Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Persiapan sekolah


__ADS_3

"Bukankah ini dekat sekali dengan kantor?" tanya Ersya saat turun dari mobil.


"Sengaja!" Div melepas kaca mata hitamnya, tangan kananya menyaku di saku celananya, ia mengamati gedung yang ada di depannya itu.


Bagus .....


Sebenarnya baru pertama kali Div ke tempat itu. Dia menemukan tempat itu dari sekretaris Revan.


Sebelum mereka melangkahkan kakinya, sekertaris Revan sudah lebih dulu menghampiri mereka.


"Selamat siang pak Div, bu Ersya!" sapa sekretaris Revan.


"Selamat siang! Mana yang saya minta?" sahut Div.


Sekertaris Revan pun menyerahkan sebuah map berisi brosur dan juga formulir pendaftaran.


"Itu di dalamnya sudah sangat lengkap pak!"


Div pun memeriksa kembali isi berkas itu sedangkan Ersya sibuk mengamati sekolah itu, selain fasilitas yang menjadi bahan pertimbangan Ersya tentunya keamanannya juga.


Bagus sih ...., tapi di sini terlalu dekat dengan jalan raya ...., batin Ersya. Sepertinya dia tidak menyadari ketidak kepuasan Ersya pada sekolah itu.


"Bagus!" ucap Div. Ia tersenyum puas berbeda dengan Ersya.


"Tidak aku tidak suka!" ucap Ersya yang berhasil membuat Div menoleh padanya dan mengerutkan keningnya,


"Ada apa?" tanyanya.


Ersya menunjuk seolah itu lalu beralih menunjuk jalan raya yang ada di belakangnya,


"Lihat ini! Di sini terlalu dekat dengan jalan raya, aku takut ini tidak akan aman bagi anak-anak! Apa lagi Divia anaknya susah di minta diam, lagi pula polusi juga tidak baik untuk kesehatan Divia!"


Mendengar pendapat Ersya yang panjang lebar, Div membenarkan. Apalagi Divia belum terlalu sehat, polusi juga bisa memicu masalah kesehatan Divia kembali.


Div pun menoleh pada pria yang ada di belakangnya,


"Mana pilihan sekolah lainnya?" ucapnya sambil menggantungkan tangannya.


Sepertinya sekertaris Revan sudah memikirkan segala konsekwensinya, ia pun mengeluarkan map yang lainnya yang ada di tangannya.


Beberapa brosur dari beberapa taman kanak-kanak yang sesuai kriteria yang sudah di sebutkan oleh Div. Div jauh-jauh hari saat pertama kali Divia meminta untuk di daftarkan sekolah, sejak saat itu dia sudah menyuruh sekretaris Revan untuk mencari beberapa sekolah terbaik untuk Divia.


Div terlihat begitu antusias untuk memeriksa semuanya. Ia sampai membaca keseluruhan brosur itu, Ersya pun melakukan hal yang sama seperti Div, ia menyerahkan map lain dengan isi yang sama persis seperti ini map milik Div.


"Yang ini jauh dari jalan raya, dekat dengan kantor tapi sedikit lebih jauh dari rumah pak!" ucap sekertaris sambil memberi gambaran pada beberapa gambar yang di tunjuk Div.


"Lalu yang ini?"


"Walaupun dekat dengan jalan, tapi bukan jalan raya pak, dan letaknya tidak jauh dari sini!"


Ersya setuju dengan yabg di tunjuk terakhir,


"Kayaknya ini lebih bagus, tamannya juga cukup luas!" Ersya memberi pendapat.


Akhirnya mereka pun menuju ke sekolah yang di maksud. Ersya juga merasa cocok dengan sekolah yang sudah di rekomendasikan oleh sekretaris Revan.


Div pun langsung menemui kepala sekolah bersama Ersya. Membicarakan banyak hal tentang segara peraturan do sekolah.

__ADS_1


"Terimakasih bu!"


"Sama-sama bapak, ibu, semoga nanti putri bapak dan ibu suka dengan sekolah ini!"


"Kalau begitu kami permisi!"


"Silahkan!"


Div dan Ersya sudah kembali ke mobil.


"Sekertaris Revan, hari ini saya tidak akan ke kantor, kirimkan berkas berkas yang perlu saya teliti!"


