
Cukup lama aku terdiam di toilet, tujuannya hanya satu aku tidak mau terlihat menyedihkan di depan mereka, aku juga tidak mau suamiku khawatir karena aku mengkhawatirkan hal-hal yang sudah lalu.
Ingin bersikap biasa saja tapi tetap saja tidak bisa, hatiku menolaknya.
Hehhhhh
Beberapa kali aku hembuskan nafas ini agar terlihat tidak terjadi apa-apa, aku menyerah hingga ketukan pintu menyadarkan aku.
"Iya tunggu sebentar!" aku segera memperbaiki penampilanku, membasuh sisa air mataku dengan air dan mengelapnya dengan handuk kecil yang menggantung di dinding.
Perlahan mulai ku buka pintu dan ku lihat mas Div sudah berdiri di depan pintu menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan, ada sedih dan penyesalan di dalamnya.
"Sayang!"
Aku segera menyahutnya sebelum mas Div tambah semakin bersalah, "Mas, sungguh aku tidak pa pa, aku hanya perlu sedikit menormalkan semuanya!"
Srekkkkk
Sebuah pelukan tiba-tiba aku dapat, mas Div sudah menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku tahu pria yang sudah resmi menyandang gelar sebagai suamiku ini sangat merasa bersalah.
"Itu hanya masa lalu, aku siap menanggung apapun hukumannya tapi aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku." ada luka yang begitu dalam yang ikut keluar dari kata-kata mas Div, dia tidak pernah selemah ini sebelumnya tapi kali ini aku melihatnya begitu lemah. Aku tahu bagaimana perasaannya, bukan hanya tentang kami tapi tentang Divia juga. Apa yang terjadi pada Divia bukan hanya akan menyisakan trauma pada Divia tapi juga pada mas Divta.
Merasa gagal menjadi seorang daddy itu pasti, aku pun juga merasakan yang sama. Aku sudah gagal menjadi mom's yang baik untuk Divia, Divia seperti itu karena kami. Orang yang jahat padanya sebenarnya sasaran utamanya adalah kami.
Kami cukup lama berpelukan, mas Div sudah tidak tergugu seperti tadi. Hingga aku teringat pada sesuatu,
"Mas apa semuanya sudah selesai?"
Pertanyaanku berhasil membuat mas Div melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya, baru kali ini aku lihat dia menangis.
"Ada yang membereskannya!"
__ADS_1
"Siapa?"
"Ayo!" bukannya menjawab pertanyaanku, mas Div malah menarik tanganku keluar dari toilet dan kami kembali berjalan menuju ke ruang tamu.
Ternyata dugaanku salah, di sana masih ramai orang-orang tadi, tapi ada tambahan orang juga di sana. Aku memperhatikan dengan seksama siapa orang itu,
"Pak Rendi!" gumamku pelan, aku mendongakkan kepalaku saat AMS Div menolah kembali padaku, "Ada pak Rendi?" tanyaku lagi.
Mas Div mengangyukkan kepalanya dan mengajakku untuk duduk di tempat yang sama, pak Rendi membawa beberapa berkas dan seseorang yang sedang dipegangi oleh pengawal pak Rendi.
PoV Rendi
Aku begitu marah saat mengetahui seorang yang dulu aku kenal baik sedang melakukan ketidak adilan pada putriku.
Ya benar, aku memang bukan ayah kandungnya tapi aku yang sudah merawatnya sedari kecil. Sulit bagiku untuk mengabaikannya. Aku sudah mengirim seseorang untuk ikut mengawasi rumah itu tanpa sepengetahuan tuan rumah tentunya.
Bukan cuma aku, nyonya besar pun melakukan hal yang sama. Aku tahu pasti bang Div juga tahu tapi dia diam saja karena mungkin ia merasa keberadaan mereka tidak menggangu hidupnya, itu hanya aku lakukan sesekali saja dalam satu Minggu.
Dari anak buahku itu, aku menemukan banyak bukti. Rasanya tidak ingin berlama-lama saat bagaimana wanita itu memperlakukan putriku tapi aku tidak bisa bertindak gegabah.
Aku pun mengajak bang Div untuk bertemu, sedikit bukti aku berikan pada bang Divta dan selebihnya biar aku yang akan menyelesaikan.
Dan hari ini, mungkin bang Div memang sudah tidak tahan karena ia juga menemukan bukti kekerasan atas Divia, dia memeriksakan keadaan Divia pada Frans pasti dengan bukti visumnya juga.
Aku mempercepat gerakan, membawa seseorang yang sudah aku intai sejak lama terlibat dalam gerakan yang di lakukan oleh Ellen dan membawanya ke rumah bang Divta juga.
Sesampai di rumah bang Divta, keadaannya sudah memanas. Ellen menunjukkan bukti yang jelas itu adalah video rekayasa. Itu aku tahu waktu itu bang Divta sedang mabuk dan Ellen memanfaatkannya saat aku ke sana untuk mengajak bang Div kembali ke Indonesia. Mungkin dia tahu apa yang akan terjadi di Indonesia, dia sudah terlalu terobsesi untuk mendapatkan bang Div sepenuhnya.
"Maaf pak polisi, saya membawa saksi atas video itu!"
Ku tunjukkan pria yang berwajah asing itu pada polisi, sebelumnya aku sudah mengancamnya tidak akan pernah bisa kembali ke negaranya jika tidak berbicara yang sesungguhnya, pria ini juga punya video aslinya.
__ADS_1
"Rend, jangan seperti ini! Kita sudah kenal lama, kenapa kamu melakukan ini padaku?" tanyanya mengiba aku hanya menatapnya dengan tatapan dingin, mungkin kalau menurutku biasa saja.
"Karena kamu salah berurusan dengan putriku." aku kesal karena pernah dekat dengan wanita seperti itu, rasanya benar-benar menyebalkan.
Suasana di rumah itu semakin tegang, aku lihat nyonya Aruni tidak kalah tegang, walaupun sebenarnya hari ini belum waktunya untuk membuka kebusukannya.
Aku tetep berdiri dengan tatapan dingin, menatap wanita yang begitu kejam terhadap putriku.
Belum sempat aku bicara kembali, bang Div berpamitan padaku untuk menyusul istrinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, tapi sepertinya Ellen sempat menang.
Melihat video yang di tunjukan oleh Ellen, aku bisa menduga situasi yang terjadi.
Hingga beberapa menit berlalu bang Div kembali dengan istrinya. Istrinya cukup terkejut melihat keberadaanku di rumahnya juga apalagi membawa seseorang yang cukup asing.
"Mas, pak Rendi ada di sini?"
Walaupun tidak keras, tapi aku bisa mendengarkan percakapan mereka. karena semua dengan terdiam.
Setelah melihat bang Divta dan istrinya kembali duduk, aku pun segera menyerahkan berkas yang sudah aku bawa untuk polisi, tepatnya menunjukkan karena setelah ini aku akan memintanya kembali untuk bukti di pengadilan. Papa Ellen bukan orang yang bisa di remehkan. Dia satu kelas dengan tuan besar Wijaya, jadi sudah pasti akan ada permasalahan yang lebih panjang setelah ini.
Tapi untuk saat ini membuat wanita itu keluar dari rumah ini sudahlah cukup.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1