
Ersya memang sengaja
datang terlambat, ia tidak mau terlalu lama mengobrol dengan pria yang pernah menjadi masa lalunya.
Beberapa kali ersya menghela nafasnya sebelum masuk ke dalam kafe. Ia harus benar-benar menguatkan kakinya dan juga hatinya.
“Nyonya, apa ada masalah?” tanya sopir itu. Karena Ersya tidak juga berpindah dari samping mobil. Bibirnya malah terlihat komat kamit.
Ersya baru sadar jika dia tidak sendiri, ia menoleh pada sopir yang juga masih berdiri di sampingnya.
“Tidak, tidak pa pa! hanya sedikit nervous saja! Kamu tunggu di mobil saja, saya tidak akan lama,
kamu juga boleh pesan minuman dari dalam nanti biar saya yang membayarnya!”
Ersya terlihat congkak
kali ini setelah melihat berapa gajinya, bahkan gajinya di bank tidak sebesar ini. Satu bulan gajinya dua puluh juta, nilai yang cukup fantastis bagi orang
menengah seperti Ersya.
"Tidak perlu nyonya, saya di sini saja!"
"Baiklah, saya sudah menawarinya loh ya, jangan salahkan saya kalau kamu kehausan!"
"Iya nyonya!"
Ersya memantapkan langkahnya, ia berjalan cepat menuju ke dalam kafe, setelah mengedarkan
pandangannya akhirnya yang di cari ketemu juga.
Pria itu sedang duduk sendiri dengan dua gelas minuman yang masih utuh.
Hehhhh
Untuk terakhir kalinya ia masih menghela nafas, pria itu terlihat menundukkan hingga tidak menyadari kedatangan Ersya.
“Mas Rizal, maaf membuatmu menunggu!” ucapnya setelah sampai di depan meja Rizal membuat pria itu mendongakkan kepalanya.
"Ersya!" Rizal tersenyum senang,
“Tidak pa pa, duduklah!”
Ersya tidak menyadari jika di bangku sebelah itu ada suaminya yang begitu gemas ingin menghampiri nya dan membawanya pulang.
“Bukankah itu nyonya
Ersya, pak! Apa anda tidak ingin menghampirinya?” ucap sekertaris Revan lirih agat Ersya tidak menyadari keberadaan mereka.
“Tidak usah biarkan saja!”
Dia terlalu gengsi untuk melakukannya, Div memilih untuk tidak menghampiri Ersya, tapi ia menyiapkan telinganya untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
Untung saja kliennya terjebak macet, tadi dia bisa leluasa untuk mendengarkan percakapan mereka.
Tapi tanpa mereka sadari di tempat tersembunyi di sudah kafe, ada kamera yang mengawasi mereka.
sepertinya dia mendapat laporan jika nyonya Div sedang bertemu dengan mantan
suaminya.
Ersya pun duduk berhadapan dengan Rizal di pisahkan oleh sebuah meja yang di atasnya sudah ada dua gelas minuman.
__ADS_1
Rizal terlihat begitu senang melihat kedatangan Ersya.
“Ada apa mas Rizal ingin bertemu dengan saya?”
“Ada yang ingin aku bicarakan!"
"Ada apa lagi, kalau masalahnya soal harta gono-gini, bukankah biasanya mas Rizal meminta pengacara untuk mengurusinya?"
"Bukan itu, ada hal lain!" Rizal tiba-tiba memegang tangan Ersya membuat Ersya segera menarik tangannya menjauh dari tangan Rizal.
"Apa?"
"Aku mau minta maaf Sya!”
Ersya mengerutkan keningnya, "Minta maaf sama siapa?"
"Sama kamu!"
“Saya maafkan!” Ersya mencoba untuk biasa-biasa saja. Ia tidak mau terlihat begitu senang atau sedih agar pria di depannya mempercayai kalau dirinya memang baik-baik saja.
“Sya, aku serius!”
“Aku juga serius!”
“Sya aku sudah memutuskan hubunganku dengan Tisya!”
“Lalu?”
“Aku ingin kita balikan!"
Apa-apaan ini, berani-beraninya dia seperti itu? batin Div yang terus mendengarkan pembicaraan mereka. Sekertaris Revan pun sampai tidak berani bertanya lagi.
Ersya tersenyum, "Aku rasa semua orang di Indonesia tahu kalau aku sudah menikah lagi, bukan dengan orang biasa, seorang Pradivta, CEO finityGroup!"
