Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Aku hamil!


__ADS_3

"Mana bisa mas, tangan kamu gimana? Aku mau lihat!" Ersya sampai berusaha mengangkat kepalanya agar bisa menjangkau tangan Div.


"Bisa nggak berhenti bicara sebentar, biarkan aku yang gantian bicara!"


"Kenapa sih gitu amat!" Ersya kesal karena tidak bisa melihat dengan pasti lengan suaminya.


"Karena kamu hamil!" ucap Div cepat dan Ersya seketika diam seribu bahasa.


Suasana yang tadi heboh dengan suara ribut Div dan Ersya seketika menjadi begitu tenang,


Ersya bahkan tidak mengeluarkan kata-kata lagi, hanya menatap suaminya tidak percaya.


Div pun kembali mengusap lengan atas Ersya beberapa kali, "Kamu hamil, sayang!"


"Mas!?"


Ersya masih dengan pendiriannya, ia tidak bisa begitu saja percaya. Ia tidak mau bahagia ataupun sedih, yang ia pikirkan hanya apa mungkin suaminya Setega itu sama dia.


"Aku serius sayang, kamu hamil!"


Lagi-lagi Ersya hanya menggelengkan kepalanya, "Nggak! Nggak mungkin!"


"Iya!"


"Aku nggak percaya! Mas jangan aneh-aneh deh!"


"Aku serius!"


"Becandanya nggak lucu! Ok kalau mas Divta pengen aku melupakan luka di tangan mas, okey mas berhasil, tapi Becandanya jangan kelewatan mas, ini serius nggak lucu! Kamu jahat banget, aku tahu mas aku nggak bisa kasih anak buat masa dan ternyata Ellen lebih bisa tapi jangan gitu dong mas Becandanya! Itu nyakitin banget!"


Mendengar ucapan istrinya panjang lebar, kebahagiaan tadi berubah menjadi kesedihan. Ia tidak menyangka jika istrinya sudah menyimpan luka yang begitu lama dan begitu besar.


Bahkan air mata Ersya kini tidak dapat terbendung lagi.


Srekkk


Div pun menarik tubuh Ersya ke dalam pelukannya,


"Maafkan aku ya!" tangan Div mengusap kepala Ersya dengan penuh cinta.


Setelah merasa Ersya sudah sedikit lebih tenang, Div pun melepaskan pelukannya.


"Bentar ya, aku harus menghubungi seseorang dulu!"


Ersya pun menganggukkan kepalanya dan Div segera mengambil benda pipihnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo!"


"...."

__ADS_1


"Ambilkan berkas berwarna coklat yang ada di laci meja saya sekarang dan bawa ke rumah sakit!"


"...."


"yang ada tulisannya berkas penting!!"


"..."


"Hanya tiga puluh menit!"


"..."


Div pun mengakhiri panggilannya. Ia tidak mau terlalu menekan istrinya saat ini.


Div kembali menghampiri istrinya dan duduk di samping istrinya di atas tempat tidur istrinya,


"Sini kan kepalanya, biar aku usap!" ucap Div sambil menarik kepala Ersya agar berada di atas pangkuannya.


Ersya pun melakukan apa yang di minta sang suami, memang begitu nyaman.


"Maaf ya!" ucap Div lagi, mungkin jika dia mengatakan sejak awal reaksi Ersya hari ini tidak akan seperti ini.


"Hmm!"


"Kamu marah ya sama aku?" tanya Div lagi karena istrinya yang tiba-tiba pendiam.


Dan Ersya pun menggelengkan kepalanya.


sekretaris Revan datang dengan membawa sebuah berkas berwarna coklat bertuliskan berkas penting.


"Ini pak, yang bapak minta!" ucap sekretaris Revan.


"Terimakasih, setelah ini kamu bisa kembali ke kantor, dan untuk besok semua meeting yang mengharuskan kedatangan saya, tolong di cancel dulu. kirimkan berkas-berkas yang di perlukan dan sangat perlu persetujuan dari saya ke rumah sakit!"


