Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Telur ceplok ala Daddy Div


__ADS_3

Ersya membawa nampan seperti yang di minta suaminya dengan gelas kosong di tangannya, ia membawanya ke ruang makan, menatap dua wanita ular itu sedang makan di sana.


"Selamat pagi!" Ersya menyapanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Selamat pagi!" Ellen segera menoleh dan menatap ke nampan yang sudah terlihat gelas kosong di atasnya, dia tersenyum dengan penuh kepuasan.


"Sudah habis ya makanannya?" tanyanya basa-basi.


Akting yang bagus Ersya ...., Ersya tersenyum dengan begitu manis,


"Sudah, terimakasih ya, tadi rotinya enak banget, kamu sendiri ya yang masak?"


"Iya, kebetulan di luar negri saya terbiasa memasak sendiri, kalau mau lagi aku bisa membuatkan lagi untukmu!"


Mau di buang lagi makanannya, aku mahh ogah ....,


"Nggak perlu, aku sebenarnya masih begitu lapar, tapi anakku sekarang kayaknya lagi manja, pengen di buatkan sarapan sama daddynya!"


Mendengar perkataan Ersya, Nyonya Aruni menatap menantunya itu dengan tatapan tidak suka,


"Itu hanya akal-akalan kamu saja, biar putraku memasak untukmu!"


Mama, maaf jika aku melukaimu, tapi sekali-kali di kasih pelajaran tidak pa pa kan. Ersya dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi wajah tertekan,


"Mama kok gitu sih ngomongnya!? Ini benar kemauan anak kami ma, cucu mama!"


"Aku malah nggak yakin kamu hamil!"


Astaga, bisa-bisanya mama ngomong kayak gitu di depan wanita itu lagi, Ersya menghela nafas, ingin rasanya mencakar wajah mertuanya jika saja melakukan hal itu tidak menjadi dosa untuknya.


"Mama tega banget sih sama aku, aku nggak mungki bohong ma, mama bisa tanya langsung sama mas Div kalau nggak percaya.


Pria yang sedang di bicarakan itu ternyata menyaksikan dari ujung tangga, ia pun berpura-pura tidak tahu dan menghampiri mereka.


"Ini ada apa sih ribut-ribut?" tanyanya dengan gaya cool seorang daddy Div.


Ersya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk memeluk suaminya, sengaja ia lakukan untuk memanas-manasi uler keket yang jadi benalu di rumahnya.


"Ini mas, mama nggak suka kalau aku mau di buatkan makanan sama kamu!"


"Aku?" kali ini Div tercengang, ia belum mendengar pembicaraan soal itu tadi. Ia hanya mendengar mamanya sedang memojokkan sang istri.


"Iya mas, anak kita kayaknya pengen kamu yang buatkan makanan, soalnya sudah makan dua lapis roti selai di tambah satu gelas susu hangat aja masih terasa lapar!"


Bagaimana bisa Ersya minta aku memasak untuknya?


"Tapi aku_!"


"Jangan merendah mas!" Ersya mendekatkan bibirnya ke daun telinga Div dan berbisik, "Ayo mas, mas Div mau aku makan makanan buatan mereka!" lalu ia meninggalkan kecupan di pipi suaminya. Dan matanya melirik ke arah Ellen yang terlihat kesal melihat kemesraan yang di tunjukan Ersya dan Div, Ersya tersenyum puas saat ini.


Ini hanya pukulan awal, dan tunggu pukulan-pukulan selanjutnya, anggap ini pemanasan.

__ADS_1


"Baiklah aku bisa!"


Ersya pun kembali menoleh pada mama mertuanya dan lagi menatap Ellen setelah suaminya menyanggupi.


"Bentar ya ma, nona Ellen. Aku temani mas Div dulu di dapur, kalian lanjutkan saja sarapannya!"


"Ayo mas!" Ersya pun beralih menarik tangan suaminya membawanya ke dapur.


Sedangkan dua orang yang sedang duduk di meja makan itu terlihat begitu kesal saat ini.


"Dia sepetinya sengaja melakukan itu!" nyonya Aruni sampai memukulkan sendoknya ke piring karena terlalu kesal.


"Aku tahu Tante!"


"Kamu yakin roti dan susunya sudah di makan?" pertanyaan itu membuat Ellen menatap tampan yang di atas nya berisi piring dan gelas kosong yang baru saja di letakkan oleh Ersya.


"Tante bisa lihat sendiri kan, gelas dan piringnya kosong!"


"Tapi tidak ada reaksi apa-apa?"


"Belum saat nya Tante, sabar! Makanlah dulu, kita bisa melihatnya nanti saat Div sudah pergi kerja!"


