Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Aroma jeruk


__ADS_3

Setelah menyelesaikan kegiatannya, Div pun kembali ke kamarnya dan melihat putrinya itu sudah rapi dengan seragamnya di bantu oleh mom's Ersya. Div dengan bibir cemberutnya, Ersya yang tahu jika suaminya kurang nyaman dengan aroma sampo yang di pakai saat ini, benar-benar aroma jeruk. Ia pun meminta baby sitter Divia untuk mengajak Divia ke ruang makan lebih dulu.


Div masih mengenakan handuk yang melingkar di bagian pinggangnya dan handuk kecil yang mengalung di lehernya yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut dengan aroma jeruk.


Setelah hanya tinggal mereka berdua, Ersya pun mendekati suaminya, dan memeluknya dari belakang, mencium beberapa kali punggung sang suami lalu menyandarkan kepalanya di punggung sang suami,


Dia sengaja menggodaku ya ...


Div berusaha menahan hasratnya yang sudah beberapa hari ia pendam.


"Mas!"


"Hmm!" Div menghentikan kegiatannya yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Aku suka sama aroma mas deh, wangi menyegarkan! Kalau mencium bau sampo punya mas Div yang biasanya aku suka mual!" sebenarnya itu hanya alasan Ersya saja, karena ia belum pernah mencoba mencium aroma sampo Div semenjak pulang ke rumah, baru pagi ini Div keramas.


Div tersenyum, "Benarkah?"


"Iya mas, rasanya menyegarkan!" Ersya memang tidak mual mencium aroma segar dari sang suami.


Tiba-tiba Div tersenyum jahat, dia seperti sedang mendapatkan ide yang sangat bagus. Ia meregangkan tangan sang istri dan berputar hingga menghadap sang istri, tidak lupa ia juga mengalungkan tangannya di punggung istrinya,


"Benarkah seperti itu?"


"Iya!"


"Baiklah kalau seperti itu, sepertinya aku harus memberi upah padamu!"


"Apa?"


Div pun segera mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, ia mendekat hingga hampir menunduk. dan bibir itu mendarat di bibir Ersya. Tidak bisa di pungkiri kalau ia juga sedang merindukan sentuhan suaminya.


Div mulai ******* bibir Ersya, ciuman itu semakin lama semakin menuntut, tangan Div sekarang juga sudah menekan tengkuk Ersya, dan tangan satunya lagi berada di pinggang Ersya. Ersya pun tidak mau kalah, ia mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Hanya dalam sekali hentakan tubuh ersya sudah berada di dalam gendongan Div, ia menggendongnya ala bridal style dan membawa Ersya ke tempat tidur.


"Aku lakukan ya?" tanya Div saat mereka sudah sama-sama di atas tempat tidur dan Ersya pun mengangguk. Mungkin jika pelan dan hati-hati tidak akan mempengaruhi janinnya apalagi sekarang ini keadaannya sudah sangat sehat, sebelumnya juga sehat hanya saja ada kejadian itu membuatnya sedikit syok dan ada sedikit benturan saja.


"Aku akan pelan!" ucap Div lagi saat melihat wajah khawatir sang istri. Ersya pun kembali mengangguikan kepalanya. Div kembali mendekatkan bibirnya dan mengabsen setiap inci mulut sang istri. Tangannya juga dengan cepat menarik dress di atas lutut yang di kenakan oleh Ersya hingga kini tubuh Ersya hanya berbalut kain transparan berwarna merah, begitu seksi.


Div juga tidak lupa meninggalkan jejak di leher dan dada sang istri begitu banyak.

__ADS_1


Dan entah dalam hitungan menit kain itu pun ikut lepas dari tubuhnya, setelah puas mengabsen semua tubuh sang istri Div yang sudah melepaskan handuknya sedari tadi pun akhirnya bersiap-siap.


(Di skip dulu ya bagian ininya, bisa bayangin sendiri-sendiri nanti malam atau bisa langsung praktek sama pak suami, bagi yang singgel langsung di skip agar nggak kebayang)


Hingga semuanya sudah selesai, tiga puluh menit cukup untuk mereka melepas rindu sebelum memulai aktifitasnya kembali.


Tok tok tok


Div yang masih memeluk tubuh Ersya segera menoleh ke arah pintu, ia sebenarnya lupa pintu itu sudah tertutup atau belum dan akhirnya bernafas lega ternyata pintunya tertutup.


