Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Rumah sakit dadakan


__ADS_3

"Mas kenapa itu mobil bagus-bagus berhenti di sini semua? Mas ya yang undang?" tanya Ersya saat melihat ada dua mobil yang bagus juga berhenti di samping mobil mereka.


"Iya!"


"Mereka mau makan di sini juga?"


"Enggak!"


"Terus ngapain?"


"Mau ngobatin luka kamu!"


Ersya sampai hampir tersedak, ia segera menyudahi makannya dan mencuci tangan.


Ada empat orang yang berlari ke arah mereka dengan membawa ranjang pasien masuk ke tenda kaki lima itu, mang penjual dan istrinya juga terlihat begitu terkejut hingga ia menyingkir. Beberapa orang yang akan singgah pun mengurungkan niatnya.


"Mas ini keterlaluan!" protes Ersya.


Tapi Div tidak peduli, ia segera berdiri dan menghampiri mang penjual.


"Maaf atas ketidak nyamanan ini, tapi saya akan ganti rugi atas kekacauan ini!"


"I-iya!" mungkin mang itu terlalu syok dengan kejadian ini. Mereka hanya bisa memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Silahkan nyonya naik!" perintah beberapa perawat itu,


"Tapi saya tidak pa pa!" Ersya masih terus menolak, "Saya sambil duduk saja!"


"Baiklah nyonya, permisi saya harus memeriksa keadaan anda!"


Dokter perempuan itu memeriksa secara keseluruhan mulai dari denyut nadi, tekanan darah dan sebagainya, memeriksa luka dan tulang yang mungkin juga cidera.


Aku kan cuma terbentur, biasanya juga di biarkan saja sembuh sendiri, ini benar-benar berlebihan ....


Ersya hanya bisa mengeluh dalam hari sambil menerima perawatan dari para dokter itu.


"Bagaimana?" tanya Div saat melihat para dokter itu sudah mulai merapikan peralatannya.


"Tidak pa pa tuan, lukanya tidak terlalu serius hanya saja_!"


"Hanya saja apa?"


"Denyut nadi nyonya Ersya sedikit lebih cepat, mungkin tuan bisa memeriksakan besok ke rumah sakit agar kami bisa melakukan pemeriksaan secara menyeluruh!"


"Baiklah terimakasih, kalian boleh pergi!"


"Baik tuan!"


Para dokter itu pergi meninggalkan tenda itu dengan segala peralatannya.


Div pun kembali menghampiri penjual lalapan itu dan merogoh saku jasnya.

__ADS_1


"Maaf saya tidak bawa uang cash banyak!"


Div menuliskan beberapa digit di selembar kertas kecil panjang itu lalu menyerahkannya pada mang penjual lalapan,


"Ini cukup kan untuk mengganti kerugian hari ini?"


Mang itu begitu terkejut saat melihat angka dua di depan nol yang jumlahnya ada tujuh,


"Mas, ini apa ya?"


"Itu cek, bapak bisa menukar nya besok di bang terdekat!"


"Tapi saya rasa dua ratus ribu sudah cukup, mas! Ini kelebihan dua nol nya!"


"Anggap rejeki bapak!"


Div pun meninggalkan mang itu dan menghampiri Ersya yang keningnya sudah di tutup perban kecil.


"Sudah selesaikan? Kita pulang sekarang?"


"Iya!"


Div pun menggandeng tangan Ersya dan membawanya pergi dari tenda itu, tapi sebelum itu ia juga tidak lupa menyisipkan selembar uang lima puluh ribu di bawah piring kotornya.


...🍂🍂🍂🍂...


Mereka sudah berada di dalam mobil yang menuju pulang ke rumah, sudah jam sepuluh malam sudah cukup untuk menghindar dari mama mertuanya hari ini. Mama mertuanya pasti sudah tidur.


Ersya begitu terkejut hingga menoleh pada suaminya, "Buat apa?"


"Kata dokter denyut nadimu sedikit lebih cepat dari keadaan normal, kamu harus melakukan pemeriksaan lanjutan!"


"Nggak!" jawab Ersya singkat.


"Keras kepala!"


