
Rangga pun menggeser tubuh Divia agar bersembunyi di belakangnya dengan mengetukkan jari-jarinya ke pintu.
tok tok tok
Terdengar sahutan dari dalam yang meminta mereka untuk masuk.
Tangan Rangga dengan cepat menarik handle pintu hingga membuat pintu itu terbuka. Terlihat dua orang yang ada di dalam menoleh menatap ke arah Rangga.
"Kamu sendiri ya Ga?" Ersya langsung menunjukkan wajah kecewanya karena tidak bisa melihat sang putri. Biasanya Divia dengan gaya refleknya berlari menghampiri Ersya, seperti itu yang sedang ia rindukan saat ini.
Rangga tidak dengan cepat menjawab, ia memilih untuk diam di tempatnya membiarkan Ersya dengan rasa kesalnya.
"Bisa nggak mas aku pulang sekarang? Kamu tahu kan Divia nggak bisa tidur kalau tidak aku bacakan dongeng sebelum tidur! Divia pasti menangis setiap malam!" Ersya terus merengek meminta pulang.
Rangga keterlaluan sekali, Div menatap kesal pada Rangga. Ia sudah tahu jika Divia ikut bersamanya tapi malah membuat istrinya sedih.
"Ga, jangan macam-macam ya kamu!"
Dan Rangga hanya tersenyum. Sepertinya Divia juga tidak tega melihat mom's nya menangis.
"Mom's jangan nangis!" Divia sudah memiringkan kepalanya menatap ke arah Ersya.
Air mata Ersya yang sedari tadi merembes tiba-tiba hilang begitu saja berganti dengan senyum, "Divia_!"
Dengan cepat Divia berlari dan memeluk mom's nya. Seperti sudah satu bulan saja tidak bertemu, dua perempuan beda generasi itu saling berpelukan begitu erat.
"Divi, jangan erat-erat kasihan dedek bayi nya!" Div sudah menyilang kan kedua tangannya di depan dada sambil menggelengkan kepalanya.
Divia pun dengan cepat menarik tubuhnya, tapi Ersya kembali menariknya agar tidak terlepas.
"Jangan dengarkan Daddy, mana ada seperti itu, dedek bayi kan masih kecil, nanti kalau sudah besar baru deh nggak boleh erat-erat!"
Divia pun melayangkan protes pada daddynya dengan sorot mata tajamnya.
Persis sekali sepertiku, Div seperti melihat cerminan dirinya di dalam putrinya itu.
"Sebenarnya Daddy hanya iri saja, dokter melarang Daddy peluk mom's erat seperti Divia karena otot Daddy kan besar-besar!" Ersya melirik Div dengan tatapan meledak.
Dasar, dia sengaja pasti , Div hanya bisa memicingkan matanya kesal.
Setelah cukup lama saling berpelukan kini Divia sudah naik ke atas ranjang Ersya, mereka duduk bersila saling berhadapan sedangkan Div duduk di kursi kecil yang ada di samping tempat tidur sambil melipak kedua tangannya di depan dada.
"Kamu sudah besar sekali, sayang!" Ersya mengusap kepala putrinya itu.
__ADS_1
Memang sudah berapa tahun mereka tidak bertemu, ada-ada aja. Div yang mendengar hanya memicingkan matanya tidak percaya dengan ucapan istrinya.
"Iya dong mom's, Iyya kan bentar lagi punya dedek bayi, kalau Iyya nggak besar Iyya nggak bisa gendong dedek bayi dong!"
Ersya melongo sendiri mendengar perkataan Divia yang terlihat berbeda. Entah sejak kapan dia tidak menyadarinya.
"Sayang_!" Ersya menatap Div yang duduk di sampingnya itu, "Mas, kamu menyadari sesuatu nggak?"
"Sadar!" Div melepaskan tangannya yang di lipat dan mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan sang istri.
"Apa?"
"Kamu berlebihan menyambut Divia, seakan-akan Divia baru saja pergi berperang!" Div tersenyum dengan begitu ringannya.
Ersya malah mengerucutkan bibirnya mendengarkan perkataan sang suami, "Bukan itu!"
Div mengerutkan keningnya lalu menatap putrinya yang sama-sama tidak mengerti maksud dari mom's nya.
Issstttttt, Ersya hanya bisa mendesah.
"Coba katakan sesuatu!"
Divia mengerutkan keningnya, "Divia tidak salah bicara kan tadi mom's!"
Ersya tersenyum lagi, "Nah ini!" Ersya menunjuk ke arah Divia dan menunjukkan pada Div.
"Ihhhhh!" Ersya gemas sendiri karena suaminya tidak faham-faham dengan maksudnya.
"Iya apa?"
"Divia sudah bisa berbicara dengan jelas mas, nggak cedal lagi!"
Div ternyata juga baru menyadarinya, ia segera menatap sang putri,
"Coba sayang, katakan sesuatu sekali lagi!"
Divia tersenyum, "Memang benar dad, kata teman-teman Iyya, Iyya sudah bisa bicara dengan jelas, setelah ujian Minggu depan kan Divia sudah akan masuk SD!"
Div dengan cepat memeluk putrinya itu dengan begitu erat,
"Dad, jangan keras-keras peluknya, ia nggak bisa nafas!"
"Itu nggak adil, tadi mom's boleh peluk erat-erat, kenapa Daddy nggak boleh?"
__ADS_1
"Otot Daddy besar-besar!"
"Ahhh, kalian sama saja!" Div kesal dan melepaskan pelukan membuat Ersya dan Divia tersenyum.
"Daddy, kami sayang Daddy!" Ersya dan Divia segera memeluk Daddy Div bersama-sama. Rangga yang berada di sofa hanya bisa tersenyum melihat bahagianya keluarga kecil itu. Ia seolah melupakan kejadian tadi pagi.
...🌺🌺🌺...
Kini Rangga sudah mengantarkan Divia kembali ke rumah.
"Terimakasih untuk hari ini om Rangga!"
"Sama-sama, hubungi om Rangga jika ada sesuatu!" tidak bisa di pungkiri jika saat ini Rangga sedang mencemaskan Divia karena harus satu rumah dengan Ellen.
"Tenang om, Iyya pasti jaga diri!"
"Om percaya sama Divia! Ya sudah masuklah!"
Rangga menunggu hingga Divia benar-benar masuk, kali ini ia tidak mengantar divia sampai di dalam. Langit sudah gelap, setelah memastikan Divia masuk Rangga pun segera masuk kembali ke dalam mobilnya.
Ia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Semenjak di rumah sakit ia terus mendapatkan telpon dari kakak sepupunya, hingga sebuah pesan muncul di layar ponselnya.
//Gue tunggu di minimarket depan rumah Lo!//
Rangga meletakkan ponselnya begitu saja di kursi kosong yang ada di sebelahnya.
"Kenapa lagi sih mas Rizal nih?!" gumamnya lirih.
Rangga terlihat sekali begitu malas untuk bertemu dengan pria itu lagi.
Setelah lima belas menit akhirnya sampai juga di minimarket depan gang rumahnya.
...Hanya dengan mengatakan cinta tidak akan cukup untuk mengubah perasaan seseorang, usahakan untuk menunjukannya dengan perhatian...
Jangan lupa datang di acara pernikahan Leon dan Nisa ya
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...