Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Aktif kembali


__ADS_3

Div masih berdiri di


depan pintu, ia melihat Ersya sudah turun dari tempat tidur dan hendak


meninggalkan kamar itu.


“Kenapa pintunya di


kunci lagi?” tanya Ersya saat sudah berda di dekat Div.


“Memang siapa yang


mengijinkanmu untuk turun dari tempat tidur?!”


“Ya aku sendiri dong! Sudah


minggir!”


“Sesuatu yang sudah di


mulai, harus di selesaikan!”


“Hah?”


Div tiba-tiba menarik


pinggang Ersya hingga tubuh mereka saling berhimpitan.


“Div …!” keluh Ersya.


“Sya, kamu sudah memancing, jadi saat umpan itu sudah mulai di makan maka sayang kalau


tidak di ambil ikannya!”


“A-apaan sih!”


Srekkkk


Tiba-tiba tubuhnya


melayang begitu saja, Div mengangkatnya seperti mengangkat karung dengan kepala


di belakang punggungnya dan tangan Div memegang paha Ersya.


“Div lepasin, Divia


sebentar lagi bangun! Aku harus menyiapkan semuanya!”


“Pelayan yang akan


mengurus semua urusan Divia!”


Brukkkkk


 Div menjatuhkan tubuh Ersya ke atas tempat


tidur, dan segera menindihnya. Bibirnya dengan rakus kembali ******* bibir


Ersya.


Srekkkkk


Div menarik baju Ersya


hingga kancing baju itu berserakan di lantai. Kini tubuh Ersya kembali terbuka,


bra yang menutupi tubuhnya juga sudah terlepas. Tangannya kembali sibuk


memberikan sentuhan ke sekujur tubuh Ersya. Bahkan tangan itu sudah menyusup ke


daerah sensitif Ersya, memainkan jarinya di sana.


Tampak Ersya hanya bisa


pasrah dan menikmati apa yang di lakukan oleh Div. ini bukan yang pertama


baginya, jadi dia sudah bisa mengimbangi apa yang di lakukan oleh Div, bahkan


tangan Ersya kini sudah menarik kaos yang di kenakan oleh Div ke atas hingga terlepas


dari tubuhnya.


Div segera melepas


celananya begitupun dengan celana Ersya, ia sudah merasakan sesuatu yang basah


di sana. Ia tahu jika sekarang Ersya sudah siap,

__ADS_1


“Aku lakukan sekarang


ya?’ tanya Div pada Ersya. Ersya yang memang sudah sangat merindukan sentuhan


itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Div pun bersiap-siap,


ia mendekatkannya dengan perlahan agar tidak menyakiti Ersya. Ini untuk


pertama kalinya ia begitu lembut dengan seorang wanita, bahkan dulu dengan


Davina pun ia melakukannya dengan begitu kasar.


Setelah berdiam cukup


lama di dalam sana, akhirnya Div kembali menariknya dan barulah ia mulai dengan


irama yang teratur dan semakin lama  semakin di percepat. Sekarang yang terdengar hanya suara ******* yang


saling bersahutan dari mereka berdua, peluh pun mulai bercampur. Benar-benar


olah raga pagi yang efektif.


Setelah bergelut dengan


peluh dan ******* yang saling bersahutan. Akhirnya mereka mencapai puncaknya.


Div segera mengecup bibir dan kening Ersya lalu memeluknya sebentar dan


melepaskan tubuh Ersya. Ia tidur terlentang di samping Ersya dengan masih tanpa


busana.


Walaupun ini bukan


pengalaman pertama bagi Ersya, ia sudah lama sekali tidak melakukannya, sudah


setengah tahun semenjak saat itu. ia seperti kehilangan tenaganya.


Setelah sedikit


beristirahat, Div segera bangun dan memakai kembali celana boksernya. Ia kembali


menghampiri Ersya yang sudah menutup tubuh telanjangnya dengan selimut.


biar Divia saya yang urus ya!” ucap Div sambil mengusap puncak kelapa Ersya,


dan wanita itu menganggukkan kepalanya.