"Kamu tidak pa pa kan? Tidak ada yang sakit? Perutmu tidak sakit?" Div mengecek tubuh Ersya yang masih telanjang, memperhatikan bagian bawah, tidak ada darah atau apa yang bisa membuatnya khawatir. Lalu ia mengusap perut rata Ersya dan menciumnya beberapa kali,


"Maaf ya kalau Daddy menyakitimu!"


"Aku tidak pa pa mas, dia juga baik-baik saja. Dia kan anak yang kuat!"


Div pun beralih mencium seluruh wajah Ersya hingga suara ketukan di pintu kembali membuatnya kesal.


"Iya sebentar!"


Div pun menyambar handuk dan kembali melilitkan ke pinggangnya, tidak lupa dia juga menutup tubuh polos sang istri dengan selimut. Ersya pun segera menggeser tubuhnya agar dalam posisi duduk, ia juga penasaran dengan siapa yang menggangunya pagi-pagi, jelas itu bukan Divia karena ia sudah meminta Divia ke ruang makan untuk sarapan sambil menunggu Rangga datang.


"Selamat pagi Div!" sapa Ellen, ia tampak tidak berkedip saat melihat Div yang telanjang dada, rasanya ingin sekali memeluk tubuh itu.


Kendalikan dirimu Ellen, Ellen berusaha keras untuk mengendalikan dirinya sendiri, ia pun kembali tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.


"Ersya di dalam kan?"


Wanita itu terlihat celingukan dan mencari sesuatu, tapi matanya terpaku saat melihat Ersya yang duduk di atas tempat tidur dengan tubuh yang masih tertutup selimut. Hal yang paling membuat hatinya panas adalah Ersya dengan sengaja membiarkan bagian dadanya sedikit terbuka agar Ellen bisa melihat tanda merah di dada dan lehernya.


"Ada apa?" Div masih bersikap dingin.


"Sebenarnya kemarin aku tidak sempat memberi selamat atas kehamilannya, jadi pagi ini aku ingin mengucapkannya sambil mengantarkan sarapan sehat untuk ibu hamil.


"Boleh aku masuk?" tanyanya, tapi tanpa menunggu jawaban dari Div, wanita itu nyonong masuk.


Matanya tanpa sengaja menatap dress dan baju dalam Ersya yang berserakan di lantai,


Seharusnya aku yang berada di posisi ini ...


Ersya masih diam di tempatnya sambil mengamati wanita itu. Div yang sudah mulai kesal menghampiri Ellen dan menarik kasar tangan Ellen hingga menimbulkan getaran pada gelas yang penuh dengan susu hangat itu,

__ADS_1


"Div sakit!"


"Siapa yang setuju kamu masuk?"


"Aku kan bermaksud baik, aku mau ngucapin selamat dan mengantar sarapan!"


"Letakkan dan segera keluar dari kamar ini, dan lain kali jangan berani masuk ke kamar ini lagi!"


"Kamu jahat banget sih sama aku!" Ellen pun segera meletakkan nampan itu di atas nakas dan berlari meninggalkan kamar itu dengan air matanya.


Air mata buaya ...., batin Ersya muak dengan wanita itu. Tapi ia cukup senang dengan suaminya yang begitu tegas itu. Seandainya itu mantan suaminya, pasti tidak akan seperti itu jadinya.


Setelah Ellen pergi, Ersya pun segera mengincar makanan itu, roti selai dua lapis dan susu hangat, sungguh nikmat di makan pagi hari.


"Ahhh jadi lapar!" Tangan Ersya sudah hampir menyentuh makanan itu, tapi Div yang baru kembali dari menutup pintu segera menahan tangan Ersya.


"Kenapa sih mas, aku lapar!"


"Ini di buang saja!" Div mengambil nampan itu dan menuangkan roti ke dalam tempat sampah lalu membawa segelas susu itu ke wastafel kamar mandi dan menuangnya di sama.


Ersya masih bingung dengan apa yang di lakukan suaminya,


"Kenapa di buang sih mas?"


"Nanti kamu juga tahu jawabannya, segeralah mandi dan turun, katakan kalau kamu sudah memakan semuanya, jangan lupa bilang terimakasih!"


"Baiklah!" Ersya membalut tubuhnya dengan selimut dan mengambil dress yang berserakan dan membawanya ke keranjang baju kotor lalu dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Karena tadi kata istrinya, dia suka dengan aroma jeruk dari sampo yang di pakai akhirnya div pun memutuskan untuk kembali ke kamar mandi Divia dan mandi di sana kembali dengan sampo yang sama.


...Kamu mungkin merasa pintar, tapi kamu lupa juga di atas langit masih ada langit, jika kamu pintar ada orang lain yang lebih pintar darimu,...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2