Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Menemui Rangga


__ADS_3

Ersya sudah berada di perusahaan tempat rangga bekerja yang tanpa di sadari di


situlah tempat biasa Iyya bermain, di salah satu cabang perusahaan finity Group


itu, terlihat dari papan nama yang besar yang terpampang di depan sehingga orang dapat dengan mudah mengenali perusahaan itu. Rangga adalah salah satu


karyawan terbaik di tempatnya kerja. Memang belum lama, baru tiga tahun ini ia bekerja, tapi sudah banyak tender yang goal oleh Rangga. Iyya juga lumayan


dekat dengan Rangga.


“Maaf mbak …, bisa ketemu sama Rangga nggak?” tanya Ersya pada petugas resepsionis


itu. Resepsionis itu melihat penampilan Ersya, ersya memang selalu


berpenampilan rapi khas pegawai bank, cantik dan rapi tentunya.


“Oh pak Rangga ya? Pak Rangga baru saja keluar meeting bersama CEO!” ucap


resepsionis itu.


Hehhhh …., kan tidak di tempat,


nunggu lagi dong gue …., batin Ersya. Ia pun tersenyum pada


mbak-mbak resepsionis.


“Akan lama atau sebentar ya mbak?” tanya Ersya lagi.


“Kurang tahu ya mbak, biasanya dua jam tapi juga bisa lebih!” ucap Resepsionis itu. Ia


harus bertemu, walaupun harus menunggu dua jam Ersya tidak akan menyerah.


“Yah …, sayang sekali! Tapi boleh ya aku nunggu di sini?”


“Silahkan mbak!” ucap resepsionis itu sambil menunjuk lobby dengan kursi tunggu di sana. Kursi itu cukup nyaman untuk duduk apa lagi di suguhi dengan sebuah akuarium


besar di sana dengan suara gemericik air di tambah ruangan itu juga ber AC.


“Kenapa tempat ini nyaman banget …, jadi betah di sini, enak ya kayak Rangga, kerjanya


nggak melulu di kantor! Ia bisa jalan-jalan lagi, sama anaknya bos!” gumam Ersya sambil mengamati tempat itu.


“Walaupun nunggu seharian juga nggak bakalan bosan!” ucap Ersya lagi, ia mulai mencari


tempat ternyaman nya.


Entah karena terlalu nyaman atau karena ia terlalu capek, rasanya matanya sulit untuk


di buka. Lama kelamaan ia tidak mampu mengendalikan matanya yang semakin kesini


semakin berat saja dan akhirnya ia tertidur di sofa warna hitam itu.


****


Divta baru saja mengakhiri meetingnya dengan salah satu kolega bisnis bersama dengan


Rangga dan juga sekretaris Revan. Ia kembali degan lebih cepat dari biasanya


karena ia membawa dua orang kepercayaannya sekaligus.


Seperti biasa Rangga membukakan pintu mobil untuk Divta sebelum Divta turun.


“Silahkan pak!” ucap Rangga.


“Terimakasih Rangga!” pria dengan penampilan kerennya itu selalu saja membius setiap orang yang melihatnya. Pria matang itu adalah CEO perusahaan finity Group.


Mereka berjalan memasuki pintu masuk kantor yang terbuka secara otomatis itu.

__ADS_1


“bagaimana menurut kalian tentang pembicaraan kita tadi?’ Divta bertanya pada


dua orang yang berjalan di sisi kanan dan kirinya itu.


“Sepertinya akan sangat menguntungkan perusahaan jika kita memperpanjang masa kerja dengan group EH pak!” ucap Rangga yang sudah berjalan sedikit di belakang Divta itu.


“Iya kau benar, bagaimana menurut mu?” tanya Divta pada sekretaris Revan.


“Saya setuju pak Div dengan pendapat pak Rangga!”


“Ya …, inilah yang aku suka darimu, pekerjaanmu bagus, kamu selalu peka dengan


peluang yang bagus!” puji Divta pada Rangga.


“Terimakasih pak, tapi semua itu tidak akan terjadi tanpa bimbingan pak Divta!” ucap Rangga. Mereka berjalan memasuki gedung itu dan mulai melewati lobby.


Tapi langkah Divta terhenti saat melihat seseorang yang tertidur pulas di sofa yang


ada di lobby kantor.


Sepertinya aku kenal sama wanita itu …, tapi di mana ya …? Batin Divta sambil mengerutkan


keningnya..


Rangga pun menoleh ke arah di mana Divta menoleh, ia ikut menghentikan langkahnya dan


melihat ada Ersya yang sedang tertidur pulas di sana.


