sepulang kerja ia


selalu mampir ke gedung tinggi yang ada di sebelah gedung tempatnya bekerja.


“Ehhhh


mbaknya lagi, mau ngapain lagi mbak?” tanya satpam yang berjaga di tempat itu,


ia sampai hafal dengan wajah Ersya.


“Mau


pinjam atap gedungnya ya pak!”


jangan di buat bunuh diri aja mbak!”


“Sate


masih enak pak …, buat apa bunuh diri!”


“Ya


kali aja …., bisa kena kasus aku nanti!”


“Nih


boleh nggak jadinya?” tanya Ersya.


“Boleh


….!”


Ersya


pun sudah hampir masuk tapi satpam itu kembali memanggilnya.


“Bentar


mbak!”


Ersya pun kembali menghampiri satpam itu, “Ada apa lagi?”


“sebentar


mbak …, lihat pak bos mau keluar, sebaiknya mbak sembunyi dulu di pos satpam!”


ucap satpam itu sambil menunjuk pada pria yang sedang berjalan keluar dengan di


iringi beberapa orang besar di belakangnya.


Pria tampan itu berjalan di paling depan dan sekitar lima orang yang mengikuti


dengan penampilan rapi lengkap dengan jasnya.


Esya pun menuruti permintaan pak Satpam, ia memilih bersembunyi di dalam pos satpam


tapi dia lupa telah meninggalkan tasnya di atas meja.


“Selamat malam tuan Div!” sapa pak satpam.


Div pun menghentikan langkahnya, menoleh pada pak satpam.


“Apa kamu berjaga sendiri?” tanya Div.


“Iya


pak, tapi sebentar lagi teman saya akan datang, dia sudah ijin untuk datang


terlambat!”


Divta

__ADS_1


melihat ada yang ganjil dengan pos satpam itu, ia seperti melihat seseorang di


dalamnya.


“Itu


tas siapa?” tanya Divta.


Ya ampun …, gue lupa lagi ambil tas


gue …., gimana kalau dia ke sini, batin Ersya, ia begitu


khawatir jika sampai pemilik gedung itu akan menghampirinya dan menemukannya


bersembunyi di sana.


“Ohhh


itu anu tuan …, itu tadi tas salah satu karyawan yang tertinggal, pemiliknya


bilang sebentar lagi akan datang untuk mengambilnya!” ucap pak satpammencoba


mencari alasan.


“Baiklah


…, berjagalah dengan baik!”


Divta


pun segera meninggalkan pos satpam, mobilnya sudah menunggu di depan. Terdengar


ponselnya berdiring membuat Divta menghentikan langkahnya dan menerima


panggilan masuk itu.


“Iya


hallo!”


“…..!”


“Aku


sudah akan ke sana, apa Iyya rewel?”


“…”


“Baiklah


katakan kalau daddy nya akan menyusul!”


Divta


pun kembali mengantongi ponselnya ke dalam saku jasnya, seseorang sudah


membukakan pintu mobil dan Divta segera masuk dan duduk di kursi belakang.


 “Kita ke rumah besar!” ucapnya pada sopir.


“Baik


tuan!”


Dan


mobil pun mulai melaju meninggalkan gedung bertingkat itu, begitu pun dengan


para pengawalnya dengan mobil yang berbeda. Hanya ada satu orang yang berada di


mobil yang sama sepertinya pria yang berada di samping sopir itu adalah


sekretarisnya.


“Mbak


…, mbak …., keluarlah sudah aman!” ucap satpam itu saat semua mobil sudah


pergi.


Ersya


pun segera keluar, kakinya sudah kesemutan keran terlalu lama berjongkok dengan


sepatu hak tingginya itu.


“Itu


tadi siapa sih pak?’ tanya Ersya sambil kembali merapikan baju dan rambutnya.


“Itu


pak CEO, mbak! Namanya tuan Div, ganteng masih bujang!”


Memang apa peduliku ….., batin


Ersya.


“Aku


sekarang sudah boleh ke atas kan pak?” tanya Ersya.


“Ya


silahkan, asal jangan melompat saja!”


“Itttssss


…!”


Ersya


pun segera meninggalkan satpam itu dan menuju ke lift, naik menuju kea tap


gedung. Menikmati suasana malam sendiri, baginya melihat bintang dari atas


gedung sedikit membuat hatinya lebih tenang.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2