Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (52. Aroma durian)


__ADS_3

Dengan memasuki beberapa minimarket akhirnya Kim menemukan es krim rasa durian yang ia cari.


"Sama mau dua cup durian!"


"Baik Mr!"


Seorang penjaga minimarket sedang membantunya untuk mengambil dan membawakannya ke kasir, es krim jarang di temui di Korea atau relatif mahal.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Kim pun dengan cepat kembali ke apartemen.


Tapi saat baru saja sampai di pintu masuk, langkahnya harus terhenti karena melihat seseorang yang baru beberapa waktu lalu ia temui,


"Mr Rendi!?"


Pria paruh baya yang merasa namanya di panggil pun mencari sumber suara, bibirnya langsung tersenyum saat melihat siapa yang memanggilnya.


"Mr Kim, kebetulan sekali!?" tampak ia mengedarkan pandangannya melihat ke arah belakang Kim, ingin menemukan seseorang yang mungkin bersama pria itu. Begitupun dengan Kim, ia ingin tahu apa yang di lakukan oleh pria itu di apartemen tempat pacarnya tinggal atau mungkin dia juga punya kenalan di apartemen itu juga, pikirnya.


Kim tersenyum dengan tangan yang masih menenteng kantong plastik kecil, "Apa yang mr Rendi lakukan di sini?"


"Kebetulan putri saya tinggal di sini!" ucap Rendi dengan gaya khas senyum tipisnya hingga lebih terlihat cool.


"Putri anda?" tanya Kim, tapi ia segera meralat pertanyaannya saat merasa pertanyaannya terlalu ingin tahu, "Maksud saya, putri anda tinggal di Korea?"


"Begitulah, Mr Kim tinggal di sini?" tanya Rendi balik, tapi jelas ia tahu seorang Kim tidak mungkin tinggal di apartemen karena ia tahu pria di depannya memiliki rumah mewah di salah satu blok di Korea.


Bukan Rendi namanya jika tidak tahu seluk beluk kliennya, tapi sepertinya ia kecolongan satu hal tentang hubungan asmara pria di depannya itu.


Bari tadi pagi berita tentang pria di depannya bersama seorang gadis tersebar, tapi berkat kerja cepat Lee dan semua tim nya akhirnya berita yang beredar dapat dengan cepat menghilang seperti tidak ada bekas.


Dan hal itu biasa Rendi lakukan untuk mengamankan keluarga besar finityGroup.


"Bukan saya. Tapi pacar saya yang tinggal di sini, kebetulan dia minta ini tadi, jadi saya keluar sebentar untuk mencarikannya!" ucap Kim sambil menunjukkan kantong plastik yang bertuliskan nama minimarket itu.


Rendi kembali tersenyum tipis, "Kebetulan sekali, sepertinya lain kali kita harus makan malam bersama mereka!"


"Pasti, kita bisa merencanakannya nanti!"


Setelah berasa cukup beramah tamah akhirnya Rendi pun berpamitan,


"Kalau begitu saya permisi dulu, silahkan menikmati waktunya bersama sang pacar!"


"Terimakasih, sampai jumpa lagi nanti!"


Kim pun menundukkan punggungnya memberi hormat dan menunggu hingga Rendi benar-benar berlalu dari sana.


Setelah Rendi tidak terlihat lagi, Kim pun segera melanjutkan langkahnya. Ia dengan cepat masuk ke dalam lift, ia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan Divia saat ini.


Akhirnya setelah kecemasan yang panjang, Kim sampai juga di lantai tempat tinggal Divia.


Di dalam, Divia sudah bersiap-siap untuk kembali ke kamar tapi ternyata Kim sudah membuka pintunya,

__ADS_1


Melihat Divia yang berkeliaran di luar kamar, Kim dengan cepat menghampiri Divia.


"Vi, kenapa kamu berkeliaran di sini!?" ia menarik tubuh Divia ke dalam pelukannya, memapahnya untuk kembali duduk di sofa.


Divia benar-benar tidak menyangka jika Kim akan begitu khawatir seperti ini padanya. Seandainya ia tahu, ia pasti tidak akan membuat alasan dengan mengatakan dia sedang sakit.


"Aku bosan di kamar Kim!" ucap Divia dengan wajah melasnya, ia benar-benar kasihan melihat wajah panik Kim hanya gara-gara ia sedang berbohong sakit.


"Kalau kamu butuh apa-apa bisa tunggu aku, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu?"


"Aku sudah nggak pa pa Kim, sungguh!"


"Baiklah, duduk diam dan aku akan menyuapimu!"


Divia pun hanya bisa mengangukkan kepalanya dan memperhatikan Kim yang begitu sibuk mengeluarkan beberapa pesanan Divia.


"Kamu yakin mau makan ini? Ini sangat pedas!" Kim jadi ragu mengingat cita rasa makanan yang baru saja ia beli untuk Divia itu.


