
...**Kadang sesuatu yang begitu kita hindari, menjadi jawaban atas segala pertanyaan kita selama ini, bila dia baik bagi kita mungkin kita akan di pertemukan dengan cara yang tidak pernah kita duga....
...🌺🌺🌺**...
Lee yang awalnya turun hanya untuk membantu Yura mengeluarkan barang-barang belanjaan yang di belikan oleh Divia akhirnya ia terpaksa ikut makan malam bersama keluarga sederhana itu.
"Nak Lee, makanlah yang banyak biar temukan!" ibu Yura menambahkan beberapa makanan di mangkuk Lee, tampak dia begitu senang dengan kedatangan Lee.
Yura hanya bisa menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Sudah cukup, ini saja nyonya!"
"Jangan sungkan, ini semua makanan kesukaan Yura! Tadi sengaja masak semua makana kesukaan Yura karena untuk merayakan keberhasilan Yura menyelesaikan ujiannya!"
Lee hanya bisa tersenyum masam dan menatap Yura yang sama sekali tidak berani menatap Lee.
Bagaimana bisa aku terjebak seperti ini ...., Lee hanya bisa mengeluh dalam hati. Terlihat papa Yura juga begitu menikmati makanannya.
"Nak Lee bekerja di mana?" pertanyaan pertama dari sang ayah Yura.
"Saya bekerja di perusahaan!"
"Sudah punya penghasilan tetap ya?" benar-benar pertanyaan sekarang bapak yang sedang mengintrogasi calon menantunya.
Lengkap sudah menderitaanku hari ini ...., Yura hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.
"Appa, appa ini bagaimana lihatlah bagaimana dia membelanjakan putri kita sebanyak itu!" ibu Yura menunjuk ke arah begitu banyak paper bag yang tergeletak di lantai, "Kalau dia tidak punya penghasilan tetap bagaimana bisa membeli semua itu, benar kan nak Lee?"
"Itu_, itu_!" Lee menatap semua paper bag itu dan menelan makanannya yang sudah terlanjur di dalam mulut dengan susah payah.
Tapi belum sampai Lee melanjutkan ucapannya, ibu Yura kembali memotongnya, "Appa tidak lihat, di luar itu mobilnya sangat mewah!" tergambar jelas ibu Yura begitu mengagumi mobil Lee.
"Eomma, sudah jangan ganggu Lee terus, biarkan dia makan eomma!" Yura segera menghentikan. omong kosong ibunya, ia benar-benar merasa tidak enak dengan Lee saat ini.
"Issstttt, eomma kan senang punya anak laki-laki!"
Memang Yura hanya dua bersaudara, itu pun keduanya perempuan. Dan adik perempuan Yura memilih tinggal di asrama sekolah.
Lee kembali tersenyum dengan begitu terpaksa.
"Oh iya nak Lee tinggal dengan siapa di rumah?"
"Saya, saya tinggal sendiri!"
"Orang tua nak Lee?"
"Mereka sudah meninggal dalam kecelakaan!"
"Ibu ikut sedih mendengarnya, jika nak Lee tidak sibuk, nak Lee bisa sering berkunjung ke sini, ibu akan membuatkan makanan yang enak setiap hari!" ucap ibu Yura sambil mengusap bahu Lee, kali ini Lee tersenyum dengan kehangatan rumah sederhana itu.
Akhirnya makan malam pun berakhir dan Lee pun berpamitan untuk pulang,
"Terimakasih atas makan malamnya, nyonya!"
"Jangan sungkan, sering-sering lah ke sini, ibu akan memasak untukmu!"
__ADS_1
Lee hanya tersenyum dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat,
"Aku akan mengantarmu!" Yura segera berlari menyusul Lee keluar rumah.
"Tuan, maafkan saya. Sungguh saya tidak tahu kalau jadinya akan seperti ini!" terlihat Yura begitu menyesal.
"Jangan khawatir, katakan pada bibi masakannya sungguh enak!"
Mendengar perkataan Lee, Yura sampai mengangkat kembali tubuhnya tapi ternyata pria itu sudah masuk ke dalam mobil dan dengan perlahan mobil itu berlalu dari hadapannya.
"Apa aku tadi tidak salah dengar? Yang benar saja seperti itu. Tapi sepertinya iya!"
Di tempat lain, setelah makan malam Divia pun menemani Dee untuk tidur. Tapi setelah Dee tidur, tugasnya masih belum selesai.
