
"Aku kembalikan ponselmu!?" Kim mengacungkan ponsel Divia, mata Divia langsung berbinar-binar menatap ponsel miliknya segera kembali.
Dengan cepat Divia berdiri dan meraih ponselnya, dasar Divia yang begitu mudah mengekspresikan perasaannya. Ia bukan hanya mengambil ponselnya tapi juga dengan berani memeluk pria dingin membuat suasana menjadi serba salah.
"Ya ampun Kim, ternyata kamu pria berhati baik!?"
Seolah tidak mempedulikan perasaan pria dingin itu, Divia malah semakin mengeratkan pelukannya.
Tentu hal ini dimanfaatkan oleh Dee, ia tidak pernah absen mengambil gambar bagaimana mesranya pasangan aneh itu.
Dee tersenyum puas, ia bisa memanfaatkan kejadian ini.
"Bisa lepaskan aku sekarang?"
Pertanyaan Kim membuat Divia sadar, ia buru-buru melepaskan pelukannya dan membungkukkan biasanya,
"Maaf, sungguh aku tidak sengaja!"
"Jangan lakukan ini lagi, aku tidak suka!?"
Memang siapa juga yang suka, aku kan juga cuma senang aja tadi, jadi nggak sadar ....
Dee tiba-tiba berdiri di atas sofa, ia tahu ini akan berlanjut menjadi perang dingin jika tidak segera di selesaikan,
"Baiklah, semua sudah selesai, bisa kita sekarang tidur?"
Divia segera menyakukan gaway nya dan mengulurkan tangannya pada Dee,
"Baiklah, ayo!?"
Dee bukannya menyambut tangan Divia, ia malah menoleh pada Kim, ia seakan memberitahu pria itu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Kalian bisa tidur di kamar ini!"
Mendengar hal itu, Divia segera melototkan matanya, "Nggak," dia juga berkacak pinggang berharap apa yang baru ia dengar adalah sebuah halusinasi saja.
"Siapa yang butuh persetujuan darimu," Kim segera mengangkat tubuh Dee dan membawanya ke atas tempat tidur,
"Apa kamu sudah gosok gigi?" tanya Kim sambil melihat gigi susu milik Dee.
Divia masih berdiri di tempatnya, ia bahkan tidak tahu harus apa sekarang, tapi yang pasti ia harus keluar dari kamar itu.
"Aku keluar," ucapnya dan berlalu begitu saja tapi segera saat tangannya mencapai pintu tiba-tiba Kim menghentikan dengan suaranya.
"Berhenti!"
Divia menoleh dan menatapnya tidak percaya, pria aneh itu membuatnya berhenti.
"Enggak," Divia kembali melangkah dan tangannya hampir menarik handle pintu tapi dengan sekejap tangan kirinya di tarik ke belakang.
Karena ia sedang tidak dalam keadaan siap, tubuhnya terhuyung ke belakang dan masuk ke dalam pelukan pria itu,
Apa yang dia lakukan? mata Divia menatap pria yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya itu dengan tatapan tidak percaya.
"Jangan bergerak!" perintah Kim, bukan karena apa tapi merah di tubuhnya masih terasa panas, sedikit gesekan saja akan membuat rasa perih di sana.
Divia lalu tertarik untuk menatap ke arah yang sama yang sedang di tatap oleh pria itu,
"Itu kenapa?" Divia bisa melihat pria itu tampak tidak bisa berdiri seperti biasanya.
"Sudah tahu nanya! Ini senjata andalanku dan kamu sudah berani melukainya!"
__ADS_1
"Aku kan tidak sengaja!" keluh Divia yang memang ia berniat baik awalnya dan tidak tahu jika akhirnya akan seperti itu.
"Baiklah, sekarang juga kembali ke tempat tidur!"
"Enggak!"
"Jangan keras kepala, jangan sampai besok berita ini akan tersebar di seluruh media sosial!" Kim melirik ke arah Dee, dan ternyata anak itu sedang mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka.
"Apa yang dia lakukan?"
"Lakukan saja persis seperti yang aku katakan!"
Akhirnya Divia pun melakukan apa yang di perintahkan Kim, ia berjalan mendekati Dee. Di segera menyembunyikan ponselnya di balik bantal.
"Apa yang kamu lakukan Dee?"
"Eomma, aku mengantuk!?" bukannya menjawab pertanyaan Divia, Dee malah mengeluarkan jurus jitunya agar Divia kembali luluh terhadapnya, "Eomma, peluk aku," Dee melingkarkan tangannya di pinggang Divia.
