Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Satu kosong


__ADS_3

Div meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja, ia bukan panik seperti yang terdengar di telpon kini malah bernafas lega.


Div menyandarkan punggungnya di sandaran kursi putranya, dan memutarnya menghadap jendela kaca yang tadinya berada di belakangnya, menatap langit yang begitu cerah.


"Mama masih sama saja!"


"Apa dia lupa jika aku ini anaknya, aku bisa menebak semua trik yang sudah bertahun-tahun ia ajarkan padaku, trik lama!"


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar, tanpa memutar kursinya, ia mempersilahkan seseorang yang berada di luar ruangan masuk.


Dan tak berapa lama ia merasakan seseorang tiba-tiba mengalungkan tangannya dari belakang.


"Mas, aku datang kok nggak di sambut sih!?"


Div menarik sudut bibirnya, istri yang sudah ia tunggu akhirnya datang juga.


"Mau tetap seperti ini atau biarkan aku memutar kursiku?"


Pertanyaan itu membuat Ersya menjauhkan tubuhnya dari Div, Div pun segera memutar kursinya dan menatap sang istri mulai dari atas hingga bawah. Saat sampai di bawah ia begitu terkejut hingga kursi putarnya bergeser ke belakang.


"Itu_?"


Ersya tersenyum melihat wajah panik sang suami.


"Itu darah apa?" Div pun segera berdiri dan berjongkok di depan kaki Ersya, hal yang sama seperti yang di lakukan Ellen, Div pun melakukannya. Darah yang sudah sedikit mengering segera ia colek dengan jari telunjuknya dan ia dekatkan ke hidung.


"Ini benar darah!, kita harus ke rumah sakit sekarang!” Div begitu panik dan hampir saja ia berteriak tapi Ersya segera membekap mulut suaminya itu dengan kedua telapak tangannya.


"Jangan teriak-teriak, di luar ada kepala pelayan!"


"Pokoknya dengarkan aku dulu."


"Ini darah ayam!"


Setelah memastikan suaminya tidak panik lagi, Ersya pun menurunkan tangannya dari mulut sang suami.


"Ayam?"


"Iya, biarkan aku duduk dan aku akan. bercerita!"


Div pun mengajak Ersya untuk duduk. Ersya menceritakan mulai dari masuk kamar dan pura-pura sakit perut dan mengirimkan pesan singkat pada Div.


"Tolong minta seseorang untuk menangkap ayam dan membawanya ke sini, pilih satu saja pelayan yang menurutmu bisa di percaya di rumah ini!"

__ADS_1


"Baik nyonya!"


Kepala pelayan pun meminta seseorang untuk membawakan ayam hidup ke kamarnya lengkap dengan pisau yang tajam.


Karena Ellen dan nyonya Aruni masih tetap berada di tempatnya, pelayan itu harus beralasan lagi saat mereka bertanya.


"Itu apa? Kenapa.di bawa ke kamar utama?" nyonya Aruni terlihat curiga.


"Maaf nyonya, kepala pelayan meminta saya untuk membawakan buah segar untuk nyonya Ersya!"


"Kenapa keranjangnya di tutup seperti itu?"


"Tidak pa pa nyonya, sebenarnya tadi nyonya Ersya berpesan jika dia tidak ingin melihat kulit buahnya, hanya ingin melihat kalau sudah di kupas saja, tapi tidak boleh di kupas di bawah, nyonya Ersya ingin memastikan jika buah yang saya bawa benar-benar masih segar!"


"Oh, tapi bagaimana keadaannya sekarang?"


"Saya kurang tahu nyonya, maaf saya permisi!"


Setelah pelayan itu lolos dari interogasi, ia pun segera masuk dengan membawa ayam hidup. Ersya pun meminta Kapala pelayan untuk menyembelihnya dan mengambil darah segarnya.


Setelah mengambil satu mangkuk kecil darah segarnya, bangkai ayam itu segera di masukkan kembali ke dalam kantung kresek dan di bawah keluar kembali oleh pelayan dan segera di buangnya ke tempat tempat sampah umum.


Kepala pelayan membantu Ersya untuk menuangkan darah itu mulai dari paha atas dan membuat darah berceceran di lantai seolah-olah benar darah Ersya.