"Apa nenek sudah tidur ya?" gumam Divia, ia tahu nenek Kim terbiasa di pijat kakinya sebelum tidur dengan minyak tradisional.
"Bi, biar Divia saja yang pijitin nenek!"
"Benar non?"
"Iya!"
Divia mengambil minyak itu dari bibi, sebenarnya ada hal lain yang ingin dia tanyakan pada nenek terutama tentang siang tadi.
Tapi saat sampai di depan kamar nenek, ia melihat pintu kamar nenek terbuka sedikit.
Ia bisa mendengarkan ada percakapan di dalam kamar itu,
"Siapa yang di dalam kamar nenek?" gumamnya pelan, ia pun memutuskan untuk tidak langsung masuk. Ia memilih mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit dan ternyata ada Kim di sana. Terlihat Kim juga sedang memijit sang nenek.
"Nekkkk, Kim sayang sama nenek. Bagaimana bisa nenek bicara seperti itu?"
Nenek tersenyum dan mengusap kepala Kim,
"Katakan apa yang kamu mau dari nenek? Nenek sudah kenal kamu dari bayi, jadi nenek tahu kalau cucu nenek ini sedang menginginkan sesuatu dari neneknya ini!"
Kim tersenyum, ia benar-benar tidak menyangka jika neneknya tahu apa yang ia mau,
"Nek, Yee Ri sudah kembali!"
Seketika senyum di wajah nenek menghilang dan hanya menyisakan keriput di sana,
"Nek, Yee Ri berhak atas Dee!"
"Jadi maksud kamu?"
"Bukankah akan tidak adil bagi Yee Ri jika kita menahan Dee di sini, sedangkan Yee Ri ibunya!"
"Tapi Dee cucuku!"
"Dee tidak akan pergi jauh Nek, hanya ke Singapura dan setiap bulannya kita bisa mengunjungi Dee di sana atau Dee yang akan ke sini!"
Nenek masih terdiam, ia tidak tahu harus melakukan apa, di satu sisi ia tidak ingin Dee berpisah dengan mereka tapi di sisi lain, ia juga tidak mungkin Setega itu dengan Yee Ri.
"Nenek tergantung Dee saja, jika Dee mau nenek tidak akan menghalanginya!"
__ADS_1
Kim tersenyum senang, "Benarkah itu Nek?"
"Iya, tapi ada syaratnya!"
"Apa?"
"Segera buatkan bayi kecil untuk nenek yang tua ini!?"
"Nenek!" Kim merasa apa yang menjadi syarat neneknya itu terlalu berat. Apalagi saat ini Kim dan Divia tidak baik-baik saja, semacam perang dingin.
"Nenek becanda!?" seketika Kim merasa lega dan kembali bisa tersenyum.
"Baiklah kalau gitu Kim segera hubungi Yee Ri dan mengatakan berita gembira ini."
"Jangan lupa katakan juga padanya jika ia masih menganggapku sebagai orang yang berarti, suruh dia ke sini!"
"Baik Nek, pasti! Kim pergi dulu!" dengan cepat Kim melompat dari tempat tidur.
Divia yang mengetahui Kim akan keluar segera bersembunyi di balik dinding samping kamar sang nenek agar Kim tidak ketahuan oleh Kim.
Setalah memastikan Kim telah pergi, Divia pun perlahan mendekati kamar sang nenek dan mengetuk pintu kamarnya.
"Nek, Vi boleh masuk nggak?"
Nenek tersenyum, "Masuklah nak!"
Divia pun segera masuk dan duduk di samping sang nenek,
"Divia mau gantiin bibi buat mijitin nenek!"
"Benarkah? Ya ampun hari ini sebenarnya hari apa baru saja Kim yang mijit dan sekarang kamu, nenek jadi senang!"
"Benarkah Nek?" Divia pura-pura tidak tahu agar ia tidak ketahuan telah menguping pembicaraan mereka.
"Iya, aku minta dia untuk cepat-cepat kasih bayi buat nenek tuanya ini!"
Memang boleh belum menikah sudah buat bayi, ada-ada aja nenek ini ....., batin Divia.
Divia hanya tersenyum dan mulai mengoleskan minyak itu ke kaki sang nenek dan mulai memijatnya.
"Gimana Nek, enak?"
"Enak sekali!"
Sebenarnya Divia ingin bertanya banyak hal tapi rasanya bahkan mulutnya tidak mau terbuka.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1