
Tidak jauh dari mereka berdiri saat ini, ternyata Lee sudah berjalan menghampiri mereka, seharusnya Divia tidak perlu terkejut karena memang di mana ada Kim selalu ada Lee,
Lee menghampiri mereka dengan membawa sebuah kartu di tangannya,
"Selamat siang Mr, nona Vi!"
"Bagaimana?"
"Saya sudah memastikan semuanya aman dan ini kuncinya!" ternyata kartu itu adalah sebuah kunci apartemen. Kim segera mengambilnya, sepertinya Kim juga tidak berniat untuk melepaskan pinggang Divia. Hal ini membuat Divia semakin tidak nyaman dengan beberapa orang yang terus memperhatikan mereka.
"Sekarang kamu boleh kembali ke kantor!"
"Baik Mr, saya permisi nona Vi!" seperti biasa Lee akan menunduk memberi hormat, Divia pun akhirnya membalasnya.
"Ayo!" ajak Kim saat Lee sudah berlalu dan kini mereka berjalan beriringan menuju ke pintu lift. Menunggu sebentar, barulah pintu terbuka beberapa orang keluar dari pintu itu Divia dengan cepat menunduk hormat saya orang-orang itu sepertinya memperhatikan mereka.
Srekkkk
Tapi belum sampai Divia mendongakkan kembali kepalanya, tubuhnya sudah di tarik oleh Kim dan di bawanya masuk ke dalam lift.
Orang-orang yang baru saja keluar dari lift sepertinya masih setiap di depan lift meskipun pintu sudah tertutup kembali,
"Bukankah itu tadi pewaris group H?"
"Iya!"
"Tapi gosip yang saya dengar bukankah dia_!" wanita itu enggan melanjutkan ucapannya.
"Jangan bicara sembarangan, buktinya sekarang dia bersama seorang gadis dan terlihat jauh lebih muda, sepetinya gadis itu kekasihnya!"
"Mungkin!"
Beberapa orang itu terlihat terus saja membicarakan pasangan yang baru saja masuk ke dalam lift.
"Kim, apa ada yang aneh dengan penampilanku? Kenapa mereka begitu memperhatikanku?" Divia memperhatikan penampilannya dari atas hingga ke bawah, sekilas tidak ada yang aneh. Bahkan ia melihat dari pantulan dinding lift yang tampak memantulkan bayangan dirinya walaupun tidak jelas.
"Kim!?" karena tidak juga mendapat jawaban , Divia kembali memastikan kali ini ia menatap pria yang berdiri di sampingnya itu.
Kim tersenyum,
Kim tersenyum ....., tentu hal yang langka saat melihat pria itu tersenyum.
"Karena kamu cantik!" ucap Kim kemudian membuat Divia mengalihkan wajahnya dan tersenyum malu, wajahnya seakan mengeluarkan udara panas hingga membuat pipinya memerah.
Kenapa dia jadi manis sekali sih ...., batin Divia sambil memegangi pipinya hingga kemudian pintu lift kembali terbuka.
Sepasang wanita dan laki-laki juga tengah berdiri di depan pintu siap untuk masuk, tapi tatapan mereka saat menatap Kim dan Divia tidak beda jauh dari orang-orang yang ada di bawah tadi membuat Divia mengalihkan wajahnya tapi lagi dan lagi Kim segera menarik tangannya keluar dari lift membuat dua orang tadi segera bergantian masuk.
"Apa ada yang aneh sih?" gumamnya sambil memperhatikan penampilannya sendiri karena bertanya pada Kim pun di rasa percuma karena pria itu tidak akan memberi jawaban yang pasti.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah pintu dan pria itu menempelkan kartu yang di berikan oleh Lee tadi dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya benar-benar tidak berniat untuk melepaskan genggamannya pada tangan Divia.
__ADS_1
Pintu pun akhirnya terbuka, dari gedung di luarnya saja Divia sudah bisa menduga bagaimana penampakan di dalam apartemen itu.
Sebuah apartemen bergaya minimalis, ruang tamu apartemen tersebut terlihat sangat luas.
Warna putih gading pada sofa modern yang dipadukan dengan kontras warna krem pada ruang, menciptakan suasananya yang menenangkan. Desain lampu redup yang dipadukan dekat perabot berbahan kayu pun dapat menetralkan suasana ruang.