"Kalau sudah tahu, lalu?"
Ersya benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang ada di depannya itu. Bisa-bisanya setelah mencampakkan dirinya dan dengan entengnya meminta kembali.
"Tapi tidak mungkin secepat itu kamu berpaling dariku! Kamu menikah dengan tuan Div pasti bukan karena cinta kan?”
Div yang mendengarkannya
terlihat kesal, tangannya sudah mulai mengepal.
Berani-beraninya .....
Div hampir saja berdiri tapi kembali ia tahan saat Ersya kembali bicara.
“Mas Rizal kok bisa ngomong kayak gitu sih?”
"Kami tidak mungkin dengan cepat melupakan semua tentang kita, kita pernah saling cinta Sya!"
"Pernah mas, dan tidak lagi!"
"Sya, kamu pasti tidak bahagia hidup dengan tuan Div!"
"Jangan sok tahu mas!"
“Lihatlah …, kamu terlihat sangat kurus sekarang, kamu pasti tertekan!"
"Aku seksi mas, nggak kurus!"
__ADS_1
Dia benar-benar ingin menggoda pria itu dengan mengatakan hal itu ...., Div beberapa kali terlihat merenggangkan dasinya, tangannya sudah gatal ingin menonjok wajah pria di belakangnya itu.
"Kita bisa pacaran lagi dulu, nanti saat sudah waktunya tepat kamu bisa bercerai dengannya dan kembali padaku!”
Ersya tersenyum, ia masih ingat jelas apa alasan pria itu menceraikannya.
“Lalu soal anak?”
“Saya tidak peduli lagi, kita bisa mengadopsi anak kan setelah ini!"
"Kenapa tidak dari dulu-dulu aja ngomong kayak gitu?"
"Itulah kesalahan saya Sya, tapi sekarang saya sudah sadar dan kita bisa memperbaiki semua!"
"Mudah sekali ngomongnya!" gumam Ersya lirih sambil berdecak.
"Kamu pasti tidak bahagia
dengan tuan Div!”
“Siapa bilang? Aku bahagia, bahkan sangat bahagia!”
“Dia itu orang yang sangat sibuk, dia pasti sering mengabaikan mu! Kata orang-orang tuan Div itu gila kerja!”
“Siapa bilang aku kurang perhatian? Kamu tahu mas, tuan Div adalah suami idaman semua
wanita, awalnya aku mengira itu hanya omong kosong! Tapi sekarang saya membenarkannya, dia benar-benar suami yang hebat di ranjang, dia romantis, dia
sangat mencintaiku.
Mas Rizal tahu, setiap tiga puluh menit sekali dia meneleponku hanya untuk menanyakan kabar, sudah makan apa belum, tanya sedang apa? Aku butuh apa? Semua dia tanyakan.
Tuan Div juga selalu memanjakan ku, aku diperlakukan seperti tuan putri, dia memberiku ciuman selamat pagi saat aku bangun tidur, menyiapkan sarapan.
Banyak sekali hal-hal romantis yang aku dapat dari tuan Div dan tidak aku dapat dari kamu mas! aku benar-benar istri beruntung di dunia!
Bahkan tuan Div juga akan mengajakku bulan madu ke Turki! Mas Rizal tahu kan aku begitu mendambakan untuk jalan-jalan ke sana!”
Ucapan Ersya yang seperti itu berhasil membuat pria yang terus memasang telinganya itu tersenyum tipis. Ia tidak menyangka jika Ersya akan mengatakan hal itu, ia sudah berpikir jika istrinya itu akan termakan gombalan mantan suaminya itu. Tapi ternyata berbeda seratus delapan puluh derajat.
“Omong kosong apa ini
Sya, aku tahu kamu! Kamu terlalu dangkal untuk memikirkan semua ini!”
“Bukan aku yang dangkal
mas, tapi kamu yang tidak pernah mau mengenal aku! Aku rasa pembicaraan ini sudah cukup lagi pula ini sudah tiga puluh menit dan tuan Div pasti akan menelpon ku, aku tidak mau dia salah faham karena melihatku bersamamu,
terimakasih atas minumannya!”
Ersya segera meninggalkan Rizal yang terlihat begitu kecewa berbeda dengan pria yang duduk
di bangku sebelahnya.
Awalnya ingin sekali marah dan menyeret Ersya untuk pulang tapi mendengar jawaban Ersya membuat Div tersenyum. Begitu lucu, ia baru tahu jika Ersya juga punya sisi konyol.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