"Iya Kim!"


Ini tidak lebih pedas dari nasibku hari ini ...., seandainya saja ayahnya bukan datang hari ini tapi besok mungkin Divia akan lebih siap untuk menghadapinya. Apalagi hal yang paling tidak ia duga ternyata ayahnya punya kerja sama dengan perusahaan Kim, itu jelas jauh lebih rumit.


"Baiklah kamu boleh makan, tapi jangan di habiskan semua! Aku takut perutmu akan bertambah sakit jika kamu makan terlalu pedas!"


"Siap!" ucap Divia sambil membentuk bulatan pada jari telunjuk dan jari jempolnya.


Kim dengan begitu telaten menyuapi divia dan sesekali mengambilkan air putih untuknya.


"Enak!"


Karena memang tidak sakit, Divia mampu menghabiskan kimchi satu porsi.


"Sudah ya, ini untuk besok lagi!" ucap Kim saat melihat masih tersisa dua porsi lagi.


"Baiklah!" walaupun berat tapi apa boleh buat, ia sedang melakoni peran sakit.


"Baiklah, nanti akan aku simpan di lemari pendingin, oh iya ini es krimnya!" Kim menunjukkan kantong plastik yang satunya. Divia sampai mengerutkan keningnya karena ia tidak merasa memesan es krim.


"Es krim?"


"Iya, kata Yura kamu ingin makan es krim juga!"


Nggak pa pa lah, aku kan memang suka es krim, tahu aja Yura ....


"Maaf tadi cukup lama karena harus cari es krim durian ini! Tidak semua minimarket ada soalnya di sini!"


"Durian?" Lagi-lagi Divia kembali terkejut. Ia bahkan tidak pernah menyukai durian, bagaimana bisa ia memakan es krim durian.


Bagaimana ini, aku nggak suka durian. Ahhh Yura ....., ia mau menyalahkan Yura tapi bukan salah Yura juga, dia sendiri yang tidak pernah cerita kalau tidak suka dengan durian.


"Iya, biar aku suapi ya!"

__ADS_1


"Jangan-jangan, biar aku makan nanti aja. Aku kan abis makan pedas kayaknya nggak baik deh buat lambung kalau langsung makan es krim!"


"Baiklah kalau begitu biar aku simpan sekalian di lemari pendingin, biar nanti kamu bisa memakannya sewaktu-waktu.


"I_iya!" Divia akhirnya bisa bernafas lega karena Kim tidak memaksanya untuk memakannya saat ini juga.


Ia benar-benar tidak suka dengan aroma durian dan ia tidak bisa membayangkan kalau harus memakai durian sebanyak satu cup.


Bahkan hanya membayangkan aroma durian yang menyengat saja sudah berhasil membuat Divia mual.


Divia sekarang bahkan menahan perutnya yang sudah minta di keluarkan saat tanpa sengaja es krim itu terbuka karena hendak di masukkan ke dalam lemari pendingin, wajahnya bahkan terlihat memerah karena menahan mual.


"Ughhhhh!" akhirnya benar-benar Divia tidak bisa menahannya, ia segera lari ke kamar mandi membuat Kim yang sedang sibuk memasukkan es krim itu ke lemari pendingin begitu cemas.


Ia segera mengikuti Divia ke kamar mandi,


"Kamu kenapa, Vi?" teriak Kim dari luar sambil mengetuk pintunya.


Divia sedang memuntahkan seluruh isi perutnya.


Hoeks hoeks hoeks


Melihat pintu tidak di kunci, Kim dengan cepat menyusul masuk ke kamar mandi dan berdiri di belakang Divia sambil mengusap punggungnya,


"Vi, aku panggil dokter ya!" kini wajah Kim semakin terlihat cemas saja, tanpa meminta persetujuan Divia ia merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih itu, untuk menghubungi dokter pribadi keluarganya.


Divia dengan cepat mendongakkan kepalanya,


"Nggak usah, jangan!" tapi semua sudah terlambat karena Kim sudah mematikan sambungan telponnya.


"Tapi kamu sampai muntah begini, bagaimana aku bisa tenang! Ayo kembali ke tempat tidur karena sepuluh menit lagi dokter akan datang!"


"Nggak pa pa, ini hanya masuk angin biasa!"


"Bisa diam dan nurut kan!" Akhirnya Divia hanya bisa pasrah saat Kim menggiring tubuhnya ke tempat tidur.


"Aku akan menunggumu di sini sampai dokter datang!"


Semakin kacau begini sih ...., Divia hanya bisa menyesal karena satu kebohongannya membuatnya mengalami banyak hal hari ini.


Kim terus mengusap kepala Divia yang berkeringat karena cemas, sedangkan Kim mengira Divia berkeringat karena menahan sakit di perutnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2