Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Memilih berdamai


__ADS_3

Di rumah paman Roy.


Setelah puas mengamati kamar itu Ersya pun memutuskan untuk keluar dari kamar, ia tidak mungkin terus di dalam kamar.


Ia hanya sebagai tamu di rumah itu, setidaknya mengobrol atau membantu sedikit dan ia juga ingin menanyakan sesuatu pada bu Dewi tentang diary yang baru ia baca.


Ersya melihat rumah itu sepi, ia pun memutuskan untuk ke dapur. Mungkin bu Dewi sedang memasak.


Dan benar saja wanita paruh baya itu sedang sibuk di dapur.


“Tante!” sapa Ersya membuat wanita paruh baya itu mendongakkan kepalanya menatap Ersya


“Eh Ersya! Sini …!”


Ersya pun berjalan mendekat, menghampiri bu Dewi yang sedang mengupas bawang.


“Masak apa tante?” tanya Ersya lagi. Ia ikut berdiri di samping meja dapur mini yang terlihat begitu bersih dan rapi itu. Sepertinya pemilik dapur sangat rajin membersihkannya.


“Panggil ibu saja, anggap saya ibu kamu!” ucap bu Dewi sambil menoleh sebentar ke arah Ersya dan tersenyum.


"Ibu baik banget sih sama Ersya! Ibu belum kenal Ersya loh!"


"Tidak apa, Jika Divia saja bisa sayang sama kamu itu berarti kamu anak baik!"


"Terimakasih bu!"


"Sama-sama, ibu juga terimakasih karena kamu sudah menyayangi Divia seperti putri kamu sendiri!"


“Iya bu, Ibu masak apa?” tanya saat tidak menemukan sayuran apapun di atas meja.


“Ini ibu mau masak sayur kangkung dan udang buat makan malam!”


“Ersya bantu ya bu!”


"Iya boleh!" Bu Dewi pun mengambil sayuran yang ternyata masih berada di dalam lemari pendingin.


"Ini kamu potong-potong ya!"


"Iya bu!"


Ersya pun mengambil pisau dan mulai memotong sayuran itu.


“Divia sudah tidur?” tanya bu Dewi sambil mencuci bawang dan cabai yang sudah di bersihkan itu.


“Sudah bu!”


“Cepat sekali dia tidurnya, pasti ngantuk sekali tadi main lari-larian sama kakek nya!"


Ersya tersenyum dan melanjutkan memotong sayurnya.


Ada beberapa pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada bu Dewi. Tapi ia masih ragu untuk bertanya. Tapi rasa penasarannya sepertinya yang menang.


“Bu …, boleh Ersya bertanya?” setelah melalui beberapa pertimbangan akhirnya bertanya juga.


“Silahkan!”


“Apa ibu tidak marah sama Div?”


Bu Dewi pun menghentikan mengulek bumbunya ia menoleh pada Ersya.


“Kamu tahu dari mana?”


“Maaf bu kalau Ersya lancang,


tadi tanpa sengaja Ersya membaca buku diary Davina!”


Hehhhh


Bu Dewi memilih menghela nafas, ia duduk di samping Ersya. Masih banyak waktu untuk sampai waktu makan malam. Mungkin mereka bisa santai sebentar.

__ADS_1


“Awalnya ibu marah sangat marah, kesal, benci, kecewa semua campur aduk menjadi satu,


Tapi kemudian ibu sadar saat melihat Divia. Ia tidak bisa berlaku seperti itu, rasanya saya tidak akan adil jika sampai memisahkan Divia dengan daddy nya.


Ia sudah kehilangan mamanya, ibu nggak mungkin membuatnya merasa tidak punya daddy!


Saya rasa memilih berdamai dengan rasa benci ini sudah membuat  saya kuat!”


Air mata Ersya mulai runtuh, ia tidak tahu jika butuh proses panjang untuk sampai di titik ini. Dia juga terlalu sayang pada Divia hingga ia pun juga mengesampingkan bagaimana sikat Divta terhadapnya.


“Ersya salut sama ibu, ibu wanita yang kuat!”


