
"Sampai ketemu besok ya!" ucap Div sambil melambaikan tangannya pada Radit. Mobil Radit meninggal halaman gedung.
Suasana makan malam sudah bubar, satu persatu tamu meninggalkan area. Ersya terlihat berdiri di depan ruangan menunggu Div kembali,
"Si diktaktor lama banget, nggak tahu apa aku udah ngantuk banget!?" gerutu Ersya, matanya memang sudah mulai berair, tubuhnya benar-benar capek.
Setelah mobil Radit tidak terlihat lagi, Div segera berbalik dan menghampiri Ersya.
"Jangan tidur di situ!?" ucap Div saat melihat Ersya sudah beberapa kali terkantuk.
Aku juga nggak akan tidur di sini kalau kamu mengijinkanku kembali ke kamar ...., batin Ersya kesal.
Jlekkk
Dengan kesal ia menginjak kaki Div dengan begitu keras hingga membuat Div meringis kesakitan.
"Aughhhh ...., aughhh!?" Div sampai mengangkat kakinya karena sepatu hak tinggi milik Ersya.
Rasain tuh .....
Ersya segera berlalu begitu saja meninggalkan Div, ia ingin segera tidur dengan nyenyak di kasur empuknya.
"Beraninya dia?!" gumam Div sambil mengusap kakinya yang nyeri.
Kini Ersya sudah sampai di kamar, ia segera mengganti gaunnya dengan kemeja milik Div yang tadi sudah di gunakan. Ia juga membersihkan wajahnya dan memakai cream wajah sebelum tidur.
"Ahhhh segarnya!" ucapnya sambil menepuk-nepuk pipinya.
Brakkkk
"Berani sekali ya kamu!?"
Ersya hanya menoleh sebentar dan kembali fokus ke cermin, ia tidak peduli dengan kemarahan suaminya.
"Jangan keras-keras bukanya, ini hotel bukan rumah kamu! Kasihan tuh tetangga sebelah!?"
"Kamu .....!?" Div begitu marah, ia berjalan cepat menghampiri Ersya.
Ersya pun segera berdiri dan berbalik, ia berkacak pinggang.
"Mau apa? Hahhh?"
Div tidak mau kalah, ia juag berkacak pinggang, "Mulai berani ya kamu!?"
"Memang sejak kapan aku takut sama kamu?" ucap Ersya sambil mencondongkan tubuhnya hingga membuatnya begitu dekat dengan Div.
Dia mau main-main rupanya .....
Div tersenyum, "Baiklah, mau tahu kamu takutnya pas apa!?"
"Apa?"
Srekkkkk
Div manarik tubuh Ersya, membopongnya seperti karung di atas pundaknya dengan kepala yang menghadap ke bawah di belakang punggung div sedangkan tangan Div memegangi kaki Ersya.
Bug bug bug ...
"Mas turunin ....!" teriak Ersya sambil terus memukul punggung Div.
Dan akhirnya Div menjatuhkan dengan keras tubuh Ersya ke atas tempat tidur hingga terpental. Ersya segera mengeratkan tangannya di depan dada dengan memegangi baju paling atas.
"Mas ...., jangan lagi ya! Aku ngantuk banget!?" ucap Ersya memohon.
Div tersenyum, ia segera melepaskan jasnya dan melemparnya begitu saja,
"Katanya pengen tahu!?"
"Aku udah tahu, jadi maafkan aku ya ..., ya ...., ya ....!?"
Div lagi-lagi tersenyum tipis, ia begitu suka menggoda wanita itu. Tangannya mulai melepas satu persatu kancing kemejanya, melepas kancing lengan kemejanya dan menyingsingkannya hingga ke siku. Sedangkan kancing depan, ia melepaskan tiga kancing bagian atas hingga terlihat dada bidangnya. Mengeluarkan kemeja itu dari celananya.
Dia benar-benar tidak bisa di ajak becanda ....
__ADS_1
Div segera menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur membuat Ersya terkejut dan meloncat turun.
Ha ha ha .....
Div tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Ersya. Ersya yang sudah berdiri di samping tempat tidur begitu kesal karena merasa di permainkan.
"Jahat banget sih!?"
"Dasar polos, sini ....!?" Div melambaikan tangannya meminta Ersya untuk kembali naik.
"Nggak mau!" tolaknya.
"Mau naik sendiri atau aku angkat kamu lagi!?" ancam Div membuat Ersya tidka bisa mengelak.
"Iya iya ...., tapi janji dulu kamu nggak akan ngapa-ngapain lagi!"
"Bukan sekarang, lagian hukumanmu masih kurang satu kali lagi kan!?" ucap div. Ia menggeser tubuhnya dan setengah duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.
