
Hari ini Ersya berdandan begitu rapi dengan baju khas ala wanita karir.
Ersya sedang duduk di depan meja rias sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Divia tanpa permisi masuk ke dalam kamarnya dan berdiri di samping Ersya.
"Mom!"
"Divia sayang!" Ersya segera mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkannya di meja rias,
Tangan Ersya menyingkirkan anak rambut Divia yang menutupi sebagian wajah cantik putri kecilnya itu.
"Ada apa sayang?"
"Mom lapi cekayi, mom mau pegi ya cama daddy?"
"Dari mana Divia tahu?"
"Daddy yang membeli tahu Iyya!"
Ersya mengerutkan keningnya, ia benar-benar tidak menyangka jika Divta akan menemaninya dalam sidang,
"Benarkah?"
"Iya mom, kata daddy nanti mau cali cekoyah bayu buat Iyya!"
Ohhh jadi ini tujuannya menemaniku, memang ada tujuan lain ....
"Sampai kapan kalian akan di situ?" tanya seseorang berhasil membuat Divia dan Ersya menoleh pada sumber suara.
Seorang pria tampan dengan pakaian rapinya sedang berdiri di depan pintu, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya di pinggiran pintu.
"Baiklah, apa Divia akan ke rumah oma sekarang?" tanya Ersya sambil menurunkan kembali Divia.
"Ye ...., ke lumah oma cama opa!"
Div terlihat mengerutkan keningnya, semalam tidak ada pembicaraan seperti itu. Mereka hanya akan ke pengadilan saja.
"Ayo dad, kita ke yumah oma cama opa!" Divia sudah menarik tangan Div dan mengajaknya berangkat.
Div hanya bisa pasrah sedangkan Ersya tersenyum bahagia. Setidaknya ia sudah bisa menepati janjinya pada orang tua mendiang mamanya Divia agar Divia bisa tetap dekat dengan oma dan opanya.
Sebelum ke pengadilan, mereka mengantar Divia ke rumah paman Roy terlebih dulu.
"Maaf ya bu, Ersya baru bisa mengantar Divia sekarang!"
"Tidak pa pa, kami senang karena Divia mau di sini, kalian tenang saja. Jangan khawatir kalian pergi saja, biar Divia bersama kami!"
"Terimakasih bu, kami pergi dulu!"
Ersya dan Div kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan Divia bersama kakek dan neneknya.
Mobil kembali melaju, tidak ada pembicaraan yang berarti hingga mobil itu terhenti saat lampu lalu lintas itu menyala merah.
"Kenapa tidak bilang kalau Divia akan ke rumah omanya?" tanya Div tiba-tiba membuat wanita yang sedang sibuk memainkan ponselnya itu segera menoleh padanya.
"Memang kalau ke.rumah omanya harus ada pembicaraan dulu?" Ersya malah balik bertanya membuat Div menoleh padanya kesal.
"Jelas karena Divia adalah putriku!"
__ADS_1
"Tapi Divia juga cucu mereka!"
"Kenapa kamu keras kepala sih?"
"Kamu juga!"
"Jangan membuatku marah dengan terus mendebatku!"
"Terserah!" ucap Ersya kesal, ia memilih memalingkan wajahnya dan melihat ke luar, jalanan terlihat begitu padat untung saja mereka berangkat lebih awal jadi tidak takut terlambat.
Div juga melakukan hal yang sama, ia memilih untuk fokus ke depan meskipun mobilnya belum kembali berjalan.
Dia benar-benar keras kepala ....
Div hanya menggerakkan ekor matanya mencoba mencari tahu apa yang di lakukan wanita di sampingnya itu. selalu membuatnya kesal, pikirnya.
Hingga lampu itu menyala hijau masih tidak ada percakapan lagi. Mobil pun kembali melaju meskipun sangat lambat.
Setelah lima belas menit akhirnya mereka sampai juga di depan gedung pengadilan itu.
"Turunlah, biar aku parkirkan dulu mobilnya!" perintah Div dan tanpa bicara apapun Ersya pun turun dan melakukan apa yang di perintahkan kepadanya.
Div tidak langsung pergi, ia memilih menurunkan kaca mobilnya.
