Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Jaka rasa duda


__ADS_3

“Minumlah!” tiba-tiba


Div menyerahkan segelas air pada Ersya saat kini tinggal mereka bertiga. Ia


tahu jika wanita itu sekarang sedang sangat syok.


Ersya dengan cepat


meneguk minumannya seperti orang yang kesurupan.


“Dad …, mom Eca


kenapa?” Iyya heran melihat Ersya yang seperti itu.


“Hussstttttt ….!”


Bukannya menjawab pertanyaan Iyya, Div malah memilih Iyya diam dan melihat saja


apa yang di lakukan oleh Ersya.


Hingga akhirnya Ersya


selesai dan menatap rajam pada Div,


“Lo beneran mau bunuh


gue?”


Melihat hal itu, Div


malah tertawa. Iyya begitu bingung di satu sisi mommy nya terlihat kesal sedangkan daddy nya tertawa senang.


“Ini hanya sebagian


kecil saja Ersya, dan untuk selanjutnya kamu pasti akan mendapatkan kejutan-kejutan yang luar biasa. Bukankah saya sudah pernah mengatakan hal ini


waktu itu? Persiapkan dirimu!”


Sekarang Ersya tahu apa


arti ucapannya waktu itu, saat di pesta pertunangan itu. Ia sudah tidak bisa mundur lagi, sudah kepalang tanggung dan dia harus siap dengan segala resikonya.


Hehhhhhh …, Ersya


menghela nafas panjangnya dan menatap Div dengan pasti.


“Okey …! Gue siap dengan segala resikonya!”


“Bagus! Bersiaplah untuk


kejutan yang selanjutnya!”


Mendengar ucapan Div,


Ersya sampai melotot tidak percaya, “Masih ada lagi?”


Hmmmm


“Selesaikan makan mu!”


Mereka pun menyelesaikan makannya, kemudian Div kembali mengajak mereka ke suatu tempat.


“Dad …, kita ke lumah


kakek?” tanya Iyya yang sedikit hafal dengan jalan menuju ke rumah kakeknya. Ia


hanya punya satu kakek, kakek Roy.


Akhirnya mobil pun


sampai di depan rumah sederhana itu. Ersya tersenyum, akhirnya ia bisa melihat


rumah yang layaknya seperti rumah bukan sebuah istana.


“Akhirnya aku masih


yakin kalau aku sekarang masih manusia!” gumam Ersya.


Div menoleh pada Ersya,


ia tidak mengerti dengan maksud ucapannya, “Hehhh?”


“Ya setidaknya masih


ada rumah yang kamu kenal, bukan istana di negri dongeng!”


Iyya tertawa mendengar


ucapan Ersya, ia jadi teringat dengan beberapa dongeng yang biasa Ersya bacakan


sebelum tidur. Sepertinya mom Eca seperti tokoh yang tiba-tiba masuk ke


dalamnya.


“Mom Eca lucu!” ucap


Iyya sambil tersenyum mendongakkan kepalanya menatap Ersya, Ersya pun mengusap


kedua pipi Iyya dengan begitu gemas.


“Iyya yang paling lucu


sayang!”


Div sudah lebih dulu


turun, ia kembali membukakan pintu untuk Ersya dan Iyya.


“Kalian mau turun atau


tetap di situ?”


“Daddy bawel ya?” dan


Iyya pun mengangguk menyetujui ucapan Ersya.

__ADS_1


“Jangan mengajari Iyya


macam-macam ya, ayo sama daddy!”


Iyya pun berpindah dari


pangkuan Ersya ke gendongan Div. Ersya pun segera turun dan menyusul mereka


yang sudah berada di depan.


Div mengetuk pintu


rumah yang sebenarnya tidak tertutup sempurna karena sepertinya toko di depan


masih belum tutup.


“Div …, Iyya!” seorang


wanita paruh baya membukakan pintu, dia terlihat begitu senang melihat kedatangan mereka.


“Oma …!”


“Oma kangen sama kamu!”


Lalu mata wanita paruh


baya itu beralih pada wanita yang berada di belakang Div.


“Ini siapa?”


Ersya segera menggeser


tubuhnya di samping Div, “Assalamualaikum bu, saya Ersya!” Ersya segera meraih


tangan wanita paruh baya itu dan mencium punggung tangannya.


“Waalaikum salam! Kamu siapa?”


“Saya bab_!” ucapan


Ersya menggantung saat tiba-tiba Div menyambar ucapan Ersya,


“Dia calon istri saya


bu!”