Ngapain nih anak di sini …. , batin


Rangga.


Divta yang melihat Rangga seperti mengenali wanita yang sedang tertidur itu  segera  menoleh pada arah Rangga menatap.


“Siapa dia?” tanya divta yang masih menatap gadis cantik yang sedang tertidur pulas


dengan pakaian rapinya itu. Divta menatap dengan wajah kerennya cool dan berwibawa.


tidak baik membiarkan rekan atau siapapun dalam urusan pribadi, menunggu di


kantor sampai ketiduran pula, “Maaf pak, dia teman saya! Sepertinya dia


menunggu saya!”


“Ya sudah temui dia dulu, aku duluan ya!”


“Iya pak!”


Divta dan sekretaris Revan pun meninggalkan Rangga sendiri di sana dan menuju ke


pintu lift karena ia merasa itu bukan urusannya, ia masih banyak pekerjaan yang


lebih penting ketimbang mengurusi hal-hal yang menurutnya tidak penting.


Setelah Divta pergi, Rangga pun segera menghampiri Ersya yang masih tertidur itu.


“Ngapain nih anak tidur di sini? Nggak ada rasa bersalahnya lagi!”


Rangga jadi punya rencana untuk menjahili Ersya, ia mengedarkan tatapannya ke seluruh


penjuru ruangan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membangunkan Ersya,


kemudian ia mengambil setangkai bunga mawar yang ada di vas itu. Ia pun duduk


di samping Ersya dan mengusap-usapkan bunga itu ke hidung Ersya


Ersya pun mulai menunjukkan reaksinya, hidungnya mulai mengembang dan …

__ADS_1


Haaaa haaa cing …..


Ha cing


Ha cing


Karena hidungnya merasa gatal, Ersya pun segera bersin hingga beberapa kali.


Ersya segera membuka matanya dan melihat ada Rangga dengan setangkai bunga di


tangannya, ia tahu benda itu yang membuatnya bersin.


Ha ha ha


Rangga tertawa melihat wajah lucu wanita yang telah berhasil ia bangunkan itu. Ia jadi


teringat di masa sekolah dulu, ia sering sekali menjahili wanita di depannya itu, ia juga tahu kalau Ersya alergi bunga.


“Ahhhh ….,gila aja lo kalau bangunin orang kira-kira dong!” Ersya mendengus kesal.


Tapi Rangga seolah tidak peduli, ia hanya terus tertawa.


“Tidur tuh di kamar nggak di sini, nggak malu apa di liatin orang! Cantik-cantik tukang tidur!” Rangga segera meletakkan kembali tangkai bunga itu ke dalam vas


bunga.


Ersya masih terus mengusap hidungnya yang terasa gatal, ia alergi dengan bunga. Suka


bersin kalau dekat-dekat dengan bunga. “Nggak pa pa lah diliatin, yang penting gue cantik, siapa tahu ada duda yang nyantol sama gue …!” Ersya tersenyum bangga sambil merapikan pakaiannya.


Rangga menatap Ersya, “Ada apa ke sini?” ia heran karena tidak biasanya temannya itu


akan mendatanginya seperti ini, dia itu termasuk teman yang cuek.


Ersya hampir saja lupa dengan tujuannya datang ke tempat itu, “jalan yuk!”


Ucapan Ersya berhasil membuat Rangga terkejut, bisa-bisanya Ersya mengajaknya jalan, “Nggak


salah lo ngajak jalan gue?” setahu Rangga Ersya tidak pernah punya riwayat


jatuh cinta dengan dirinya.


“Ini bentuk tanggung jawab lo karena lo udah ngirim undangan ini ke gue sama Felic!”


Ersya menunjukkan sebuah undangan pada Rangga.


“Jadi udah sampai ke lo?”


“Ya udah lah …! Cuma gitu doang nih pertanyaannya?” Ersya sedikit kesal dengan


ekspresi Rangga yang tanpa rasa bersalah telah membuat hatinya patah itu.


“Emang aku harus nangis-nangis sambil ngomong, maaf ya aku kasih ini ….! Lebay banget


…!” Ucap Rangga sambil bergaya sok peduli.


“Lo tuh yang lebay, nggak gitu-gitu juga kali! Ehhh tapi ngomong-ngomong, gimana lo


bisa dapat undangan itu?” Ersya jadi penasaran bagaimana undangan itu bisa sampai di tangan Rangga. Sejak sekolah Rangga dan Rizal tidak terlalu dekat, mereka seperti orang asing yang memang tidak saling kenal.


“Nggak penting! Ayok jalan!” Rangga sudah menarik tangan Ersya


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2