Divia yang masih bingung hanya menatap Kim dengan tatapan yang bingung pula dan pria itu hanya mengangkat kedua bahunya,
"Baiklah, aku akan menemanimu tidur."
Divia dengan wajah tidak berdayanya segera memeluk Dee dan mengajaknya tidur,
Kenapa jalannya aneh sekali ...., tanpa sadar mata Divia sedang mengamati cara berjalan Kim yang tidak seperti biasanya itu. Begitu mengingat kejadian tadi Divia rasanya ingin tertawa tapi juga kasihan.
"Jangan menertawai ku!" ucap Kim yang sudah ikut naik ke tempat tidur, ia tahu maksud senyuman dari Divia.
...***...
Pagi hari seperti biasa, Kim akan mengantarkan Divia dan Dee.
"Lee tidak datang?"
"Ada urusan lain, sudah siap apa belum!?"
"Nungguin Dee!?"
Dan akhirnya yang di tunggu-tunggu itu keluar dari rumah, dia sedikit berlari menghampiri Divia dan Kim,
"Masuklah," perintah Kim setelah membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.
"Aku akan duduk di belakang, biar eomma di depan!" ucap Dee lalu membuka pintu mobil bagian belakang.
"Tapi dee_!?" tapi protes dari Kim itu percuma, anak ini benar-benar ....
"Masuklah!?" perintahnya lagi pada Divia,
"Apa aku di belakang saja sama Dee!?" seketika ucapan Divia mendapatkan pelototan dari Kim,
"Kamu pikir aku sopir!?"
"Ya bukan!"
Walaupun berat akhirnya Divia duduk di depan di samping Kim, tempat itu biasanya menjadi tempat duduk Lee, tapi kali ini bahkan Kim tidak membawa sopir bersamanya.
Kim mengantar Dee lebih dulu, seperti biasa Divia akan turun lebih dulu untuk memastikan Dee sudah benar-benar masuk ke dalam sekolah.
Tapi hal yang aneh untuk pertama kalinya, Kim ikut turun dan mengantar Dee,
"Semangat belajarnya Dee!?"
__ADS_1
"Iya, eomma!?"
"Peluk eomma sekarang!?" Dee pun segera melakukan seperti yang di minta Divia.
"Appa!?"
Pria yang tengah di panggil itu masih terlihat kaku dengan wajah dinginnya, ia hanya melirik sebentar ke arah Dee,
"Apa?"
"Peluk eomma!"
Seketika wajah Kim berubah aneh, ia menatap Dee tidak percaya lalu beralih menatap Divia, Ini pasti dia yang mempengaruhinya ...
Divia mengerti maksud dari tatapan Kim, ia segera menggelengkan kepalanya,
"Dee, ingin seperti mereka!" Dee menunjukkan pada sepasang suami istri yang sedang saling berpelukan setalah mengantar putrinya.
Divia jadi merasa kasihan pada Dee, memeluk saja bukan hal yang sulit kan ....
Seperti yang di lakukan nya tadi malam, Divia pun segera memeluk Kim membuat pria itu terkejut.
"Eomma, cium appa!"
"Apa cium?" Divia bahkan bertanya tanpa melepaskan tangannya dari melingkar di leher Kim,
"Iya, cium appa!?"
Jangan lakukan itu, Kim mulai khawatir melihat tatapan Divia, ia sampai harus menjauhkan kepalanya agar wanita yang tengah memeluknya itu tidak sampai menciumnya.
"Cium ya?" Divia tersenyum dan menatap Kim, "Baiklah!?"
"Jangan macam-macam ya!?" ucap Kim bahkan tanpa menggerakkan bibirnya tapi masih bisa di dengar oleh Divia,
Kesempatan yang bagus ...., Divia dengan yakin menarik leher Kim dan berjinjit. Hingga akhirnya ....
Cup
Sebuah kecupan mendarat di pipi Kim.
"Sempurna!?" Dee sudah berhasil mengabadikan moment itu dengan baik,
Suara kamera itu membuat Kim dan Divia menoleh pada anak itu dan seperti biasa Dee hanya tersenyum dengan wajah tidak berdosanya,
"Dee berangkat dulu!?" Dee segera berlari meninggalkan mereka.
"Lepaskan sekarang!?" Divia yang tersadar masih memeluk Kim dengan cepat melepaskan pelukannya.
Kim terlihat begitu kesal dan membetulkan jasnya,
"Dee sudah memanfaatkanmu untuk menjebakku!?"
"Maaf, aku tidak tahu!?"
"Kau ini, terlalu polos. Bahkan untuk anak sekecil Dee!?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...