Wanita paruh baya itu


tampak terkejut, ia menoleh pada cucunya itu. Iyya terlihat begitu bahagia


membuatnya yakin kalau Iyya tahu tentang hal itu.


“Kalian masuk dulu saja


ya!”


Mereka pun masuk ke


dalam rumah sederhana itu, bu Dewi segera mengambilkan minuman untuk mereka.


“sebentar ya, ayah Roy


bagaimana kalian akan menikah!”


Sebelum Div sempat


mengatakan maksud kedatangan mereka, ayah Roy datang tepat waktu.


“Ehhh ada Iyya!”


“kakek …, Iyya datang


cama mom Eca!” Iyya begitu tidak sabar ingin mengenalkan Ersya pada kakek dan


neneknya.


“Mom …, maksudnya?”


tanya ayah Roy.


“Sebaiknya ayah duduk


dulu ya ..!” ucap bu Dewi, ia meminta suaminya itu untuk duduk dulu dan


mendengarkan semuanya.


Div pun mulai


pembicaraan saat ayah Roy sudah bergabung bersama mereka.


“Jadi begini paman, bibi


sebenarnya saya dan Ersya lima hari lagi akan segera menikah!”


“Menikah?” ternyata


ekspresi ayah Roy tidak jauh beda dengan ibu Dewi, ia melihat kearah Iyya yang


memang terlihat begitu menempel dengan Ersya.


Div pun menceritakan rencana


pernikahan mereka yang akan berlangsung lima hari lagi itu, ia mengundang mereka


ke sana.


“Jika kalian memang


sudah yakin, kami mau bilang apa! Yang terpenting Iyya bahagia dengan


pernikahan kalian!”


“Terimakasih paman,


bibi!”

__ADS_1


Hanya Iyya peninggalan


Davina. Bu Dewi hanya menginginkan yang terbaik untuk cucunya itu.


Setelah menyelesaikan


urusannya dengan kakek dan nenek Iyya, mereka pun berpamitan untuk pulang.


sebenarnya Iyya ingin menginap tapi ia masih takut jika di tinggal menginap mom


Eca nya akan menghilang jadi Iyya mengurungkan niatnya untuk menginap.


Mereka sudah kembali


berada di dalam mobil, masih banyak yang harus mereka lakukan. Apalagi urusan


surat menyurat, Ersya sudah tidak punya wali nikah jadi mungkin akan


menggunakan wali hakim nanti saat ijab qabul.


Tapi Div tidak mau


memforsir tenaga mereka untuk hari ini karena ada Iyya bersama mereka dan tidak


mungkin juga mengajak Ersya tanpa Iyya.


Sepertinya Iyya sudah


sangat kecapekan hingga ia tertidur di pangkuan Ersya. Melihat Iyya sudah


tidur, Ersya jadi punya kesempatan untuk bertanya banyak pada pria di


sampingnya.


“Div!”


“hmmm?” Div sama sekali


tidak menoleh pada Ersya karena sudah pasti wanita di sampingnya itu akan


berteriak-teriak saat ia kehilangan konsentrasinya lagi.


“Yang itu tadi mertua


kamu ya?”


“Bukan, mereka mertua


Rendi dan Agra!”


Ersya mengerutkan


keningnya, karena jelas mereka memperlakukan Div seperti seorang menantu,


“Kalau bukan, lalu


mertua kamu siapa?”


“Belum punya mertua,


mungkin nanti kalau aku sudah menikah dengan kamu, aku jadi punya mertua!”


Jelas itu tidak mungkin


karena Ersya sudah kehilangan semua orang tuanya,


“Orang tuaku kan sudah


meninggal!”


“Berarti aku nggak akan


merasakan punya mertua!”


Sepertinya Ersya masih


kurang mengerti, ia harus berusaha untuk menjabarkannya lagi agar nantinya dia


tidak bertambah bingung,


“Tapi Iyya kan anak


kamu, cucu mereka, berarti mereka tadi orang tua istri kamu dong?”


“Siapa bilang aku punya


istri?”


“Iyya?”


“Aku belum pernah


menikah!”


“Hahh?” Ersya begitu


terkejut, “Jadi maksudnya Iyya anak diluar nikah dan kamu masih perjaka?”


“Iya!”


“Ini nih yang di maksud


Jaka rasa duda!”


“kenapa bilang gitu?”


“Statusnya aja masih


jaka, tapi udah punya anak nggak punya istri!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2