Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Kena pasal


__ADS_3

"Kebiasaan deh orang ini, cuma bila bye aja nggak bisa ya!" gerutu Ersya saat melihat sambungan telponnya sudah terputus tanpa aba-aba.


Ersya kembali menyusul Divia yang masih duduk santai di tempatnya.


"Gimana mom?"


"Kita masa om Rangga!"


"Yes!"


"Kenapa Iyya seneng banget?"


"Coalnya kalau cama om Langga, Iyya bica main apa aja, kalau cama om Levan nggak acik!"


Ersya hanya tersenyum mendengar ucapan polis dari gadis kecil di depannya.


Dan tidak berapa lama Rangga benar-benar menghampirinya.


"Selamat siang bu!" sapa pria itu membuat Ersya terkejut. Ia kenal dengan suaranya tapi ia tidak terbiasa dengan sikap yang kaku yang di tunjukkan oleh Rangga saat ini.


"Apaan sih Ga, biasa aja kali!" ucap Ersya sambil mengayunkan tangannya hendak memukul bahu Rangga, tapi pria itu segera menghindar.


"Maaf bu!"


"Apaan sih Ga, jangan gitu dong!"


"Saya akan mengirimkan pesan pada bu Ersya!" ucap Rangga sambil mengeluarkan ponselnya.


"Issstttt, apa-apaan sih!"


Rangga terlihat mengetikkan sesuatu ke dalam layar ponselnya.


Ting


Tiba-tiba notif pesan masuk ke ponsel Ersya, wanita itu pun segera mengeluarkan kembali ponselnya saat melihat siapa pengirim pesannya, ia pun kembali mendongakkan kepalanya dan mengerutkan keningnya menatap pria di depannya itu.


//Jangan ada kontak fisik, tidak boleh ada lo gue, jangan terlalu dekat, dan bicara dengan nada resmi//


Ersya segera mengetikkan balasannya.


//Kenapa?😒//


//Ini aturan dari pak Div, jadi ikuti saja🙏//


//Aturan macam apa sih ini?//


//Pak Div cemburu kali sama gue//


//Jangan ngarang deh//


//Sudah ikuti saja aturannya, kita akan tetap di awasi, jadi lakukan apapun tanpa kontak fisik, mengerti//


//Terserah lah//


"Mom cama om Langga kenapa sih?" pertanyaan Divia berhasil menyadarkan mereka jika ada orang lain di antara mereka.


"Nggak pa pa sayang, iya kan om Rangga?"


"Iya, Iyya! ya sudah kita berangkat sekarang?"


Rangga pun segera menggendong Divia mengajaknya ke mobil yang sudah terparkir di depan. Kalau dengan Divia, Div tidak pernah protes mengenai kedekatannya dengan Rangga.


Akhirnya mereka sampai juga di samping mobil, seorang sopir sudah berdiri di samping mobil itu dan membukakan pintu untuk Ersya.


"Kita pakek sopir?" tanya Ersya.

__ADS_1


"Iya bu, mari silahkan masuk!"


Ersya dan Divia pun akhirnya duduk di belakang. Rangga duduk di samping sopir.


Divia segera mendongak kan kepalanya, ia cukup heran dengan perubahan sikap Rangga terhadap mom Echa nya.


"Mom!"


"Iya sayang?"


"Om Langga tidak pa pa kan?"


"Om Rangga sedang kena pasla kayaknya sayang!"


"Pacal apa?"


"Pasal perlakuan kurang menyenangkan!"


"Ohhhh!"


Divia menganggukkan kepalanya beberapa kali, walaupun dia tidak mengerti, dia mencoba untuk memahaminya.


"Kita ke mana bu?" tanya Rangga tanpa menoleh ke belakang.


"Iyya mau ke mana?" Div bergantian bertanya pada Divia.


"Iyya mau ke taman caja!"


"Ke taman saja Ga, yang dekat-dekat dengan sini!"


"Baik bu!"


🍀🍀🍀


Akhirnya mobil mereka sampai juga di taman yang letaknya tidak terlaku jauh dari kantor.


"Mom, Iyya mau main gelembung sabun sepeltu itu!" ucap Divia sambil menunjuk ke arah anak-anak yang sedang memainkan gelembung sabun. Ersya pun mengedarkan pandangannya untuk mencari penjualnya.


"Biar saya saja bu yang membelikan, bu Ersya dan Divia tetap di sini saja!"


"Baiklah, terimakasih ya Ga!"


