
Seperti biasa, setelah Divia masuk ke dalam kelasnya. Ersya dan Div akan memakai mobil yang berbeda dengan tujuan yang berbeda. Kali ini Ersya meninggalkan Divia bersama baby sitternya karena dia harus ke rumah nyonya Ratih.
"Hari ini aku nyetir sendiri ya?" tanya Ersya saat sudah akan masuk ke dalam mobil. Hal itu membuat Div menghentikan kegiatannya. Ia yang sedang sibuk melakukan panggilan segera menjauhkan ponselnya dari kain telinganya dan menatap istrinya itu.
Div kembali mendekatkan ponselnya,
"Nanti kita lanjutkan di kantor!" ucap Div kemudian mematikan sambungan telponnya.
Div menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku celananya dan kembali menatap istrinya,
"Boleh ya?" tanya Ersya sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Memang ada apa dengan sopir kita?"
"Tidak pa pa, cuma aku pengen pergi sendiri saja, sekali iniiiii saja!"
"Tidak usah pergi kalau tanpa sopir atau mengawal!" ucap Div yang sudah tidak bisa di ganggu lagi keputusannya.
"Istttt, menyebalkan!"
Ersya berbalik cepat dan masuk ke dalam mobilnya,
Brakkkk
Menutup pintu mobil itu dengan begitu keras.
"Jalan pak!"
"Baik nyonya!"
Ersya begitu kesal dengan peraturan yang di buat oleh suaminya.
Begitu kaku, emang gue tahanan rumah apa ...., dasar ...., gerutu Ersya begitu kesal. Ia begitu merindukan bisa mengemudikan mobilnya sendiri.
"Dasar keras kepala!" gerutu Div sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana tuan, kita berangkat sekarang?" tanya pengawal yang sedari tadi mengikuti mereka.
"Susul istri saya dan katakan permintaannya di setujui, tapi tetap awasi dari jauh!"
"Baik tuan!"
Div akhirnya pergi sendiri sedangkan pengawal pergi dengan mobil yang lainnya lagi dan menyusul Ersya.
Dia memang sangat keras, tapi ternyata sikap kerasnya masih bisa di kalahkan dengan istrinya.
...🍂🍂🍂...
Akhirnya Ersya sampai juga di depan rumah besar, beberapa pelayan sudah menyambutnya. Ara pasti sudah mengatakan pada bi Anna tentang kedatangan Ersya.
"Saya tinggal nyonya!"
Ersya mengerutkan keningnya dengan ucapan sopirnya, "Hahh, di tinggal?"
__ADS_1
"Iya nyonya, tuan Div mengijinkan nyonya menyetir sendiri!"
Ersya tidak mampu menyembunyikan senyumnya, "Yang benar?"
"Iya nyonya!"
"Yes yes yes ....!"
Tanpa Ersya sadari ternyata beberapa pengawal yang berdiri di tempat itu salah satunya adalah pengawal yang di susupkan oleh suaminya untuk menjaganya. Ia sudah siap dengan kameranya dan memberikan laporan pada Daddy Div.
Div baru saja turun dari mobilnya, seorang scurity sudah siap memindahkannya ke basemant.
Sekretaris Revan sudah menyambut kedatangannya dengan memberitahukan apa saja jadwalnya hari ini,
"Satu jam lagi pak Div harus menghadiri peresmian di gedung sebelah yang baru saja membuka perusahaannya!"
"Lalu?"
"Ada beberapa berkas yang harus pak Div ACC dan di kirim ke kantor cabang!"
Ting
Sebuah notifikasi pesan masuk, Div memberi isyarat pada sekretaris Revan agar tidak bicara terlebih dulu.
Kini mereka sudah berhenti di depan pintu lift dan sekertaris Revan sudah memencet nomor lantai yang akan mereka tempati. Walaupun satu gedung dengan Agra, tapi mereka jarang bertemu. Mereka punya kesibukan masing-masing.
Div segera membuka pesannya tepat saat pintu lift terbuka, di dalam hanya ada dua orang. Cukup senggang untuk jam-jam sibuk di pagi hari.
Senang sekali dia ...., batin Div saat melihat pesan dari pengawal yang sengaja ia susupkan di antara pengawal rumah besar untuk mengawasi istrinya. Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas melihat senyum bahagian yang di perlihatkan istrinya.
Ucapan sekretaris Revan menyadarkannya, pintu lift ternyata sudah kembali terbuka.
