Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Rahasia Divia


__ADS_3

Butuh tenaga ekstra untuk membujuk Divia, akhirnya Rangga pun membisikkan sesuatu pada Divia saat mereka sudah berada di kamar Divia barulah Divia berhenti merengek.


"Benarkah om, om Rangga tidak bohong kan?"


Rangga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Setelah memastikan jika Divia baik- baik saja, Rangga pun segera kembali ke kantor. Walaupun Div tidak menuntutnya dengan pekerjaan yang begitu banyak di kantor tapi rasanya tidak enak dengan teman-teman nya saat ia tidak segera kembali ke kantor. sebenarnya tadi ingin sekali mengajak Divia kembali ke kantor tapi ia khawatir malah membuat Ellen curiga.


Apalagi setelah perdebatan panjangnya dengan wanita itu, sepertinya ada sesuatu hal ya h memang tidak beres di rumah itu terutama dengan nyonya Aruni dan Ellen.


Sore hari Div dan Ersya pulang bersama-sama, Ersya berjalan dengan di papah Div agar terlihat sungguhan kalau dia sedang sakit.


"Ersya kamu sudah pulang, bagaimana keadaan mu? Kamu keguguran ya?" nyonya Aruni segera memberi dingin menantunya itu dengan begitu banyak pertanyaan.


"Ma, Ersya biar ke kamar dulu nanti biar Div yang jawab!" Div pun mengajak Ersya ke kamarnya tidak ada yang berani menghentikannya lagi melihat wajah serius Div.


Divia yang melihat mom's nya pulang segera menghampiri sang mom's.


"Sayang, Jaga mom's sebentar ya! Dadi mau bicara sana Oma dulu!"


"Okey Dad!"


Div segera meninggalkan putri dan istrinya. Divia kembali memeluk mom's nya.


"Kenapa sih sayang? bicara dong sama mom's!" Ersya terus mengusap kepala putrinya itu.


"Mom's beneran tidak pa pa? Kata om Rangga mom's baik-baik saja tapi tadi daddy seperti itu!"


Ersya menggenggam kedua bahu putrinya dan menatapnya,


"Sayang, apa yang di katakan om Rangga benar, Daddy begitu hanya ingin melindungi mom's dari orang-orang jahat saja!"


"Orang jahatnya Tante Ellen sama Oma ya mom's?"


Ersya terkejut, ia sampai mengerutkan keningnya. Ia tidak pernah membicarakan hal buruk tentang mereka di depan Divia tapi anak kecil itu malah menanyakan hal itu, ia merasa ada yang tidak beres saat ini.


"Sayang, apa mereka mengatakan sesuatu sama kamu?"


Divia segera menggelengkan kepalanya, tapi matanya mengatakan hal yang sebaliknya.


"Sayang, jangan bohong sama mom's! Divia percaya kan sama mom's?"


Kali ini Divia menganggukkan kepalanya.


"Kalau Divia percaya sama mom's, sekarang katakan apa yang mereka katakan sama Divia. Mom's pasti akan melindungi Divia! Tapi kalau Divia nggak mau ngomong berganti Divia nggak percaya dong sama mom's!"


Tiba-tiba Divia menangis dan kembali memeluk Ersya, Ersya tidak bertanya lagi. ia memilih untuk menenangkan putrinya terlebih dulu sebelum kembali bertanya. sepertinya sang putri sedang sangat tertekan saat ini.


"Mom's akan baik-baik saja kan?" itu pertanyaan pertama yang muncul dari bibir mungilnya setelah berhenti menangis.

__ADS_1


"Iya sayang, mom's akan baik-baik saja!"


"Mom's janji?"


Ersya mengacungkan jari kelingkingnya agar gadis kecil itu yakin jika dia akan baik-baik saja kalaupun dia bicara.


"Iyya nggak mau kalau Oma sama Tante Ellen sakiti mom's sama dedek bayi!"


"Maksudnya?"


"Waktu itu saat mom's di rumah sakit nggak sengaja Iyya dengar pembicaraan mereka, mereka bilang akan mencelakai dedek bayi dan mom's!"


