
Kedatangan mereka di kantor langsung di sambut oleh Divia.
"Mom ...., Dad ....!"
Gadis itu berhambur memeluk daddy nya lalu beralih memeluk mommy nya.
"Mom dali mana? Iyya nungguin mom tadi!" protes Divia.
Melihat Divia kecewa, Ersya pun kembali memeluknya.
"Maaf ya sayang, tadi mom ada urusan sama daddy jadi nggak bisa jemput Iyya deh!"
"Pasti ini ulah daddy, iya kan dad?"
"Kok jadi daddy sih yang di salahkan sih!" protes daddy Div, ia memilih berlalu dan duduk di sofa. Ersya mencubit hidung putrinya itu gemas dan mengendong nya menghampiri Div.
Melihat Ersya akan duduk, daddy Div segera menghentikannya.
"Mau ngapain?"
"Ya duduklah, capek!"
Daddy Div mengangkat tangannya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu.
"Lihat!" ia menunjukkan jarum jam yang berputar di sana.
Ersya mengerutkan keningnya, "Apa?"
"Aku lapar!"
Ersya menatap daddy Div dan Divia bergantian, dan kemudian terfokus pada pria itu dengan senyum yang menurutnya begitu menyebalkan.
Kenapa dia semakin menyebalkan saja sihh?
Ersya kembali menatap Divia, dan anak itu tidak jauh beda dengan daddy nya.
Baiklah ...., hanya karena Divia ....
Wanita itu pun mengurungkan niatnya untuk duduk. Ia segera menuju ke dapur dadakan yang ada di ruangan itu.
"Memang dia anggap nih kantor rumah apa, segala dapur di bawa ke sini, kenapa nggak sekalian aja bawa kasur biar nggak perlu pulang!" gerutu Ersya sambil tangannya begitu lincah mengolah beberapa bahan makanan itu menjadi makanan yang enak ala Mom Ersya.
Sesekali mata Ersya mencuri pandang pada daddy dan putrinya itu, mereka terlihat begitu bahagia dengan sesekali candaan yang di lontarkan oleh sang daddy membuat putri kecilnya itu tertawa terpingkal-pingkal.
Ersya hanya tersenyum, "Dia sebenarnya daddy yang baik!" gumamnya tanpa sengaja memuji pria itu.
Hingga setelah setengah jam, masakan Ersya matang juga, ia pun membawa makanan itu mendekat ke suami dan putrinya.
"Ayo makan!"
"Ye ye ye, makanannya sudah matang!" ucap Divia dengan begitu riang.
Ersya pun segera mengambilkan untuk Div dan Divia begitu juga untuk dirinya sendiri.
Sesekali Ersya menyuapi putri kecil hingga makanan itu habis.
Setelah selesai makan, Div segera merapikan kembali bajunya.
"Daddy mau ke mana?" tanya Divia, ia sampai mendongakkan kepalanya.
"Daddy harus meeting dulu, Iyya sama mom Echa dulu ya!"
"Iyya boleh jalan-jalan cama mom?"
__ADS_1
Div tampak berpikir, ia tidak yakin. Tapi melihat wajah penuh harap putrinya membuatnya tidak tega.
"Baiklah, minta sekretaris Revan untuk mengantar kalian!"
"Baik dad!"
Div pun benar-benar meninggalkan mereka, Ersya kembali mendekati putri kecilnya itu.
"Iyya ganti bajunya dulu ya, mom nggak mau jalan-jalan kalau belum ganti baju!"
"Baik mom!"
Divia segera mengambil baju gantinya dan membawa ke sebuah ruangan.
"Mau ke mana?" tanya Ersya saat Divia sampai di ambang pintu.
"Ganti baju mom!"
"Biar mom temenin!"
Ersya pun mengikuti Divia, tapi saat melewati pintu itu. Ia benar-benar tercengang saat melihat isi kamar ini.
"Inih ....!"
Divia segera berbalik saat mendengar pekikan dari Ersya,
"Mom tidak pa pa?"
"Ini beneran kamar tidur?" tanya Ersya sambil menunjuk tempat tidur besar di balik ruang kerja suaminya.
Divia yang melihat momnya terkejut pun hanya tersenyum lalu berbalik dan dengan cepat naik ke atas tempat tidur itu.