Rangga hanya tersenyum lalu berlalu begitu saja, ternyata penjual gelembung sabun berada di seberang taman, memang pedagang tidak di ijinkan masuk ke dalam taman agar para pengunjung tetap nyaman dan taman tetap bersih. Para pedagang di beri tempat tersendiri di sebarang jalan, khusus rest area dengan begitu banyak pedagang kaki lima dengan berbagai macam barang dagangannya.


"Gelembung sabun nya satu ya pak!"


"Ini mas!"


Rangga segera menyerahkan sejumlah uang seperti yang di minta penjual. Kemudian dia kembali menghampiri Ersya dan Divia.


"Aciiiiik, Iyya main dulu ya mom!" ucap Iyya sambil berlari menghampiri beberapa anak yang sedang bermain.


Ersya terus tersenyum melihat Divia bisa tersenyum dengan tanpa beban seperti itu.


"Divia pasti sangat bahagia bisa bersama ka_!"Ucapan Rangga menggantung, sepertinya ia hampir salah mengucapkan, "Maksud saya, Divia pasti senang bisa bersama bu Ersya!"


Ersya hanya mendongakkan kepalanya, ia menatap pria yang masih berdiri di samping nya itu.


"Duduklah!" perintah Ersya dengan wajah kesalnya.


"Begini saja bu!"


"Lo duduk apa gue seret lo duduk!?" ancam Ersya.


"Tapi bu_!"

__ADS_1


"Nggak ada tapi-tapi ..., cepetan!" Ersya hampir menarik tangannya tapi Rangga segera memundurkan tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya.


"Baiklah baiklah ...., tapi geser duduk mu, kita harus berada di jarak aman!"


Ersya pun segera menggeser duduknya hingga sampai di tepi kursi taman,


"Ribet banget!" gerutunya.


Rangga pun menyerah, ia duduk di sisi kiri Ersya dengan jarak aman. Mereka kembali terdiam sambil mengawasi Divia, anak itu masih saja asik bermain.


"Divia sudah tidak pernah kambuh semenjak ada kamu!" ucap Rangga lagi.


"Iya, gue cukup bersyukur dengan hal itu, setidaknya gue bisa memberi rasa nyaman!"


"Beruntung banget pasti pak Div bisa dapetin kamu!"


"Issstttttt, kenapa dulu bukan lo saja yang nikah sama gue!"


Celetusan Ersya berhasil membuat Rangga tercengang, ia menoleh pada Ersya.


"Santai aja kali Ga, cuma becanda! Mana mungkin lah lo nglirik gue, ada Felic!"


Rangga menghela nafas, ia kembali beralih menatap ke depan mengawasi Divia.


"Kita memang tidak tahu takdir kita, Sya! Ternyata gue jagain jodoh orang! Entah sekarang jodoh gue sedang di jagain bapaknya atau di jagain orang lain!"


"Sabar Ga, gue yakin nggak lama lagi lo bakalan dapat jodoh terbaik pokoknya!"


"Sok tahu banget jadi orang, kayak peramal aja!"


"Jangan macam-macam, gue emang keturunan peramal, gue bisa baca garis tangan apalagi garis mata uang!"


Ha ha ha ...., "Lo nggak berubah-ubah ya, tetep aja mata duwitan!"


"Ya mau bagaimana lagi, kita hidup pakek uang, iya kali jaman purba kita bisa makan singkong setiap hari!"


"Daddy ....!" tiba-tiba suara Divia yang memanggil daddynya berhasil membuat Rangga terkejut, ia sampai terlonjak dari duduknya dan segera berdiri di belakang kursi yang didudukinya.


Daddy Div berjalan menghampiri Divia dan segera membawanya ke dalam gendongannya hanya dengan satu tangannya.


"Mana mo, sayang?" tanya daddy Div lalu Divia menunjuk ke arah Ersya yang masih duduk di tempatnya.


"Baiklah, apa sudah selesai bermainnya?"


"Cudah!"


"Baik, kita pulang ya! Ajak mom Eca juga!"


"Baik Dad!"


Divia pun segera turun dari gendongan Div dan berlari menghampiri Ersya.


Bersambung


Author ingatkan lagi ya, mampir juga di karya author yang sebelah ya, yang terbaru dan masih fresh, adaptasi sebuah komik yang cukup terkenal berjudul 'Nona melawan dengan Tuan Muda' karya kak yoolook culture.



yang ini nih covernya, jangan sampek salah ya🌷


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2