Kali ini Divia benar-benar terkesima dengan pilihan desain Kim, benar-benar sesuai dengan imajinasi rumah masa depannya,
"Ini_!"
"Gimana kamu suka kan?" Kim yang sudah berjalan di depan segera memutar tubuhnya dan menatap Divia,
"Dari mana kamu tahu aku suka yang seperti ini?" Divia sampai berputar-putar di rumah itu Kim berjalan perlahan menghampiri Divia dan menangkap tubuh mungil itu dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping Divia,
"Kim, ada apa?"
"Apa kita bisa menikah saja sekarang?"
"Hahhh?" Divia benar-benar terpaku dengan ucapan Kim, ia bahkan belum menjawab ucapan cinta pria itu dan sekarang bahkan pria itu sampai berani melamarnya.
"Kenapa? Apa kamu setuju!"
Jlekkkkk
Tiba-tiba Divia menginjak kaki Kim membuat pria itu terpaksa melepaskan pelukannya dan memegangi kakinya yang di bungkus kaos kaki,
"Aughhh!"
Gimana mau nikah, mau terima dia jadi cowok aja mikir ribuan kali, suka sih suka, tapi masalahnya gimana caranya ngomong sama Daddy sama ayah ....
Divia sudah berdiri menatap ke luar jendela sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
Kim segera menyusul Divia dan berdiri di samping Divia, ia melakukan hal yang sama yang di lakukan oleh Divia,
"Vi, aku benar mencintai kamu, kenapa kamu masih begitu tidak peduli?"
Divia ingin menghindar, tapi dengan cepat Kim menahan tangan Divia,
"Vi!?"
Divia yang sudah membelakangi Kim, ia segera menoleh kearah Kim,
"Kim, aku masih butuh waktu!"
"Waktu buat apa? Apa yang kurang dari aku?" ini sudah untuk kesekian kalinya Kim menyatakan perasaannya.
"Aku belum yakin saja!" Divia bicara sambil menghindari tatapan Kim. Kim segera meletakkan tangannya di pipi Divia, ia berharap gadis itu mau menatapnya
"Apa yang buat kamu ragu? Jika kamu mau hari ini juga aku akan segera terbang ke Indonesia untuk melamar resmi kamu!"
"Ja_, jangan dong!"
__ADS_1
"Lalu?"
Divia melepaskan tangan Kim dari wajahnya,
"Nanti kalau sudah waktunya aku pasti akan cerita!" ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Tapi kita bisa kan sebagai sepasang kekasih? Aku akan nunggu kamu sampai kamu benar-benar siap!"
Divia tersenyum, ini untuk pertama kalinya ia merasa bimbang untuk mengatakan tidak pada pria di depannya, karena dalam hatinya yang paling dalam ia juga sudah mencintai pria di depannya itu.
Tapi sejurus kemudian, Divia hanya bisa mengangukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak bisa menolak pesona dari Mr Kim.
Kim sampai terkejut di buatnya, ia bingung harus mengekspresikan wajahnya sekarang.
"Jadi_?"
Kembali Divia menganggukkan kepalanya.
Srekkkk
Dengan cepat Kim mengangkat tubuh Divia dan membawanya berputar, tampak sekali kalau saat ini ia benar-benar bahagia.
"Yee ......, akhirnya kita benar-benar jadi sepasang kekasih?!"
Apa bedanya dengan yang kemarin-kemarin memangnya ...., kan sama aja ....
Divia tersenyum dan mengangukkan kepalanya cepat, "Hmmmm!"
"Aku benar-benar bahagia, aku bahagia!"
"Aku tahu!"
Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi membuat Kim menghentikan putarannya tapi ia sama sekali tidak berniat untuk menurunkan Divia dari gendongannya.
"Kim, itu ada tamu!"
"Biarkan saja!" Kim benar-benar bahagia saat ini, ia tidak ingin siapapun menggangu kebahagiannya.
"Kim tapi itu pintunya bunyi lagi!" bel pintu kembali di ketuk dan kali ini Kim tidak bisa mengelak lagi, ia terpaksa menurunkan Divia dari gendongannya.
"Tunggu di sini, jangan ke mana-mana, mengerti!"
"Memang aku mau ke mana!?" Divia hanya menggelengkan kepalanya saat Kim begitu enggan untuk menghampiri pintu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...