
Div pun segera keluar dari mobil, tubuhnya langsung di sambut oleh air hujan, karena untuk sampai di teras itu ia harus melewati beberapa langkah dulu. Ia segera berlari agar bajunya tidak terlalu basah.
Ceklek
Seseorang sudah menyambutnya di depan pintu dengan membawa sebuah handuk di tangannya.
Div yang sedang mengibaskan kemejanya yang basah pun langsung terhenti. Matanya terpaku melihat sosok itu, entah kenapa hatinya tiba-tiba begitu senang melihatnya berada di depannya saat ini.
"Div, agak ke sini! Belakang kamu masih basah!" teriak wanita itu. Dia adalah Ersya. Ia hendak menghampiri Div tapi pria itu segera menahannya dengan isyarat tangannya. Lantai sedang sangat licin karena air masuk ke teras. Air hujan begitu deras bersamaan dengan angin.
"Berhenti di situ!" ucap Div. Ia pun memilih untuk menghampiri Ersya sebelum wanita itu menghampirinya terlebih dahulu.
Kini Div sudah berada di depannya, begitu dekat. Ersya segera mengayunkan handuknya hingga menutupi punggung Div yang basah dan juga rambutnya.
Karena Div lebih tinggi darinya beberapa centi, membuatnya sedikit mendongak.
Ersya yang belum sempat melepaskan tangannya dari handuk itu, Div sudah lebih dulu menahannya hingga kini tangan Div menggenggam tangan Ersya hingga membuat mereka membeku beberapa saat dengan saling pandang.
Hmmmm
Deheman Div berhasil membuyarkan suasana itu. Ersya segera menarik tangannya dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
"Kamu tidak tahu kalau hujan sangat deras, kenapa ke depan? Bagaimana kalau kamu flu? Divia bisa tertular sama kamu!" ucap Div panjang lebar membuat Ersya tercengang di buatnya. Tapi benarkah hanya karena Divia?
"Aku kan mengantarkan handuk untukmu!"
"Memang di sini tidak ada pelayan hingga kamu sendiri yang membawakan handuk?"
"Itttssss, dasar aneh! Di perhatikan aneh nggak di perhatikan juga lebih aneh!" ucap Ersya kesal lalu meninggalkan Div begitu saja di luar dan ....
Brrkkkk
Menutup pintunya dengan sangat keras hingga membuat Div terlonjak kaget,
"Dasar bar bar ...!" gerutu Div lalu menyusulnya masuk.
Div segera menuju ke kamar tidurnya, ia kembali di kejutkan saat tiba-tiba seseorang keluar dari kamar mandinya.
"Kamu!?"
Cepat sekali dia di sini? batin Div, karena baru saja ia masuk dan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Dan saat ia masuk ke kamarnya Ersya sudah ada di sana.
"Air hangatnya sudah siap, segeralah mandi dan kita makan malam bersama, Divia sudah menunggu!" ucap Ersya datar lalu pergi begitu saja.
"Dia menyiapkan air hangat untuk ku?" gumamnya saat Ersya sudah meninggalkan kamar itu. Tiba-tiba bibirnya tidak mampu menahan untuk tidak tersenyum. Tiba-tiba ada rasa aneh yang menjalar ke dalam tubuhnya, ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan menikmati mandi dengan air hangat.
Setelah membersihkan diri, ia pun menyusul Ersya dan Divia di meja makan.
__ADS_1
"Iyya sayang, daddy kangen tahu!" ucapnya sambil memeluk putrinya itu dari belakang dan mengecup puncak kepalanya.
"Iyya juga dad, Iyya nggak cabal pengen bicala cama daddy!" ucap Divia sambil tersenyum bersemangat.
"Apa?" tanya Div sambil menggeser kursinya hendak duduk.
"Iyya, ngobrolnya nanti ya setelah makan! Lihatlah daddy kamu sampai nggak makan siang gara-gara nggak di masakin sama mom!" ucap Ersya sambil mengambilkan makanan untuk Divia dan Div.
