Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Serangga jahat


__ADS_3

"Rendi udah pergi?" tanya Ersya saat melihat suaminya itu sudah kembali lagi masuk ke dalam kamar, padahal ia sudah berharap mereka bisa mengobrol lebih lama lagi agar Div tidak segera kembali.


Div tidak langsung menjawab pertanyaan Ersya, ia lebih memilih mendekap tubuh Ersya yang sedang berdiri di samping jendela,


"Kenapa suka sekali memelukku sih, lepas! Gerah tahu!" keluh Ersya yang berusaha untuk melepaskan tubuhnya.


Ckkkk ....


Div berdecak lalu melepaskan tubuh Ersya, ia ikut menatap ke luar jendela dan melipat ke dua tangannya,


"Kalau menurutmu, tempat yang paling baik untuk di kunjungi di mana?"


"Maksudnya?"


"Ya kalau aku ngajak jalan-jalan, kamu maunya jalan-jalan ke mana?"


"Beneran mau di ajak?"


"Iya ....! Kalau mau sih, kalau nggak ya_!" ucapan Div menggantung karena tiba-tiba Ersya menyambar ucapannya.


"Ke Turki!"


Div tersenyum tipis lalu kembali menatap langit cerah di luar kamarnya.


"Div!" teriak Ersya.


Seketika teriakan Ersya membuat Div terkejut, ia menoleh pada wanita dengan wajah paniknya.


"Ada apa?"


Div segera mengamati wanita yang ada di sampingnya itu dengan seksama, tidak ada yang aneh atau apa, dia tidak terluka juga.


"Divia!?"


"Kenapa dengan Divia?" Div semakin panik saja.


"Sudah waktunya pulang sekolah, aku harus menjemputnya tapi ....!" Ersya begitu ragu, ia tidak mungkin pergi dengan keadaan seperti itu. Banyak tanda merah di lehernya dan lengannya.


"Mom ....!" belum juga Div menjawabnya tapi suara ceria itu tiba-tiba memenuhi kamar itu.


Ersya dengan cepat menoleh pada sumber suara dan gadis kecil itu sudah berada dalam pelukannya.


"Iyya? Iyya sudah pulang? Sama siapa?" tanya Ersya, ia sudah mengecup kening putri yang sangat ia rindukan itu.


"Itu ...!" jarinya yang mungil menunjuk pada sosok yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka,


"Rangga?!"


"Iya mom, om Langga yang jemput Iyya!"


Div segera mendekati Rangga,


"Saya ingin bicara, di luar!"


"Baik pak!"


Div dan Rangga pun meninggalkan kamara itu, meninggalkan Ersya dan Divia.


"Kata daddy, mom cakit ya, cakit apa?"


"Tidak pa pa sayang, hanya sedikit demam tadi!"


Divia kembali berdiri dan memperhatikan mommy nya,


"Actaga mom ....!?" Divia tampak begitu terkejut sambil menutup mulutnya yang terlanjur menganga.


"Ada apa sayang?"


"Mom ...., tubuh mommy melah-melah ..., pasti gala-gala ini mom cakit, jahat cekali celangga yang gigit tubuh mom!"


Iya ...., serangganya sangat besar, sampai aku nggak bisa lepas sama dia ....., batin Ersya ingin sekali tertawa mendengar ucapan polos dari gadis kecil itu, apalagi ekspresi wajah Divia yang berubah-ubah terlihat begitu lucu.

__ADS_1


"Iya sayang, kan Iyya sendiri yang minta mommy buay tidur di sini, di kamar ini banyak sekali serangannya sayang!"


"Daddy memang jolok ....!" keluhnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Lalu tanpa bicara lagi, Divia segera meninggalkan Ersya,


"Mau ke mana sayang?"


"Mau cali daddy!"


Wahhh gawat nihh, Divia pasti ngadu nih sama di diktaktor itu ....


Ersya pun segera mengejar putri kecilnya itu.


...🍀🍀🍀...


Di ruangan kecil yang ada di depan kamar mereka, kini Div dan Rangga sedang mengobrolkan hal yang sangat serius.


"Cari tahu semua destinasi wisata di sana!?"


"Baik pak! Lalu pemesanan tiketnya bagaimana pak?"


"Tiga tiket, eh ...., sebentar, bagaimana kalau dua saja? Nanti saja kalau saya sudah yakin!"


"Baik pak!"


Belum juga Divta bicara kembali tiba-tiba putri kecilnya itu datang sambil menangis,


"Daddy ....!"


"Ada apa sayang? Kenapa menangis?"


"Daddy, mommy ....!?" ucapnya sambil menunjuk ke arah kamar dan mommy nya terlihat berlari menyusulnya.


Div menatap Ersya yang masih berdiri di tempatnya, "Kenapa mommy?"


"Ada celangga jahat yang gigit mom!?" ucap Divia sambil terus menangis.


