
"Agak berwibawa dikit kek kalau manggil gue di depan anak-anak!" protes dokter Frans pada sahabatnya itu dan hanya mendapatkan tatapan dingin dari sahabatnya.
"Kenapa malah di sini? Bukankah seharusnya di ruang persalinan?" seakan tidak mempedulikan protes dari sang sahabat, Rendi malah kembali mencecarnya dengan pertanyaan.
"Iya, dokter! di mana mom's nya Iyya?" Divia berdiri di samping Rendi pun ikut bertanya.
Dokter Frans pun menoleh ke ruangan yang baru saja di tinggalkannya,
"Tuh, bang Div malah KO sendiri!"
Kepala Rendi melongo mengintip ke dalam dan melihat Div yang sedang merasakan kesakitan. Bibir tipisnya tiba-tiba tertarik ke atas.
"Kenapa?" tanyanya yang merasa penasaran.
"Katanya mules, padahal nggak sakit apa-apa! Sudah deh kalian tangani bang Div saya mau melihat apakah kakak ipar sudah selesai kelahirannya!"
Dokter Frans pun berlalu begitu saja meninggalkan tiga manusia yang masih melongo dibuatnya. Rendi pun terpaksa melihat apa yang terjadi dengan Divta,
"Dad, are you okey?" tanya Divia yang sudah mendekat, Div menghentikan tubuhnya yang sedari tadi berguling-guling di atas tempat tidur.
Ia menatap putrinya, "Okey, Daddy tidak pa pa sungguh!"
"Tapi kenapa seperti itu?"
"Nggak pa pa!"
Sedangkan Elan dan Rendi hanya diam menyaksikan percakapan ayah dan anak itu, mereka melipat tangannya di depan dada dengan gaya cool nya.
Tok tok tok
Sebuah ketukan menghentikan perbincangan mereka, seorang suster datang menghampiri,
"Ada apa sus?" tanya Rendi.
"Nyonya Ersya sudah melahirkan bayi laki-laki!"
__ADS_1
Mendengarkan hal itu seketika Div melompat dari atas tempat tidur membuat semua yang ada di sana menoleh padanya,
"Sudah nggak sakit, dad?" tanya Divia yang memang berdiri paling dekat dengannya.
Div malah bingung, ia memegangi punggung dan perutnya, seperti tidak pernah merasakan sakit sama sekali,
"Sudah hilang sakitnya!"
Mereka pun akhirnya menuju ke ruang persalinan, ternyata di sana sudah ada Agra dan istrinya juga, tapi sayang tidak ada yang di perbolehkan masuk sebelum di pindahkan ke ruang perawatan selain sang suami untuk meng azani sang bayi.
Dengan cepat Div masuk dan bisa melihat bayi laki-laki yang sedang menangis dan tubuhnya masih di bersihkan oleh para perawat, puas memandangi sang bayi, ia beralih menatap sang istri yang tergeletak lemas di atas tempat tidurnya, keringat masih terlihat membasahi baju dan rambutnya.
"Maafkan aku ya sayang!"
"Mas Div dari mana saja tadi?"
"Maaf ya, tadi perutku sakit!"
"Kok bisa?"
"Apaan sih mas!"
Akhirnya setelah membersihkan semua, kini Ersya dan bayinya sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Karena ruang VVIP sangat luas jadi semuanya boleh masuk.
Divia tidak mau lepas dari mom's nya, ia memilih duduk di antara dedek bayinya dan juga mom's nya.
"Siapa nih namanya, udah ada calon mananya belum untuk si jagoan kecil?" tanya Felic yang begitu gemas ingin menjodohkan putranya dengan anak Ersya jika lahirnya cewek, eh ternyata cowok juga.
"Siapa ya?" Div menoleh pada sang istri. Sebenarnya sudah menyiapkan sebuah nama tapi masih ragu untuk mengungkapkannya sekarang.
"Jangan misterius bang!" tukas dokter Frans seolah sedang membantu istrinya.
"Baiklah, baiklah, namanya 'Devan Atha Mubarak!"
"Nama yang bagus banget, panggilannya apa?" Ara yang sedari tadi diam pun ikut bicara.
__ADS_1
"Panggilannya, Atha, anugrah yang besar!" Div menggambarkan bagaimana putranya kelak.
Rendi sebenarnya masih berlama-lama di rumah sakit, tapi karena Nadin terus menelponnya agar segera menjemputnya membuatnya tidak bisa mengelak, ia pun berpamitan dengan membawa Elan serta.
***
Dua hari di rumah sakit akhirnya mereka di perbolehkan pulang, kedatangan mereka langsung di sambut seluruh keluarga yang ternyata sudah menyiapkan syukuran atas kelahiran bayi Atha.
Dan yang paling membuat bahagia, kedatangan ibu mertua juga di sana. Nyonya Aruni mengakui kesalahannya dan ingin memulainya dari awal.
Walaupun begitu ia hanya berencana untuk menengok saja tidak untuk tinggal, karena Div atau Ersya masih berhak marah dengan apa yang pernah ia lakukan dengan keluarga kecil sang putra. Tinggal jauh dengan mereka masih terlalu ringan sebagai hukumannya, toh dia masih bisa menikmati kehidupan yang mudah walaupun tidak mewah.
Rizal, jangan melupakan pria itu. Bukan dia tidak datang untuk menggangu kehidupan Div dan Ersya, tapi apa yang bisa ia lakukan untuk melawan seorang Div, Rizal hanya seperti kutu pengganggu yang hanya sekali pencet saja sudah mati.
Rizal sekarang sudah kehilangan segalanya. Harta dan keluarganya, ia sekarang menjadi salah satu buruh pabrik triplek yang setiap hari harus panas-panas karena ia mendapat bagian di luar ruangan dengan gaji UMR.
Rangga, bagaimana kisah cintanya berlanjut. Dia masih sering mendekati gadis penjaga minimarket itu,
Nantikan saja keseruan Kisah Rangga. di bonschap nya ya, tapi tidak janji untuk saat-saat dekat ini.
Nanti di bonschap nya bakal ada deh berapa banyak anak Div dan Ersya.
Terimakasih karena sudah menemani bang Div dan Ersya selama ini, semoga masih tetap setia dengan mereka dengan tetap menjadikannya favorit, pokoknya jangan di unfavorit okey.
Karena bisa jadi doakan bulan depan atau depannya lagi bakal muncul bonschap nya kayak mas Leon dan Nisa ya
Happy Reading,
Tunggu kisah-kisah yang aku ruang dalam tulisanku selanjutnya.
Bagi yang nunggu kisah Wilson & Tisya, besok sudah mulai aktif up ya
Sampai jumpa di sama.
Salam sayang dari author yang masih merangkak ini ya, jika ada salah mohon di maafkan dan di maklumi dan semoga apa yang saya tulis bisa di petik beberapa pelajaran kalau enggak, nggak usah di masukin ke hati.
__ADS_1
...I love you all...