"Iya mom ...., cini mom ...!" Divia menepuk tempat tidur kosong di sampingnya.
Kenapa setiap yang gue pikirin tiba-tiba muncul gitu aja sih? Ini benaran kan gue nggak hidup di dunia fantasi ...., gue masih benar-benar hidup kan?
Masih sakit, pasti bukan mimpi!
Ersya pun segera berjalan mendekati Divia, ia duduk di sampingnya sambil mengamati kamar tidur itu. Memang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk beristirahat.
Apa dia cuma mau tidur? Sadar pria aneh, pantas betah banget di kantor ...
"Ayo mom, bantu Iyya!" ucapan Divia berhasil mengembalikan jiwanya ke dunia nyata.
"Iya sayang!"
"Mom jangan terkejut, daddy memang cuka cekali lembul, makanya ada kamal juga di cini!"
"Nggak kok sayang, mom cuma nggak nyangka saja di sini ada kamarnya juga, sudah mirip seperti apartemen saja!"
Ha ha ha ...
Divia tertawa sambil menutup mulutnya.
Ersya pun segera melepaskan baju seragam Divia dan menggantinya dengan baju yang Ersya bawa dari rumah.
Karena mereka memeng sudah berencana untuk langsung ke kantor daddy Div saat pulang sekolah.
Ersya pun segera mencari sekretaris Revan untuk memintanya menemani mereka jalan-jalan.
"Maaf, apa sekretaris Revan nya ada?" tanyanya pada asisten sekertaris Revan.
"Maaf bu, tapi sekretaris Revan nya sudah keluar satu jam yang lalu!"
__ADS_1
Katanya seruh nemenin sekertaris Revan, tapi ternyata orangnya nggak ada, gimana sih Div?
"Ada yang bisa saya bantu bu?"
"Nggak, nggak usah terimakasih ya!"
"Sama-sama bu!" ucap Wanita itu sambil mengatupkan kedua tangannya.
Ersya pun kembali menghampiri Divia.
"Bagaimana mom, om Levan nya ada?"
"Sekertaris Revan sudah pergi dari satu jam yang lalu sayang!"
"Tlus kita pelginya cama ciapa dong mom?"
"Gini aja, mom ijin sama daddy dulu ya siapa tahu boleh pergi berdua saja!"
"Iya mom benal!"
Ersya mengajak Divia duduk dulu di sofa ruang tunggu yang ada fi lobby. Ia merogoh benda pipih itu dari tas kecilnya lalu melakukan panggilan.
"Tidak di angkat sayang! Mungkin daddy lagi sibuk!" ucap Ersya saat sudah melakukan beberapa kali panggilan tapi tidak di jawab.
Dan benar saja, saat ini Div sedang melakukan presentasi dan ponselnya berada di tangan sekretaris Revan. Sepertinya daddy Div lupa kalau ia sudah mengajak sekertaris Revan.
Sekertaris Revan yang melihat ada banyak panggilan telpon pun segera melihat siapa yang melakukannya. setelah mengetahui kalau yang menelpon ibu negara, sekretaris Revan segera membisikkan sesuatu pada daddy Div.
"Maaf saya angkat telpon dulu, presentasi akan di lanjutkan oleh sekretaris say!"
Div pun segera mengambil ponselnya dan keluar dari ruang meeting.
Ia segera melakukan panggilan ulang pada si penelpon.
Akhirnya di angkat juga, tapi belum juga Div sempat bicara, dari seberang sana sudah tidak bisa berhenti bicaranya.
"Hallo, gimana sih katanya suruh pergi sama sekretaris Revan, tapi sekretaris Revan nya nggak ada!"
Div hanya menghela nafas dan menjauhkan ponselnya dari daun telinganya.
Setelah memastikan jika Ersya berhenti bicara, ia baru membuka suara.
"Sekertaris Revan bersama saya!"
"Iya kan ..., sudah aku duga, gimana sih? Aku sama Iyya pergi sendiri!"
"Jangan!"
"Lalu sama siap_?" ucapan Ersya menggantung saat Div memotong ucapannya.
"Sama Rangga, bentar lagi dia akan menjemputmu!" ucapnya.
"Nah gitu dong!"
Div pun segera mematikan sambungan telponnya.
"Seneng banget kayaknya denger nama Rangga!" gumamnya sambil mengeratkan genggaman ponselnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