Div segera ke kamar


mandi dan membersihkan diri,Ersya masih terpaku di tempatnya. Menatap pintu


kamar mandi yang sudah kembali di tubuh.


“ihhhhhh …., apaan sih


yang aku pikirin?” Ersya menggelengkan kepalanya cepat dan menutup wajahnya


dengan kedua telapak tangannya. Ia begitu malu mengingat apa yang baru saja


mereka lakukan,


“Kenapa aku bisa


melakukan itu sama diktaktor itu sih?” ia benar-benar merasa tidak bisa


menghindar dari pesona pria angkuh itu.


“Aaaaaaaahhhhh!” Ersya


lagi-lagi memukul kepalanya, ingin rasanya menghapus ingatannya dan tidak


mengingat kejadian tadi, “Aku terlihat sekali kalau begitu mendambakan


tubuhnya, malunya akuuuuu!”


Ceklek


Tiba-tiba pintu kamar


mandi itu terbuka, membuat Ersya segera pura-pura menutup matanya. Tapi saat ia


tidak bisa beralih dari tubuh yang begitu banyak tanda merah hasil kreasinya.


Kenapa tubuhnya seksi

__ADS_1


sekali sihhhh …..


Div hanya mengenakan


handuk putih yang melilit sebatas pinggangnya, begitu seksi dengan otot-otot


yang terbentuk. Beberapa tanda merah berada di dada Div.


Pria itu terlihat masuk


ke ruang ganti, ia memilih baju santai. karena entah kenapa hari ini ia hanya


ingin di rumah saja.


Setelah menemukan


sebuah kaos dengan warna hitam dan celana sebatas lutut. Div segera melepas


handuk dan memakai ****** ********. Saat melihat bayangan dirinya di dalam


cermin, ia tersenyum


Tangannya mulai


menyentuh tubuhnya yang penuh dengan tanda merah terutama di bagian dada.


“Benar katanya, janda


memang lebih mantap!” gumamnya sambil terus tersenyum, ia kembali membayangkan


kegilaan yang baru saja mereka lakukan.


“siiiitttt …!” umpatnya


tiba-tiba saat ia merasakan juniornya kembali siap tempur hanya dengan


membayangkan adegan yang baru saja berlangsung.


 “Dia benar-benar jadi giat tempur kayak gini!”


umpatnya pada juniornya. Ia pun memutuskan untuk duduk dulu di kursi kayu kecil


yang berada di ruang ganti itu, ia tidak mungkin memaksa Ersya untuk melakukannya


lagi apalagi ini untuk yang pertama bagi mereka berdua.


Setelah merasa


juniornya kembali tidur, di kembali mengambil baju dan mengganti handuknya


dengan baju rumahan. Ia harus segera keluar kamar sebelum kembali khilaf.


 Ersya yang masih pura-pura memejamkan matanya,


tapi sedikit membukanya dan mengikuti kemana arah pria itu pergi dan akhirnya


dia keluar juga dari kamar itu. ersya bisa bernafas lega, ia kembali berada


dalam posisi duduk.


“Ahhhh, gimana nanti


bersikap sama dia? Aku jadi bingung!” gumamnya dan kembali mengusap kepalanya


hingga membuat rambutnya hampir memenuhi wajahnya.


Ersya masih enggan


bangun dari tempat tidur karena ia masih merasakan sakit di bagian selangkangannya. Sepertinya mereka tadi begitu bersemangat hingga ia merasakan


nyeri di pangkal pahanya.


Setelah cukup lama terdiam


ia merakan pangkal pahanya sudah tidak begitu nyeri, akhirnya Ersya pun


berjalan perlahan ke kamar mandi dengan hanya melilitkan selimut itu ke depan


pintu kamar mandi dan melepasnya di sana. Ersya segera menguyur tubuhnya dengan air hangat.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2