Kemudian nyonya Aruni teringan pada cucu perempuannya, semenjak keluar dari kamar ia tidak mendapati cucunya.


"Pengganggu kecil itu kemana?"


"Tadi pria yang bernama Rangga itu sudah menjemputnya, jadi kita aman!"


Di tempat lain, Div terlihat kebingungan. Sebutir telur sudah berada di tangannya, Ersya meminta di buatkan telur ceplok setengah matang.


"Biar aku bantu deh mas!" Ersya benar-benar tidak tahan melihat wajah bingung suaminya.


"Nggak, kamu di situ saja, jangan beranjak dari dudukmu!" Div sampai memberi isyarat dengan tangannya agar Ersya tetap duduk di tempatnya dan membiarkan ia beraksi sendiri.


"Tapi itu nanti kalau nggak jadi gimana?"


"Jangan khawatir, pasti jadi!"


Div mengeluarkan wajan penggorengan dan ia letakkan di atas kompor.


Apa lagi sekarang?


"Ya sudah begini saja, beri aku arahan untuk melakukan apa saja, ingat sambil duduk!"


"Baiklah!"


Ersya pun memberi arahan pada suaminya mulai dari mengambil spatula, memecahkan telur, butuh sampai tiga telur baru dia bisa benar-benar berhasil memasukkan telur ceplok ke dalam wajan. Mungkin ini malah akan menyusahkan para asisten rumah tangga bukan membantunya.


Walaupun begitu saat sang pemilik rumah di dapur, tidak ada yang berani mendekat sebelum ada panggilan khusus untuk mereka, bahkan kepala pelayan pun sudah menjauh dari jangakauan, hanya melihat dari kejauhan. Jaga-jaga kalau sewaktu-waktu di butuhkan, atau tuannya itu melakukan kekacauan yang tidak dapat di cegah lagi.


Setelah hampir sepuluh menit akhirnya telur ceplok spesial buatan Daddy Div jadi juga, Div sudah menambahkan secentong nasi putih pada piring Ersya dan meletakkan telurnya di atas nasi.

__ADS_1


"Temanya makannya!"


"Baiklah!'


Div pun menggeser kursi berbetuk bulat yang ada di bawah meja dapur,biar ikut duduk menemani sang istri sarapan, sebelum itu ia juga tidak lupa membuatkan susu ibu hamil untuk Ersya.


"Bagaimana rasanya!"


Walaupun penampilannya benar-benar tidak menarik, tapi Ersya begitu antusias untuk memakannya, warnanya terlihat coklat tau di bagian sisi bawahnya walaupun sisi atasnya terlihat normal.


Ersya segera menyuapkan satu potong telur ke dalam mulutnya,


"Ini enak mas!"


"Kamu yakin?" Div jadi penasaran untuk ikut mencobanya, ia mengambil sendok lain dan memotong bagian lain dari telur ceplok itu.


Satu kali, dua kali mengunyah masih aman tapi kemudian saat kunyahan ke tiga ia merasakan pahit dan sedikit keasinan, Div segera mengambil tidur dan memuntahkan isi mulutnya ke dalam tisu dan membuangnya ke tempat sampah. Div segera mengambil air putih dan meminumnya.


"Jangan di makan!"


"Kenapa?"


"Rasanya nggak enak, hancur banget! Biar koki yang buatkan!" Div hampir menarik piring Ersya tapi Ersya segera menahannya.


"Aku suka yang ini, rasanya sangat enak. Please_, jangan di buang ya! Aku mau memakannya!"


"Di ganti yang baru saja!" Div masih ngotot menarik piring Ersya, tapi ternyata Ersya juga tidak mau kalah.


"Sudah ku bilang aku suka, jangan maksa dong!" suara Ersya sekarang lebih tinggi, ia kesal karena makanannya akan di buang oleh sang suami. "Aku mau makan, jadi jangan ganggu!"


Div tercengang, ia pun menjauhkan tangannya dari piring sang istri, menatap sang istri yang begitu lahap memakan makanan yang menurutnya rasanya sangat buruk.


"Kalau kau suka aku akan membuatkannya lagi untukmu!"


Ersya mengentikan makannya dan tersenyum menatap suaminya,


"Pasti, aku akan meminta makanan seperti ini setiap hari!"


Apa aku salah bicara? Setiap hari? Itu artinya setiap hari aku harus berkutat dengan wajah dan spatula,


Div kali ini benar-benar menyesali ucapannya sendiri.


...Cinta telah membuatmu peka kapan saat kamu harus melindunginya atau kapan saat kamu harus memberi kebebasan padanya...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2