"Lalu kenapa Divia nggak ngomong sama mom's?"


"Iyya takut!" wajah Divia berubah, terlihat begitu takut.


"Takut kenapa? Jangan takut ada mom's di sini, mom's yang akan melindungi Divia, ada Daddy juga!"


"Oma bilang kalau sampai Iyya menceritakan apa yang Iyya dengar, Oma akan mengirim Divia ke asrama dan jauh dari mom's dan daddy, Iyya nggak mau_!"


Ersya kembali memeluk putri kecilnya itu,


"Sayang_, tidak akan ada yang pisahkan kita, jadi jangan khawatir ya, semua akan baik-baik saja dan Divia tidak akan pergi ke mana-mana tanpa mom's dan daddy!"


Mama sudah keterlaluan, selama ini aku sudah cukup sabar tapi tidak untuk kali ini, dia sudah membuat putriku ketakutan


...🌺🌺🌺...


Di ruang keluarga itu, Div sudah duduk bersama dua wanita yang sedari tadi sedang menunggu berita bahagia bagi mereka.


"Cepat sekali pulangnya Div, apa yang terjadi?"


Nyonya Aruni sudah tidak sabar menunggu Div bicara.


"Tadi maaf karena sudah membuat kenyamanan kalian terganggu, tapi aku bersyukur Ersya dan bayinya baik-baik saja!"


"Tapi tadi dia mengeluarkan darah!"


"Kata dokter itu biasa terjadi saat kandungan di usia-usia rentan seperti ini! Jadi selamat beristirahat, saya juga akan beristirahat sekarang!"


Div segera berdiri dan meninggalkan dua wanita yang sedang saling pandang. Mereka sudah berpikir juga rencananya berhasil tapi ternyata hanya sebuah prank.


"Ellen, katanya obat itu ampuh, kenapa gagal?"


"Mana Ellen tahu Tante, saat itu Ellen menggugurkan kandungan Ellen dengan cara ini dan buktinya berhasil!"


"Atau mungkin kurang banyak dosisnya!"


"Bisa jadi Tante, sepertinya kita harus cari cara lain!"

__ADS_1


"Iya kamu benar!"


...🌺🌺🌺...


Di tempat lain terlihat seorang wanita dengan gaun tidurnya yang terlihat berkelas itu sedang bicara dengan dua orang di taman belakang.


"Ada berita apa?"


Wanita yang mengikat rambutnya seperti gelungan di kepala atasnya itu bertanya pada salah satu dari mereka yang bertubuh kekar.


"Tadi siang ada sedikit masalah, nyonya Aruni dan wanita yang bernama Ellen itu sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakakan nyonya Ersya dan bayinya!"


"Lalu?"


"Pak Div bergerak cepat hingga semua itu tidak terjadi nyonya!"


"Bagus, awasi terus keadaan di sana!"


"Baik nyonya besar!"


Wanita itu adalah nyonya Ratih. Kekhawatiran tentang keputusannya mengeluarkan nyonya Aruni membuatnya terpaksa mengawasi rumah Div, ia tidak mau keputusannya malah akan mengacaukan sesuatu yang sudah bagus.


"Kamu, apa yang ingin kamu laporkan?" tanyanya kemudian pada pria dengan pakaian yang sama tapi bertubuh lebih kerempeng itu.


"Toko yang nyonya besar inginkan sudah jadi, tinggal beberapa saja yang harus di persiapkan, satu Minggu lagi sudah bisa di buka!"


"Bagus, kerja cepat! Kalau sudah tidak ada yang ingin di laporkan lagi, kalian boleh pergi!"


"Terimakasih nyonya, kami permisi!"


Nyonya Ratih hanya menganggukkan. kepalanya dan kedua pria itu pun meninggalkannya.


Terdengar helaan nafas berat keluar dari bibirnya, seperti menyesali keputusannya,


"Aku kira dia sudah berubah dengan adanya cucu!"


...Mahkota seseorang adalah akalnya. Derajat seseorang adalah agamanya. Sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya...


...~ Umar bin Khattab...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2