Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Nggak akan khilaf


__ADS_3

Ersya sampai juga di dapur, kembali menaruh panci yang berisi air ke atas kompor, sambil menunggu airnya mendidih wanita itu mencuci dan menggeperek dan memotong satu siung jahe.


Memasukkannya ke dalam cangkir baru dan memberi sedikit gula.


Sambil menunggu air yang belum juga mendidih, Ersya memainkan jarinya dengan mengetuk-ngetuk kan beberapa kali di atas meja dapur hingga menimbulkan suara di tengah kesunyian itu.


Setelah ada gelembung halus di permukaan air itu, Ersya melengkungkan senyumnya. Menunggu adalah hal yang paling membosankan baginya.


Ia segera mematikan kompornya setelah gelembung itu semakin besar dan menuangkan air ke dalam gelas. Dan mengambil sendok kecil untuk mengaduk agar gulanya larut.


Ersya segera membawa wedang jahe itu ke kamar Div.


Saat memasuki kamar itu, ia melihat penghuni kamar masih sibuk di sofa dengan layar laptop yang masih menyala. Ia mendekati meja itu dan meletakkan cangkirnya di samping laptop,


"Ini wedang jahe nya, minumlah!"


Div menoleh sebentar lalu kembali fokus pada layar laptopnya.


Dia benar-benar tidak punya rasa capek ya ....., Ersya hanya memiringkan bibirnya menatap pria itu. Setelah tidak ada respon lagi, Ersya memilih untuk duduk di samping pria itu. Di sofa yang masih kosong,


"Nggak istirahat aja ya? Besok kan masih ada waktu, kenapa mesti di paksain banget sih? masih kurang uangnya? Uang kalau terus di kejar nggak bakalan cukup!"


Mendengar ucapan Ersya yang panjang lebar itu, Div pun menghentikan tangannya dan menoleh pada wanita yang ada di sampingnya,


"Pengen banget ya aku temenin tidur?!"


"Issstttttt, dasar! Gue cuma ngingetin ya!"


Srekkkk


Tiba-tiba Div menarik pinggang Ersya hingga kini tubuh mereka begitu dekat.


Cup


Bibir pria itu mendarat sempurna di bibirnya membuat Ersya tercengang dengan mata yang membulat sempurna.


Lalu Div menjauhkan bibirnya dan tersenyum tapi tangannya masih melingkar di pinggangnya,


"Apa-apaan sih? Tiba-tiba mencium bibirku! Cari kesempatan ya?"


Div tersenyum tipis, "Itu hukuman karena kamu sudah menggunakan kata lo gue di sini sama saya!" ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hukumannya gini banget!" ucap Ersya sambil mencoba melepaskan dekapan pria itu tapu sepertinya pria masih enggan untuk melepaskannya.


"Karena yang membuat kesalahan bibir kamu, jadi yang aku hukum ya bibir kamu!" bisiknya begitu dekat di telinga Ersya.


"Ya udah ahhhh, kan udah hukumannya jadi sekarang lepaskan tubuhku!" ucap Ersya memohon.


Hehhhhh


Div menghela nafas, ia perlahan merenggangkan tangannya dan melepaskan tubuh Ersya. Ia kembali beralih pada cangkir di depannya dan mengambilnya. Asap masih mengepul menandakan kalau wedang jahe itu masih panas.


Ia memberi tiupan sedikit, lalu menyeruputnya. Memejamkan matanya, mencoba menikmati hangatnya wedang jahe yang menjalar di tenggorokannya dan segera berpindah ke dada dan perutnya.


"Gimana enak kan?" pertanyaan itu menyadarkan pria itu, ia lekas membuka matanya dan menoleh pada wanita di sampingnya.


Senyumnya lebar, "Hemmmm, nikmat!"


Dia beneran memujiku ya .....? batin Ersya tidak percaya. Begitu senang sekaligus tertegun.


"Jangan Ge Er, yang saya puji bukan kamu, tapi wedang jahe ini!" ucapnya sambil menunjukkan cangkir itu pada wanita yang telah menjadi istrinya itu.


Seketika ia mendapatkan timpukan sebuah bantal kecil berwarna coklat susu, bantal sofa yang tadinya dipangku oleh Ersya.


Pukkkk


"Kenapa menimpukku?" teriak Div.


"Karena aku marah!" ucap Ersya sambil membenamkan tubuhnya ke dalam selimut.


"Dasar cewek aneh!" gumam Div lalu kembali menyesap wedang jahe nya.


Div kembali fokus pada pekerjaannya, tapi walaupun begitu sesekali matanya mencuri pandang pada wanita yang tidur di atas tempat tidurnya. Ini seperti sesuatu yang asing baginya, sebelumnya dulu sekali ia bisa tidur dengan wanita yang berbeda dari satu malam ke malam yang lainnya. Tapi kini tiba-tiba ia hanya akan melihat satu wanita di setiap bangun dan tidurnya.


Anehhh ....


Div pun memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya. Entah kenapa ia begitu tertarik dengan wanita yang berada di atas tempat tidur itu, rasanya ingin sekali dekat dengannya. Tapi saat ia dekat, ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk tidak bertengkar.


Pria itu mematikan lampu kamarnya lalu berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan menghidupkan lampu tidur nya.


"Sudah tidur ya?" tanyanya saat tidak mendapati pergerakan dari wanita itu.


"Sudah!" ucap Ersya tanpa menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Bohong!" ucap Div lalu tidur dan memiringkan tubuhnya menghadap punggung Ersya. Wanita itu sepertinya sadar jika sudah di perhatikan, ia pun membalik badan.


Kini mereka saling berhadapan, Ersya menjadikan telapak tangannya sebagai bantalan.


"Ada apa?"


"Kamu nggak takut tidur sama saya dalam satu kamar? Satu ranjang lagi!"


"Hehhhh ...., memang saya anak remaja yang labil apa? Hingga takut sama om-om seperti kamu?"


"Emak saja bilang saya om om, kalau saya om om berarti kamu tante tante!"


"Issstttttt ...!" Ersya hanya berdecak.


"Kamu nggak takut kalau saya apa apain? Yakin besok pagi pas bangun, trus kita pelukan kamu nggak teriak histeris?"


"Kebanyakan nonton drama ya? Mana ada kayak gitu, aku nih janda ya, emang ada apa janda yang takut sama jaka, yang ada jaka takut nih sama janda, soalnya janda semakin di depan!"


"Okey ..., jadi jangan salahkan saya kalau kalau saya sampai khilaf ya!"


"Memang bisa khilaf? Nggak yakin!?" ucap Ersya meragukan pria itu lalu kembali berbalik dan menarik selimutnya hingga sebatas telinga.


"Enak aja bilang saya nggak akan khilaf!"


"Kita coba saja nanti!" ucap Ersya yang masih menanggapi.


Dasar sok kuat padahal ntar kalai di pegang-pegang nangis ..., batin Div . Ia pun memilih untuk tidak melanjutkan perdebatannya. Ia mengubah posisinya menjadi telentang, mata nya terus menatap langit-langit kamar dengan tangan yang menyatu di atas perutnya. Memang sepertinya tidak mungkin dia akan khilaf karena tidur dalam satu kamar saja.


Masak sih ....?


Entah kenapa ia jadi malah penasaran untuk mencobanya. Ia tidak mungkin sudah benar-benar tidak tertarik dengan wanita.


Ahhh mana mungkin .....


Beberapa kali Div terlihat berpikir, lalu ia menoleh ke arah wanita yang sudah tertidur.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2