
Di ruangan tempat Divia magang, terlihat senior Yoo terus saja mondar mandir membuat Yura bingung sendiri di buatnya, Yura segera meletakkan bolpennya dan menatap Senior Yoo dengan tatapan kesal, "Senior Yoo, sebenarnya apa sih yang senior lakukan?"
"Aku merasa cemas dengan Divia, kenapa dia lama sekali ya?"
"Kenapa harus cemas sih, biarin aja kali, besok ruangan Vi juga berpindah sendiri ke sana."
"Maksud kamu?"
Yura hampir saja keceplosan lagi, ia benar-benar hampir membocorkan hubungan Divia dengan Presdir Kim.
"Ya maksudnya, siapa tahu Presdir lagi butuh sekretaris pribadi. Lihat aja pekerjaan Vi kan bahkan di bawa ke sana."
"Presdir Kim sudah punya sekretaris Lee, lalu buat apa cari anak magang?"
"Sekretaris Lee kan harus mengurus pekerjaan di kantor pusat, memang kalau semuanya di sini, kantor pusat siapa yang akan urus!?"
"Benar juga kata kamu, tapi yang menurutku tidak masuk akal, kenapa Presdir Kim tiba-tiba memindahkan kantornya di sini, bukankah lebih nyaman di kantor pusat?!"
"Aku rasa senior Yoo nih terlalu banyak berpikir. Kau jadi ikut pusing." Divia pun tiba-tiba berdiri dari duduknya dan hendak meninggalkan ruangan,
"Yura, kamu juga mau ke mana?"
"Aku mau ke toilet, cuci muka. Biar seger!"
"Ohhh, ya sudah sana pergi. Tapi jangan lama-lama!"
"Ya terserah aku!" gumam Yura lirih hingga tidak bisa di dengar oleh senior Yoo.
__ADS_1
Ia pun bergegas untuk keluar, ia benar-benar di buat pusing di ruangan oleh tingkah senior Yoo, "Ganteng sih ganteng, tapi saya salah kasih hatinya. Memang dia nggak bisa bedain antara yang masih jomblo sama yang sudah punya pasangan." gerutunya sepanjang jalan menuju ke toilet.
"Siapa yang ganteng?" pertanyaan dari seseorang itu berhasil membuat Yura benar-benar terkejut hingga ia memegangi dadanya. Tiba-tiba Lee muncul dari balik dinding, entah sejak kapan ia mendengarkan gerutuan Yura.
"Ya ampun, Mr Lee. Bisa nggak kalau datang itu jangan tiba-tiba? Kalau aku sampai kena serangan jantung bagaimana?"
Tapi terlihat tak berniat untuk menyahuti protes Yura, ia malah berdiri menatap dingin pada Yura dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.
"Kenapa menatap saya seperti itu?" Yura merasa salah tingkah sendiri mendapat tatapan seperti itu dari Lee.
"Apa pria yang bersamamu dalam satu ruangan itu menurutmu lebih ganteng dari saya?"
"Hahhh?"
Pertanyaan dari Lee benar-benar berhasil membuat Yura tercengang, Sejak kapan dia peduli dengan pendapat orang ....
Tiba-tiba Lee melangkah maju, menepis jarak di antara mereka membuat Yura melangkahinya kakinya ke belakang agar tetap memberi jarak di antara mereka.
Apa yang akan dia lakukan? Kenapa dia menatapku seperti itu ..., Yura sampai terjerembab di antara dinding dan tubuh Lee. Kini kedua tangan Lee tengah mengungkung tubuh Yura di sisi kanan dan kirinya hingga Yura tidak bisa berpindah lagi.
Jantungku kenapa lagi, kenapa setiap dekat dengannya rasanya seperti ini? Lee sedang ingin memastikan sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia tidak pernah merasakan seperti ini saat dengan orang lain, bahkan orang yang paling dekat dengannya, tapi tidak saat ia dekat dengan Yura, apa yang terjadi denganku?
"Mr Lee, apa yang terjadi?" tanya Yura lagi dengan perasaan yang was-was.
Lee pun segera menjauhkan tubuhnya, "Lupakan!" dan dia pun meninggalkan Yura begitu saja dalam kebingungan.
Lee masih memegangi letak jantungnya sambil berjalan meninggalkan Yura, "Sepertinya ada yang tidak beres denganku. Mungkin aku butuh psikiater!" ia pun segera meninggalkan tempat itu, ia meminta seseorang untuk menyiapkan mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan Yura hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Lee yang menurutnya begitu berbeda dari biasanya. "Hari ini aku benar-benar ketemu banyak orang aneh, sudah ada senior Yoo sekarang di tambah sekretaris Lee!"
Karena tidak mau ambil pusing, Yura pun memilih melanjutkan langkahnya ke toilet, sedikit mengguyur wajahnya dengan air mungkin akan menjaganya untuk tetap waras.
Sedangkan di ruangan Presdir, terlihat Divia sesekali menatap ke arah Kim yang begitu serius dengan pekerjaannya, Dia ganteng banget sih kalau serius begitu ....
Bukannya fokus dengan pekerjaannya, Divia malah lebih fokus dengan wajah tampan dari pada pekerjaannya, kalau di lihat-lihat dia mirip sekali dengan Dee, jadi kangen sama dia ..., apa kabarnya ya Dee? Hehhhh, pasti Dee sudah bahagia dengan mamanya ...
"Masih kurang lama pandangnya?" pertanyaan dari Kim berhasil membuat Divia salah tingkah.
"Siapa juga yang liatin, aku tadi lagi mikir kok."
Kim tersenyum dan membuat wajahnya berubah menjadi mode imut, "Benarkan? Benarkah?"
"Apa sih Kim, bikin malu aja!" gumam Divia sambil pura-pura kembali fokus dengan pekerjaannya.
Tapi entah kapan ia berpindah tiba-tiba Kim sudah berdiri di depannya saja, Kim mencondongkan tubuhnya ke arah Divia, "Ya ampun Kim, kamu membuatku terkejut!"
"Aku sedang ingin tahu, apa yang membuatmu begitu membuatku tertarik!" ucap Kim sambil menatap divia dengan jarak yang begitu dekat membuat Divia bahkan bernafas saja sulit, ia seperti lupa bagaimana cara bernafas.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...