Div melihat ke arah Rangga yang mencoba menahan tawa dan menajamkan matanya membuat Rangga segera menundukkan kepalanya.


"Iya sayang, mom tidak pa pa, serangga nya baik!" ucap Div sambil menatap Ersya yang wajahnya memerah persis seperti udang rebus.


"Mana ada dadd, celangga baik, yang ada celangga itu belacun!"


Divia terus saja menangis,


"Sayang ...., biar daddy sembuhkan mommy ya. Iyya sama encus dulu ya!"


"Benelan ...., daddy cembuhkan mom?"


"Iya sayang ...!"


Div pun segera memanggil baby sitter yang merawat Iyya dan memintanya membawa Divia pergi.


"Rangga kamu boleh pergi sekarang, pembicaraan ini kita lanjutkan besok saja di kantor!"


"Baik pak!"


Rangga pun berdiri dari duduknya dan berjalan melewati Ersya, ia tersenyum pada Ersya dengan tubuh yang memunggungi Div yang masih duduk di tempatnya.


Awas aja kamu Rangga ...., terus saja tertawakan gue ...!? batin Ersya kesal.


"Duduk!" perintah Div setelah Rangga sudah meninggalkan mereka.


Ersya pun segera duduk di sofa yang tadi di duduki oleh Rangga.


"Kepala pelayan!" panggilnya pada kepala pelayan yang memang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka.


"Iya tuan!"


"Ambilkan krim!" perintahnya pada kepala pelayan itu.

__ADS_1


"Tidak ..., jangan!" Ersya menahannya membuat kepala pelayan dan Div menoleh padanya.


"Kenapa?"


"Ambilkan alas bedak saja, ambil di meja rias saya!"


"Baik nyonya!"


Kepala pelayan pun meninggalkan mereka menuju ke kamar Ersya dan mengambil alas bedak milik nyonya barunya itu.


Tidak berapa lama kepala pelayan itu kembali lagi dengan membawa alas bedak yang Ersya maksud.


"Ini nyonya!"


"Terimakasih ya!"


"Sama-sama nyonya!"


"Ya sudah kamu boleh pergi sekarang!" ucap Div sambil mengibaskan tangannya meminta kepala pelayan untuk meninggalkan mereka berdua saja.


"Baik tuan!"


Kini tinggal mereka berdua di ruangan itu, bahkan pelayan yang tadinya lalu lalang sekarang semuanya seperti menyingkir dengan sendirinya.


"Sini aku bantu!" ucap Div sambil mengambil alas bedak yang sudah berada di tangan Ersya.


Memang aku apaan mau di sentuh sentuh lagi .....


"Aku bisa sendiri!"


Ersya berusaha untuk merebut kembali alas bedak itu tapi Div segera mengacungkan tangannya setinggi-tingginya agar Ersya tidak bisa meraihnya.


Srekkkkk


Tiba-tiba tubuh Div kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya hampir terjatuh menimpa Ersya, untung ada sofa yang siap menjadi sandaran mereka berdua.


"Aughhhh ....!" pekik Ersya, untung tangan Div sigap menyanggah tubuhnya hingga tidak sampai menimpa tubuh Ersya. Kini mereka berada di posisi tidur dengan Div di atas.


"Makanya jangan keras kepala!" ucap Div sambil bangun dan menarik tangan Ersya agar kembali bangun.


"Duduklah! Biar aku olesi!"


"Iya!" jawab Ersya dengan kesalnya. Ia terpaksa menuruti kemauan Div.


Ersya duduk dan menghadap ke arah Div, "Yang leher saja, dada nggak usah biar aku sendiri!"


"Bawel ....!"


Div segera membuka tutup kecil berbentuk lingkaran itu dengan wadah yang hanya ukuran genggaman tangannya berwarna putih. Setelah terbuka terlihat di dalamnya ada cream berwarna kuning langsat, lebih menyerupai warna kulit.


Ersya sudah mengangkat dagunya dan menyodorkan dadanya ke arah Div.


Di ujung jari Div sudah ada cream yang siap di usapkan ke arah warna merah yang ada di permukaan kulit leher Ersya, tapi saat melihat Ersya dalam posisi seperti itu malah membuat Div terpaku dan tanpa terasa begitu berat menelan salivanya sendiri.


"Sudah belum? Lama banget, capek nih ...!" keluh Ersya. Hal itu membuat Div tersadar.


"Iya, cerewet sekali ...., tunggu seperti itu!"


Div segera mengoleskan cream alas bedak itu ke kulit Ersya yang berwarna merah agar terlihat samar, satu persatu terus di oleskan tapi mata sibuk untuk mengamati hal lain,


Kenapa dia seksi sekali sih ...., ahhh bodoh ....!!! batin Div, tapi segera mengutuki kebodohannya karena selalu tidak bisa menahan hasratnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2