"Baik pak, kalau begitu saya permisi!"


"Hemm!"


Sekertaris Revan pun meninggalkan mereka berdua dengan mobil yang lainnya.


"Memang mau ke mana? Kenapa tidak kembali ke kantor?"


Ersya sebenarnya ingin pergi ke tempat setelah ini sebelum menjemput Divia tapi pria di sampingnya itu terus mengikutinya.


"Kenapa memangnya?" tanya Div sambil mengangkat kedua alisnya yang tebal, "Nggak suka sekali kalau pergi sama saya!"


"Bukan begitu!"


Hehhh salah kan .....


"Saya mau ke toko perlengkapan sekolah, jika kamu mau ikut kamu bisa ikut kalau enggak, ya pulang sendiri!"


Ersya masih terdiam di tempatnya tanpa berniat untuk masuk ke dalam mobil.


Ia benar-benar kesal dengan cara bicara pria yang sudah menikahinya itu.


"Jangan harap aku akan membiarkan mu mengantarkan Divia sekolah kalau kau tetap di situ!" ancam Div lalu menghidupkan mesin mobilnya.


Maksudnya dia memaksa buat gue ikut?


Ersya tercengang, ia pun dengan cepat masuk ke dalam mobil. Mana bisa dia tidak mengantar Divia ke sekolah sedangkan pekerjaannya adalah menjaga Divia.


"Kalau kepaksa nggak usah!" ucap Div lagi saat mobil mulai melaju.


"Memang aku mau loncat kalau nggak jadi ikut!?" gumam Ersya lirih tapi masih bisa di dengar oleh Div.http


"Terpaksa banget!"


"Enggak, siapa juga yang terpaksa!"


Ersya memilih memalingkan wajahnya, selalu sama percakapan mereka akan berakhir pada perdebatan sengit.


Akhirnya mereka sampai juga di sebuah toko peralatan sekolah terbesar dan terlengkap di kota Jakarta.


Div membawa troli dan Ersya sibuk memilih barang-barang untuk Divia.


"Ini barang banyak kayak gini, yakin Divia akan suka?" tanya Div saat trolinya sudah terisi penuh dengan barang-barang keperluan Divia mulai dari tas sepatu buku, rautan, buku dan masih banyak lagi yang lain. Semua motif sama, semua adalah motif ke sukaan Divia.


"Jangan ngeluh, kamu nggak tahu aja aku bisa belanja lebih banyak dari ini!" ucap Ersya sambil sibuk memilih beberapa barang.

__ADS_1


"Sudah cukup, ini sudah tidak muat trolinya!"


Hehhhh


"Kamu kan bisa ambil troli lagi, ribet banget sih jadi cowok!"


Div mengeratkan dagunya pada lehernya, mengerutkan keningnya hingga kedua alis tebalnya hampir saja menyatu.


Kok jadi galakan dia sih ....


Ersya menatap Div tajam, "Kenapa? Nggak suka?"


Div hanya bisa menggelengkan kepalanya mengikuti komando Ersya.


"Bagus!"


Ersya tersenyum, ia kembali berjalan dan menyelesaikan belanjanya dan mengajak suaminya itu ke kasir.


Petugas kasir pun mulai menghitung banyaknya belanjaan Ersya dan Div.


"Semuanya lima juta dua ratu bu!"


Ersya pun menatap Div yang masih diam di tempatnya dengan tangan yang menyilang di depan dada. Ersya mengedipkan matanya.


"Ada apa?" tanya Div dengan hanya menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.


"Ayo bayar!" perintah Ersya.


"Jadi aku yang bayar?"


"Kamu kan yang ngajak belanja!"


Ersya pun mengambil semua barang belanjaannya,


"Mbak, dia yang bayar, dia suami saya!"


"Baik bu!"


Ersya berlalu begitu saja meninggalkan Div yang menatapnya kesal.


Bisa-bisanya dia .....


Div terpaksa menghampiri kasir dan menyerahkan sebuah kartu kecil nya.


"Terimakasih pak, silahkan datang kembali!" ucap petugas kasir saat proses pembayaran selesai sambil mengatupkan kedua tangannya.


Div mengambil kartunya kembali dan berlalu begitu saja menyusul Ersya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2