"Baiklah!"
Ia segera mengirimkan kembali foto itu ke istrinya dengan caption //Senengnya di bolehin nyetir, awas kalau nanti malam tidak ada upah untukku 😏//
...🍂🍂🍂...
Ersya saat ini sudah duduk bersama dengan Ara di ruang keluarga, Ara sengaja hari ini tidak mengantar putrinya dan juga tidak ke toko kafe.
"Ibu masih ada tamu di ruang kerjanya tadi, tunggu sebentar ya!" ucap Ara sambil mendekatkan minuman Ersya, "Minumlah dulu!"
"Iya nggak pa pa, kebetulan hari ini aku juga lagi senggang, Divia sudah sama baby sitternya!"
Ting
Sebuah notif pesan masuk membuat Ersya mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi,
"Bentar ya Ra!" ucap Ersya meminta ijin untuk membuka pesan dari ponselnya.
"Oh iya, silahkan!"
Mereka memang seumuran jadi sangat nyambung kalau sedang mengobrol, apalagi Ara juga sudah biasa kerja di kantor, sama seperti Ersya. Jika sudah ngobrol suka ke mana-mana. Mereka seperti menemukan sahabat baru sekaligus saudara ipar suaminya.
__ADS_1
Ersya mengerutkan keningnya saat melihat pesan itu, dari suaminya dan itu foto dirinya.
Dengan cepat ia mengedarkan pandangannya. Melihat ke arah luar yang dapat terlihat dari kaca besar itu.
"Ada apa sih Sya? Ada masalah ya?"
"Ra ...., berapa banyak pengawal yang berjaga di depan sana?" tanyanya sambil menunjuk beberapa pengawal yang sengaja di tunjuk untuk mengamankan rumah besar. Beberapa pria dengan penampilan rapinya, jas hitam, celana hitam dan kemeja putih.
"Kalau nggak salah ada tujuh!" ucap Ara sambil mengingatnya. Ia memang tidak terlalu memperhatikan, tapi jika di ingat-ingat memang hanya ada tujuh.
Ersya pun segera berbalik dan menghitung dengan jarinya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, dan de-la-pan!"
Ersya kembali beralih menatap Ara, "Kenapa jadi ada delapan?"
"Mungkin itu ulah suamimu!"
"Ahhhh, dasar! Aku kira dia benar-benar melepaskan ku!" gerutu Ersya sambil meneguk minumannya asal.
"Hehhhh, jangan heran para pria memang suka seperti itu suka memberikan harapan palsu. Tapi jangan khawatir, mereka melakukan itu pasti juga demi kebaikan kita!"
"Tapi keterlaluan sekali, masak aku tidak boleh kemana-mana tanpa sopir atau pengawalan!"
"Sudah syukuri saja, oh iya semalem kamu bilang mama Aruni sudah kembali ya? Memang benar?"
"Benar, bahkan aku tidak mengenalinya! mana aku tahu kalau mas Divta punya dua ibu!"
Hehhhh, Ara terlihat menghela nafas dan mengambil minumannya. Sepertinya begitu berat saat ia kembali mengingat kejadian waktu itu. Ersya begitu penasaran dengan perubahan raut wajah Ara itu.
"Ibu memang wanita baik!"
"Dia jahat banget ya?" tanya Ersya yang penasaran.
"Apapun yang terjadi nanti di rumah tangga kami, aku yakin kak Div pasti akan tetap membela kamu, jangan khawatir!"
"Kau ini membuatku takut saja Ra!"
"Aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak punya siapa-siapa, ada aku, ada ibu dan pasti kak Div juga! Dia pasti sangat mencintaimu!"
Ahhh masak sih, dia tidak pernah mengatakannya walaupun aku tahu aku nyaman berada di dekatnya tapi aku tidak yakin itu cinta ....., batin Ersya. Ia masih terlalu trauma dengan pernikahannya yang pertama. Ia takut untuk kecewa kedua kalinya.
...Saat kamu merasa orang lain lebih beruntung dari pada dirimu, percayalah di balik keberuntungannya ada usaha yang besar untuk mendapatkan keberuntungan itu. Keberuntungan ada karena tidak benar-benar karena kebetulan, ada usaha besar di belakangnya yang mungkin tidak kita ketahui,...
...Syukuri yang kita punya saat ini, sebelum orang lain mengambilnya...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...