Dia masih mengingat nya terus .....
Ersya perlahan kembali naik, ia duduk perlahan di atas tempat tidur. Ia tetap siaga, agar jika Div akan melakukan sesuatu ia bisa segera berlari.
"Lima detik dari sekarang, mendekat atau aku akan_!?"
Srekkkk
Belum juga Div menyelesaikan kata-katanya, Ersya sudah menggeser duduknya hingga begitu dekat dengan Div. Div tersenyum puas, ia berhasil mengerjai wanita yang sudah berstatus istrinya itu.
"Ada apa?"
"Hanya ingin begini saja!"
Div memeluk tubuh Ersya, melingkarkan tangannya di perut rata Ersya dan menciumi rambutnya wanita itu.
"Jangan gitu ah, geli!" Ersya terlihat mengeratkan leher dan bahunya saat Div meniupkan telinganya.
"Gitu aja geli!"
"Abis kamu gitu sih!"
"Nggak akan ngapa-ngapain kan?"
"Enggak!?"
"Janji!?"
"Iya!"
Ersya pun merubah posisinya menjadi tidur, kepalanya bersandar pada lengan Div sedangkan lengan Div yang satunya berada di atas perutnya.
Cukup lama mereka hanya saling diam, Ersya jadi kepikiran dengan Ellen. Siapa sebenarnya Ellen ini, ia jadi begitu penasaran.
Ersya mendongakkan kepalanya, terlihat Div sudah memejamkan matanya,
"Mas, kamu sudah tidur ya?"
Lama tidak ada jawaban, Ersya menghela nafas,
Dia sudah tidur ...., mungkin tanya dia besok aja deh ....
Ersya mendongakkan lagi kepalanya,
"Jangan bergerak terus!?"
Dia belum tidur ....
"Belum tidur ya?"
"Sudah!?" jawab Div tanpa membuka matanya.
"Sudah kok bisa jawab sih!?"
Hehhhh ...., Div menghela nafas. Ia membuka kembali matanya,
__ADS_1
"Kamu gerak terus, membuatku tidak bisa tidur saja!"
Tanya sekarang aja deh kayaknya ....
"Mas, aku mau tanya!"
"Hemmm!"
"Ellen itu siapa?"
Div yang sudah menutup matanya kembali pun akhirnya membukanya lagi,
Div mengerutkan keningnya, "Ada apa?"
"Tidak pa pa, cuma mau tanya aja!"
"Cemburu?"
"Siapa juga yang cemburu, aku kan sudah bilang, aku cuma nanya!?"
"Ingin tahu dengan ingin cari tahu kayaknya dua pekerjaan yang sama!"
"Jangan berbelit deh mas, tinggal ngomong aja susah banget!?"
"Ellen adalah teman masa kecilku di Singapura, kami tumbuh bersama di sana hingga akhirnya Ellen pindah ke perancis. Aku tidak tahu kalau di sana ia bertemu dengan Agra dan berteman baik! Sekitar enam tahu yang lalu kami bertemu kembali, dia bekerja di kantor cabang finityGroup yang ada di sana!"
"Kalian pacaran ya? Atau kalian sudah melakukan pergaulan bebas?"
Div tersenyum mendengar ucapan Ersya, "Kalau iya kenapa?"
Pertanyaan Div seketika membuat Ersya terdiam. Entah kenapa dia merasa tidak suka dengan jawaban yang berbetuk pertanyaan itu.
Ersya hendak berbalik, tapi Div segera menarik tubuh Ersya lagi hingga membuatnya begitu dekat,
"Kami hanya berteman saja!"
Brrrrtttttt brrrrtttttt brrrrtttttt
Tiba-tiba ponsel Div berbunyi, Div segera meraih sebuah ponsel yang ada di atas nakas,
"Ibu Ratih!?" gumamnya lirih. Ia segera mengeser tombol hijau.
"Hallo bu!"
"Hallo Div!"
"Ada apa bu malam-malam telpon? Apa ada yang sangat penting?"
"Satu bulan lagi Aruni akan bebas, bisakah besok kamu urus surat-surat nya di kantor polisi?"
Div terdiam, entah kenapa ia merasa mamanya tidak pantas semudah itu di maafkan, kesalahannya terlalu besar. Tapi dia juga merindukan mamanya.
"Div ...., Div ...., kamu masih di situ?"
"Iya bu, Div besok akan ke penjara!"
"Baiklah, maaf mengganggumu malam-malam!"
"Tidak pa pa bu!"
Sambungan telpon pun terputus, Div kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Ada apa?" tanya Ersya.
"Bukan apa-apa, tidurlah!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