"Pinter banget sih istriku! Sini biar aku bantu bersihkan!"


Div pun memanggil kepala pelayan untuk membawakan Tosu basah untuknya. Div pun dengan telaten mengelap bekas darah yang sudah mengering di kaki Ersya.


"Mas, mas tahu dari mana kalau makanan yang di kirim Ellen ada sesuatunya?"


"Menurutmu?"


Ersya memang baru mengenal suaminya satu tahun ini, tapi ia sudah mengenal suami sahabatnya lebih lama, sepertinya hal yang sama juga di lakukan oleh suaminya mengenai dirinya, bukan hanya di luar rumah bahkan mungkin suaminya juga menyiapkan mata-matanya di rumah.


"Mas Div mempunyai mata-mata ya di rumah?"


"Hampir semua orang yang ada di rumah itu adalah mata-mata ku, siapapun jangan harap berbuat sesuatu tanpa sepengetahuanku!"


"Termasuk aku?" Ersya benar-benar melotot sekarang. Entah sudah berapa banyak perbuatannya yang ia lakukan tanpa sepengetahuan suaminya.


"Hmm!" Div menganggukkan kepalanya lalu berdiri setelah kaki istrinya benar-benar bersih. Ia menarik pinggang sang istri hingga tubuh mereka saling berhimpitan.


"Kamu yang diam-diam membawa Snack ke dalam kamar Divia, di makan pas malam-malam saat aku kerja, atau diam-diam makan mie instan di dapur, atau diam-diam keluar rumah hanya untuk pergi ke kafe saat aku hukum tidak boleh keluar rumah!"


"Maaf, nggak lagi deh, janji!" Ersya mengacungkan dua jarinya dengan menampilkan wajah imutnya.

__ADS_1


"Jangan di gitukan, jangan membuatku khilaf lagi!"


"Apaan sih!" Ersya segera mendorong tubuh suaminya hingga ia bisa.lepas dari pelukan sang suami,


"Aku harus ganti baju!"


Baju Ersya saat ini memang ada noda darah yang mengering, ia segera membuka pintu yang tertutup dan mengambil baju gantinya dari kepala pelayan yang masih berdiri di depan pintu.


Ersya segera mengganti bajunya dengan baju yang bersih.


Persis seperti dugaan Ersya, setelah ia pergi, Ellen memeriksa dan memastikan sesuatu ke kamar Ersya. Ia memastikan jika tidak ada yang mencurigakan di kamar itu dengan pura-pura memberi arahan pada para pelayan yang sedang bersih-bersih.


Untung Ersya sudah meminta kepala pelayan membuang roti yang sudah di buang ke sampah oleh suaminya pagi tadi.


Siang hari, Divia pulang dari sekolah. Sebenarnya Rangga sudah tahu jika Ersya sekarang ada di kantor bersama Div tapi ia tidak memberitahukan kepada Divia.


Sesampai di rumah, Divia langsung menarik keberadaan mom's nya tapi ternyata hasilnya nihil.


"Sayang, kamu sudah pulang!?" Ellen datang mendekati Divia dengan senyum yang di buat semanis mungkin tapi senyum itu malah membuat Divia takut, ia memilih bersembunyi di balik tubuh Rangga.


"Maaf nona Ellen, sepertinya Divia takut dengan anda!"


"Kamu nggak usah ikut campur ya, sudah selesai kan urusan kamu jadi sekarang sudah boleh pergi!"


"Maaf, tapi saya harus memastikan kenyamanan Divia juga atas perintah pak Div!"


"Di rumah sudah ada saya dan juga Omanya, jadi saya rasa orang luar tidak perlu ikut andil!"


"Bukankah itu lebih pantas anda katakan pada diri sendiri? Anda juga bukan siapa-siapa di rumah ini!"


"Kamu lama-lama kurang ajar sekali ya!" Ellen mulai terpancing emosinya.


"Saya berbicara sebagaimana porsi saya bicara nona Ellen! Jika memang Divia merasa tidak nyaman dengan keberadaan anda, saya harus melindunginya!"


...Kamu tidak akan menyadarinya sampai hal itu benar-benar terjadi, tapi sebuah tamparan mungkin menjadi hal yang paling baik di dunia untukmu." - Walt Disney...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2