"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu pak!"


Div hanya menganggukkan kepala ya dan kembali masuk ke dalam ruangan.


Ersya sudah dalam posisi duduk, ia baru saja diperiksa oleh perawat, mengganti cairan infusnya dan memastikan semua baik-baik saja karena syok dan benturan yang keras akan membuat kandungan yang masih dalam usia tentang sedikit bermasalah.


Untungnya kandungan Ersya walaupun masih muda, tapi cukup kuat, Div tidak tidak mengijinkan perawat memberitahukan kabar baik itu, bahkan saat perawat ingin memberikan selamat pada Ersya, Div melarangnya karena ia ingin dirinya yang menjadi orang pertama yang mengatakannya pada sang istri.


"Itu apa mas?" tanya Ersya saat melihat suaminya membawa sebuah berkas di tangannya.


"Ini semua datang tentang kamu!"


"Aku?" Ersya menunjuk dirinya sendiri dan Div pun menganggukkan kepalanya.


"Iya! Sebenarnya tidak sengaja, data itu aku cari untuk memberi pelajaran pada pria itu!"

__ADS_1


"Pria itu siapa?"


Div terlihat begitu berat mengatakannya, "Mantan kamu!"


"Maksudnya mas Rizal?"


"Hmm!"


Mendengar pengakuan suaminya itu, Ersya pun dengan cepat mengambil berkas itu, ia ingin tahu apa saja yang sudah di ketahui oleh suaminya itu.


Ersya membuka satu persatu data dirinya, mulai dari akta kelahirannya, tempat tanggal lahir, sekolahnya, saudaranya, orang tuanya, pekerjaannya, segala kepemilikannya, teman-temannya dan yang terkahir data kesehatannya.


Seingatnya data kesehatan itu ia ambil saat dirinya dan Rizal sudah hampir bercerai dan dia tidak pernah melihat isinya karena Rizal tidak pernah memberikan padanya hingga mereka bercerai.


Dan yang paling mengejutkan, di dalam map itu bukan hanya data dirinya saja tapi juga data Rizal, seingatnya hanya dirinya yang melakukan pemeriksaan, ia tidak pernah tahu jika Rizal juga melakukan pemeriksaan kesuburan.


Berkali-kali dan berulang-ulang hingga ia sampai hafal isi tulisan dalam berkas itu, matanya terus menatap bergantian tes kesuburan miliknya dengan milik Rizal.


"Mas, ini nggak ketuker ya?" tanya Ersya dan Div sudah melipak kedua tangannya di depan dada menata Ersya dengan tatapan jengah.


"Menurutmu?"


"Ya, kayaknya ketuker!"


"Yakin?"


"Mas Divta kok malah tanya gitu sih sama aku, ya mana aku tahu!"


"Kalau nggak tahu nggak usah sok tahu makanya!"


Div pun segera duduk dan mengambil berkas-berkas itu dari tangan Ersya, menyimpannya di belakang ia duduk.


"Sekarang dengarkan aku baik-baik!" ucap Div lalu menggenggam tangan Ersya, mengusapnya lembut.


"Semua data itu akurat, kamu bisa hamil dan punya anak! Dan yang tadi yang aku katakan sebelum ini, itu benar! Kamu benar-benar hamil dan bukan candaan!"


Mendengar ucapan suaminya, Ersya lagi-lagi tidak bisa menahan air matanya agar tidak turun. Ia bahkan menangis sesenggukan, seperti sebuah keajaiban yang tiba-tiba datang dalam hidupnya.


Div lagi-lagi mengusap punggung istrinya agar kembali tenang, ia tidak meminta istrinya untuk berhenti menangis karena ia tahu air mata itu sudah sangat lama ia tahan agar tidak keluar.


Bersambung


...Jangan menahannya lagi, karena akan sangat sakit saat seseorang sudah tidak bisa menangis lagi. Itu bukti jika luka itu sudah sangat dalam dan tidak mungkin bisa di obati lagi...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2