“Terimakasih nak!” bu


Dewi mengusap punggung Ersya,


"Kamu juga harus belajar sabar karena ibu tahu pernikahan yang kamu jalani ini bukan pernikahan yang mudah,


Kedepannya pasti akan ada kerikil tajam yang siap untuk menggelincirkan langkah kalian!" ucap bu Dewi lagi dan kembali berdiri dan melanjutkan mengulek bumbunya.


...***...


Malam ini setelah makan


malam akhirnya Div datang juga.


Iyya bahkan sudah sampai mengantuk lagi.


"Dadd, Iyya tidul lagi di lumah nenek cama kakek aja ya!" ucap Iyya saat melihat daddy nya yang baru datang.


"Jangan gitu dong sayang, daddy kam ke sini buat jemput kamu, memang Iyya nggak kangen sama daddy?"


"Kangen, tapi daddy lebih cayang cama pekeljaan dali pada Iyya!"


"Maaf ya sayang, daddy janji deh pokoknya besok daddy bakal pulang cepat buat Iyya, tapi Iyya pulang sama daddy ya!"


"Cama mom juga kan?"


"Ya cudah, Iyya mau!"


Div pun segera mengajak Ersya dan Iyya berpamitan


pulang.


"Padahal kakek sama nenek masih kangen banget sama Iyya!" ucap paman Roy.


“Ersya janji nanti akan


sering-sering Iyya menginap di sini! Iya kan Iyya?”


"Iya kakek!"


“Terimakasih ya, hati-hati di jalan!”


Ersya dan Iyya pun lebih dulu masuk ke dalam mobil sedangkan Div masih di luar, ia juga harus berpamitan pada paman Roy dan bu Dewi.


“Kami pamit, paman …, bibi …!”


“Iya …, jaga mereka baik-baik!”


“Iya paman!”


Div pun menyusul Ersya


dan Iyya yang sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil.


Paman Roy dan bu Dewi melambaikan tangannya saat mobil Div mulai melaju hingga mobil itu menghilang di ujung jalan.


Mereka pun memutuskan untuk langsung pulang karena sudah malam.

__ADS_1


Sebenarnya Div berencana


mengajak Ersya dan Iyya makan malam, tapi ternyata mereka sudah makan malam. Jadi


Div mengurungkan niatnya.


Mereka pun sampai juga


di rumah, Iyya sudah terlihat mengantuk. Karena tadi janjinya akan menjemput jam tujuh tapi ternyata sampai jam Sembilan malam.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah mereka karena jalanan cukup senggang di malam hari.


Div menoleh pada Ersya dan Divia, ternyata putri kecilnya itu sudah tertidur pulas begitu juga dengan Ersya.


"Semua tertidur lagi!" gumamnya, ia mengamati wajah Ersya yang miring ke arahnya dengan tangan yang memegang erat tubuh Divia.


Div pun menggoyangkan tubuh Ersya agar wanita itu bangun.


"Sudah sampai ya?" gumam Ersya sambil mengedipkan matanya dan setelah melihat sekitar benar saja mobil itu sudah berada di depan rumah.


"Baiklah, aku akan turun!"


"Tunggu!"


"Ada apa?"


“Biar aku gendong!”


ucap Div , ia pun segera turun dari mobil dan berlari mengitari mobil. Membuka pintu mobil yang ada di samping Ersya dan mengambil alih Divia.


Div pun membopong tubuh


Iyya dan membawanya ke dalam kamar. Menidurkannya di sana, Ersya mengikuti langkah Div hanya untuk memastikan Iyya tidak terbangun kembali.


Sebelum div ,meninggalkan kamar Iyya Ersya pun kembali memanggil Div.


“Div!”


“Hemm?”


“Besok aku ingin pergi


sebentar boleh ya tanpa Iyya!”


“Kemana?”


“Ada urusan sebentar,


tidak sampai satu jam, janji!”


“Baiklah, bawa Iyya ke


kantor saja, nanti kamu bisa jemput Divia lagi kalau urusanmu sudah selesai!”


“Terimakasih!”


Div hanya menganggukkan kepalanya dan segera meninggalkan kamar Iyya. Tubuhnya sudah sangat lengket, ia harus segera mandi.


Sedangkan Ersya, setelah memastikan jika Divia tidak terbangun lagi. Ia segera mematikan lampu kamar Iyya dan meninggal nya menuju ke kamarnya.


Spesial visual Ersya



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2