Mendengarkan ucapan Ersya, Div yang belum sempurna duduk, bokongnya masih menggantung tiba-tiba berhenti dan menatap Ersya,
"Omong kosong dari mana itu?"
"Bukan omong kosong, sekretaris Revan yang mengatakannya!" ucap Ersya sambil menggeser piring yang sudah penuh dengan makanan ke depan Div.
"Kapan?"
Flashback on
Ersya menyelesaikan memasaknya lebih cepat. Setelah sudah siap semua, ia pun segera mandi. Setelah mandi, ia melihat keluar ternyata hujan begitu deras.
"Hujan deras sekali, bagaimana dengan Div?" gumamnya sambil memandangi air hujan dari balik jendela kamarnya.
Ia sedikit mencemaskan daddy Divia itu, ia pun segera mencari letak ponselnya.
"Yah ...., mati ....!" gumamnya saat melihat ternyata ponselnya mati, ia bahkan tidak tahu sejak kapan ponselnya mati. Sudah beberapa hari memang dia tidak mengecas ponselnya.
Setelah ponsel itu menyala, ia mendapati beberapa panggilan dari Div. Setelah baterai nya di rasa cukup. Ia segera mencabut nya dan melakukan panggilan balik kepada Div. Tapi tidak ada jawaban.
Tapi selang beberapa detik, tiba-tiba sebuah notif pesan masuk.
Ting
Ersya dengan cepat membuka pesan itu, pesan itu dari sekretaris Revan.
"Maaf bu, pak Div sedang tertidur, apa ada masalah?"
^^^"Tadi siang Div menghubungiku beberapa kali, apa ada masalah?"^^^
"Mungkin karena makan siang itu, bu! pak Div tidak memakan makan siangnya, sepertinya pak Div ingin makanan yang bu Ersya masak!"
^^^"Jadi dia tidak makan siang?"^^^
"Tidak, bu! Apa perlu saya bangunkan pak Div, bu?"
^^^"Tidak perlu, kalian di mana sekarang?"^^^
"Kami sedang di jalan, bu! Satu jam lagi kami sampai di rumah!"
__ADS_1
^^^"Ya sudah kalau gitu hati-hati, hujan sangat lebat! Sopir jangan boleh ngebut!"^^^
"Baik bu!"
Ersya tidak bermaksud membalas lagi pesan itu. Ia memilih meletakkan ponselnya di samping tempatnya duduk.
"Kasihan Div, dia belum makan siang!" gumamnya.
Ia jadi tidak tenang lalu memutuskan untuk menunggu Div di ruang tamu dengan membawakannya handuk. Dia pasti akan kehujanan, apalagi hujan semakin lebat saja.
Ersya terus mondar-mandir di ruang tamu.
"Mom ...., mom nungguin ciapa?" tanya Divia yang barus saja dari dalam.
"Mom nungguin daddy sayang, Iyya masuk ya di sini dingin!"
"Iya mom!"
Hingga akhirnya ia mendengar suara mobil Div di depan, ia pun segera menghampiri pintu dan membukanya.
Flashback off
"Dia benar-benar tidak bisa di percaya ....!" gumam Div, ia pun segera duduk,
"Jangan besar kepala, memang masakan dari restoran itu tidak enak makanya aku makan!" ucap Div membela diri.
Ersya hanya mencibirkan bibirnya tidka percaya,
"Kalau nggak percaya ya sudah!"
Div segera memakan makanannya, ia tidak mau berdebat lagi dengan Ersya karena perutnya memang sudah sangat lapar.
Kenapa makanan ini jadi sangat enak? batin Div, padahal jelas masakan itu tidak begitu istimewa. Hanya masakan rumahan biasa yang kebanyakan orang bisa memasaknya.
"Mom ...., Iyya cudah celecai!" ucap Divia yang memang piringnya sudah kosong.
"Baiklah, kalau Iyya sudah selesai! Minum susunya dan gosok gigi, biar mom bersihkan dulu meja makannya!"
"Ciap mom!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