"Apa begitu caranya berterima kasih?"
Ersya yang baru melangkah beberapa langkah saja dari mobil segera menoleh ke arah Div.
"Kamu belum melakukan apa-apa, kenapa aku harus berterimakasih?"
"Dasar tidak sopan!"
Ersya tetap terdiam di tempatnya saat pria itu kembali melajukan mobilnya.
"Dasar pria aneh!"
Ersya pun memilih untuk berjalan masuk ke dalam gedung pengadilan.
"Ersya!"
Seseorang memanggil nya membuat langkah Ersya kemabli terhenti, Ersya pun segera menoleh padanya sumber suara.
Ia sudah kenal dengan suara yang memanggilnya.
"Ada apa lagi mas?"
Rizal berjalan mendekat dan berhenti di depannya.
"Saya sebenarnya menyayangkan hal ini Sya, sebenarnya kita masih bisa memperbaiki semua ini! Bukan ini yang harusnya terjadi!"
Mendengarkan pernyataan pria itu, Ersya hanya tersenyum smirtt. Bukankah dia sudah mengatakan hal itu puluhan kali dulu sebelum surat keputusan itu di tanda tangani.
Ia sudah berjuang sendirian dulu, lalu kemana pria ini dulu saat dirinya memohon untuk tetap bertahan?
"Sudah terlambat mas, harusnya ini sudah terjadi beberapa bulan lalu saat saya menangis mengemis cinta mas Rizal!"
"Ini tidak begitu terlambat Sya, siapapun dia dan apapun dia, aku tahu di hati kamu masih ada namaku!"
__ADS_1
"Anda salah!" ucap seseorang yang tiba-tiba menarik pinggang Ersya dan mencium keningnya.
"Anda salah jika menganggap wanita ini masih milikmu, dia adalah milikku!"
"Anda mungkin memang saat ini, tapi lain kali tidak! Kita bisa lanjutkan perdebatan ini di dalam nanti!" ucap Rizal lalu pergi begitu saja meninggalkan Div dan Ersya.
Ersya segera mendongakkan kepalanya mencoba menggapai wajah Div.
"Bisa lepasin nggak tangannya!?"
Div pun menundukkan kepalanya menatap Ersya dan tersenyum.
"Kamu mau kejadian tadi terulang lagi? kita ini suami istri jadi sudah sewajarnya jika kita terlihat mesra di depan umum! Atau kamu mau semua orang mengira kita menikah tanpa cinta?"
Ersya pun menggelengkan kepalanya. Ia akhirnya pasrah Div terus menggandengnya masuk ke dalam ruang sidang. Mereka duduk di bangku paling depan dan jaksa agung mulai membacakan keputusannya.
Setelah tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak akhirnya jaksa agung memutuskan untuk melelang rumah itu dan hasil lelangnya di bagi dua dan sepuluh persennya di masukkan sebagai khas negara.
Akhirnya sidang pun berakhir dan menemui keputusan akhir.
"Kita mau ke mana sekarang?" tanya Ersya saat sudah kembali ke dalam mobil.
"Bukankah Divia sudah mengatakannya padamu?"
"Hemm!"
"Baguslah, seharusnya kamu tidak perlu bertanya lagi!"
"Apa sih salahnya bertanya?"
"Orang yang banyak bertanya itu ada dua golongan, golongan pertama karena memang dia ingin banyak tahu dan golongan yang ke dua karena dia tidak peka!"
"Maksudnya bodoh?"
"Kamu yang menterjemahkan sendiri!"
"Ngomongnya suka banget nyakitin!"
Ersya lagi-lagi di buat kesal oleh pria di sampingnya, tidak ada pembicaraan yang tidak menjurus pada pertengkaran.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah sekolah yang lokasinya berada di antara rumah dan kantor, begitu dekat dengan kantor.
"Bukankah ini dekat sekali dengan kantor?" tanya Ersya saat turun dari mobil.
"Sengaja!" Div melepas kaca mata hitamnya, tangan kananya menyaku di saku celananya, ia mengamati gedung yang ada di depannya itu.
Bagus .....
Sebenarnya baru pertama kali Div ke tempat itu. Dia menemukan tempat itu dari sekretaris Revan.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