"Mas sih ada-ada aja, jelas lah denyut nadiku sedikit lebih cepat, aku terkejut!"


"Terserah lah!"


Div tidak mau berdebat lagi dengan istrinya, sudah terlalu banyak perdebatan yang mereka lalui seharian ini.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di rumah, Div melepaskan sabuk pengamannya tapi saat menoleh ke kursi samping ternyata istrinya sudah tertidur pulas.


"Pantes aja nggak ada suaranya, dia tidur!"


Div membantu melepaskan sabuk pengaman Ersya, tapi wanita itu masih tetap tidak terganggu. Div mulai tertarik untuk mengamati wajah Ersya, ia tersenyum saat melihat leher sang istri di sana ada maha karyanya sore ini.


"Dia pasti lelah sekali!"


Div pun menyisihkan anak rambut yang menutupi wajah Ersya, wajahnya tampak begitu polos saat tidur,

__ADS_1


"Dia seperti Divia, polos sekali!"


Setelah puas mengamati wajah istrinya, Div pun perlahan turun dari mobil, ia berlari mengitari mobil dan membuka pintu samping Ersya. Dengan begitu hati-hati mengangkat tubuh Ersya dan membawanya berjalan masuk ke dalam rumah.


Ternyata dugaan mereka salah, kedatangannya sudah langsung di sambut oleh nyonya Aruni dengan wajah kesal.


"Stop, tunggu sebentar! Div bawa Ersya ke kamar dulu!" ucap Div dengan menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.


Nyonya Aruni begitu kesal tapi dia tidak bisa protes dan membiarkan putranya berlalu dan menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Dengan bantuan kepala pelayan untuk membukakan pintu, Div pun masuk dan menidurkan Ersya di atas tempat tidur. Sepertinya hari ini begitu melelahkan hingga ia tidak terbangun walaupun sudah berpindah tempat.


Setelah melepaskan sepatu Ersya dan menutup tubuhnya dengan selimut, Div segera meninggalkan kamar. Ia masih punya urusan dengan mamanya.


...🍂🍂🍂🍂...


Div sudah duduk di sofa ruang keluarga, tangannya sibuk melonggarkan dasinya dan melepasnya lalu melemparnya begitu saja. Lalu melepas kancing lengan kemejanya dan menyingsingnya hingga sebatas siku, kakinya di lipat sebelah dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Ada apa ma, aku sudah capek banget hari ini, I want to take a rest!"


"I know, but mom doesn't like you acting like that with Ellen! Ellen itu cinta pertama kamu, bahkan sampai sekarang dia masih nungguin kamu!"


"Sudah lah ma, jangan membesar-besarkan masalah, Div has nothing to do with her (Div tidak punya hubungan apapun dengannya)!"


"Ellen jelas lebih segala-galanya di bandingkan wanita yang kamu pungut di jalanan itu!"


"Cukup ma!"


Kali ini Div begitu marah, ia sedikit meninggikan suaranya hingga membuatnya berdiri, "Div nggak suka mama terus memojokkan Ersya, kalau Div suruh milih antara mama atau Ersya, Div akan lebih memilih Ersya! Jadi mulai sekarang jangan ganggu Ersya lagi, dia istri sah Div!"


Div segera berlalu meninggalkan mamanya yang begitu kesal.


"Div kamu keterlaluan sekali!" teriak nyonya Aruni tapi Div sepertinya tidak peduli, ia bahkan sama sekali tidak menoleh pada mamanya.


"Ini pasti gara-gara Ratih sampai Div berani melawanku!"


Sial, umpatnya. Karena hanya itu ya v bisa ia lakukan. Ia tidak boleh gegabah lagi kalau tidak ingin di usir oleh putranya sendiri.


"Bagaimana pun caranya, Div harus kembali berpihak padaku!"


...Kamu terlalu baik untuk aku yang tidak benar-benar baik, kamu terlalu istimewa untuk aku yang biasa saja, dan kamu terlalu berharga untuk semua luka yang telah kau terima. Tersenyumlah sekarang hingga aku tidak pernah melihat luka yang pernah kau dapat bersama cinta yang sederhana ini...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2